Pernikahan Megah

1948 Words
Amanda tersenyum mendapati sahabatnya itu telah berhasil membawa apa yang ia minta. Semua berkas yang ia perlukan kini sudah ada di sana. Amanda berjanji kali ini dia akan membuat keluarga pria itu tak bisa berbuat semena-mena. “Ngomong-ngomong, apa isi surat -surat ini?” Tanya Kalina penasaran. “Itu hanya surat biasa. Di mana di dalamnya terdapat sebuah hadiah untuk calon suami yang akan aku nikahi hari ini,” ujar Amanda dengan senyum tipis misterius. Kalina menganggukkan kepalanya tanda paham. Meski tak tahu isi surat itu, dia semakin yakin kalau Amanda berniat ingin mengakhiri pernikahannya dengan Hendra. Ada sebuah perasaan lega dalam diri Kalina saat melihat Amanda kini tak lagi lemah seperti sebelumnya. *** Iringan mobil tampak memenuhi jalanan Kota Surabaya. Mobil yang semuanya berwarna hitam itu berjalan mengular di sepanjang jalan di kota. Setelah membelah jalanan Surabaya yang cukup ramai, mobil-mobil itu berhenti di sebuah hotel mewah yang ada di Kota Surabaya. Di sebuah Hotel yang bernama Hotel Airlangga, sebuah pernikahan antara dua keluarga kaya akan diadakan. Iringan mobil itu membuat warga berbondong ingin melihat apa yang terjadi. Mereka tercengang saat melihat tak hanya satu mobil mewah. Konon hanya mereka, orang-orang kaya di Kota itu yang mampu membuat iringan mobil yang mengular di wilayah mereka. Awalnya mereka hanya mengira hanya ada sepuluh mobil mewah yang berharga miliaran itu di sana. Namun, setelah dihitung ternyata lebih dari dua puluh mobil mewah berjejer di halaman Hotel Airlangga. Dari sebuah mobil yang berada paling depan dengan hiasan bunga di bagian depannya, keluar seorang gadis cantik dengan gaun putih menawan membalut tubuhnya. Gadis itu berjalan dengan begitu anggun diiringi oleh seorang wanita yang mengekor di belakangnya. Itu adalah Amanda. Anak pertama dari keluarga Hadiningrat yang merupakan anak terbuang di keluarganya. Sepanjang ia berjalan di atas karpet yang terbentang di depan hotel itu, Amanda mendengar bisik-bisik orang yang melihatnya. Mereka tak percaya kalau Amanda yang saat ini sangat berbeda dengan isu yang beredar. “Apakah itu penerus keluarga Hadiningrat?” bisik salah seorang warga. “Iya. Katanya dia anak pertama dan cucu pertama pewaris keluarga itu,” timpal yang lain memberitahu. “Sangat cantik, ya,” ujar yang lain lagi. “Padahal aku mendengar kalau saudara perempuan wanita itu lebih cantik darinya,” ujar yang lain. “Apa mungkin itu hanya sebuah kebohongan untuk menyembunyikan bidadari secantik dia?” “Atau mungkin sebenarnya dia memiliki penyakit sehingga dia selalu disembunyikan?” ujar yang lainnya. Amanda mengabaikan perkataan orang-orang itu. Dia menggelengkan kepalanya sembari terus berjalan bersama dengan Kalina melewati karpet merah yang telah terhampar. Karpet merah itu memang disiapkan oleh pihak Hotel sesuai dengan instruksi WO yang ditunjuk. Amanda masih tersenyum mengingat perkataan warga yang berbisik tentangnya. Wanita jelek? Memiliki penyakit? Amanda memasuki lift bersama dengan Kalina dan perwakilan WO yang telah menyusun rangkaian acara pesta pernikahan antara dirinya dan Hendra. Setelah tiba di lantai di mana pesta itu akan diadakan, mereka kemudian keluar dari kotak besi itu dan berjalan melewati tamu undangan yang sudah mulai berdatangan. Melihat Amanda menggunakan gaun dan bukan mengenakan kebaya seperti sebelumnya, membuat semua orang takjub. Tak ada yang mencela dirinya. Semua orang memuji kecantikan dan pesonanya. Amanda diarahkan ke ruang tunggu Hotel itu sembari menunggu kedatangan Hendra, calon mempelai pria. Ribuan tamu undangan sudah tampak memenuhi aula pesta pernikahan Amanda dan Hendra. Namun, mempelai pria yang ditunggu, tak kunjung tiba. Pernikahan keluarga kaya itu menyita perhatian publik. Beberapa media diundang hadir ke perhelatan besar itu. Sangat jarang orang bisa mengadakan pesta sebesar dan semewah itu. Tak hanya media, warga pun penasaran dan ingin turut serta dengan acara pernikahan orang kaya di daerah mereka. Namun, mereka tak memiliki undangan sehingga hanya bisa melihat rangkaian acara dari siaran yang dilakukan oleh pihak media. Sudah hampir satu jam, Hendra tak kunjung tiba. Amanda mulai merasa bosan. Beruntung ia tak dirias dengan menggunakan sanggul yang berat di kepalanya. Tak dapat ia bayangkan bagaimana lelahnya kepala yang terbebani sanggul yang besar itu dan menunggu Hendra hingga lebih dari satu jam. “Apa dia masih belum tiba?” tanya Amanda kepada Kalina yang setia menemaninya hingga ruang tunggu. “Sepertinya dia sedang sibuk bermain,” kekeh Kalina. Kalina tahu siapa yang dimaksud oleh Amanda. Amanda masih menunggu kedatangan pria itu. Apakah mungkin pria itu tak datang? Atau dia sedang menikmati tubuh wanita lain terlebih dahulu sebelum menikah dengannya? “Ngomong-ngomong, aku belum melihat Devira. Apa dia tak hadir?” tanya Amanda sembari mengedarkan pandangannya. “Kamu tak perlu khawatir. Dia sudah dalam perjalanan. Dia akan ke sini usai selesai dengan urusannya,” jawab Kalina. “Memang apa yang tengah ia kerjakan?” tanya Amanda menautkan alisnya. “Entah. Mungkin kita bisa menanyakannya setelah dia tiba di sini,” ujar Kalina dengan sangat bijak. Amanda mengangguk. Gadis itu merasa beruntung saat mendengar kalau Devira ada dan akan hadir ke pernikahannya. Mereka menginginkan dua sahabatnya yang sangat berharga itu menghadiri pernikahannya. Meski pernikahan itu tak lama lagi akan tak sesuai dengan rencana dan bahkan akan terancam batal. Amanda ingat saat itu, di mana Kalina dan Devira terbunuh oleh Hendra dan Cindy karena dua sahabatnya itu berusaha melindunginya. Amanda berjanji kalau dia kali ini akan memastikan bahwa kedua sahabatnya itu baik-baik saja. Di kehidupannya saat ini, Amanda tak akan membuat orang-orang yang ia sayangi terluka karena dirinya. Amanda berjanji kalau akan berdiri di atas kakinya sendiri dan tak ingin menjadi wanita yang lemah. Banyak orang yang perlu dia selamatkan dan bergantung padanya, termasuk keluarganya. Meski nanti setelah ini keluarganya akan sangat marah dengan keputusan Amanda yang tak ingin menikah dengan Hendra. Tak lama kemudian, Devira mengetuk pintu ruang tunggu yang terbuka. Wanita itu tersenyum kepada Amanda. Dia senang bertemu kembali dengan Amanda. “Kau sudah datang?” tanya Amanda menyambut wanita itu dengan suka cita. Mereka berpelukan saling bergantian. Tak bertemu hari itu terasa sangat panjang bagi Amanda. Terlebih sebenarnya dia mengerti kalau mereka hanya terpisah beberapa bulan saja. “Aku pikir kau melupakanku?” ujar Amanda. “Kau tahu, aku tetap akan hadir ke pernikahanmu meski aku tak setuju dengan mempelai pria mu,” ujar Devira. Amanda meringis saat mendengar perkataan sahabatnya yang sangat jujur. “Tapi sejak kapan kau bisa secantik ini?” Devira memegang pundak Amanda, mengamati sahabatnya itu dari samping kanan dan kirinya. Wanita itu tak menyangka kalau sahabatnya yang dikenal cupu itu ternyata adalah seorang profesional yang bersembunyi di balik penampilan dekilnya. “Kau tak pernah membaca dongeng Cinderella yang dibuat cantik oleh ibu peri? Mungkin saja aku memiliki ibu peri sehingga bisa secantik ini, bukan?” kekeh Amanda. Mereka pun tertawa bersama. Mereka tak peduli dengan orang-orang yang lewat dan mungkin akan menggunjing mereka bertiga. “Oh, iya. Aku memiliki kejutan untukmu. Coba tebak siapa yang datang bersamaku,” ujar Devira dengan penuh suka cita. Gadis itu memang terkenal sangat baik dan periang. Namun demikian, Devira adalah sosok yang blak-blakan. Amanda dan Kalina saling bertatapan dengan pandangan yang tak biasa. Keduanya sangat penasaran tentang apa yang menjadi penyebab Devira begitu bahagia. “Katakan … ada kabar apa yang membuatmu bahagia? Siapa yang kau maksud?” tanya Amanda kepada sahabatnya yang lain itu. “Kau pasti akan senang,” ujar Devira. “Masuklah!” ujar Devira ke arah pintu di mana tadi ia masuk. Tak lama, seorang pria berpenampilan rapi, lengkap dengan setelan jasnya, masuk ke dalam ruangan itu. Pria itu membawa tas kerja di tangannya Pria yang diperkirakan seusia dengan ayah Amanda itu sangat amat dikenalnya. Devira dan Alex kebetulan bertemu di jalan saat Devira hendak meninggalkan kediaman Amanda. Devira yang terlambat dan tak ikut dalam iringan pengantin Amanda, hendak menyusul wanita itu. Namun, wanita itu urungkan saat mendapati seorang pria yang merupakan Pak Alex menatap rumah Amanda. Awalnya Devira curiga dengan gerak gerik pria itu yang tampak tak biasa. Namun, setelah Devira mencari tahu lebih lanjut, Devira tahu kalau pria itu merupakan pengacara kakek Amanda. Lagi pula Amanda dengan pria yang bernama Alex cukup dekat. Dibanding dengan ayahnya, Amanda lebih dekat dengan Alex. Devira pun mengatakan kepada Alex kalau Amanda dan keluarga Hadiningrat yang lain saat ini mungkin tengah berada di Hotel Airlangga karena hari itu adalah hari pernikahan Amanda. Devira melihat raut wajah Alex yang sedih karena tak diundang oleh Amanda dan keluarganya. Namun, dia cukup tenang karena dia datang di waktu yang tepat. Devira kemudian mengajak Alex untuk hadir ke pernikahan Amanda bersama dengan dirinya agar memiliki akses masuk ke acara itu. “Pak Alex?” pekik Amanda. Amanda cukup terkejut mendapati pria itu ada di sana. Amanda terharu saat melihat laki-laki yang sudah seperti ayah baginya itu bisa hadir ke pernikahannya. Pria itu mengangguk sembari tersenyum saat Amanda menyebutkan namanya dengan wajah sumringah. Amanda berjalan menuju pria itu. Dia mengulurkan tangannya kepada pria paruh baya yang menggunakan lencana pengacara yang tersemat di sebelah kiri jasnya. “Selamat atas pernikahanmu, Nona Amanda,” ujar Alex. Amanda tersenyum getir. Entah mengapa ia tak merasa bahagia saat pria itu mengucapkan selamat atas pernikahannya. Sudah lama Amanda tak mendapat kabar dari pria itu. Kemunculan Alex di pesta pernikahan Amanda adalah sesuatu yang tak diduga. “Bagaimana bisa Anda datang kemari?” tanya Amanda. “Ah, aku tahu. Kau sepertinya tak berniat untuk mengundangku. Padahal aku punya hal yang sangat penting untukmu,” ujar Alex berpura-pura merajuk. “Aku malah berpikir Pak Alex yang sudah melupakanku,” ujar Amanda. Keduanya kemudian tertawa. Gurauan keduanya membuat sahabat Amanda terpaksa tersenyum juga. Pengacara dari kakek Hadiningrat itu memang tak pandai bergurau karena terlalu sering menangani kasus sebagai tugasnya menjadi pengacara. Pria itu selalu bersikap serius. Namun, dia tak bisa tahan kalau Amanda yang menghadapinya. Alex begitu menyayangi Amanda seperti halnya kakek gadis itu. “Aku tak pernah melupakanmu meski aku kini disibukkan dengan kasus-kasus lain sebagai pekerjaanku menjadi pengacara.” “Ngomong-ngomong ke mana Pak Alex selama ini? Kenapa tak lagi datang berkunjung ke rumah?” “Kau seperti tak tahu saja bagaimana sifat ayahmu. Dia tak ingin tersaingi dan tak ingin aku membantumu mengurus kakekmu.” Kenang Alex mengingat masa lalu. Amanda kini paham. Dulu dia begitu mudah terpengaruh oleh keluarganya yang culas sehingga tak memiliki siapa-siapa untuk membantunya. Namun, kini Amanda sadar kalau sebenarnya dia memiliki orang-orang yang sayang dengan tulus padanya “Maafkan aku yang tak sempat memberitahu Pak Alex mengenai hari ini. Aku sendiri merasa ini bukan acara ku. Namun, acara mereka,” kekeh Amanda yang memang hanya diberi jatah undangan sebanyak sepuluh undangan saja. “Hanya sepuluh?! Serius??” tanya Alex yang dijawab anggukan oleh Amanda. Mendengar hal itu, Alex merasa iba pada gadis itu. “Kamu tak perlu khawatir. Selama ada aku, semuanya pasti baik-baik saja,” ujar Alex bangga pada dirinya sendiri. Amanda menganggukkan kepalanya. Dia bersyukur masih ada orang yang berpihak padanya. Dia merasa tak lagi sendiri. “Yang jelas hari ini aku juga memiliki sesuatu untuk kalian tahu nanti. Anggap sebuah hadiah pernikahan dari kakekmu. Dan juga, katakan padaku jika kau suatu hari nanti membutuhkan sesuatu. Aku diperintahkan oleh kakekmu untuk membantu dan mendukungmu hingga akhir hayat ku,” ujar pria itu. Amanda mengangguk dan tersenyum. Tak lupa wanita itu mengucapkan terima kasih kepada Pak Alex yang rasanya datang di waktu yang tepat. Amanda yakin kalau kali ini semuanya akan berjalan sesuai dengan apa yang ia rencanakan. Tak hanya itu, Amanda yakin kalau kali ini keadaan akan berbalik dan memihak padanya. Masa depan yang mengerikan itu menjadikan Amanda benar-benar ingin mengubah keadaan. Dia tak ingin kejadian itu terulang kembali di mana ia diberi kesempatan untuk terlahir kembali membalaskan dendam sebelum ia pergi. Ia tak akan melepaskan orang-orang yang telah menyakitinya tanpa ampun. “Sebenarnya saya memiliki sebuah permintaan,” ujar Amanda seraya tersenyum. Mendengar perkataan Amanda, Alex tampak semakin bersemangat. Meski usianya kini tak lagi muda, dia senang Amanda meminta bantuannya dan mengandalkan dirinya. “Katakan! Apa itu?” tanya Alex dengan semangat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD