Seorang pria memasuki sebuah kamar yang tak terkunci. Di mana seorang wanita baru saja diantarkan ke kamar itu. Pria itu memasuki kamar yang sesuai dengan nomor yang tertera di kartu akses yang ada di tangannya.
Pria itu merasa heran karena kamar itu tidak dalam keadaan terkunci. Itu berarti ada seseorang yang telah masuk ke dalam kamarnya.
Pria itu berjalan perlahan mendekat ke arah ranjang di mana di atasnya terdapat sebuah pergerakan asing.
“Sepertinya mereka menyiapkan hadiah untukku. Luar biasa!” Ujar pria itu tersenyum miring.
Pria itu yakin kalau kompetitornya sengaja ingin menjebaknya dengan wanita lain agar mereka bisa memergoki dirinya dengan wanita yang telah mereka siapkan.
Lelaki bertubuh besar itu kemudian mengunci pintu kamarnya. Tak hanya dengan kunci akses kamar, pria itu juga mengunci kamar itu dengan kunci besi yang tak akan bisa dibuka dari luar. Dia sudah menyiapkan hal itu mengingat siapa saja pasti ingin membuatnya melakukan kesalahan dan menjadikan perusahaan hutama jatuh karena ulahnya.
Pria itu juga berjalan mengitari ruangan yang saat idu dalam keadaan gelap. Lelaki itu tak bodoh. Dia berkeliling di sekitar kamarnya, mencari sebuah kamera yang mungkin saja dipasang oelh seseorang di ruangan itu sebagai bukti rekaman bahwa mereka telahenjebaknya.
Setelah memastikan ruangan itu aman dan tak ada alat pengintai di dalamnya, pria itu melangkahkan kakinya.
Pria itu mendekat ke arah ranjang berukuran besar itu di mana ada sebuah gerakan tak beraturan dari balik selimut di atasnya. Dia sudah menduga kalau ada seorang wanita yang berada di atas ranjangnya. Hanya saja pria itu merasa ada sesuatu yang janggal.
Wanita yang tengah berbaring di atas ranjang itu wajahnya tampak kemerahan. Sepertinya wanita itu tengah dijebak dan dipaksa untuk melayaninya malam ini.
Melihat wajah Amanda yang cantik, membuat pria itu tak menyiakan hidangan yang telah disajikan. Dia tak akan melewatkan begitu saja hadiah mahal dari kompetitornya itu.
“Aku akan mengikuti permainan kalian,” ujar pria itu menyeringai.
“Jangan menyesal dengan apa yang akan aku lakukan padamu,” ujar Pria itu sebelum memulai aksinya.
Siapa sangka Amanda yang saat itu tengah berada dalam pengaruh obat justru menyerang pria itu lebih dahulu. Pria itu tak menolak hidangan makan malam gratis yang sengaja disiapkan untuknya malam itu.
Keesokan harinya, Amanda terbangun di sebuah kamar yang sangat luas. Kepalanya terasa sangat berat. Seluruh badannya terasa remuk seolah ada yang memukulinya semalam. Tak hanya itu, bagian bawahnya terasa sangat nyeri. Dia merasa tak bisa bangun pagi itu.
Amanda merasa ada sesuatu yang janggal. Dia merasa di sebelahnya ada sebuah bobot yang juga tertidur di atas ranjang yang sama dengannya. Wanita itu menoleh ke arah sampingnya. Di sebelahnya ada sesosok pria yang tengah tertidur pulas dalam posisi tengkurap.
Amanda mengamati pria yang menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal yang ada di atas tempat tidur itu. Tubuh kekar pria itu benar-benar menggoda imannya. Meski dia tak dapat melihat wajah pria itu, tubuh pria yang besar dan kekar itu cukup membuat Amanda terpesona. Terlebih dia telah melewatkan malam dengan pria itu.
Amanda merasa sedikit beruntung karena tak melewati malam dengan seorang pria buruk rupa seperti yang ada di dalam novel, komik dan drama. Bukankah dia seharusnya beruntung meski kehormatannya telah diambil, pria yang mengambilnya memiliki tubuh yang menggoda?
Amanda mendekatkan wajahnya ke arah pria itu. Dia melihat sebuah bekas luka bakar tampak menghiasi wajah pipi kanan pria itu dan juga punggung sebelah kanan dari pria yang ada di sampingnya itu.
Amanda melihat kembali ke dalam selimutnya. Ingin rasanya wanita itu berteriak. Namun, ia takut membangunkan pria yang saat ini tampak tertidur pulas di sisi ranjang yang lain.
Wanita itu berusaha mengingat kembali apa yang telah terjadi semalam. Namun dia tak bisa mengingat secara keseluruhan apa yang terjadi. Dia hanya bisa darahnya berdesir saat mengingat malam itu.
Malam itu akan menjadi malam yang tak terlupakan bagi wanita yang tak lagi gadis itu.
Amanda berniat bangkit dan pergi ke kamar mandi ruangan itu untuk membersihkan diri. Namun siapa sangka, sebuah cekalan tangan membuat wanita itu tak bisa membuatnya pergi ke tujuan.
Wanita itu mengira pria itu tengah tertidur. Ternyata pria itu telah bangun dan mungkin bangun terlebih dahulu sebelum dirinya.
“Mau ke mana?” suara bariton pria itu terdengar begitu merdu.
Pria itu masih tetap dalam posisinya seraya mengeratkan cekalan tangannya.
“Aku hanya ingin pergi ke kamar mandi,” ujar Amanda sedikit takut dengan pria itu.
Pria itu melepaskan lengan Amanda dan membiarkan wanita itu pergi menggunakan kamar mandi terlebih dahulu. Lelaki bertubuh besar itu akan membuat perhitungan dan menanyakan tujuan wanita itu yang ada di dalam kamarnya.
Pria itu meraih jubah mandi yang ada di dalam lemari di dalam kamar itu. Ia kemudian berjalan ke arah sofa yang berada di salah satu sisi ruangan itu, menunggu gadis yang menghabiskan waktu dengannya semalam.
Pria itu merasa bersalah saat mengetahui bahwa wanita yang bersamanya masih suci. Tak mungkin jika musuhnya akan menyiapkan wanita yang masih terjaga untuknya.
Lelaki itu menekan tombol di ponselnya, menghubungi asistennya yang selalu siap menerima perintahnya.
“Bawakan aku pakaian dengan ukuran S dan juga dalamannya. Dalaman bagian atasnya memiliki ukuran 36D,” ujar pria itu menyebutkan ukuran Amanda.
Amanda yang menguping dari dalam kamar mandi hanya bisa menutup mulutnya yang menganga. Dia tak menyangka kalau pria itu bisa mengetahui ukurannya dalam waktu singkat.
“Baik, Tuan Airlanda,” ujar seorang pria dari dalam panggilan suara itu.
Tak lama setelah itu, Amanda keluar hanya dengan handuk yang melilit tubuhnya, menutupi bagian tubuhnya dari atas d**a hingga di atas lutut saja. Wanita itu lupa membawa pakaiannya yang berserak entah ke mana.
“Di lemari itu ada kemejaku. Kau bisa menggunakannya sementara waktu. Pakaianmu telah robek semalam. Aku sudah memerintahkan orangku untuk menyediakan pakaian dengan ukuranmu.”
“ Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Bergantilah dulu,” ujar pria itu kepada Amanda.
Wanita itu mengangguk lalu buru-buru menyambar kemeja yang ada di dalam lemari itu.
Kemeja pria itu sangat besar. Dan hanya menggunakan kemeja pria itu saja, Amanda tampak sangat kecil.
Amanda keluar dengan menggunakan pakaian kebesaran. Pria itu hanya menerima nasib dan menunggu orang suruhan pria itu membawakan pakaian ganti untuknya. Namun, siapa pria dengan tubuh atletik yang ada di hadapannya kini?
“Katakan, siapa kau sebenarnya,” tanya Airlanda.
“Namaku Amanda. Bolehkah aku bertanya?”
Airlanda menganggukkan kepalanya.
“Mengapa Anda ada di kamar ini juga? Dan siapa Anda sebenarnya?” tanya wanita itu.
Airlanda menyemburkan minuman yang baru saja ia teguk. Dia tak menyangka seorang wanita asing menanyakan hal itu kepadanya.
“Seharusnya aku yang bertanya mengapa kau bisa ada di ruangan ini?” tanya Airlanda tak mau kalah.
Melihat ada botol bening lain di atas meja yang berhadapan dengan sofa itu, Amanda meraihnya. Wanita itu merasa tenggorokannya kering. Oleh sebab itu dia hendak meminum minuman itu.
“Jangan minum itu!”
Amanda yang baru saja hendak menelan air berwarna bening itu menyemburkan cairan itu.
“Bukankah ini air mineral biasa?” tanya Amanda yang menatap heran ke arah pria yang melarangnya untuk minum itu.
“Itu bukan air mineral. Itu anggur putih. Memangnya kau ingin mabuk di pagi hari?” tanya pria itu.
Hal itu membuat Amanda membulatkan kedua matanya. Dia tak melihat tulisan di dalam kemasan botol itu. Dia mengira itu adalah air putih biasa karena warnanya yang bening seperti air mineral.
“Kau belum menyebutkan namamu,” ujar Amanda mengalihkan pembicaraan.
Wanita itu masih tak tahu dengan siapa ia berbicara.
“Aku adalah Airlanda. Kau mendapat bayaran berapa dari orang-orang itu?” tanya Airlanda yang sangat menyinggung Amanda.
Harga diri wanita itu seolah tercoreng dengan perkataan pria itu.
“Apa kau kira aku orang panggilan?” tanya Amanda menahan amarahnya.
“Kalau bukan itu, apa lagi? Bukankah kau memanjat ranjangku hanya untuk mendapatkan bayaran mahal dari orang yang menyuruhmu dan menjebakku dengan pesonamu?” ujar Airlanda dengan wajah datarnya.
Sebuah tamparan mendarat di pipi pria itu. Amanda melayangkan tangannya karena kesal dengan hinaan yang dilontarkan oleh pria itu.
Amanda beranjak dari duduknya. Ia mencari ponselnya yang malam itu ada di dalam tasnya. Dia kemudian menekan tombol yang ada di layar benda pipih itu.
“Jemput aku di hotel Airlangga! Segera!” ujar Amanda yang kemudian menutup panggilannya secara sepihak.
Wanita itu kemudian membawa tasnya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Amanda mengabaikan pria yang masih duduk di atas sofa ruangan itu.
“Menarik!” gumam pria itu.
Tanpa diduga, Airlanda melihat sekelebat pantulan cahaya yang mengarah ke kamarnya. Dan saat ini pantulan cahaya itu mengarah pada Amanda.
Dengan sigap pria itu berlari ke arah wanita itu dan melindungi wanita itu dari sebuah tembakan yang di detik berikutnya membuat sebuah vas di atas meja dekat pintu keluar itu pecah.
“Menunduk!” perintah pria itu meminta Amanda berjalan menunduk saat keluar dari kamar itu.
“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Amanda menatap pria yang saat ini menggenggam tangannya begitu erat sembari berjalan melewati koridor hotel itu menuju lift yang tak lama kemudian terbuka.
“Kita pasti akan bertemu kembali nanti. Dan saat itu aku tak akan melepaskanmu,” ujar Airlanda melemparkan senyum terbaiknya pada wanita itu.
“Aku akan menantikan hari itu. Terima kasih,” jawab Amanda mengucap terima kasih kepada pria itu meski telah mengambil hal berharga darinya.
Wanita itu kemudian menghilang di balik pintu lift yang tertutup.