Amanda terbangun dari tidurnya. Ia sangat terkejut dan ketakutan karena kejadian beberapa saat lalu yang terasa sangat nyata. gadis itu sedikit bingung karena mendapati dirinya saat ini tengah dirias di sebuah ruangan yang bisa dipastikan itu adalah ruang pengantin.
Wanita itu menatap ke sekelilingnya di mana dia saat ini berada di ruangan yang telah dipenuhi oleh bunga yang harum. Tak hanya itu, saat ini dia mengenakan kebaya modern yang sudah terpasang rapi beserta sanggul dan selendang di kepalanya.
Amanda menatap wajahnya ke cermin yang berada di hadapannya. Dia tampak sangat norak dengan riasan itu. Dia yakin kalau semua itu adalah permintaan saudara dan ibu tirinya untuk membuat dia tampak seperti badut. Mereka ingin mempermalukan Amanda dan mengintimidasi wanita itu.
Amanda berulang kali menatap ke cermin. Ia hafal betul dengan riasan itu. Karena dia yang dulu sangat polos dan merasa riasan itu sangat bagus, membuat Amanda dipermalukan oleh semua orang. Kilas kejadian masa lalu begitu jelas di pikiran Amanda.
“Kenapa aku kembali ke masa di mana aku akan menikah dengan Hendra?”
Amanda mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tak ada seorang pun di sana. Sepertinya mereka sengaja membiarkan Amanda seorang diri usai dirias layaknya badut di ruangan itu.
"Kalian ingin bermain-main denganku?" gumam Amanda menatap oantulan dirinya.
"Boleh saja. Akan kuladeni permainan kalian," gumam Amanda lagi.
Amanda mendengar keributan di luar ruangan. Ia mendengar dengan jelas kalau mereka tengah menghalangi seseorang agar tak masuk ke dalam ruangan Amanda dengan dalih Amanda sedang beristirahat.
Tiba-tiba sahabatnya, Kalina, berhasil memasuki ruang rias pengantin itu sembari membawa sebuah nampan yang berisi kudapan dan juga air minum. Ia menjadikan makanan dan air yang ia bawa itu sebagai alasan untuk bertemu dengan Amanda.
Meski awalnya tak mendapat izin, pada akhirnya Kalina berhasil masuk ke dalam ruangan itu dan mendapati Amanda yang memandang cermin.
Kalina yakin kalau saat ini Amanda tengah memperhatikan wajahnya yang menyerupai lelucon. Namun Kalina tak berani menentang dan mengubah riasan sahabatnya itu karena akan membuat mereka yang di luar ruangan itu curiga.
Kalina merupakan seorang wanita cantik yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Wanita itu berteman baik dengan Amanda. Mereka sudah lama bersahabat begitu juga dengan salah seorang sahabatnya yang lain
.
“Kau sudah bangun?” tanya Kalina yang kemudian meletakkan nampan itu di meja dekat Amanda duduk.
Amanda menganggukkan kepalanya. Meski ia tak yakin kalau dia sebelumnya tertidur.
Amanda masih terbayang hal mengerikan yang benar-benar tampak nyata. Amanda yakin bahwa tak mungkin kalau kejadian itu hanya mimpi belaka. Semuanya tampak sama. Amanda merasa deja vu dengan kejadian hari itu.
“Baguslah. Acara akan segera dimulai,” ujar Kalina dengan wajah sendu.
Kalina menundukkan kepalanya. Ia sebenarnya keberatan saat Amanda memutuskan menikah dengan Hendra. Dia tak suka dengan sifat Hendra yang sangat tampak bahwa pria itu tak menyukai Amanda.
Tak hanya itu, perlakuan keluarga Hendra kepada Amanda juga tak baik. Itu yang membuat Kalina semakin membenci Hendra. Hanya saja Kalina tak berhak melarang Amanda karena sahabatnya itu sudah terlanjur jatuh hati dengan Hendra.
Kalina juga tahu kalau Hendra memiliki hubungan dengan banyak wanita dan pernah meniduri mereka saat menjalin hubungan dengan Amanda.
“Kalina. Bolehkah aku meminta bantuan mu?” tanya Amanda.
Amanda memegang lengan sahabatnya itu, menatap kedua mata wanita cantik yang berdiri di hadapannya dengan mata berbinar.
"Aku akan membantu apa pun itu. Katakan, apa yang harus aku lakukan?" tanya Kalina.
“Tolong kamu segera ke kantorku,” ujar Amanda sembari memberikan kartu aksesnya yang sekaligus merupakan kunci masuk ke dalam ruangannya.
"Di ruangan ku ada sebuah pot dengan tanaman yang paling tinggi. Aku meletakkan kunci laci di sana. Kau carilah dan jangan sampai ketahuan yang lain,” ujar Amanda.
“Lalu? Apa yang harus aku cari?” tanya Kalina.
“Di sana ada berkas-berkas milik kakek. Aset-aset kakek yang berharga ada di dalamnya termasuk surat wasiat kakek untuk perjodohan ini.”
Kalina tampak terkejut dengan pengakuan Amanda. Apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh Amanda?
“Tolong amankan berkas yang berisi aset milikku dan kakekku dengan baik. Kamu hanya perlu membawa surat wasiat kakekku dari sana dan juga aku sebelumnya memiliki sebuah berkas yang telah aku persiapkan di sana. Tolong kamu bawakan ke sini, segera!” ujar Amanda ke Kalina.
“Baik. Apa ada lagi selain itu?” tanya Kalina.
“Cukup itu saja. Setelahnya segera kembali menemui ku. Mungkin bersamaan dengan kedatangan mu, aku sudah diminta untuk ke hotel Airlangga dan diminta untuk segera menikah di sana. Aku akan mengulur waktu agar kita bisa berangkat ke hotel itu bersama,” ujar Amanda menerangkan.
Kalina adalah sahabat Amanda yang sangat bisa dipercaya. Di masa lampau, Kalina adalah orang yang pertama kali memasang badan untuknya agar Hendra tak bisa menyentuh dan menyakiti Amanda begitu saja.
Amanda ingat dengan jelas bagaimana pengorbanan wanita itu untuknya. Kali ini, Amanda berjanji kalau tak akan membiarkan Kalina tersingkir oleh orang-orang seperti Hendra dan keluarganya.
Kalina bergegas meninggalkan ruangan itu setelah Amanda memberi instruksi untuk mengambilkan barang-barang yang diminta. Kalina yakin kalau Amanda sedang merencanakan sesuatu dan wanita itu tampak seperti akan membatalkan pernikahan dengan Hendra.
Sementara itu, Amanda akan berusaha mengulur waktu pernikahannya dengan Hendra sekali lagi. Dia akan memberi kejutan kepada keluarga serakah itu. Sebuah kejutan yang tak pernah mereka sangka.
Amanda yang sebelumnya adalah seorang gadis penurut dan bodoh, begitu mengharap cinta Hendra yang sudah sangat jelas cinta pria itu bukan untuknya. Amanda kini sudah menyadari kalau dirinya hanya dimanfaatkan oleh Hendra dan keluarganya.
***
Sepeninggal Kalina dari ruangan itu, terdengar suara ketukan dari arah pintu. Amanda mempersilakan orang di luar untuk masuk. Barangkali itu adalah teman-teman Amanda yang datang ke pernikahannya.
Siapa sangka kalau yang datang dan mengetuk pintu ruangan itu adalah seorang yang sama sekali tak diharapkan oleh Amanda. Di sana, Aretha datang bersama ibunya menghampiri Amanda dengan tatapan sinis.
Aretha adalah anak dari ayahnya dengan istri keduanya. Karena usia Amanda dan Aretha tak terlalu jauh, sering kali membuat Aretha menginginkan barang-barang Amanda. Segala milik Amanda, Aretha ingin memilikinya juga. Termasuk urusan pria. Amanda akui kalau Areta juga memiliki paras yang cantik. Namun, tak ada gunanya kalau kecantikan itu hanya berasal dari wajahnya dan bukan berasal dari hatinya.
Amanda memutar bola matanya malas.
“Pasti mereka akan berbuat onar lagi,” gumam Amanda dengan suara yang sangat lirih.
“Aku heran. Untuk apa kau terus duduk di depan cermin. Cermin di hadapanmu itu tak akan mengubah dirimu yang merupakan itik buruk rupa menjadi angsa,” ejek Aretha sembari menatap bayangan Amanda dari cermin.
Amanda mengepalkan kedua tangannya. Ia masih mencoba menahan perkataan Aretha yang tak bersahabat di telinganya.
Kedatangan mereka yang hanya mengejek Amanda membuat gadis itu merasa jengah. Bagi mereka Amanda tak pantas mengenakan kebaya mahal untuk pernikahannya.
“Lagi pula, Kak. Aku kali ini akan membiarkan Hendra menikahi kamu. Tapi setelahnya, akan aku pastikan kalau aku yang akan memiliki dia sepenuhnya,” ujar Aretha.
Amanda tersenyum miring mendengar pernyataan anak dari selingkuhan ayahnya itu. Gadis itu tak pernah berubah, selalu menginginkan apa yang menjadi milik Amanda. Namun, untuk kali ini, sepertinya Amanda akan memberikan Hendra dengan sukacita padanya.
Setelah mengetahui masa depan yang seperti mimpi buruk mengerikan baginya, Amanda tak ingin lagi menjadi orang bodoh dan membiarkan dirinya serta keluarga lainnya direndahkan dan dihancurkan.
“Apa kau ingin menggantikan aku saat ini? Aku akan dengan sukarela memberikannya padamu,” kekeh Amanda.
Perkataan Amanda itu justru membuat Aretha tak terima. Aretha hendak melayangkan tangannya ke pipi Amanda. Namun, hal itu dihentikan oleh Renata, selingkuhan dari ayah Amanda.
“Hentikan! Apa yang kau lakukan?! Jaga sikapmu. Jangan sampai kau merusak acara hari ini. Bukankah kau ingin memiliki apa yang dimiliki Amanda di rumah Hadiningrat? Tunggu sampai dia menikah dan menjadi anggota keluarga Daniswara, barulah kamu bisa memiliki apa yang merupakan milik Amanda di rumah itu,” ujar Renata menatap sinis ke arah Amanda.
Tak berapa lama, seorang pria paruh baya memasuki ruangan itu. Menyusul Renata dan juga anaknya, Aretha. Dia menatap sinis kepada Amanda.
“Cepat kau menikah dengan pria itu. Agar harta kekayaan keluarga Hadiningrat menjadi milikku. Dan tak akan aku berikan padamu sepeser pun setelah kau keluar dari keluarga Hadiningrat,” ujar ayah Amanda.
Amanda hanya tersenyum miring, tak menanggapi perkataan sang ayah padanya. Dia sudah kebal dengan perkataan Ayahnya yang sangat menyakitkan. Ayahnya tak pernah sedikit pun berkata manis padanya sejak kecil. Bahkan dia diabaikan oleh ayahnya dan dianggap tak pernah ada.
Amanda kali ini tak ingin ambil pusing. Saat ini, ia hanya ingin menunggu Kalina.
Amanda melihat ke arah jam dinding ruangan itu. Jam menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit. Itu Artinya mungkin Kalina masih baru akan tiba di kantornya. Paling tidak Amanda harus mengulur waktu hingga pukul sepuluh.
Lalu, bagaimana caranya agar dia bisa mengulur waktu hingga selama itu?
Amanda kemudian terpikir sebuah ide. Salah satunya adalah memancing emosi Aretha.
Dia tahu kalau Retha adalah seseorang yang mudah emosi dan labil. Sifat iri yang dimiliki gadis itu membuat Amanda lebih mudah mendapatkan keinginannya.
“Apa kau yakin kalau Hendra akan memilihmu?” ucap Amanda sinis.
Amanda bangkit dan berjalan menghampiri Aretha. Gadis itu menatap Aretha dengan tatapan yang tak kalah angkuh.
“A–apa maksudmu?” Aretha tampak gugup. Ia tak menyangka kalau Amanda bersikap berani seperti itu.
“Apa kamu bisa memastikan kalau Hendra akan berpaling dariku dan memilih kamu usai pernikahan ini? Aku rasa dia tak akan begitu. Aku lebih baik baginya dalam segala hal,” kekeh Amanda dengan raut meremehkan Aretha.
Amanda tahu kalau Hendra tak pernah sedikit pun menyukai wanita lain selain Cindy. Mereka yang terjebak dalam rayuan cinta Hendra, hanya dimanfaatkan sebagai pelampiasan keinginan pria itu untuk menghangatkan ranjangnya.
Merasa kesal, Aretha menarik selendang yang tersemat di kepala Amanda dan merusak riasan wanita itu hingga membuat riasan Amanda semakin berantakan. Tak hanya itu, Aretha juga menarik kebaya Amanda hingga bagian lengan kebayanya sobek.
Renata yang melihat hal itu menjadi panik. Karena menuruti anaknya untuk menekan Amanda, justru berbuah malapetaka. Renata tak ingin anaknya disalahkan karena merusak kebaya mahal itu.
Kebaya yang dikenakan oleh Amanda adalah kebaya yang sangat mahal. Kebaya itu khusus dipersiapkan mendiang kakek Hadiningrat untuk pernikahan Amanda.
Keributan yang berasal dari dalam ruangan itu, terdengar oleh orang-orang yang ada di luar. Ditambah lagi pintu ruangan yang tak ditutup membuat orang-orang yang lewat berhenti dan melihat apa yang sedang terjadi di dalamnya. Mereka juga berbisik saat mendapati Aretha mengacaukan pernikahan Amanda dan merusak kebayanya.
“Sudah! Hentikan!” seru Ryan, Ayah dari dua orang itu.
Melihat kerumunan orang yang kebanyakan pekerja dari luar untuk acara pernikahan Amanda itu, membuat Ryan juga ingin tahu apa yang tengah terjadi di dalamnya.
Pria itu menegur Aretha dan Amanda saat mengetahui keduanya sedang terlibat pertengkaran.
Mereka akhirnya berhasil dilerai meski Amanda tak terlalu banyak memberi perlawanan. Meski demikian, apa yang menjadi keinginannya dalam mengulur waktu itu berhasil. Dia bisa menunggu Kalina kembali dari kantornya dan membawa apa yang ia minta.
“Sebaiknya kita pergi dari sini agar masalah tak tambah runyam,” ajak Ryan kepada anak dan istri selingkuhannya.
Mereka akhirnya meninggalkan Amanda di ruang rias itu dengan penampilan yang awut-awutan.
Amanda tersenyum menatap wajahnya yang juga berantakan. Usai kepergian tiga orang itu, Amanda meminta sang Make up Artist dan penata rambut yang ikut menonton kejadian itu untuk kembali menata ulang rambut dan riasannya. Tak ingin kembali dirias dengan sembarangan, Amanda meminta sang make up artist untuk membiarkannya merias wajahnya sendiri dengan riasan yang dia suka.
“Mbak, tolong ambilkan gaun ganti yang lain saja, ya? Jangan gaun dengan rok mengembang. Gaun yang biasa saja yang tak terlalu berat dan tak terlalu terbuka.” Amanda memberi instruksi kepada wanita yang bertanggung jawab akan gaun dan riasannya itu.
Amanda pun kembali merias dirinya. Sedikit mengulur waktu agar Kalina segera tiba di tempat itu dan membawa barang yang diminta oleh Amanda.
Usai wanita itu merias wajahnya yang ternyata sangat cantik itu, Kalina masih belum juga tiba. Amanda sudah mulai khawatir sahabatnya itu tak dapat menemukan berkas itu.
Tepat setelah Amanda berganti pakaian, Kalina tiba dan menghampirinya dengan membawa berkas-berkas yang cukup banyak.
“Aku sudah mendapatkannya!” pekik wanita itu dengan gembira.
“Kau sudah siap?” tanya Amanda pada Kalina.
Wanita itu menganggukkan kepalanya. “Ayo!”
“Aku tak sabar melihat kejutan yang akan kau buat,” imbuh Kalina sembari tersenyum.