Setelah mengakrabkan diri satu sama lain, Aretha dan Hendra berpindah tempat untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Keduanya masih ada di bangunan yang sama. Namun mereka kini berada di sebuah ruangan di mana hanya ada mereka berdua di dalamnya.
Aretha menagih apa yang pria itu janjikan sebelum pria itu mengatakan apa yang dia inginkan.
Pria itu akan menikmati makanan penutup yang sangat manis sebelum akhirnya mengendalikan wanita itu.
Mereka kemudian menghabiskan malam yang hangat dengan berbagi peluh dalam irama yang sama.
“Kau masih??” ujar Hendra yang tak melanjutkan perkataannya.
Pria itu serasa mendapat jackpot berulang kali. Setelah mendapatkan segel pertama dari kekasihnya, ia mendapatkan kenangan yang sama dari gadis resepsionis dan juga anak haram keluarga Hadiningrat.
Pria itu merasa sangat beruntung. Hal luar biasa itu tak mungkin bisa didapatkan oleh lelaki lain.
Aretha menganggukkan kepalanya sembari menahan perih yang kini telah berganti dengan rasa nikmat yang tak pernah dia rasakan.
Wanita yang tak lagi gadis itu tak menyangka kalau dirinya mendapatkan pengalaman berharga dari seseorang yang ia kira tak memiliki pengalaman dalam hal bercinta.
Setelah menuntaskan permainan mereka, Aretha yang tengah berbagi selimut tebal bersama dengan pria itu menanyakan apa yang diinginkan oleh iparnya itu.
“Kau berjanji akan melakukan segala sesuatu untukku, bukan?” tanya Hendra memastikan bahwa wanita itu tak akan menolak apa yang akan ia katakan sebagai keinginannya sesaat lagi.
Wanita itu pun menganggukkan kepalanya.
“Sebenarnya, aku masih belum menghabiskan malam pertamaku dengan kakakmu,” ujar Hendra dengan wajah mengiba.
“Apa yang kau lakukan tadi hanya bentuk pelampiasan karena kau tak mendapatkan kakakku?” tanya wanita itu dengan suara parau.
“Bukan. Aku menghabiskan malam denganmu bukan karena menjadikanmu pelampiasan. Apa kau ingin aku membuktikannya sekali lagi?” tawar pria itu yang berharap wanita itu akan mengiyakan perkataannya.
“Lalu, apa maksudmu dengan mengatakan hal itu?” tanya Aretha.
“Aku ingin membuat kakakmu itu takluk padaku. Aku ingin mendapatkannya dan membuat dia menuruti semua perintahku. Bukankah kau menginginkan hal yang sama?” tanya Hendra.
Aretha menaikkan sebelah alisnya. Tujuan yang sama?
“Apakah itu berarti??”
Hendra menganggukkan kepalanya. “Bukankah kau ingin memiliki bagian dari peninggalan Hadiningrat?”
Mendengar perkataan Hendra membuat kedua mata wanita itu kembali berbinar. Benar. Mereka memiliki tujuan yang sama yaitu menyingkirkan Amanda yang saat ini memiliki kuasa penuh atas segalanya.
“Bagaimana caranya?”
“Aku memiliki sebuah ide. Dan aku yakin kau pasti bisa melakukannya, Sayang,” ujar Hendra sembari mengangkat dagu wanita itu.
“Aku akan membayar upah pertamamu malam ini,” imbuh pria itu menyeringai.
***
Hari sudah berganti. Pagi itu, Aretha terbangun dnegan senyum di wajahnya. Meski sedikit merasakan sakit karena itu adalah yang pertama baginya, wanita itu tak menyesali apa yang telah ia lakukan. Bahkan setelah ini dia berniat akan merebut Hendra dari kakaknya.
Wanita itu berjanji pada dirinya sendiri bahwa setelah dia membantu Hendra mendapatkan apa yang diinginkannya, dia akan membantu pria itu untuk menyingkirkan kakaknya dan menjadi istri pria itu menggantikan Amanda.
“Kau sudah bangun?” tanya pria itu yang tersenyum ke arah wanita di sampingnya.
Aretha menganggukkan kepalanya. “Aku akan menggunakan kamar mandi terlebih dahulu,” ujar Aretha yang membungkus dirinya dengan selimut yang menutupi mereka semalam.
Dia mengabaikan pria yang masih ada di ranjang yang sama dalam keadaan yang tak jauh beda dengan dirinya.
“Apa kau berniat menggodaku?” ujar Hendra yang entah mengapa memiliki keinginan mengulang hal semalam di pagi itu.
Kegiatan membersihkan diri yang seharusnya hanya beberapa menit, akhirnya selesai setelah dua jam berlalu. Mereka kini sudah rapi dengan pakaian mereka masing-masing.
“Mau sarapan bersama sebelum berpisah hari ini?” tawar Hendra pada wanitanya itu.
Aretha menganggukkan kepalanya sebagai bentuk persetujuan. Mereka kemudian berjalan beriringan menuju restoran semalam untuk menikmati buffet sarapan yang disediakan hotel itu setiap pagi.
***
Amanda pagi itu berangkat ke kantor seperti biasanya. Sejak pindahnya keluarganya yang lain, entah mengapa hari yang dilalui terasa begitu tenang. Bahkan terlalu tenang untuknya yang sudah hafal dengan sifat masing-masing anggota keluarganya.
“Apa ada laporan dari orang-orang di keluargaku?” tanya Amanda kepada asistennya.
“Tidak ada, Nona. Semua berjalan biasa saja. Mereka tak lagi memberontak seperti hari sebelumnya. Hanya saja,orang kita mengatakan kalau Nona Aretha tak pulang ke rumah semalaman,” ujar asisten wanita itu.
“Itu bukan hal yang besar.”
Tak lama kemudian pintu ruang kerja wanita itu diketuk oleh seseorang. Tampak sekretarisnya meminta izin kepadanya karena ada seorang tamu yang berkunjung di luar jadwal. Beruntung Amanda saat itu tak ada acara bertemu dengan klien.
“Selamat Pagi, Kak,” ujar seorang wanita dengan wajah cerahnya.
Sebuah senyuman terbit di wajah wanita itu saat melihat kakaknya yang ada di ruangan itu.
“bolehkah aku duduk?” tanya wanita itu.
“Duduklah. Apa yang membawamu ke sini?” tanya Amanda langsung pada intinya.
“Oh, ayolah, Kak. Aku adalah adikmu meski aku tak terlahir di rahim yang sama denganmu. Aku ingin bertemu denganmu karena ingin berterima kasih karena kamu memberikan hunian yang sangat bagus bagi kami,” ujar wanita itu lagi.
Amanda masih tak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan wanita itu.
“Aku yakin ada sesuatu yang ingin kau katakan, “ ujar Amanda yang langsung menebak maksud kedatangan adik tirinya itu.
“Kakak sangat pengertian. Aku jadi merasa sedikit malu untuk mengatakannya.”
Amanda mengangkat sebelah alisnya. Tak biasanya Aretha ya g keras kepala berubah menjadi wanita manja dan sangat manis dalam waktu semalam.
“Katakan apa yang kau inginkan!” ujar Amanda tak ingin membuang waktu.
Wanita yang tengah duduk di sofa ruangan itu memainkan kedua jari telunjuknya. Wanita itu tampak malu-malu untuk mengungkapkan apa yang ia inginkan.
“Aku ingin mengundang kakak untuk makan malam bersama. Sebagai bentuk terima kasih kami dan juga sebagai salah satu momen untuk saling mengakrabkan diri. Bukankah kita sudah lama tak berkumpul bersama?” ujar wanita itu lagi.
“Kakak tak perlu khawatir. Aku yang akan menanggung semua biaya yang timbul untuk acara nanti malam,” ujar Aretha menyela Amanda yang ingin mengungkapkan rasa keberatannya.
Karena tak ingin mengecewakan Aretha yang tampaknya benar-benar tulus padanya, akhirnya wanita itu mengiyakan permintaan gadis itu.
“Baiklah. Di mana kita akan bertemu nanti malam?”
“Kita akan bertemu di restoran hotel Airlangga. Ayah sangat menyukai menu yang disajikan di sana.”
Amanda menganggukkan kepalanya. Gadis itu setuju dengan permintaan adik yang hanya selisih satu tahun lebih muda darinya.
“Pukul berapa kita akan bertemu?”
“Kita akan bertemu pukul tujuh. Aku akan membawa orangtua kita. Kau langsung saja menunggu kami di sana. Tak perlu susah payah untuk menjemput kami,” ujar Aretha yang tersenyum penuh arti.
Wanita itu bersorak dalam hati melihat Amanda tak keberatan untuk memenuhi permintaannya.
“Kalau begitu, aku permisi dulu. Aku akan segera pulang ke rumah dan memberitahukan pada mereka kalau kakak setuju untuk bertemu” ujar Aretha yang tak pernah menghilangkan senyum di wajahnya.
Amanda mengangguk dan mempersilakan adiknya itu untuk pergi meninggalkan ruangannya.
“Entah mengapa saya merasa ada yang sedikit aneh dari adik Anda. Hanya saja aku tak menemukan apa yang janggal dari perkataannya,” ujar sang asisten.
“Aku pun merasa demikian.”
“Anda harus waspada, Nona. Apa Anda menginginkan pengawalan untuk nanti malam?” tawar sang asisten kepada atasannya.
Amanda menggelengkan kepalanya. Dia yakin malam nanti tak akan terjadi hal buruk padanya. Terlebih di sana adalah keluarganya, orang yang sangat berharga darinya dan bahkan menjadi kelemahan wanita itu.
***
Tanpa terasa hari sudah berganti malam. Waktu begitu cepat berlalu.
Amanda sudah bersiap untuk berangkat menuju acara malam yang telah diatur oleh saudaranya itu.
Tanpa ada sedikit pun rasa curiga, Amanda berangkat menuju resto hotel yang telah dipesan oleh adiknya itu.
Amanda melajukan mobilnya sendiri. Gadis itu benar-benar tanpa pengawalan karena dia sangat merindukan keluarganya. Menurut wanita itu, keluarganya bukanlah orang yang berbahaya.
Amanda tiba si hotel itu tiga puluh menit sebelum janji temu yang diberitahukan oleh adiknya. Wanita itu diarahkan menuju ruang privat yang dipesan atas nama Aretha. Di sana sudah tersaji beberapa minuman yang memang disediakan bagi mereka yang tengah menunggu yang lainnya. Mungkin mereka mengira kalau Amanda yang akan datang terlambat.
Gadis itu kemudian duduk di atas kursi. Di hadapannya tak terdapat gelas minuman yang diletakkan di atas meja seperti di sisi lainnya.
“Apa mereka sudah datang?” gumam Amanda.
Wanita itu kemudian bertanya kepada resepsionis yang saat ini tengah sibuk menyiapkan minuman untuknya.
“Di mana yang lainnya?” tanya wanita itu.
“Saya kurang tahu, Nona. Mungkin mereka sedang menikmati pesta kembang api di luar sana.”
“Apa ada pesta kembang api di jam segini?” tanya Amanda sembari menyesap minuman yang telah dihidangkan untuknya.
Tak lama setelahnya, gadis itu merasa ada yang aneh dengan dirinya. Dia merasa pandangannya mulai kabur dan tubuhnya terasa sangat panas.
“Apa ada kamar hotel yang kosong di bawah?” tanya wanita itu.
“Saya kurang tahu, Nona. Saya akan menanyakan ke pihak resepsionis hotel dan mendapatkan sebuah kamar bagi Anda,” ujar pramusaji itu yang kemudian berjalan meninggalkan Amanda seorang diri di ruangan itu dengan kondisi yang tak karuan.
Tak lama kemudian, pramusaji itu kembali dan mengatakan bahwa dirinya mendapatkan sebuah kamar dan memiliki kuncinya.
“Saya akan membantu Anda ke kamar, Nona,” ujar wanita itu seraya tersenyum penuh arti.
Amanda pun dipapah menuju sebuah kamar di lantai bawah restoran itu. Di sana pramusaji itu membaringkan Amanda yang sedang berada dalam pengaruh obat yang memiliki efek sangat kuat.
Pramusaji itu kemudian meninggalkan Amanda seorang diri di ruangan itu. Setelahnya wanita itu memberi isyarat kepada seorang pria yang berpapasan dengannya di lift yang mereka gunakan.
“Saya sudah membawa Nona itu ke kamar yang Anda siapkan,” ujar pramusaji itu tersenyum.
Pria itu kemudian memberikan segepok uang berwarna merah kepada wanita petugas hotel itu dan membiarkannya pergi.
“Amanda ... Aku datang, Sayang,” gumam pria itu dengan senyum yang penuh dengan perasaan kemenangan.