Keluarga Tak Tahu Malu

1519 Words
Gadis itu terkesiap saat pengacara laki-laki yang ada di sana membentaknya dan bahkan menyebutnya sebagai anak tiri di hadapan semua orang. Pria itu merengek meminta pembelaan kepada mamanya. “Ma, dia menghinaku!” ujar wanita itu kepada mamanya yang tak sanggup berkata-kata. Alex tersenyum miring mendapati wanita yang usianya tak jauh dari Amanda itu masih saja merengek kepada mamanya. “Tenanglah, Nak.” Hanya itu yang keluar dari mulut wanita itu. “Terima kasih, Pak Alex,” ujar Amanda kepada pengacara Hadiningrat yang tersenyum kepadanya. “Kalau begitu, saya permisi. Kalau Anda membutuhkan bantuan, bisa menghubungi saya,” ujar Alex yang kemudian memberi hormat kepada pewaris Hadiningrat itu. Gadis itu mengangguk seraya tersenyum. Setelahnya, pria itu meninggalkan ruang pertemuan itu menyisakan Amanda dan keluarganya yang lain. “Jadi, siapa yang tadi mengatakan kalau aku bukan lagi anggota keluarga Hadiningrat?” Gadis itu berjalan mendekati kursi kosong yang ada di ruangan itu. Dia duduk dan menatap bergantian semua orang yang ada di sana. Amanda bisa melihat tatapan permusuhan dari setiap orang yang ada di sana. “Amanda, tidak bisakah kau membagi beberapa kepada kami? Sedikit saja ... Kami tak akan meminta banyak,” ujar Ryan kepada putrinya. Gadis itu menatap ayahnya dengan tatapan berbeda dengan beberapa saat lalu. Pria itu menggenggam kedua tangan ayahnya yang baru saja meminta sesuatu padanya seperti anak kecil. “Ayah ... Ah, tidak! Kau menolak untuk kupanggil ‘ayah’ beberapa saat yang lalu. Bahkan kau mengatakan bahwa aku bukanlah anggota keluarga Hadiningrat. Lalu, apa yang kau lakukan kini?” ujar Amanda tak melepas genggaman tangannya pada pria paruh baya itu. Gadis itu menggenggam dengan sangat erat tangan ayahnya. Tangan itu yang tadi membawanya menjadi pengantin dari Hendra Daniswara. Dan hal itu membuat Amanda semakin marah karena ulah pria itu sebelumnya. Meski Ryan adalah ayahnya, Amanda tak habis pikir dengan pria itu. Lelaki paruh baya itu bahkan tega mengusirnya dan tak membelanya saat ia diinjak-injak harga dirinya oleh Hendra dan keluarga Daniswara. Tak hanya itu, pria itu juga hanya memikirkan harta kekayaan saja. Dia bahkan rela menjual anak perempuan pertamanya kepada keluarga lain dan tak pernah menghiraukannya. Ryan berusaha melepas genggaman gadis itu yang sangat erat dan terasa semakin menyakitkan. Dia tak menyangka kalau genggaman wanita itu sangat kuat. Entah sejak kapan anak perempuan pertamanya itu menjadi berani seperti itu. “Lepaskan!” ujar pria paruh baya itu. Amanda melepaskan genggaman tangannya saat Ryan meronta. Pria itu nyaris terjungkal karena anak perempuannya yang tiba-tiba melepaskan tangannya begitu saja. “Ups! Maaf, Ayah. Aku sengaja.” “Kau!!!” Pria itu menunjuk Amanda dengan jarinya. Tatapannya penuh dengan kekesalan. “Aku menyesal telah membesarkan anak seperti kamu. Kalau saja aku tahu kau akan bertindak sejauh ini, sudah lama aku membuangmu!” lanjut pria itu lagi. Amanda tertawa terbahak-bahak. Mendengar pernyataan dari ayahnya, membuat gadis itu tertawa hingga mengeluarkan air mata di sudut matanya. “Bisakah kau mengulang kembali perkataanmu, Ayah?” ujar Amanda yang masih tak berhenti tertawa. “Kau bilang bahwa kaulah yang membesarkanku?? Sungguh lucu!” Gadis itu kemudian memasang wajah datarnya di detik berikutnya. Tatapannya sangat tajam. Lebih tajam dari mata pisau yang baru diasah. Gadis itu seolah tak sabar ingin menguliti siapa saja yang menyakitinya. “Apa kau lupa kalau selama ini kau tak pernah sedikit pun menganggapku ada? Apa kau lupa kalau kau tak pernah mengakuiku sebagai anakmu? Aku dibesarkan oleh kakek! Hanya kakek yang merawatku selama ini!” ujar Amanda kesal. “Kalau kau tak ingin membagi hartamu dengan kami, tak usah kau mengungkit kejadian masa lalu! Ayo, Ayah! Lebih baik kita pergi dari tempat ini!” ajak Aretha kepada Ryan yang masih sangat kesal. Satu per satu dari mereka meninggalkan ruangan itu dan kembali menuju aula pernikahan. Mereka kemudian berbaur dengan tamu yang lain, menampilkan senyum palsu kepada tamu undangan. Kini hanya tersisa Amanda dan Hendra yang ada di ruangan itu. Pria yang merupakan pengantin pria hari itu, mendekat ke arah istrinya. Dengan langkah canggung, pria itu mendekat ke arah Amanda yang masih menatapnya. “A-amanda,” ujar pria itu. Amanda mengangkat sebelah alisnya. Tak mengalihkan pandangannya dari pria yang merupakan suaminya. “Apa?!” jawab Amanda ketus. “I-itu. Maafkan perkataanku tadi. Maafkan aku yang tadi menyakitimu. A-aku terpaksa karena keluargamu-“ Amanda mengangkat telapak tangannya mengarah ke hadapan pria itu. Dia mengisyaratkan agar suaminya itu berhenti untuk mengucapkan lanjutan kalimatnya karena dia yakin kalau pria itu tak akan pernah mengakui kesalahannya. “Cukup! Pergilah! Jangan muncul di hadapanku kalau tidak memiliki keperluan mendesak. Ingat perjanjian pernikahan kita!” Pria itu melongo, tak mengalihkan pandangannya dari Amanda yang dengan tegas menolak penjelasannya. Pria itu kemudian segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Dia merasa adalah hal percuma membujuk istrinya saat ini. Hendra akan memikirkan cara lain nanti untuk membujuk istrinya agar mau memberikan izin padanya untuk mengelola salah satu perusahaan milik keluarganya yang diwariskan kepadanya. Amanda hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tak hanya keluarga Daniswara yang tak tahu malu, anggota keluarganya yang lain pun ternyata sama saja. *** Suasana pesta pernikahan masih cukup ramai. Tamu undangan tampak menikmati jamuan pesta. Mereka yang datang di sana kebanyakan adalah pebisnis yang bekerja sama dengan keluarga Hadiningrat. Beberapa dari mereka ada yang menjalin hubungan kerja sama dengan keluarga Daniswara juga. Mereka berbincang satu sama lain, membahas bisnis dan segala sesuatu yang berkaitan dengan perusahaan. Bahkan, beberapa di antara mereka ada yang berencana menjalin kerjasama dengan perusahaan lain yang belum pernah terikat dengan mereka sebelumnya. Di kalangan pengusaha dan keluarga kaya, pesta pernikahan merupakan salah satu kesempatan bagi mereka untuk menjalin hubungan bisnis dengan mitra baru. “Sepertinya pesta pernikahan Kakak tak lagi menjadi pesta pernikahan pada umumnya ya?” kekeh seorang gadis yang memiliki selisih umur empat tahun dengannya. “Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?” tanya Amanda tanpa menoleh ke arah gadis muda yang kini ada di sebelahnya. “Lihat itu! Bahkan pengantin priamu sedang tertawa dengan wanita cantik di sana,” imbuh adik bungsunya itu. “Biar saja. Lagi pula dia hanya sebuah cangkang kosong.” “Maksudnya?” “Kau masih kecil. Nanti kau akan mengetahui semuanya.” Amanda menatap ke arah adiknya itu. “Ngomong-ngomong, apa tidak ada seorang pria yang membuatmu terpesona?” Gadis muda yang berdiri di sampingnya itu mendadak menjadi salah tingkah. “Sebenarnya ada. Tapi aku masih belum tahu apakah dia juga menaruh hati padaku juga,” ujar gadis itu sembari menunduk. Amanda mengikuti arah pandang adiknya itu. Tatapan gadis muda itu tertuju pada seseorang yang sedang berbincang dengan orang dari perusahaan lain. Amanda yakin kalau Andini menatap Narendra bersaudara yang berada tak jauh dari tempatnya berada. “Ayo ikut denganku,” ujar Amanda yang kemudian menarik tangan adiknya itu. Wanita itu berjalan mendekat menuju ke arah dua pria muda dari keluarga Narendra. Amanda menyapa mereka dengan begitu sopan. “Senang kalian hadir ke pesta pernikahanku ini,” ujar Amanda yang tersenyum. Meski sebenarnya dia tak bahagia, sebisa mungkin gadis itu menampilkan senyum terbaiknya karena hari pernikahan adalah hari terbaik bagi sebuah pasangan. “Kami juga senang mendapat undangan dari Anda. Terima kasih,” ujar pria yang lebih tua dari salah seorang yang lain. “Kami yang seharusnya berterima kasih karena Anda berkenan hadir dalam acara ini. Ngomong-ngomong, mengapa kalian hanya datang berdua?” tanya Amanda. “Bukankah kalian merupakan lima bersaudara?” “Kami memang lima bersaudara. Sebenarnya kami sangat ingin datang berlima. Hanya saja ada beberapa hal mendesak yang tak bisa ditinggalkan oleh kakak dan adikku yang lain,” ujar Bayu sembari tersenyum. Senyum pria itu begitu menawan. Amanda akui kalau anak ke-2 dari keluarga Narendra itu sangat tampan. Namun, meski pria itu tersenyum dengan sangat menawan, tak membuat hati Amanda bergetar. Berbeda dengan gadis yang ada di sampingnya. Kedua pipinya perlahan berubah warna menjadi kemerahan. Sudah bisa dipastikan kalau Andini menaruh hati dengan anak lelaki keluarga Narendra. “Oh, iya. Apakah ada di antara kalian yang belum memiliki kekasih? Barangkali ada salah satu di antara kalian yang berkenan menjadi pasangan dari adikku yang begitu pemalu ini,” ujar Amanda kepada dua pria itu sembari memegang kedua bahu adiknya. “Sebuah kehormatan mendapat lamaran dari keluarga Hadiningrat yang terkenal karena kesuksesannya. Kami akan menerima lamaran darimu karena pasti salah satu dari adikku akan terjatuh dalam pesona adikmu yang cantik ini,” ujar Bayu. Diam-diam Bayu melirik ke arah adiknya yang mencuri pandang kepada Andini yang kini ada di hadapan mereka. “Kalau begitu, aku akan menitipkan adik kesayanganku ini kepada kalian. Dan aku harap dia akan mendapat perlindungan kalian di masa depan,” ujar Amanda. Wanita itu berharap adiknya tak mengalami hal mengerikan seperti apa yang ia tahu di masa depan. Dia yakin keluarga Narendra busa melindungi adiknya dengan baik. “Kami akan menjaga calon pengantin untuk keluarga Narendra dengan baik. Kau tak perlu khawatir,” kekeh Bayu Narendra. Melihat Amanda yang berbincang dengan pria muda di salah satu sudut ruangan itu, membuat seorang pria terbakar api cemburu. Pria itu menatap tajam ke arah Amanda yang ditatap dengan pandangan memuja oleh pria lain yang ada di hadapan wanita itu. Lelaki itu tak terima. Ia tak suka kalau ada orang lain yang menyukai istrinya. “Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti, Amanda!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD