II. Bianca Dialova

1056 Words
       Namanya Bianca Dialova. Bagi sebagian orang, Bianca gila. Oke, mari kita sebut seperti itu. Dibesarkan oleh seorang Ayah tunggal, membuat Bianca mandiri dan juga berani. Bagi Bianca, hidup adalah sebuah ketidakmungkinan. Segala keinginan yang kadang tidak sejalan dengan yang diharapkan. Hidup pada lingkup orang-orang yang tegas, menjadikan Bianca keras. Walaupun tidak secantik dewi yunani, hampir sebagian cowok di Danirian memujanya. Kecuali sang pemimpin Carswell tentu saja. Kehadiran Bianca seperti sebuah kekacauan bagi SMA Danirian. Mungkin sebagian orang menganggap Bianca adalah sebuah harapan. Karena hanya ia satu-satunya yang berani dengan pemimpin Carswell tersebut. Bibir tebal dan hidung mancungnya, Bianca memiliki banyak pesona dalam dirinya. Membuat tidak sedikit orang-orang mengaguminya. Gila. Senang mempermasalahkan hal-hal kecil, ratunya telat dan langganan BP. Bianca hanya memutar bola matanya jengah saat guru-guru berusaha menceramahinya. Bagi Bianca, tidak ada yang perlu ia khawatirkan.  Namun itu berbeda setiap kali Bianca dihadapkan dengan sosok songong seperti Titan. Setiap kali perdebatannya dengan pemimpin Carswell itu terjadi, Bianca tahu ada sesuatu yang lain pada permasalahan yang sering mereka perdebatkan, Tapi menepis itu, Bianca menggeleng kuat. Tidak. Tidak boleh. Ketakutan Bianca tidak boleh terjadi. Ada banyak hal lain yang harus ia lakukan dari pada memusingkan perasaannya sendiri. Bianca juga tahu, bagaimana sahabatnya sangat mengagumi pemimpin Carswell tersebut. Seperti saat ini, Bianca dan Tata masih terbaring di ranjang sahabatnya Alana. Membicarakan banyak hal yang didominasi oleh bagaimana Titan dan para petinggi Carswell yang lain mengisi pembahasan itu. Mengenai perkelahian yang sering mereka lakukan, juga betapa besarnya pengarug Carswell bagi Danirian. Menghela napas, Bianca memilih menonton siaran televisi dikamar Alana daripada mendengarkan kedua sahabatnya tersebut. Lalu, pembahasan mereka benar-benar terhenti saat Titan tiba-tiba berdiri diambang pintu kamar Alana. Membuat Alana dan Tata berlonjak, namun tidak dengan Bianca.     “Ana, gue laper.” erang Titan manja. Berbeda jauh dengan sosok yang biasa mereka temui di sekolah. Jika Alana terkekeh, Tata menggeleng tidak percaya. “Lo tuh! Selalu aja gangguin waktu kita kalo lagi ngumpul!” protes Tata pertama. Kesal sendiri karena hal seperti ini selalu saja terjadi.     “Bawel, urus aja Gavin sana!” sahut Titan cepat. “Gue ngomong sama Ana bukan sama lo!” sindir Titan garang. Yang dibalas Tata dengan gelengan kepala tidak percaya. Tata baru saja akan protes lagi, ketika Titan sudah berlalu dari sana. Membiarkan tatapannya tertuju pada sosok yang masih menatap layar besar dengan focus, Titan terkekeh karena tahu Bianca pasti menghindarinya.     “Mampus, masih aja mau ngomong sama tuh setan.” Kekeh Bianca disebelahnya. Membiarkan Tata yang sudah mengerucutkan bibirnya masam. Alana terkekeh, ia angkat dari tidurnya dan berujar. “Gue masakin buat Titan dulu. Lo bedua disini aja.” pesannya dan berlalu dari sana. Meninggalkan Bianca dan Tata yang sudah menghela napas panjang. Paham betul, karena bagi sahabat mereka Alana, Titan adalah segalanya.     “Dia kaya kan? Kenapa kagak pesan diluar aja sih?” geram Tata lagi. “Senang banget gangguin kita kalau lagi sama Ana!” protesnya kemudian. “Mana songongnya minta ampun lagi! Ish! Setan nyebelin!” Terkekeh, Bianca membenarkan posisinya. Menepuk pundak sahabatnya dengan sabar, sebelum berujar geli. “Kenapa ngomel dibelakang sih? Sana depan orangnya.”     “Ogah! Yang ada gue dikata-katain!” decak Tata malas. Paham betul dengan kesongongan Titan yang menyebalkan. Mungkin bagi sebagian orang, Titan berbicara dengan Titan saja sudah menakutkan. Namun itu tidak berlaku pada Tata dan Bianca. Keberadaan Titan sendiri bahkan hanya untuk mengusik waktu mereka.     “Gapapalah dikatain dikit, lo juga kan emang demen sama sahabatnya? Ye gak?” goda Bianca. Mengedipkan sebelah mata gelu.     “Bian! Awas lo ya!” ancam Tata kemudian. Tapi Bianca malah semakin gencar menggodanya. "Jangan sangkut pautin ini sama Gavin!" Bianca hanya mengedikkan bahu dan mulai mengemas barang-barangnya. Menarik jaket kulitnya, memasangnya asal lalu merapikan rambutnya, Bianca berujar kembali. “Gue harus pulang.”     “Ih Bian! Nanti dong! Masih awal banget ini!” protes Tata tidak terima. "Masa ninggalin gue sendiri sih, nanti dong!"     “Kasian Ayah gue, takutnya udah nungguin!” jelas Bianca. Tidak akan mempan dengan wajah memelas sahabatnya itu. Jika sudah begitu, Tata juga tidak punya pilihan untuk menahan lagi. Lantas, saat panggilan dari Gavin berdering di ponselnya, Tata terkekeh. Ia mengulum senyumnya, lalu menatap Bianca dengan pandangan berbinar-binar. “Yaudah, pulang aja. Gavin nelfone gue nih…” Melempar bantalan kepada Tata, Bianca berujar geli. “Najis! Tapi, emang sebaiknya gue pulang daripada jadi nyamuk.” Tata kembali terkekeh, lalu menerima panggilan itu cepat. Menghiraukan Bianca yang sudah berlalu dari kamar Alana. Bianca menuruni tangga rumah mewah Alana. Berjalan santai, kemudian berhenti saat menemukan Alana dan Titan sedang tertawa diruang tengah milik sahabatnya itu. Bianca mendengus, bagaimana bisa si songong itu terlihat tenang setiap kali berhadapan dengan Alana? Sebuah perbedaan paling kontras apabila ia dan Titan sedang berhadapan. Dasar, b******n sialan! Dan Bianca memilih melanjutkan langkahnya. Mengabaikan pemandangan itu, karena tidak ada gunanya memperhatikan itu. Namun, langkahnya kembali terhenti ketika pekikan dari Alana mengejutkannya. Menoleh, Bianca menghela napas saat Alana mendekatinya.     “Mau pulang?” tanya Alana pertama.  Bianca mengangguk sebagai jawaban.     “Gue baru selesai masakin Titan. Lo pulang bentaran lagi, nebeng Titan aja ya?” tawar Alana lagi. Bianca menggeleng cepat, disusul teriakan dari belakang sana. Bianca tahu itu suara setan sialan tersebut. “Gue gak mau motor gue dinaikin babi.”     “Titan! Kasian Bian pulang sendirian!” bela Alana lagi. Menghela napas karena sehari saja ia ingin Titan dan Bianca akur.     “Bukan urusan gue, Ana. Lagian mana ada cowok berani sama cewek jadi-jadian gitu?” sindir Titan lagi. "Dan gue kagak mau ban gue kempes dinaikin babi!"     “Heh setan! Diem lo ya!” potong Bianca cepat. Membalas tatapan Titan garang. "Gue juga najis mau semotor sama lo!" Alana menengahi. Menghela napas panjang, “Bian, tungguin Titan bentar lagi, ya?” mohon Alana kembali. “Nanti gue yang ngomong.”     “Enggak, Ana! Gue bisa sendiri. Jangan khawatir, lo kayak gatau gue aja.” decak Bianca dan berlalu dari sana. Bahkan, Bianca lebih memilih untuk jalan kaki daripada menghabiskan waktu dengan setan itu. Menoleh untuk melihat wajah songong Titan, Bianca memberinya jari tengah karena Titan terlihat masih meledeknya. Persetan dengan pemimpi Carswell tersebut. Titan bukan kategori yang harus Bianca takutkan. Dan begitulah, kehadiran Bianca mengacaukan segala hal. Entah itu mengenai pertahanan Titan, atau karena perasaan mereka yang menjelma menjadi sesuatu yang lain. Dia—Bianca. Gadis gila penuh masalah yang berhasil mengecohkan pertahanan Titan, sang Dewa sialan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD