“Apa kau akan berlindung di balik kata perjodohan dari mendiang kakek kita? Lucu sekali!” kekeh Amanda.
Wanita paruh baya itu tampak tergagap saat mendengar Amanda yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Bukankah gadis itu adalah seorang gadis penurut dan penakut? Kenapa dia saat ini menjadi gadis pembangkang dan berani melawan?
“Bukankah pernikahan ini terjadi hanya karena wasiat dari kakekmu dan ayahku? Kalau tak ada mereka, keluarga kami pasti tak akan menikahkan putra kami kepada keluargamu.”
“Baiklah, kau kamu memang merasa keberatan dengan perjodohan ini, mengapa kalian tidak membatalkan perjodohan ini sejak awal?”
Nyonya tua dari keluarga Daniswara itu tak bisa berkata-kata lagi. Dia tak bisa menggertak gadis di hadapannya. Perasaan khawatir menyusup ke relung hati wanita itu.
“Ah! Apa jangan-jangan kalian tetap ingin melanjutkan perjodohan ini hanya karena harta keluarga kami? Bukan begitu, ibu mertua?”
Wanita paruh baya itu hampir ambruk saat calon menantunya mengetahui maksud dan tujuan keluarga mereka menikahkan putranya ke keluarga Hadiningrat.
“Tenanglah, Ma. Dia hanya menggertak. Tak mungkin kalau dia tahu kalau keluarga kita ada di ambang kehancuran,” bisik Hendra sembari menahan tubuh mamanya yang hendak roboh.
“Jangan asal menuduh. Keluargaku begitu menghormati leluhur. Kita akan tetap melaksanakan pernikahan ini meski dengan perjanjian yang kau ajukan ini,” ujar Hendra kepada Amanda seraya mengembalikan berkas yang sudah ia tanda tangani sebelumnya.
“Bagaimana dengan keluarga kita kalau kau tak memiliki hak untuk mengurus aset wanita itu?” bisik ibu lelaki itu masih berusaha menghentikan putranya mengembalikan surat perjanjian yang dipegangnya.
“Mama tak perlu khawatir. Kita akan menyusun rencana lagi usai kita menikah. Yang penting kami harus menikah dulu. Kalau kami sudah menikah, akan lebih mudah untuk membujuknya,” bisik Hendra pada wanita di sampingnya itu.
Amanda tersenyum miring mendengar perkataan pria itu. Tapi kini itu bukan menjadi masalah. Setidaknya dia memiliki perlindungan atas aset miliknya agar tak dicampuri oleh pria tamak itu.
Dua pasang mata mengamati percakapan yang terjadi di depannya. Dua orang pria yang merupakan tamu undangan pernikahan itu, mendengar semuanya dengan sangat jelas karena posisi mereka yang duduk di bagian depan.
“Luar biasa. Tapi kenapa Kakak tak pernah mengungkapkan pada wanita itu kalau menyukainya?” tanya salah seorang pria dengan setelan jas berwarna biru gelap itu.
“Itu bukan urusanmu. Aku pun tak berhak melarang dia untuk tetap melangsungkan pernikahan dengan pria itu. Mereka sudah lama menjalin hubungan,” jawab pria di sebelahnya.
“Sayang sekali,” kekeh pria muda dari keluarga Narendra itu.
“Padahal aku lihat wanita itu adalah wanita yang tangguh. Sangat cocok denganmu,” lanjut pria yang bernama Bima itu kepada kakaknya.
“Sudahlah. Jangan berbicara omong kosong,” ujar Bayu, kakak dari laki-laki itu.
Pernikahan yang sebelumnya hampir terhenti mendadak itu, dilanjutkan kembali. Amanda tak menyangka kalau pria di hadapannya itu sangat gigih. Pria itu tak ingin melepas dirinya begitu saja.
Dengan berat hati, Amanda menyambut uluran tangan pengantin prianya. Lalu kemudian berjalan beriringan dengan lelaki dari keluarga Daniswara itu menuju altar pernikahan.
Saat berjalan menuju altar, Amanda melihat seorang wanita yang saat ini duduk di kursi khusus keluarga. Wanita yang memakai gaun berwarna putih, yang sepertinya telah dipersiapkan untuk menjadi pengantin penggantinya hari ini.
Amanda tersenyum miring saat melihat wanita itu mengerucutkan bibirnya. Gadis itu bisa melihat bahwa wanita yang tengah duduk di kursi itu begitu kesal padanya karena semua tidak berjalan sesuai rencana yang telah dia rencanakan dengan orang tuanya.
Amanda dan Hendra pun tiba di altar pernikahan yang telah dihias begitu indah. Bunga berwarna putih menghiasi tepian altar itu. Di tempat itu, sepasang pengantin itu mengucapkan janji suci pernikahan mereka meskipun keduanya tak mengucapkan janji itu dari hati. Mereka pun akhirnya sah menjadi pasangan suami-istri.
Setelah bertukar cincin, mereka kemudian berjalan turun menuju bangku kedua orangtua mereka, meminta restu pada mereka bergantian.
Meski dengan wajah kesal, mereka memberikan restu pada pasangan pengantin itu.
Amanda sendiri tersenyum saat mendapati ekspresi ayahnya dan juga kedua orangtua Hendra yang masih menolak pernikahan itu.
Setelahnya, mereka menjamu para undangan yang hadir dengan makanan yang sudah disediakan di beberapa sudut ruangan besar itu.
“Ikut aku,” seseorang menyeret Amanda menuju ruang tunggu yang berada tak jauh dari aula itu.
Amanda pun mengikuti pria yang tak lain adalah ayah kandungnya yang sudah berjalan lebih dahulu di depannya. Wanita itu kemudian masuk ke dalam ruangan di mana ternyata semua keluarga inti sudah ada di dalam ruangan itu, termasuk ibu dan saudarinya yang lain. Dan siapa sangka kalau Hendra yang tadi langsung meninggalkannya di aula pernikahan itu, saat ini sudah ada di ruangan itu bersama dengan yang lain.
“Ada apa ini?” tanya Amanda yang masih tak paham dengan apa yang terjadi.
“Amanda, dengarkan! Kau kini sudah menjadi bagian dari keluarga Daniswara. Oleh sebab itu, kau sekarang sudah bukan menjadi bagian dari keluarga Hadiningrat.” Sang ayah membuka pembicaraan saat itu.
Amanda tersenyum miring mendengar perkataan ayahnya. Gadis itu tahu kalau saat ini dia secara terbuka telah dibuang oleh keluarganya.
“Maka, dengan keluarnya kamu dari keluarga Hadiningrat, kau tak lat berhak untuk mendapatkan bagian dari apa yang menjadi aset warisan kakek,” ujar Ryan lagi.
Amanda tertawa mendengar perkataan ayahnya. Bagaimana bisa mereka membuat pernyataan sepihak seperti itu hanya karena dia telah menikah dengan keluarga Daniswara?
Mendengar perkataan Ryan yang membuang Amanda, membuat Hendra yang juga ada di ruangan itu kesal. Lalu, buat apa dia menandatangani surat perjanjian itu dengan Amanda kalau wanita itu sudah tak memiliki apa-apa?
“Ah! Ternyata kau memang wanita pembawa sial! Pantas saja keluargamu tak menginginkan kamu lagi. Lantas, buat apa aku menikah denganmu?” Hendra kemudian mendorong tubuh Amanda hingga jatuh terduduk.
Pria itu hendak memukuli Amanda yang seolah telah mempermainkan dirinya. Namun, hal itu urung dia lakukan karena pintu ruangan itu terbuka begitu saja.
Seorang pria memasuki ruangan di mana keluarga Hadiningrat itu berkumpul. Dia memberi salam kepada semua orang di sana.
“Maaf mengganggu pertemuan keluarga kalian. Hanya saja, saya merasa kalau saya juga harus hadir dalam pertemuan ini,” ujar pria itu sembari membetulkan dasinya.
“Pak Alex? Senang Anda juga datang ke acara pernikahan ini,” ujar Ryan menyambut pria yang berprofesi sebagai pengacara itu.
Alex menyunggingkan senyum. Namun, seketika wajahnya berubah tanpa senyum sembari melangkah lebih dalam menuju ruangan itu.
“Saya rasa sudah saatnya kita diberitahu mengenai pembagian harta warisan dari ayah kami,” ujar Ryan masih bersikap ramah.
“Anda benar. Saya datang ke acara keluarga kalian ini memang memiliki maksud dan tujuan seperti yang telah Anda katakan,” ujar Alex membenarkan.
“Tapi ... “
Pria itu menjeda ucapannya. Kedua matanya tertuju pada Hendra yang merupakan keluarga Daniswara yang juga ada di dalam ruangan itu.
“Bukankah ini pertemuan keluarga Hadiningrat? Mengapa ada seseorang dari keluarga lain yang ada di dalam ruangan ini?”
“I-itu karena Hendra sudah merupakan bagian dari keluarga Hadiningrat. Dia sudah menjadi bagian dari keluarga ini setelah menikah dengan Amanda, bukan?”
Alex mengangkat sebelah alisnya. Pria itu lantas tertawa mendengar pembelaan Ryan kepada pria yang baru saja menjadi suami Amanda itu.
“Apa aku tadi salah mendengar kalau Amanda sudah bukan merupakan anggota keluarga Hadiningrat sehingga dia tak layak di sini? Lalu kenapa kalian mengakui dia yang berasal dari keluarga Daniswara menjadi anggota keluarga Hadiningrat? Bukankah itu hal yang lucu?” ujar pengacara itu dengan santainya.
“Mungkin Anda salah mendengar,” ujar Hendra angkat suara.
Namun, mendengar perkataan pria itu, Alex justru menatap tajam ke arah pria yang kini menjadi suami Amanda.
“Oh, baiklah kalau begitu. Jadi, bolehkah saya membacakan surat wasiat dari mendiang Tuan Hadiningrat?” tanya pengacara pria itu meminta izin.
Semua anggota keluarga itu mengangguk kecuali Amanda yang tersenyum miring melihat tingkah keluarganya yang begitu rakus akan harta kekayaan.
“Baiklah kalau begitu.”
Lelaki dengan lencana pengacara itu kemudian membuka isi tasnya. Di dalam sana terdapat sebuah map yang berisi surat wasiat dari Tuan Hadiningrat yang telah disahkan oleh notaris dan saksi lainnya.
Pria itu kemudian mengeluarkan selembar surat dari dalam map berwarna hitam itu kemudian membacakannya.
“Dengan ini, saya Hadiningrat selaku pemilik dan Ketua dari keluarga Hadiningrat ... Memberikan hak dan kuasa penuh atas aset dan seluruh kekayaan saya, dalam arti mewariskan semua aset bergerak dan tak bergerak meliputi rumah, perusahaan dan properti lainnya kepada putri kesayangan keluarga Hadiningrat yaitu, Amanda. Dan untuk anggota keluarga lain yang ingin mengambil bagian dalam membantu mengelola semua aset yang ada, harus dengan persetujuan dari Amanda Hadiningrat selaku pewaris tunggal yang sah. Demikian surat wasiat ini saya tulis dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan.”
Pria itu kemudian menunjukkan surat wasiat dari Hadiningrat yang ada di tangannya kepada semua orang. Surat yang berisi tulisan tangan milik Hadiningrat itu sudah terjamin keasliannya.
“Tidak mungkin. Kalian pasti bersekongkol dengan Amanda!” ujar salah seorang wanita di antara mereka.
Wanita itu kemudian berjalan cepat ke arah Amanda dan hendak menjambak rambutnya. Namun, hal itu berhasil dihalau oleh Amanda.
“Kau tak memiliki hak, wahai anak tiri!”