Maaf Yang Tak Tulus

1930 Words
“Bagaimana mungkin kamu bisa masuk ke sini?” Hendra bersembunyi di balik selimutnya. Tak hanya pria itu, wanita penghangat ranjangnya juga bersembunyi di balik selimut yang sama. “Kenapa? Bukankah aku yang seharusnya bertanya padamu, mengapa kau ada di ruangan ini?” “A-aku ... Bukankah ini kamar pengantin kita?” “Kita?” Amanda tersenyum miring. “Kalau kau tahu kamar ini dipesan sebagai kamar pengantin kita, kenapa kau membawa wanita lain?” Wanita itu menatap tajam ke arah Hendra yang tak bisa berkata-kata lagi. Suaminya itu tak bisa lagi mengelak. Bagaimanapun pria itu bersalah. Namun, bukan Hendra namanya kalau kalah begitu saja. Lelaki itu bangkit dari ranjang empuk yang menjadi saksi bisu perbuatannya semalam. Pria yang tak mengenakan apapun selain kulit yang membungkus tulang dan dagingnya itu berjalan dengan tak tahu malunya dan menyambar apa saja yang bisa dia gunakan untuk menutupi aset tubuhnya yang paling berharga. Pria itu menyambar kain yang ada di dekatnya. Tak peduli bahwa kain itu adalah pakaian wanita yang tengah berada di atas ranjang bersamanya semalam. Hendra berjalan mendekat ke arah istrinya yang tengah duduk menyilangkan kakinya, menatapnya dengan penuh keangkuhan. Amanda menatap pria itu dengan tatapan benci dan jijik. Dia merasa mual saat pria itu dengan percaya dirinya membiarkan tubuhnya terbuka. Mungkin pria itu berpikir kalau Amanda akan takjub dan berubah pikiran untuk bersama dengannya setelah melihat bagian tubuh pria itu. Namun, Amanda justru merasa enggan dan semakin tak suka dengan pria itu “Maafkan aku, Amanda. Tolong maafkan aku kali ini saja,” ujar pria itu yang bersimpuh memegang kaki istrinya. Pria itu memasang wajah memelas, berharap mendapat pengampunan dari wanita itu. Kalau bukan karena kekayaan istrinya, pria itu tak akan mungkin berlutut dan memohon belas kasihan dari wanita itu. Hendra tak akan berlutut di depan wanita, justru pria itu yang akan membuat wanita berlutut di hadapannya jika saat ini dia tak kepergok melakukan sesuatu di luar batas. “Memaafkan mu?” Amanda mengetuk sandaran tangan sofa yang tengah didudukinya. “Bagaimana ya??” Gadis itu berpura-pura berpikir. Wanita itu kemudian menoleh menatap asisten wanita yang mengalihkan pandangannya dari tubuh Hendra yang menggoda iman siapa saja wanita yang ada kecuali Amanda. “Apa menurutmu dia pantas untuk dimaafkan?” tanya Amanda kepada asisten yang ada di sampingnya. “Saya tak berhak memutuskan, Nona." "Bagaimana kalau kau memiliki suami dan suamimu melakukan hal yang sama seperti apa yang lelaki ini buat?" "Saya akan memotong asetnya, Nona. Namun, semua terserah Anda, Nona.” Jawaban asisten wanita itu sangat menarik. Dia melihat Hendra menyembunyikan aset berharga miliknya yang selalu ia gunakan untuk menaklukkan wanita di atas ranjang. Wanita itu semakin menatap suaminya dengan tatapan mengerikan. “Benar sekali. Keputusan ada di tanganku.” Amanda tampak sangat mengerikan kali ini. Tak ada yang tahu apa yang tengah wanita itu pikirkan. Hanya dari ekspresi wajahnya, Hendra merasa kalau dirinya sedang dalam bahaya. Amanda menatap wanita yang tengah duduk bersembunyi di balik selimut. “Kalau tugasmu sudah selesai, pergilah! Jangan sampai aku membuatmu menyesal,” ujar Amanda menggertak wanita penghangat ranjang suaminya semalam. Wanita di balik selimut itu bergegas menarik diri dan berlari ke arah kamar mandi. Tak lupa ia meraih tasnya yang mana terdapat kemeja dan rok span yang merupakan seragam ia bekerja. Wanita itu kemudian bergegas memakainya dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Amanda dan Hendra yang masih ada di ruangan itu. “Awasi wanita itu. Dan pastikan dia tak mengandung benih dari pria ini,” ujar Amanda menatap pria di hadapannya dengan sinis. “Terima kasih, Sayang,” ujar Hendra yang hendak bangkit mendekat ke arah istrinya. Namun, hal itu berhasil dihalau oleh asistennya. Pria itu tak diperkenankan mendekat atau menyentuh Amanda sedikit pun. “Apa-apaan kamu!” hardik Hendra kepada asisten istrinya. “Hanya aku yang berhak menegurnya!” ujar Amanda sembari menatap tajam suaminya. Hendra kembali terdiam. Pria itu kembali menundukkan kepalanya seperti layaknya kucing yang dimarahi majikannya. Hanya saja bukan tampak menggemaskan, pria itu justru tampak memuakkan. “Aku akan memberikanmu pilihan.” “Katakan, apa itu? Aku akan memenuhinya.” Amanda menganggukkan kepalanya. Wanita itu menatap ke arah jendela kamar hotel itu. Langit mulai menampakkan semburat kuning. Pertanda matahari sudah terbit di ufuk timur sana. “Kau bisa memilih, kita bercerai hari ini dan aku akan memberikanmu sejumlah uang, atau berstatus suamiku hanya di atas kertas dan tak akan mendapatkan uang sepeser pun jika kita bertemu lagi setelah ini. Jika kau memilih pilihan kedua lalu kau menemuiku lagi setelah hari ini, sama artinya dengan kita bercerai. Bagaimana?” Pilihan yang dibuat oleh Amanda sama-sama tak menguntungkan. Karena inti yang diinginkan oleh gadis itu adalah sebuah perpisahan dengan pria itu. Jika pria itu tak tamak, dia akan memilih pilihan pertama, bercerai dan mendapatkan sejumlah uang. Namun, tak berlaku untuk Hendra. Pria itu masih tak ingin melepaskan istrinya meski hubungan mereka hanya di atas kertas dan ia harus bersembunyi jika bertemu dengannya. “Aku memilih pilihan ke dua,” ujar pria itu. Amanda tertawa. Suaminya itu bukan pria yang mudah. Gadis itu sudah bisa memprediksi kalau pria di hadapannya akan memilih opsi ke dua. Dia yakin kalau pria itu bermaksud membuat rencana yang lain untuk mendapatkan kekayaannya. Karena tujuan dari Hendra adalah menguasai harta kekayaan keluarga Hadiningrat sepenuhnya. “Baiklah. Kalau begitu, aku harap kita tak akan pernah bertemu lagi,” ujar Amanda yang kemudian beranjak pergi dari kamar itu. “Apa kau sudah memaafkan aku?” tanya pria itu menghadang Amanda sebelum gadis itu pergi. “Apa kau sebelumnya meminta maaf kepadaku?” lirik gadis itu. “Maaf.” Lelaki yang dinikahkan dengan gadis itu menundukkan kepalanya. “Aku sudah memaafkan mu karena aku tahu kalau kau tak pernah meminta maaf dengan tulus.” Perkataan wanita itu membuat Hendra tertegun. Sekali lagi dia tertegun dengan sindiran gadis itu. Ternyata istrinya itu tak mudah ditipu. *** Amanda bergegas meninggalkan kamar hotel itu, membiarkan suaminya yang masih berada di kamar hotel itu sendirian. Dia tak lagi peduli dengan lelaki itu. Wanita itu tak ingin lagi berurusan dengan pria licik itu lagi. Melihatnya saja dia tak sudi “Saya sudah memesan sarapan di restoran hotel di lantai atas,” ujar sang Asisten yang berjalan menyeimbangkan langkahnya dengan atasannya. “Apa agenda kita setelah ini?” “Hari ini kita tak ada rapat dengan klien sampai dua hari mendatang. Apa Anda ingin memiliki pertemuan tambahan?” “Tak ada. Tapi mungkin setelah ini kita akan pergi ke mansion kakek. Kalian sarapan dahulu. Jangan sampai kalian kelaparan saat berperang,” kekeh Amanda. Asisten wanita itu menganggukkan kepalanya. Dia kemudian mengisyaratkan agar dua pengawal yang menemani mereka menyantap sarapan di tempat itu terlebih dahulu. Amanda bukanlah seorang atasan yang kejam terhadap anak buahnya. Dia bukan seorang yang tak memiliki perasaan atau memanusiakan manusia. Bawahannya juga manusia yang perlu makan, minum dan juga istirahat. Mereka bukan robot yang mengisi energi mereka menggunakan data listrik. Sembari menikmati sarapannya, Amanda memikirkan rencana berikutnya untuk menghadapi keluarganya. “Bagaimana dengan rumah yang kemarin kau beritahukan padaku?” “Rumah itu sudah dibeli dengan nama Anda sesuai instruksi yang Anda berikan kemarin.” “Kerja bagus. Jangan lupa menghubungi jasa pindahan untuk membantu mereka membawa barang-barang milik mereka. Dan juga pastikan jangan sampai mereka membawa barang milik kakek satu pun.” Wanita yang tengah duduk berhadapan dengan Amanda itu menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan atasannya. Usai sarapan, Amanda bertolak menuju rumah peninggalan kakeknya. Gadis itu menguatkan hatinya untuk menghadapi keluarganya yang cukup keras kepala itu. Amanda ragu dengan ayahnya, apakah pria itu akan bersikap adil atau tidak kepada ibunya. Bagaimanapun juga ibunya adalah wanita yang melahirkannya ke dunia. Dan karena dirinya ibunya diabaikan dan tak mendapat kasih sayang dari ayahnya. Ibunya juga tak berdaya menghadapi sang ayah yang begitu keras padanya dan pada ibunya. “Cari sebuah rumah lagi. Untuk berjaga-jaga saja. Meski tak terlalu besar, tak masalah. Beli atas nama ibuku.” “Baik, Nona.” Dengan segera wanita itu mencari lagi rumah yang lain untuk atasannya. Wanita itu tak pernah mengecewakan majikannya. Asisten wanita itu selalu memberikan yang terbaik untuk Amanda. “Rumah ini apa tak masalah?” “Bagus. Beli rumah itu,” ujar Amanda menganggukkan kepalanya. Amanda begitu mempercayai wanita itu. Dia sudah menganggap asistennya itu sebagai saudaranya sendiri. Wanita itu bisa melihat majikannya sedikit merasa lega usai membuat suaminya tak menemui gadis itu lagi. Setidaknya pria itu tak akan membuat masalah dalam waktu dekat ini kepada majikannya. “Kita sudah sampai, Nona.” Perkataan asistennya membuyarkan lamunan gadis itu. Dia tak menyangka kalau mereka sudah tiba di tempat tujuan. Dan itu terlalu pagi. Bukan masalah baginya meski masih terlalu pagi untuknya. Lagi pula mereka tak pernah sekali pun mengajak Amanda sarapan bersama di meja yang sama. Pintu rumah besar itu dibuka lebar oleh kedua pengawal yang datang bersama dengan gadis itu. Orang-orang yang ada di dalam rumah itu menatap ke arah pintu yang terbuka, di mana Amanda berdiri di depan pintu itu. Gadis itu kemudian memasuki rumah besar itu beserta asistennya yang mengekor di belakangnya. “Lama tak berjumpa, Ayah,” ujar Amanda menyindir pria paruh baya yang tengah menikmati kopi di ruang tamu rumah itu. “Mau apa kau datang ke sini?” hardik pria itu. “Mau apa?? Bukankah seharusnya aku yang menanyakan, kenapa kalian masih ada di rumah ini?” Pria paruh baya itu mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah menahan amarah. Hari itu masih sangat pagi untuk membuat keributan. Amanda pun sebenarnya merasa malas pagi-pagi berdebat tentang hal yang tak perlu. Terlebih di rumah kakeknya, berdebat dengan keluarganya sendiri. “Apa maumu? Kau ingin mengusir kami?” seru Ryan yang penuh dengan emosi. Suara Ryan yang sangat keras, terdengar hingga ke dalam rumah besar itu. Orang-orang yang sebelumnya ada di dalam rumah, satu per satu keluar menuju ruang tamu untuk melihat apa yang terjadi. Mereka cukup terkejut melihat Amanda yang sudah datang se-pagi ini bersama dengan pengawalnya. Mereka pun bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. “Untuk apa kau mengganggu pagi kami yang tenang?” ujar Renata, istri kedua dari ayahnya yang langsung mengeluarkan amarahnya saat melihat gadis itu. “Kau tak berhak berbicara saat ini!” “Siapa yang berkata kalau aku tak berhak angkat suara?! Aku adalah Nyonya di rumah ini!” Amanda tertawa mendengar Renata mengatakan bahwa dirinya adalah Nyonya rumah itu. “Sejak kapan? Jangan bermimpi untuk menjadi Nyonya rumah ini. Kau sama sekali bukan Nyonya di rumah ini. Nyonya rumah ini adalah ibuku, Diandra. Bukan kamu!” ujar Amanda sembari menunjuk istri muda ayahnya. Mendengar perkataan gadis itu, Ryan mengangkat tangannya. Pria itu hendak melayangkan tamparan pada anak pertamanya itu. Namun, hal itu diurungkan oleh pria itu. “Kenapa tidak kau lanjutkan, Ayah? Bukankah kau ingin menamparku?” tanya Amanda menantang pria paruh baya itu. “Apa yang membawamu datang ke rumah ini lagi?!” tanya Ryan yang menahan emosinya. “Aku ingin kalian segera pindah dari rumah ini. Aku tak ingin kalian menghancurkan harta peninggalan kakek. Bahkan aku tak sudi kalau kalian membawa satu benda pun dari rumah ini.” “Kau datang sepagi ini hanya untuk mengusir kami??” Renata yang mendengar perkataan gadis itu meninggikan suaranya. Sementara itu ibu kandung Amanda memilih kembali masuk ke dalam rumah itu, kembali menuju kamarnya bersama dengan adik bungsunya. “Kau hanya orang asing di rumah ini. Aku tak sudi kau menumpang dan menggunakan harta peninggalan kakekku yang berharga.” Amanda menaikkan intonasi suaranya. Dia merasa geram dan sangat muak dengan wanita yang selalu saja bertingkah seolah Nyonya rumah itu. “Aku akan memberi kalian waktu hingga nanti siang. Aku sudah meminta penyedia jasa pindah rumah untuk membantu kalian berkemas,” imbuh gadis itu lagi. “Bagaimana kalau kami menolak?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD