“Ayo kita pulang,” ujar Hendra dengan wajah datarnya.
Lelaki itu hendak menarik lengan Amanda yang baru saja tiba di hadapannya.
Amanda menepis tangan suaminya yang hendak menyentuh lengannya secara paksa. Dia tak suka lelaki itu menyentuh sedikit saja bagian dari tubuhnya. Bahkan, seujung kuku pun dia tak sudi untuk bersentuhan dengan pria itu.
Wanita itu menatap tajam pria yang telah sah menjadi pasangannya itu dengan tatapan tak kalah sinis. Aura permusuhan begitu terasa di tempat itu. Pasangan suami istri yang seharusnya romantis itu tak dapat ditemukan dari mereka yang menikah hari itu.
“Apa-apaan kamu! Jangan sampai aku menyeret mu di hadapan publik.” Ancam Hendra kepada istrinya.
Di hotel itu masih ada beberapa orang termasuk petugas penyelenggara pernikahan yang sedang membereskan sisa pesta. Meski bukan kolega bisnis, Hendra merasa malu karena mendapat penolakan dari wanita yang telah menjadi istrinya beberapa saat lalu. Dia tak menyangka kalau Amanda akan berbuat berani seperti itu.
Pria itu berniat untuk membuat perhitungan dengan wanita yang bisa dia perlakukan semena-mena. Namun Hendra tak ingin merusak reputasinya yang mana akan menjadikan dirinya seorang pria yang kasar jika saat ini memaksa Amanda yang jelas menampilkan raut wajah tak suka.
“Aku bisa berjalan sendiri tanpa harus kau paksa. Lalu, apa yang tadi kau katakan? Pulang?? Apa kau punya rumah sendiri?” ejek Amanda secara terbuka.
Mendengar perkataan Amanda, wajah pria itu memerah menahan malu. Dia tak menyangka Amanda semakin menghinanya. Pria itu berjanji akan membuat perhitungan dengan wanita itu.
Melihat Hendra menunduk dan menyembunyikan warna merah di wajahnya, membuat Devira dan Kalina yang baru selesai membereskan barang milik Amanda di ruang pengantin itu menahan tawa. Perkataan Amanda sangat jelas terdengar dan sangat tegas untuk mengungkapkan bahwa sahabatnya itu enggan bersama dengan pria itu.
“Kalian meremehkan ku,” ujar pria itu sembari menahan rasa malu.
“Rumah yang saat ini ditempati olehku dan juga ibuku merupakan rumah hasil jerih payahku.” Pria itu melanjutkan perkataannya membela diri.
“Maaf ... Kalau kau mengajakku pulang ke rumahmu di mana ibumu ada di sana, aku akan menolak. Aku tak ingin tinggal dengan mertua. Aku tak ingin hidupku menyedihkan seperti halnya kejadian dalam drama yang menampilkan seorang istri yang ditindas oleh mertuanya. Lebih baik aku kembali ke apartemenku sendiri, daripada harus menanggung rasa sakit yang akan kalian buat,” ujar Amanda yang kemudian berjalan melewati Hendra.
Tak ingin melepaskan Amanda, pria itu dengan tak tahu malu mengekor wanita yang berstatus sebagai istrinya itu. Dia sangat marah dan malu karena dipermalukan secara terbuka. Dia berjanji kalau suatu saat dia akan membuat Amanda membayar perlakuannya hari ini. Pria itu berjanji akan membalas rasa sakit yang dia rasakan akibat ucapan istrinya itu.
Jika wanita itu tak ingin tinggal dengannya, maka dia yang akan tinggal dengan wanita angkuh itu.
“Mau ke mana kau?” tanya Kalina menghentikan langkah suami sahabatnya itu yang hendak mengekor.
“Bukankah dia adalah istriku? Kenapa kalian masih mempertanyakannya?” kekeh Hendra meremehkan wanita yang menghadangnya kini.
Pria itu hendak menyusul istrinya dan melewati dua sahabat istrinya itu yang tengah menghadangnya. Namun tak mudah melewati dua pengawal pribadi sekaligus orang kepercayaan istrinya itu.
“Bukankah kalian hanya menikah di atas kertas?” ujar Kalina.
“Oh, aku lupa. Kau tidak membaca surat perjanjian itu dengan saksama, bukan?” imbuh wanita itu lagi.
Devira dan Amanda tertawa. Dua wanita itu tampak senang karena usaha mereka bertiga telah berhasil. Mereka berhasil membuat pria licik itu tak bisa berbuat apa-apa. Tak hanya itu, mereka juga berhasil mengecoh pria serakah yang menikahi sahabatnya itu.
Hendra tampak gelagapan. Pria itu memang tak membaca dengan saksama semua poin perjanjian itu. Tidak mungkin ada sesuatu yang mencurigakan bukan?
Pria itu mengingat-ingat kembali apa saja yang ada di dalam surat perjanjian itu. Sekilas dia melihat bayangan tulisan yang menyatakan bahwa dirinya tak diperkenankan tinggal di kediaman Amanda. Bahkan memakai sedikit saja barang milik wanita itu akan dianggap sebagai pembatalan pernikahan.
“Sial!” umpat pria itu.
Dia tak bisa lagi menghalangi Amanda atau mengekor istrinya itu ke apartemennya. Hendra hanya bisa menatap punggung wanita itu dengan penuh kekesalan.
“Kenapa kau belum pulang juga?” tanya seseorang yang menepuk pundak pria itu.
“Oh. Tak apa. Aku masih memiliki urusan jadi tak langsung pulang,” elak Hendra.
Setelah kepergian istrinya dari hotel itu, Hendra berjalan menuju meja resepsionis hotel itu. Dia menanyakan apakah keluarga Hadiningrat memesan kamar di bangunan itu atau tidak. Karena pria itu tak mungkin pulang ke rumahnya sendirian, lebih baik menginap di tempat itu dengan beralasan kalau mereka akan menghabiskan malam pertama mereka di hotel megah itu.
“Kami memang memiliki pesanan kamar yang diperuntukkan kedua mempelai dari keluarga Hadiningrat, Pak,” ujar sang resepsionis seraya tersenyum.
Pria itu tersenyum sembari menggoda resepsionis wanita itu agar terjerat dengan pesonanya. Memang benar Hendra merupakan pria yang tampan. Tapi hal itu justru tak bisa meluluhkan istrinya yang sekarang.
“Daripada aku tinggal di kamar hotel sendiri, tak masalah kalau aku meminta wanita lain untuk menemani malam ku, bukan?” batin pria itu.
“Boleh saya meminta kuncinya sekarang?” tanya pria itu.
Wanita itu mengangkat sebelah alisnya. “Bukankah kuncinya sudah diserahkan kepada keluarga Anda?” tanya wanita itu.
“Keluargaku sudah pulang lebih dahulu. Dan sepertinya mereka lupa untuk memberikan kuncinya padaku,” ujar Hendra sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Wanita itu tersenyum. Dia kemudian memberikan kunci cadangan yang berupa kartu akses kepada Hendra.
“Semoga malam Anda menyenangkan,” ujar wanita resepsionis itu seraya tersenyum.
Senyuman wanita itu begitu menawan, membuat Hendra tergoda oleh pesona wanita itu. Dia ingin menikmati wanita itu malam ini. Bisakah?
“Ngomong-ngomong, apa Anda sudah bersuami?” bisik Hendra pada sang resepsionis.
Wanita itu menggelengkan kepalanya. “Saya masih belum menikah, Pak,” jawab wanita itu singkat.
Dia menundukkan kepalanya sembari mengulum senyum. Rona merah di pipinya membuat Hendra gemas dan ingin menyentuhnya. Namun, pria itu sadar diri kalau tak mungkin baginya menggoda wanita itu secara terbuka di tempat itu.
“Aku tunggu kamu di kamar usai pekerjaanmu selesai, Ivanka,” bisik pria itu lagi seraya membaca tanda pengenal wanita itu di sebelah kiri dadanya.
Malu-malu, gadis yang disebutkan namanya itu tersenyum. Dia juga menganggukkan kepalanya mendengar tamu pria itu akan menunggunya.
***
Hari sudah berganti malam. Hendra yang sudah sejak tadi berada di kamar hotel itu, baru saja selesai membersihkan dirinya. Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan jubah mandi yang terikat longgar. Tubuh bagian depan pria itu terekspos begitu saja, menggoda setiap wanita yang akan melihatnya.
Hanya saja, kali ini dia hanya sendiri di ruangan berukuran besar itu. Malam pertama pengantin yang seharusnya dia habiskan dengan pasangannya, justru ia lewati begitu saja.
Mengingat apa yang terjadi saat pesta tadi, membuat Hendra kembali kesal. Pria itu kemudian menuangkan air berwarna merah keunguan ke dalam gelas bening berkaki yang menyerupai piala di atas meja kecil dekat tempat tidur besar itu.
Lelaki itu menuang air itu cukup banyak. Sesekali ia menyesapnya sembari melihat pemandangan malam kota yang begitu gelap. Bintang yang biasanya menghiasi malam, kala itu tak menampakkan dirinya. Sepertinya langit malam itu sedang mendung, seperti dirinya yang hatinya mendung.
Ketukan pintu kamar itu membuyarkan lamunan akan kejadian siang tadi. Pria itu berjalan menuju pintu utama ruangan itu dan membuka papan kayu itu lebar-lebar.
Seorang wanita cantik dengan rambut tergerai menyapa pria itu dengan senyumnya yang menawan. Wanita yang kini berdiri di hadapannya tampak berbeda dengan wanita yang ia lihat tadi di meja resepsionis. Wanita di hadapannya kini sangat cantik dan tentu saja seksi.
“Kau ... Ivanka?” tanya Hendra.
Wanita itu menganggukkan kepalanya. Riasan tipis dengan pewarna bibir merah menyala, membuat Hendra semakin tergoda. Bara yang tadi hampir padam, kini kembali menyala saat melihat wanita resepsionis itu dengan pakaian yang menampilkan lekuk tubuh yang sempurna.
“Masuklah,” ujar Hendra memberikan akses kepada wanita itu agar segera masuk ke dalam ruangannya.
Tanpa menunggu lama lagi, Hendra bergegas mengunci ruangan itu. Pria itu kemudian meletakkan gelas yang sedari tadi ia pegang. Dia berjalan mendekati wanita itu dan menyelesaikan pekerjaannya, menuntaskan apa yang harus ia tuntaskan malam ini meski bukan dengan pasangannya sendiri.
Pria itu tak peduli meski malam pertama pengantinnya bukan dengan mempelai wanita yang sudah menjadi istrinya.
***
Sementara itu, Amanda yang sudah berada di apartemennya, berdiri di balkon kamarnya menatap ke langit malam yang mendung.
“Sepertinya akan hujan,” ujar wanita itu sembari memeluk tubuhnya sendiri yang merasa kedinginan.
Merasa malam semakin terasa dingin, membuat wanita itu kembali menuju kamarnya dan menutup jendela kaca besar yang menghadap ke arah luar itu. Banyak hal yang mengusik pikirannya. Dia memikirkan tentang apa yang akan dia lakukan kepada keluarganya yang saat ini tinggal di mansion milik kakeknya. Apakah dia harus mengusir mereka atau membiarkan mereka di sana?
Amanda menatap ponselnya. Wanita itu kemudian menghubungi asistennya. Dia meminta asistennya itu untuk mencari tahu beberapa hunian yang cukup besar untuk keluarga yang memiliki banyak anggota keluarga.
Setelah berpikir panjang, Amanda tak bisa membiarkan anggota keluarganya yang lain untuk tinggal di rumah kakeknya. Tapi dia tak setega itu untuk membiarkan keluarganya terlantar di jalanan. Mungkin memberikan hunian baru bagi mereka adalah hal yang cukup bagus mengingat mereka tak memiliki hak apa pun untuk menggunakan miliknya.
Amanda juga takut kalau keluarganya yang serakah akan membuat sebuah konspirasi untuk menyakitinya sekali lagi. Anggap sebuah rumah besar untuk mereka adalah sebuah hadiah pernikahan darinya untuk keluarganya.
“Sangat lucu. Seharusnya aku yang mendapat hadiah pernikahan dari mereka. Tapi justru mereka yyang mendapat hadiah pernikahan dariku,” ujar Amanda tersenyum miring.
“Ada sebuah rumah elite di daerah Sudirman, Nona. Apa Anda ingin melihatnya?”
“Berapa ukuran rumah itu?” tanya Amanda lagi.
“Rumah itu dibangun di atas tanah berukuran enam ratus empat puluh meter persegi,” ujar sang Asisten yang masih terhubung dengan panggilan ponsel Amanda.
“Bisa kau kirimkan gambarnya?” tanya wanita itu.
“Baik, Nona. Saya akan mengirimkannya.”
“Ngomong-ngomong, saya mendapat kabar tentang suami Anda,” imbuh sang asisten.
“Apa dia membuat keributan?” tanya Amanda.
“Tidak, Nona. Hanya saja, saat ini pria itu membawa wanita lain di kamar hotel di mana seharusnya Anda menghabiskan malam pertama bersamanya.”
“Biarkan saja.” Amanda memotong perkataan asistennya dengan cepat.
“Biarkan saja dia bermain-main dengan wanita lain. Kita akan memberi dia kejutan besok pagi. Kamu bersiaplah menemaniku menemuinya besok. Jangan lupa kau bawa pengawal terbaik juga.”
“Baik, Nona,” ujar asisten wanita itu kemudian menutup panggilannya.
Mendengar kabar tentang pria yang merupakan suami ya, membuat Amanda tersenyum miring. Tak disangka kalau tingkah laku pria itu sama sekali tak pernah berubah. Masih tetap sama.
“Tunggu kejutan dariku besok pagi,” ujar wanita itu seraya menyeringai.
Sesuai dengan apa yang direncanakan saat malam sebelumnya, Amanda kini sudah berpakaian rapi dan siap untuk pergi menuju hotel Airlangga di mana suaminya menghabiskan malam dengan seorang wanita.
“Sudah kamu siapkan semuanya?” tanya Amanda saat melihat asistennya sudah tiba.
“Sudah, Nona.”
“Kalau begitu, Ayo kita berangkat.”
Amanda berjalan di depan asisten dan juga dua pengawalnya. Dini hari di pagi ini, wanita itu bergerak menuju hotel yang menjadi gedung pernikahannya sehari sebelumnya. Jaraknya tak terlalu jauh dengan bangunan apartemennya. Sehingga hanya dalam waktu tempuh 10 menit, mereka sudah tiba di lobi hotel itu.
Amanda disambut dengan baik di hotel itu. Ia kemudian mengatakan kalau suaminya masih menginap di salah satu kamar hotel itu. Tak hanya itu, Amanda juga menunjukkan kartu akses miliknya yang memang sengaja dia bawa kemarin. Padahal wanita itu berharap agar suaminya tak bisa menginap di sana. Siapa sangka justru pria itu meminta kunci cadangannya kepada resepsionis dengan menggunakan namanya dan mengaku sebagai suaminya meski kenyataannya memang seperti itu.
Akan tetapi pria itu sangat tak tahu malu karena mengambil keuntungan darinya.
“Kami akan mengantarkan Anda ke kamar,” ujar resepsionis yang bertugas.
“Tidak perlu. Aku akan pergi ke sana sendiri. Bekerjalah seperti biasanya. Jangan beritahu suamiku di kamar itu karena ini adalah kejutan,” ujar Amanda mengedipkan matanya.
Petugas hotel itu tersenyum dan mengangguk lalu kemudian izin pamit kembali menuju posisi kerjanya seperti sebelumnya.
Amanda menaiki kotak besi yang membawanya menuju lantai di mana kamar suaminya berada. Kotak besi itu berhenti dan pintu besinya terbuka saat mereka tiba di tempat yang mereka tuju.
Amanda menempelkan kunci aksesnya itu. Dia yakin kalau suaminya itu saat ini sedang tertidur. Gadis itu masuk ke dalam ruangan itu tanpa menimbulkan suara. Dia kemudian duduk di atas sofa yang menghadap ke arah ranjang di ruangan itu.
Kamar itu sangat berantakan. Pakaian mereka berserakan di mana-mana.
Amanda dapat melihat kalau Hendra saat ini sedang tertidur di bawah selimut tebal bersama dengan seorang wanita.
Beberapa saat berikutnya, pria itu terbangun. Dia tampak menyunggingkan senyum sembari mengusap pipi wanita yang tertidur di sampingnya. Dengan tak tahu malunya pria itu membangunkan pasangan wanitanya itu dan ingin mengulang kembali apa yang mereka lakukan di malam itu, saling menghangatkan. Semua itu tak luput dari pandangan Amanda dan Asisten yang merekam aksi menjijikkan pria itu.
Tepat saat mereka sedang berada di puncaknya, Amanda akhirnya bersuara.
“Tontonan yang luar biasa!” ujar Amanda sembari bertepuk tangan.
Amanda tersenyum miring. Wanita itu juga menampilkan wajah enggan melihat suaminya yang melakukan hal di luar dugaan.
Merasa tanggung, pria itu menuntaskan aksinya sebelum membuat perhitungan dengan istrinya yang menonton pertunjukan yang ia lakukan secara langsung.