Prolog
Semenjak dibentuknya Carswell, dunia menjadi cungkir balik. Kedatangan sang dewa--Titan mengubah garis takdir bagi SMA Danirian.
Sejak pertama kali memasuki SMA Danirian, Titan memenangkan segalanya. Ia diuji, diberi banyak tantangan yang berakhir menjadikannya sang ketua di Danirian.
Dengan kedudukannya, Titan membentuk sebuah geng, bernama Carswell. Memiliki banyak arti, namun satu yang paling terpati--singa yang mengaum, sang Raja dari segala raja. Titan memilih Carswell setelah masa kepemimpinannya.
Jika semua siswa akan menjabat sebagai ketua dikelas duabelas, maka Titan pengecualian. Membuktikan bahwa ia bisa, Titan memberi banyak perubahan saat ia duduk dibangku kelas sebelas, yang artinya--sudah dua tahun Titan menjabat sebagai ketua. Dan itu berlangsung hingga saat ini.
Carswell menjadi terkenal dari seluruh sekolah yang ada diJakarta. Memiliki beberapa anggota yang akan diseleksi, terdapat lima petinggi didalamnya. Lalu disaring lagi, dan menyisakan satu pemimpin dari kelima petinggi tersebut.
Tidak mengherankan para petinggi Carswell sangat disegani. Terdiri dari beberapa gabungan orang gila nan kaya raya dan menakjubkan, mereka diberi gelar masing-masing.
1. Titan Deimos Kennedy ( Pemimpin Carswell )
The Vampire Killer--sebutannya. Memiliki rahang runcing dan kilatan tajam pada matanya, semua orang bertekuk hanya untuk membayangkan bagaimana sosok itu membawa aura beringas pada setiap langkahnya. Kulit langsat yang dimilikinya, juga penampilan yang benar-benar kacau, membuat beberapa orang memilih mendambanya dalam diam. Jika ada yang bertanya bagaimana wujudnya, maka semua orang akan berteriak--Titan adalah titisan Dewa. Merangkap pada dunia nan kejam, lalu berubah wujud bak vampire. Segala bahaya yang akan terus ia lewati tanpa sengaja, Titan merupakan pahatan sempurna yang Tuhan ciptakan.
2. Arkan Revano Mahardika ( Petinggi Carswell )
The Crazy Wolf--sebutannya. Si Tampan nan dingin ini, membuat beberapa siswa memilih untuk menghindarinya. Tinggi, putih, bibir tebal dan juga senyum menyebalkan yang sering ia perlihatkan, Arkan adalah sebuah kesempurnaan kedua yang Tuhan ciptakan. Tidak pernah memusingkan sesuatu, Arkan berdiri dengan kemauannya sendiri.
3. Gavin Adelardian ( Petinggi Carswell )
The Black Devil--sebutannya. Senyum mematikan yang sering ia tampilkan, Gavin mampu membuat erangan putus asa terus terdengar dari beberapa siswa. Wajah tirus dan bibir tipisnya, Gavin adalah kesempurnaan yang lagi-lagi Tuhan ciptakan. Tubuh yang indah dan wajah menggiurkan, semua gadis mampu meneguk ludah hanya untuk memimpikannya.
4. Aiden Demitri ( Petinggi Carswell )
The Dragon Captain--sebutannya. Sama seperti yang lainnya, Aiden juga adalah salah satu ciptaan sempurna yang dimiliki Carswell. Wajah mungil dan hidung runcingnya, Aiden mampu memikat dengan senyumannya. Tidak memusingkan sesuatu, kehadirannya memberi sesuatu yang berbeda. Salah satu yang paling santai menanggapi sesuatu.
5. Zidan Ragasta ( Petinggi Carswell )
The Cruel Eagle--sebutannya. Beberapa menganggapnya menggemaskan, namun Zidan membantah itu. Meskipun paling sering tersenyum diantara ke-empat petinggi lainnya, berada dekat dengannya juga sering membuat keadaan mendadak mencekam. Bibir tebalnya, mungkin menjadi satu-satu impian seluruh kaum hawa. Keindahan terpancar diwajahnya, semua orang beranggapan, Tuhan senang saat menciptakannya.
Lalu, mungkin penjelasan itu tidak akan cukup menggambarkan segala hal mengenai para petinggi itu.
Namun kini, gambaran ini dapat menjadi bukti bahwa kelima petinggi Carswell tersebut adalah anugrah bagi SMA Danirian.
