I. Titan Deimos Kennedy

1474 Words
      Namanya Titan Deimos Kennedy. Orang-orang menyebutnya gila. Tapi, selalu ada hal lain dalam kegilaan yang seorang Titan miliki. Songong, sok berkuasa, dan juga dingin. Tiga objek utama yang selalu dibicarakan setiap kali menyangkut cowok itu. Pemimpin sebuah geng bernama Carswell di SMA Danirian. Semua gadis memujanya, mendambanya bak seorang dewa, dan memimpikannya tanpa terkira. Seperti tidak ada habisnya, segala pujian dan ungkapan kekaguman itu tidak pernah berhenti hanya dengan melihat wajahnya. Beberapa menganggapnya seperti mitos, tapi Titan benar adanya.  Tampan bak Dewa Hermes, kuat seperti Zeus, dan jagoan seperti Ares. Bahkan, gabungan  seluruh dewa-dewa penguasa Olympus itu seperti ditakdirkan dalam diri Titan. Lahir sebagai Putra Pengusaha dan kaya raya seperti Kennedy, membuat Titan tidak pernah mengkhawatirkan hidupnya. Dengan rahang runcing dan mata tajamnya, tidak seorang pun berani mengusiknya. Apalagi mencoba untuk berurusan dengannya, maka itu sebuah kesalahan. Hidup Titan seperti arus air tenang, memiliki keberuntungan yang terus menghampirinya, Titan tidak takut apapun. Seperti saat ini, bagaimana sebatang rokok sudah tersimpul dibibirnya, sementara tangan kirinya tengah menghidupkan sebuah pemantik, mungkin itu hal yang biasa bagi sebagian orang, namun cara Titan melakukannya mampu membuat semua orang meneguk ludah hanya karena melihatnya. Titan mengedarkan pandangan pada seorang cowok yang sudah bersujud dikakinya. Mengunci sosok itu dengan kilatan tajamnya, Titan masih memikirkan apa yang harus ia lakukan pada sosok tersebut. Jika cowok itu tengah berusaha memohon ampun, ke-empat sahabatnya hanya terkekeh. Mengacaukan pikiran Titan, hingga membuatnya menaikkan alis untuk memastikan harus diberi pelajaran apa untuk cowok sok berani dihadapannya ini.      “Udah Tan, patahin aja tangannya.” Arkan berujar pertama. Terkekeh geli dengan menatap sosok yang masih bersujud dihadapan mereka.      “Kurang ah, kakinya coba. Biar kagak bisa kabur lagi.” Aiden ikut menimpali. Mengibas rambutnya yang penuh keringat, karena sejak tadi mereka dibuat berlari.      “Lehernya sekalian, biar kagak bisa noleh!” kekeh Zidan setelahnya. Memilih duduk disamping Titan, ia mengambil asal sebatang rokok yang tersedia dihadapan mereka. Menghidupkan benda candu itu, untuk menunggu keputusan yang akan mereka pilih.      “Bunuh aja?” saran Gavin kemudian. Menggeleng geli karena keputusan teman-temannya masih sangat payah. "Daripada bikin ribet." Meringis, cowok yang masih bersujud di kaki Titan menundukkan kepala semakin dalam. Menggeleng kalut, karena seluruh ancaman itu terdengar mengerikan. “Gu-gue, disuruh Alex please, ampuni gue…”        “Ampun?” kekeh Titan. Mengerjap menggoda, “Lo pikir, ampunan apa yang cocok buat lo?”      “Gue bakal lakuin apa aja yang lo suruh, apapun, tapi tolong--ampunin gue…” Berdiri, Titan melempar rokoknya asal. Menyunggingkan senyum kecutnya, sebelum kakinya berayun dan merubuhkan tubuh cowok dihadapannya dengan ganas. Merintih, Danur—cowok itu sudah mengemis dengan semua kemampuannya. Mengatakan segala hal menyedihkan yang berusaha ia lakukan untuk pertahanannya sendiri. Memohon ampun dalam setiap kesakitan yang didapatinya.     “Seharusnya lo tahu, siapa yang coba nyelakain anak Danirian harus berurusan sama gue.” cetus Titan tajam. Membiarkan aura menakutkan itu mengelilinginya. "Dan, lo keliatan senang berurusan sama kita-kita."     “Lo b**o atau bodoh?” Arkan menyinggung kemudian. Geli sendiri karena ketakutan Danur membuat dirinya semakin tertantang.     “Sama aja t*i, sama!” potong Zidan cepat. Paham betul bahwa ini tidak akan selesai begitu saja.     “Mau-mau aja disuruh Alex, t***l!” singgung Aiden kemudian. Menekankan kata-katanya untuk membuat Danur meratapi kebodohannya. Dengan sisa tenaganya, Danur kembali memeluk kaki Titan, memohon sekali lagi dan segala bentuk usaha lain yang tengah ia lakukan. Bersujud jika itu diperlukan, merangkak jika memang itu harus untuk membuat dirinya selamat.     “Tolong, ampunin gue Titan. Gue bersumpah bakal lakuin apapun yang lo mau.” mohon Danur lagi. Tidak menyangka bahwa kesalahan ini berdampak sebesar ini. Terkekeh, Titan dan yang lainnya saling tatap dan tertawa didetik selanjutnya. Seharusnya cowok ini mengerti siapa mereka, seharusnya ia memahami siapa yang akan dilawannya. Melepaskan kakinya dalam rengkuhan Danur, Titan memikirkan hal lain untuk membalas ini semua. Ia menunduk, mendekat pada Danur, lalu mengatakan segala rencana yang dibuatnya tanpa berpikir. Membiarkan semua orang tahu, bahwa ia Titan. Ia bisa melakukan apa saja dengan caranya sendiri. Akhirnya, selesai membisikan hal-hal mengerikan itu Titan berujar kembali, “Karena ini baru rencana lo, gue persilahkan lo pergi.”     “Yah Tan, patahin dulu jarinya!” Arkan masih bersikeras. Tidak terima dengan keputusan Titan akhirnya, walaupun ia paham sahabatnya itu selalu punya cara. Cepat-cepat Danur menepis darah dipelipis dan bibirnya, bagaimana semua ini dia dapatkan karena perintah Alex, Danur memundurkan langkahnya, membungkuk hormat sebelum berlari dari basecamp Carswell tersebut. Terbirit-b***t, karena jika ia tetap disana, Danur yakin tidak akan kembali dengan utuh lagi.     “Tan, kagak asik t*i!” protes Aiden juga. Mendecak malas, sementara mereka disana masih ingin bermain-main. Gavin menghela napas panjang, menggerutu malas. "Seharusnya buat dia ngejilat lantai ini dulu, baru dibebasin. Menyeringai kembali, Gavin terkekeh kemudian. "Tapi yodahlah, dia juga belum ngelakuin apa-apa."     “Ye, ini karena sasarannya Bianca. Coba kalau Alana, udah mati kali tuh bocah!” Zidan menyinggung. Paham betul dengan keadaan ini. "Karena targetnya bukan orang penting."     “Punya urusan apa coba Bianca sama Alex?” ujar Aiden heran. Menoleh untuk menemukan jawaban, tapi semuanya hanya mengedikkan bahu tidak peduli.     “Ini juga tumben Titan mau ikut campur?” imbuh Arkan. “Ini musuh lo padahal, si cewek jadi-jadian.” Titan hanya memutar bola mata malas sebelum berujar. “Gue mau cabut.” katanya. Lalu menarik jaket kulit diatas sofa, Titan berlalu dari sana. Menghiraukan teriakan ke-empat sahabatnya, karena ia butuh untuk melihat Alana—sahabatnya.     “b*****t! Kita lari-larian ngejar Danur, udah dipukulin, udah dikasi pelajaran, malah dibiarin pergi gitu aja!” Arkan mengomel lagi.  Membuat ketiga sahabatnya hanya terkekeh, lalu memutuskan untuk ikut meninggalkan basecamp.     “Kayak kagak tahu Titan aja.” Kekeh Zidan kemudian. Melempar rokok ditangannya, dan berlalu cepat.     “Ingat, si songong itu titisan dewa.” tambah Aiden. “So, itu terserah dia mau ngehukum apa kan?” kekehnya. Menghela napas, ke-empatnya saling tatap sebelum ikut terkekeh dan mulai menaiki ninja masing-masing. Mengegas motornya, mereka berlalu dari sana. Membiarkan jalanan itu seperti milik mereka, bahkan omelan dari pengendara lain tidak mereka hiraukan. Setidaknya, begitulah para petinggi Carswell mendominasi banyak hal, serta berlaku egois untuk kesenangan mereka.     “Eh, bentar lagi lomba tahunan dimulai.” Kata Gavin disela-sela perjalanan mereka. Mengingat hal itu sesaat.     “Gue nebak sih, my baby Bianca pasti turun lapangan lagi.” Aiden menyahut yakin. Tidak pernah salah dengan semua tebakannya.     “Cih, selama tiga tahun juga cuma Titan sama Bianca yang jadi kandidat utama.” Jelas Arkan. Memahami permainan itu, karena mereka hanya harus mewakilkan satu orang laki-laki dan satu orang perempuan.     “Aneh, Titan sama Bianca tuh kayak anjing sama kucing.” Kekeh Zidan juga. Yang membuat semuanya saling sahut menyahut untuk membenarkan.     “Lo bayangin coba, gimana akhirnya kalau mereka jadian?” hayal Aiden lagi. Menoleh untuk melihat wajah ketiga sahabatnya. Lalu Arkan, Gavin dan Zidan terkekeh, sebelum berteriak serempak. “Kagak mungkin t*i!” Mengedikkan bahu, Aiden terkekeh sebelum berujar. “Kagak ada yang tahu takdir!”     “Enggak!” Gavin masih bersikeras. “Lo tahu sendiri Titan demennya sama Alana.”      “Ana juga keliatannya sama.” Tambah Zidan kemudian. "Tapi gue enggak yakin sih kalau Titan demen juga."     “Tapi, tetap aja, ngakunya sahabatan kan?” kekeh Arkan. “Halah, bullshit tuh setan!”     “Repot, karena dua-duanya sama-sama gengsi!” Gavin berujar membenarkan.     “Benar, sama kayak lo ke Tata!” singgung Aiden pada Gavin. "Tarik ulur teross!" Memberi jari tengahnya, Gavin berujar kembali. “t*i, napa jadi gue?!”     “Kasi Tata penjelasan, jangan lo mainin. Kagak capek lo jadi playboy?” sindir Zidan disampingnya. "Cakep-cakep t***l!"     “Atau kasi Tata ke gue aja?” saran Arkan. Menyeringai geli. "Atau, tahun ini kita buat taruhan seru aja?"       "Bisa diatur!" kekeh Zidan. "Gue udah mikir bakal seseru apa ini!" Dan semuanya mengangguk setuju. "Jadi, gue boleh nikung Tata?" goda Arkan kembali pada Gavin. Menyenggolkan ninjanya pada ninja Arkan, Gavin berujar tajam. “Gue bunuh lo!” ancamnya. Dengan Arkan, Aiden dan Zidan yang sudah terkekeh geli dari atas ninjanya. Tidak akan ada habisnya setiap kali membicarakan tentang Titan. Si songong itu, ia akan selalu berdiri dengan keputusannya sendiri. Membiarkan seluruh kaum hawa hanya meneguk ludah setiap kali membayangkannya. Karena bagaimanapun Titan hanya selalu melihat Alana—sahabatnya. Namun, semua orang tahu, tidak ada persahabatan yang benar-benar terjalin antara laki-laki dan perempuan. Bagaimanapun mereka menyangkalnya. Karena hati tahu kemana ia akan singgah dan menetap. Dan, selalu ada permasalahan lain pada setiap cerita yang terjadi. Terbukti dari bagaimana Titan memberi pelajaran kepada Danur, karena cowok itu diberi perintah untuk menyakiti Bianca. Seharusnya Titan tidak peduli karena itu bukan Alana. Seharusnya Titan mengabaikannya, karena Bianca—gadis gila itu bukan sosok yang harus Titan khawatirkan. Aneh, karena ia tetap melakukannya. Mungkin menganggap bahwa Bianca adalah sahabat Alana yang membuat Titan melakukan ini, atau karena sesuatu yang lain. Entah bagaimana perasaan itu tumbuh, atau karena sesuatu yang tidak seharusnya Titan kalutkan. Karena itu, dia Titan. Sang Dewa atas segalanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD