Apa Ini Mimpi?
“Apa kamu menikmatinya, Sayang?”
Suara seorang pria terdengar jelas di telinga Amanda yang baru saja pulang dari rumah sakit. Suara itu sangat ia kenal dan begitu akrab di telinganya. Bahkan mereka sudah sepuluh tahun bersama menjalani bahtera rumah tangga meski berawal dari sebuah perjodohan dua buah keluarga.
“Kami sangat luar biasa, Hendra,” racau seorang wanita diikuti erangan manja yang terdengar sangat jelas.
Suara penyatuan diiringi pujian disela desah manja dua orang berbeda jenis itu menggema mengisi seluruh ruangan. Sebuah rumah besar menjadi saksi bagaimana dua orang itu memadu kasih tanpa ikatan yang resmi.
Amanda perlahan mendekat ke arah kamarnya yang menjadi sumber suara yang mengganggu telinganya. Rasa penasaran pun menguasai pikiran Amanda. Dia benar-benar ingin melihat dengan siapa selama ini suaminya bermain gila.
“Kamu luar biasa, Sayang,” puji Hendra diiringi desahan yang tak pernah Amanda dengar selama mereka bersama.
“Apa istrimu tak bisa memuaskan kamu seperti halnya aku, Sayang?” tanya wanita itu yang kemudian memekik manja menikmati hunjaman “kasih sayang” seorang Hendra.
“Dia tak senikmat kamu. Amanda sangat kaku saat melayaniku. Tak seperti kamu yang agresif dan penuh inisiatif. Aku suka. Dan juga rasanya kamu lebih segalanya daripada dia yang kegadisannya dinikmati olehku,” ungkap Hendra.
Amanda yang mendengar pernyataan Hendra dari balik pintu hanya bisa menutup mulutnya, menahan diri agar tak berteriak di sela tangisnya yang kini mulai tak terhenti.
“Ternyata aku seburuk itu di matamu, Hendra,” gumam Amanda yang berada di balik pintu.
“Lalu, kenapa kamu tak menceraikannya?”
Pertanyaan wanita itu sukses membuat Amanda tertegun. Jantungnya berpacu dengan cepat, menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh seorang Hendra. Dia juga menjadi penasaran dengan pria yang telah menjadi suaminya itu, mengapa tak menceraikannya saja dan menikahi wanita itu daripada menjalin hubungan diam-diam dan mengkhianati janji suci pernikahan mereka?
Terdengar suara tawa pria yang masih terengah karena sedang beradu dengan seorang wanita yang ada dalam kungkungannya. Pria itu tak kunjung menjawab pertanyaan sang wanita yang juga dinanti oleh Amanda.
“Apa kamu masih tak bisa melihat betapa besarnya rumah ini? Tunggu aku bisa memiliki semua kekayaan wanita itu, baru aku akan menceraikannya. Tidak ... Aku akan melenyapkan wanita itu agar tak menjadi batu sandungan untuk kita di masa depan nanti,” jawab Hendra dengan entengnya.
Amanda yang mendengar jelas perkataan suaminya itu membulatkan kedua matanya. Karena keterkejutan yang luar biasa, tanpa sengaja dia menabrak pintu yang tertutup itu hingga menimbulkan suara.
“Siapa itu?” teriak Hendra dari dalam kamar.
Dua orang yang belum sampai ke puncak tujuannya itu buru-buru menutupi tubuh mereka dengan selimut. Namun, karena tak kunjung menemukan jawaban dan tak ada lagi pergerakan dari luar, Hendra bergegas meraih pakaiannya dan berjalan menuju pintu kamar.
Kosong.
Tak ada siapa pun di balik pintu kayu itu. Dia hanya menemukan sebuah ponsel berwarna putih tergeletak begitu saja tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia meraih benda pipih berukuran lima inci lebih itu, membolak-baliknya memastikan benda itu adalah milik seseorang yang ia kenal.
Sebuah seringai tipis terbit di wajah pria itu. Hendra seolah tahu siapa yang tadi membuat keributan hingga membuat kegiatan menyenangkan yang tengah dia lakukan terhenti begitu saja.
“Aku akan membuat perhitungan denganmu, tikus kecil,” gumam Hendra.
Pria itu kembali ke dalam kamarnya, menemui wanita yang sejak tadi menemani dan berbagi peluh dengannya.
***
Amanda yang masih belum hilang rasa terkejutnya, kini hanya bisa bersembunyi. Wanita itu masih berada di sebuah kamar dalam rumahnya dan mengunci pintunya dari dalam. Dia tak tahu harus pergi ke mana. Untuk meminta bantuan pada temannya saja kini dia tak mampu. Keluar dari rumah itu pun tiada guna karena dompet dan aset berharganya ada di dalam kamar yang ditempati oleh Hendra memadu kasih dengan seorang wanita selain dirinya.
Hingga saat malam tiba, Amanda berniat untuk pergi meninggalkan rumah itu, meninggalkan semuanya asal dirinya selamat dari siasat Hendra yang ingin mencelakainya. Wanita itu membuka pintu yang sejak tadi tertutup. Tak biasanya rumah peninggalan kakeknya itu gelap gulita. Tak ada satu pun penerangan dari luar kamar tempat ia bersembunyi.
Amanda membuka pintu perlahan, mengusahakan agar tak ada yang mendengar derit kayu yang terbuka itu. Tepat saat Amanda melangkah keluar dari kamar itu, Lampu rumah itu tiba-tiba menyala. Sebuah suara membuat Amanda menghentikan langkahnya.
“Kamu sudah pulang, Sayang?” ucap Hendra seraya merapikan anak rambut Amanda ke belakang telinga gadis itu.
Amanda bergidik. Refleks dia menjauhkan dirinya saat Hendra hendak menyentuhnya lagi. Penolakan spontan itu membuat pria yang berstatus suaminya itu mengubur senyum.
“Seharusnya kamu pura-pura tak tahu dan menyambutku seperti sebelumnya, Amanda,” kekeh pria itu.
Tawa yang terbit di wajah Hendra semakin membuat Amanda ketakutan. Hendra yang sekarang bukan seperti yang dulu. Entah karena Amanda yang terlalu polos karena mudah ditipu atau memang karena pria itu terlalu pandai berpura-pura.
“Sepertinya aku tak perlu bersembunyi lagi, bukan?” suara seorang wanita terdengar jelas dari balik dinding kamarnya, kamar yang menjadi saksi perbuatan mereka yang mengkhianati putri dari keluarga Hadiningrat itu.
“ya. Untuk apa lagi kamu bersembunyi. Toh, dia sudah tahu semuanya dan enggan menutup mata atas apa yang dia lihat.”
“Jadi ... bagaimana menurutmu, Amanda Sayang?” tanya Hendra memainkan beberapa helai rambut Amanda.
Amanda bergeming. Dia tak memberikan respon apa pun pada pria itu. Hingga sebuah tangan menarik rambutnya hingga membuat wanita itu mendongak.
“Aku sedang bertanya padamu, Amanda! Jawablah!”
“Dasar pasangan gila!” umpat Amanda.
Hendra menarik rambut istrinya semakin kuat. Dia tak peduli dengan wanita yang saat ini meringis kesakitan akibat tangannya yang menarik rambutnya dengan keras.
Amanda merasakan nyeri di kulit kepalanya. Dia bisa merasakan rambut yang ditarik oleh suaminya tercabut. Dia memukul lengan Hendra, berusaha sekuat tenaga membuat Hendra menghentikan ulahnya. Namun, hal itu sia-sia karena tenaganya tak sebanding dengan suaminya itu.
Hendra yang masih menarik rambut Amanda, membawa istrinya itu naik ke lantai dua rumah itu.
“Lepaskan, Hendra,” pinta Amanda memohon agar melepaskannya.
“Kamu ingin aku melepaskanmu?”
Amanda menganggukkan kepalanya. Dia kini benar-benar merasa ketakutan terlebih saat Hendra ingin mendorongnya dari pembatas lantai dua rumah itu.
“Aku mohon, Hendra. Tolong lepaskan aku. Aku akan pergi dari hidupmu dan tak akan mengganggumu lagi.”
“Bagaimana dengan harta kekayaanmu?” tanya Hendra seraya menyeringai.
“Kamu ... kamu boleh mengambilnya. Asal lepaskan aku, Hendra.” Wajah Amanda yang berurai air mata semakin tampak berantakan.
“Baiklah kalau itu maumu. Aku akan melepaskanmu. Selamat tinggal, Sayang,” ucap Hendra memberi salam perpisahan kepada istrinya.
Pria itu melemparkan tubuh istrinya dari lantai dua rumah itu. Hendra melepaskannya, Namun, dia melepaskan Amanda hingga jatuh tanpa pengamanan.
Terdengar dentuman yang cukup keras tepat saat tubuh wanita itu menyentuh lantai. Amanda terkapar dengan genangan cairan merah yang entah berasal dari bagian tubuhnya yang mana. Dia juga merasakan nyeri yang teramat sangat. Tubuhnya juga tak sanggup lagi digerakkan.
Mulutnya terbuka seolah ingin meminta tolong kepada orang-orang yang ada di sana. Namun, tak ada sepatah kata pun yang sanggup ia keluarkan. Lidahnya terasa kelu, suaranya pun seperti tercekat di tenggorokan.
“Andai waktu bisa ku ulang kembali, aku akan membalas semua perlakuanmu padaku, Hendra,” ucap Amanda dalam hati beberapa saat sebelum pandangannya menggelap.