Titan, Arkan, Gavin, Aiden dan Zidan sedang berdiri santai dihadapan berpuluh-puluh musuh mereka. Menatap sang musuh dengan cengiran meremehkan, mereka sudah siap untuk diserang.
Sementara sang lawan masih memberikan tatapan meremehkan, mereka tidak memahami siapa lawannya kali ini. Membawa beberapa senjata tajam dan pasukan yang tidak main-main banyaknya, mereka meyakinkan bahwa apa yang orang-orang katakan tentang Carswell adalah sebuah kebohongan.
Namun, membalas tatapan meremehkan dari sang lawan para petinggi Carswell hanya berdiri dengan rokok yang sudah tersimpul dibibir masing-masing. Postur tegap yang siap untuk berperang, tanpa takut.
Sebagai pemimpin tertinggi, Titan berdiri ditengah. Lalu dua disisi kanan ada Arkan dan Zidan, sementara dua disisi kiri ada Gavin dan Aiden.
Gading Gunandya--sang lawan, maju beberapa langkah. Menoleh untuk mencari pasukan Carswell yang lain, ia terkekeh detik selanjutnya. Tidak menemukan siapa-siapa, kecuali lima petinggi sialan dihadapannya.
Zidan menyunggingkan senyumnya. Mengedipkan sebelah mata menggoda, lalu berujar geli. "Lo cari siapa?" kekehnya. "Kagak ada orang lain. Jangan khawatir." singgungnya lagi. Mengedipkan sebelah mata, sang elang pembunuh sengaja melakukannya. Memancing amarah sang lawan, ia senang pada situasi yang mencekam.
Gading tertawa, melipat kedua tangan diatas dadanya, seraya berujar. "Oh ya? Lo berlima doang?" tantangnya. "Lo yakin kagak mau balik buat bawa pasukan?" titahnya. "Gue izinin kok. Biar kita-kita tunggu." sambungnya merendahkan. Menaikkan kedua alisnya bangga. "Katanya, pasukan Carswell jagoan, mana?"
Sementara petinggi Carswell hanya tersenyum, riuhan anak buah Gading bersorak gembira. Ikut meremehkan sang lawan, padahal kehadiran mereka sendiri seperti tak kasat mata bagi petinggi Carswell tersebut.
Titan menyunggingkan senyumnya, membuang asap rokoknya asal, sementara matanya masih menatap Gading dan seluruh pasukannya secara bergantian. "Mending, lo siapin nyawa dulu." beonya ringan. "Sayang...nyawa lo cuma satu." seringainya tajam. Tatapan Titan masih berpusat pada semua orang disana, menyebarkan hawa menakutkan itu lewat pandangannya, Titan memberikan aura menakutkan itu menguasai pikiran Gading dan seluruh pasukannya, setidaknya begitulah kehadiran Titan memenangkan perdebatan hanya dengan aura menakutkan yang dimilikinya. Sang vampire pembunuh, hanya seperti itu ia menakuti semua orang.
Gading tertawa semakin nyaring, terlalu meremehkan padahal ia tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa. Mendengar desas-desus mengenai Carswell, membuat Gading tertantang untuk segera membuktikannya. Meninggikan dagunya, Gading membalas Titan tanpa takut. "Seharusnya gue yang bilang, lo udah siapin duit? Biaya rumah sakit mahal."
"Udahlah--kasi tahu aja kalau lo mau nyerah, kita bisa bebasin sekarang." Ata, cowok yang berdiri disamping Gading membuka suara.
Menggeram, Arkan mengepal tangannya kuat. Baru saja hendak melangkah, tangannya langsung ditahan Titan. "Biarin, kita dengar bacotan mereka dulu."
"Jangan mudah kepancing lo Kan." Aiden ikut berpesan. "Gue enggak yakin ini bertahan lebih dari lima menit."
Arkan menghela napas, memberi sang lawan jari tengah, lalu menyunggingkan senyumnya. "Baik-baik mulut lo. Jangan sampai setelah ini tu mulut kagak bisa kebuka." Arkan, sang serigala gila berujar geram. Tidak ingin terlalu bertele-tele sementara tangannya sudah gatal untuk menghancurkan sang lawan.
"Semua orang muja lo, tapi sorry. Gue pengecualian." Gading berujar lagi. "Takut? Sama lo-lo pada?" kekehnya. "Yang benar aja!"
"Lo, dari pada banyak ngoceh kayak banci, maju coba!" Aiden memotong cepat. Begitu semangat untuk mencabik cowok sialan dihadapannya. Sang Kapten Naga, mungkin hanya butuh memburu Gading dengan satu kali pukulan keras, dan itu bukan sesuatu yang berat.
"Right. Jijik ngeliatin muka lo lama-lama." Gavin menambahkan. Bosan sendiri sejak tadi hanya beradu mulut. Setan hitam, Gavin sudah siap untuk memberikan bisikan mematikan pada semua lawan dihadapannya.
Lantas, perkataan Gavin menyulut kemarahan Gading. Hanya selang beberapa detik perkelahian dimulai. Pertarungan sengit itu berlangsung dengan penuh kebrutalan.
Tapi tetap saja, para petinggi Carswell hampir mendominasi kemenangan.
Arkan sudah memukul sang lawan, menendang tubuh-tubuh dihadapannya dengan sekali tendangan, ia menyeringai saat rintihan kesakitan itu memekik gendang telinganya.
Sementara Zidan tengah menghindar. Walaupun mendapat pukulan beberapa kali, ia tidak gentar. Memukul wajah lawannya, ia masih melanjutkan kebengisannya, menghiraukan wajah ketakutan sang lawan yang penuh darah, decakan memohon ampun semakin mengundang tawanya.
Lalu, bunyi patahan yang silih ganti memekik pendengaran, masih belum membuat seorang Gavin berhenti. Darah pada pelipis dan ujung bibir sang lawan, tidak juga membuatnya gentar menghentikan aksinya.
Menendang tiga lawannya dengan brutal, Aiden juga masih tidak membiarkan itu berakhir. Menghabisinya seperti naga yang kelaparan, ia terus mengacaukan perkelahian dengan gila.
Kemudian ada sang dewa. Titan. Ia masih bertarung dengan gesit. Menepis keringatnya dengan santai, Titan hanya terus menyunggingkan senyum menggoda bak seorang setan. Membiarkan beberapa pasukan Gading berlari mundur, padahal Titan hanya mematahkan beberapa jari sang lawan.
Jika Gading memberinya sebuah pukulan, maka Titan membalasnya dengan berkali-kali pukulan. Jika Gading menendangnya dengan kuat, maka Titan hanya butuh satu kali tendangan brutal.
Seperti saat ini, Titan sudah berhasil membuat Gading sekarat. Menginjak d**a sang lawan, Titan terkekeh. "Kenapa? Segini doang kemampuan lo?"
Terbatuk, Gading menahan napasnya. Tidak tahu lagi harus memohon seperti apa karena Titan benar-benar gila.
Gading masih berusaha melawan, namun lagi-lagi gagal, karena Titan sudah memukulnya telak. Membiarkannya berbaring dengan cucuran darah, Gading tahu--ini adalah kesalahan terfatal dalam hidupnya.
"Jangan main-main sama Carswell." pesan Titan kemudian. Ia baru saja ingin menendang d**a Gading, ketika sirine polisi mengacaukan perkelahian itu.
Namun, satu yang terpapar pasti, para petinggi Carswell berhasil memenangkan perkelahian. Tidak masalah sebanyak apa lawan mereka, senjata apa yang dibawa, karena kerja sama sebuah Tim adalah segalanya. Benar, tidak butuh lima menit bagi para petinggi Carswell untuk menyelesaikan hama-hama itu.
Dan para petinggi Carswell berhasil melarikan diri terlebih dahulu, mereka sudah membelah jalanan Jakarta dengan ninja masing-masing. Terkekeh sepanjang perjalanan karena pertempuran kali ini, sedikit mendebarkan.
Kekuatan sang vampire...
Kebengisan sang serigala...
Kekacauan sang iblis...
Keahlian sang elang...
Kekuatan sang naga...
Itulah faktor pendukung bagaimana para petinggu Carswell berhasil terbentuk.
Dan mereka dikumpulkan dalam era baru untuk memimpin dan saling menjaga. Menjalin persahabatan lalu menolong sesama.
Sebuah lentera untuk terang yang mencerminkan diri mereka. Karena Titan--sang titisan dewa, segalanya dimulai.
Carswell tidak hanya membentuk mereka, namun juga membimbing mereka. Lantas menjadikan mereka--satu.
***