Keluarga Daniswara Datang ke Pernikahan

1640 Words
“Ini,” ujar Amanda sembari menyodorkan sebuah amplop coklat ke arah Alex. Pria itu menerima amplop itu dengan penuh tanya. Pengacara pria itu yakin kalau ada sesuatu di dalamnya. Alex kemudian meminta izin kepada Amanda untuk membuka benda yang sudah berpindah ke tangannya itu. “Apa ini, Nona? Bolehkah saya membukanya?” “Bukalah. Aku menyerahkan kepada Anda untuk anda periksa sebelum aku berikan kepada mereka.” “Mereka?” tanya Alex mengernyitkan dahi. “Ya. Aku berencana memberikan itu sebagai kejutan bagi mereka. Mohon untuk diperiksa terlebih dahulu apakah hal itu sudah benar atau perlu ditambahkan sesuatu lagi?” Alex membaca isi amplop yang ternyata merupakan sebuah surat pernyataan yang akan diajukan kepada keluarga Daniswara. Pria itu membaca satu persatu poin yang ada di sana dengan saksama. “Setelah pria itu menandatanganinya, Tolong Anda amankan surat itu. Aku takut sesuatu akan terjadi di kemudian hari. Bukankah kita tak dilarang untuk berjaga dan membela diri?” ujar Amanda. Pengacara keluarga Hadiningrat itu mengangguk. Pria itu sudah membaca surat itu dan merasa isi tulisan itu sudah sempurna. “Anda benar. Saya sudah membaca surat ini. Dan saya rasa seperti ini sudah cukup kuat jika suatu saat keluarga Daniswara memiliki rencana buruk.” Saat dua orang itu sedang dalam pembicaraan serius, sebuah ketukan pintu dari luar ruangan itu membuat keduanya menoleh dan menghentikan pembicaraan mereka. “Maaf mengganggu. Mohon untuk bersiap karena setelah ini upacara pernikahan akan dilaksanakan,” ujar seorang wanita yang ternyata petugas organizer pernikahan. “Apa keluarga Daniswara sudah datang?” tanya Amanda kepada wanita yang saat ini berdiri di depan pintu ruangan itu. “Sepertinya sebentar lagi mereka akan datang,” ujar wanita itu sembari menundukkan kepalanya, mengisyaratkan untuk pamit undur diri. Amanda menatap kepergian wanita itu. Setelahnya Dia meminta sahabatnya yang juga masih ada di ruangan itu untuk menutup pintu ruang tunggu pengantin di mana gadis itu berada. Setelah memastikan bahwa pintu itu tertutup dan tak ada orang di sekitar ruangan itu, Amanda dan Alex melanjutkan pembicaraannya mengenai surat pernyataan itu. Tak hanya itu, Amanda meminta Alex untuk menyimpan surat-surat aset milik gadis itu yang ia dapatkan dari hasil jerih payahnya sendiri. Wanita itu tak ingin Hendra mengetahui kekayaan miliknya dan mengambil alih semuanya. Setelah menyelesaikan diskusi mereka, ketiganya kemudian keluar dari ruang tunggu pengantin itu bergantian. Diawali oleh Alex yang lebih dahulu keluar menuju aula pernikahan dan mengisi kursi tamu di salah satu sudut ruangan itu. Sementara sahabat gadis itu mendampinginya menuju pintu utama yang terhubung dengan aula pernikahan. Amanda bisa melihat ayahnya, Ryan, saat ini sudah menunggunya di depan pintu utama aula itu. Tak ada lengkungan senyum yang terbit di wajah pria paruh baya itu. Sejak Amanda kecil, pria itu memang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya itu. Amanda tahu kalau saat itu dirinya bukanlah anak yang diharapkan oleh pria itu. Dan tak ada yang tahu kalau hal itu menjadi luka dalam di wanita yang tengah mengenakan gaun pengantin hari itu. “Lama tak berjumpa, Bagaimana kabarmu Ayah?” “Kau masih bisa menampakkan wajahmu dan memanggilku dengan sebutan Ayah?” ujar pria itu seraya tersenyum sinis. “Padahal aku sudah mengatur agar Anandita yang menggantikan posisimu sebagai mempelai wanita. Tapi kau benar-benar tak tahu malu,” ujar Ryan lagi. Amanda sedikit terkejut dengan perkataan ayahnya itu. Memang selama ini ayahnya hanya menyayangi adik-adiknya dan juga anaknya dari perempuan lain. Tidak dengan dirinya. Namun, entah mengapa perkataan pria itu semakin membuat luka yang hampir mengering berubah basah karena siraman air garam dari ayahnya sendiri. “Maaf.” Hanya kata itulah yang bisa keluar dari mulut Amanda yang tampak ranum. Pengantin wanita itu menundukkan kepalanya, tak lagi menatap pria paruh baya yang merupakan ayah kandungnya. Wanita itu menyunggingkan senyum miring, merasa miris karena hanya dia satu-satunya yang tak diharapkan di rumah itu. *** Beberapa menit sebelum Amanda keluar dari ruang tunggu pengantin, keluarga Daniswara termasuk Hendra baru saja tiba di Hotel Airlangga. Hendra yang berjalan di barisan paling depan bersama dengan kedua saudaranya, menjadi sorotan. Semua mata tertuju pada ketiga pria muda dari keluarga Daniswara. Postur tubuh mereka yang tinggi dan cukup berisi ditambah wajah rupawan ketiganya, membuat tamu undangan yang hadir, terpesona dengan wajahnya. Saat tiga pria itu lewat, semua mata tertuju padanya. “Beruntung sekali Amanda mendapatkan suami yang kaya dan rupawan,” bisik salah satu tamu undangan yang terdengar oleh Hendra. Pria itu menyunggingkan senyum congkaknya. Mempelai pria itu mengangkat dagunya lebih tinggi usai mendengar pujian yang dilontarkan oleh mereka. Tak hanya tiga bersaudara keluarga Daniswara yang bersikap angkuh. Ibu dari pria itu juga mengangkat dagunya dan berjalan dengan pongah. Mereka tak banyak basa-basi, berjalan menuju kursi yang telah disediakan tanpa tersenyum atau menyapa tamu undangan yang telah datang. Hendra bergegas menuju altar pernikahan, menanti mempelai wanitanya yang akan diantar oleh sang mertua mendekat ke arahnya untuk mengucap janji suci pernikahan mereka. Beberapa saat kemudian, pintu utama aula itu pun terbuka. Sesosok wanita dalam balutan gaun putih yang cantik dan elegan, berjalan berdampingan dengan seorang pria paruh baya yang kini menggenggam tangan mempelai wanita itu. Hendra yang tak pernah melihat Amanda berdandan, kini tampak takjub dengan mempelai wanitanya yang hari itu dirias tipis dan natural, menampilkan kecantikan alami wanita itu. Pria itu tak mengalihkan pandangannya kepada mempelainya yang saat ini berjalan ke arahnya dengan begitu anggun bersama dengan sang mertua. Detak jantungnya terdengar begitu kencang saat menyadari bahwa calon istrinya berjalan semakin mendekat ke arahnya. “Cantik,” celetuk pria itu. “Apa?” tanya Amanda yang mendengar perkataan Hendra namun ia pura-pura tak mendengarnya. “Tidak ada,” sahut pria itu. Saat ayahnya hendak menyerahkan tangan putri yang ia genggam kepada calon suaminya, wanita itu tak menyambut uluran tangan mempelai prianya. Hal itu membuat tamu undangan yang hadir di ruangan itu bingung. Mereka tak menyangka kalau seorang Amanda menolak uluran tangan dari Hendra yang akan menjadi calon suaminya itu. Pria itu menautkan alisnya, tak habis pikir dengan tingkah calon istrinya yang secara terbuka menghinanya. Namun, pria itu berusaha menahan emosi di dadanya yang saat ini tengah membara. Ia tak ingin malu untuk ke sekian kalinya. Dia tak ingin terprovokasi oleh tindakan calon istrinya itu. “Maaf, sebelum kita terikat dalam janji suci pernikahan, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Ah, lebih tepatnya meminta kamu untuk mengabulkan persyaratan yang aku ajukan,” ujar Amanda. Hendra tersenyum, kedua tangannya terkepal. Pria itu tak habis pikir kalau Amanda begitu berani menentangnya. Mati-matian pria itu menahan amarahnya. “Apa yang kau inginkan? Aku akan memenuhinya kalau aku mampu,” ujar pria itu. “Aku yakin Anda pasti mampu melakukannya,” ujar Amanda seraya menyunggingkan senyum. “Katakan!” Wanita itu memberikan isyarat kepada sahabatnya yang saat ini memegang setumpuk berkas yang sudah dipersiapkan untuk calon suami Amanda. Sebenarnya hanya ada dua lembar kertas penting di dalamnya. Namun Amanda sengaja mengecoh pria itu agar tak curiga dengan dua lembar surat yang dia selipkan di sana. Wanita itu yakin kalau calon suaminya itu tak akan teliti. Hendra pun menerima berkas-berkas yang diberikan oleh sahabat dari calon istrinya yang konon merupakan persyaratan untuk melanjutkan pernikahan antara mereka. Kalau bukan karena keluarga Daniswara yang saat ini berada di ambang kehancuran, Hendra tak akan mau menikah dengan Amanda. Pra itu sama sekali tak mencintai Amanda. Dia hanya menginginkan harta keluarga Hadiningrat yang bisa membantu keluarganya untuk bangkit dari ambang kehancuran. Ta ada yang tahu kalau keluarga Daniswara saat ini sedang terpuruk. Kabar kerugian besar mereka tertutup dengan kabar pernikahan yang telah disusun oleh mendiang kakek Daniswara dan kakek Hadiningrat. Hendra sangat bersyukur karena itu. “Apa hanya ini saja?” tanya Hendra menyunggingkan senyum. Pria itu kemudian membaca satu per satu poin-poin perjanjian di beberapa lembar awal yang diajukan mempelai wanitanya. Ada sekitar lima belas lembar yang berisi poin-poin yang menurut Hendra masih dapat ia berikan. Menurut pria itu, tak ada poin-poin merugikan baginya, dan ia yakin di lembar-lembar lainnya akan sama seperti itu juga. “Ya, aku hanya menginginkan itu. Tapi kau harus menandatangani tiap lembar perjanjian itu,” ujar Amanda kepada pria yang saat ini memegang beberapa lembar kertas di tangannya. Amanda menyodorkan pena kepada Hendra yang memang telah disiapkan untuk pria itu menandatangani surat perjanjian itu. Dengan senang hati Hendra menerima pena itu. Pria itu kemudian membubuhkan tanda tangannya di atas lembar berkas itu tanpa terkecuali. Sesuai dugaan, pria itu tak memeriksa berkas itu lagi. Amanda menyunggingkan senyumnya. Ternyata semudah itu membuat Hendra menyetujui persyaratan darinya. Siapa sangka kalau tiba-tiba seorang wanita pauh baya mendekat ke arah mereka, merebut berkas yang suah ditandatangani oleh Hendra. Wanita itu membaca satu per satu poin-poin yang tertulis dalam surat perjanjian itu. Setelah membaca semuanya, wanita itu tersenyum miring. “Sudah aku duga, ternyata kau sangat licik,” ujar wanita itu. “Apa maksud Anda?” tanya Amanda pura-pura tak mengerti dengan maksud perkataan calon ibu mertuanya. “Kau jangan pura-pura lugu. Kau mungkin bisa membohongi putraku, tapi tidak denganku.” Wanita itu kemudian mengangkat surat perjanjian itu lebih tinggi. “Wanita ini, berusaha menjebak putraku, mengajukan surat perjanjian di mana isinya merugikan putraku yang hendak menikahinya. Padahal selama ini putraku tak memiliki salah apa pun pada keluarganya.” Wanita itu menatap seluruh tamu undangan sembari memegang lembaran surat perjanjian itu. Setelahnya, dia mendekat ke arah Amanda dan menatap pengantin wanita itu dengan penuh tekanan. “Mengapa kau melakukan ini kepada kami?” wanita paruh baya itu menatap Amanda. Tak lama kemudian dia menangis meraung mencari simpati para tamu undangan yang hadir di aula hotel itu. “Apa aku tak diperbolehkan mengajukan perjanjian pranikah untuk melindungi diriku sendiri?” tanya Amanda dengan suara yang tak kalah lantang. Perkataan wanita bergaun putih itu membuat semua tamu undangan yang hadir di sana menganggukkan kepalanya. Mereka membenarkan apa yang dilakukan oleh Amanda. Terlebih mereka yakin kalau seorang mempelai wanita tak akan menyakiti suaminya di masa depan. “Kau bermaksud untuk menentang perjodohan antara mendiang kakek keluarga kita?” teriak wanita itu dengan sangat lantang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD