Maira berjalan sempoyongan, menyusuri bahu jalan dan tidak tau kemana arah tujuannya. Pandangannya kabur terhalang derasnya air mata yang terus mengalir tanpa bisa dikendalikan. Hatinya hancur berkeping-keping setelah melihat pemandangan yang begitu mengerikan di depan matanya. Sama mengerikannya saat ia mendapat sebuah gambar kecelakaan Ibunya beberapa waktu lalu. Mengerikan sekaligus menyakitkan. Saat kecelakaan itu terjadi, Maira masih memiliki beberapa orang yang peduli dan prihatin padanya. Misalnya keluarga jauh Ibu, yang datang menjenguk dan menemani Maira sampai tujuh hari setelah kepergian ibu. Mereka memberi kekuatan pada Maira dan mencoba menenangkannya, meski tidak banyak berpengaruh tapi Maira masih merasakan kepedulian dari orang lain. Lalu saat ini? Saat ia kembali dihanta

