Ada hal lain yang terkadang mendominasi semua keraguan tanpa henti.
Menjelma sebagai si pura-pura mengerti, dalam rentan yang tidak pasti.
Seperti saat ini,
mereka diharuskan terjebak dalam tatap yang penuh jeruji.
Sebuah bel di SMA Danirian sudah berbunyi nyaring, padahal waktu istirahat seharusnya belum dimulai.
Tidak ada yang salah, itu bel peringatan bahwa lomba menemukan bendera segera dimulai.
Sebuah lomba yang menjadi bagian terbaik di Danirian. Lomba yang terus berpusat untuk menentukan siapa yang terbaik setiap tahunnya.
Sontak seluruh siswa langsung berhamburan keluar. Menanti-nanti pertandingan ini, karena menyenangkan berada disana walaupun sekedar menyemangati.
Atau yang lebih membuat mereka setergesa itu untuk menikmati karena Titan Deimos Kennedy, objek utama yang sempurna di Danirian menjadi kandidat utama pertandingan tersebut.
Tapi tidak dengan Bianca. Ia masih bertahan didalam kelas, memperhatikan sebuah coklat dan secarik kertas yang ada dibawah mejanya dengan malas.
"Lagi?" Tata terkekeh pertama. Menatap sahabatnya dengan kerlipan menggoda. "Gue jadi penasaran secret admirer lo ini cewek apa cowok?" sambungnya menggoda. Selalu saja, sahabatnya itu kerap kali mendapatkan hadiah yang entah dari siapa.
Tapi Bianca tidak akan peduli tentu saja. Karena kini, ia sudah memutar bola matanya malas. Menghela napas panjang sebelum berdecak. "Banci gue rasa!" sahut Bianca ketus. Menghela napas berat lagi. Ia mengabaikan Tata, karena ia tengah berpikir siapa pengirim ini. Mungkin, beberapa memilih untuk tidak peduli. Bukan karena malas menanggapi, tapi karena lelah terus seperti ini. Bianca tidak tahu sejak kapan ini dimulai, memutuskan untuk tidak peduli Bianca menanamkan itu dalam hati. "Bikin gedek aja ini orang."
Akhirnya membaca secarik kertas itu pertama, Bianca tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi.
To My Athena...
Salah satu bendera Carswell ada di pohon dekat jalan setapak. Lo pasti berhasil. Semangat my Athena!
Melempar kertas itu asal, Bianca berdecak kesal. "My Athena, my athena! Dia pikir gue datang dari jaman yunani apa?!" gerutu Bianca. "Era gue, era modern woi! Jangan salah lu!" sambungnya mengomel.
Membuat Tata terkekeh geli. Benar-benar tertawa karena Bianca selalu mengumpat segala hal yang bahkan tidak diketahuinya itu. "Halah, udahlah. Terima aja, sini kalau kagak mau, buat gue coklatnya!" imbuh Tata bersemangat. "Enggak ngerugiin lo juga kalik, untung yang ada!"
"Masalahnya ini tuh sering Tata! Sekaya apa sih nih bocah, beliin gue tiap hari??" gerutu Bianca kesal. "Terus gimana kalau coklat ini dikasi racun? Diguna-guna?!"
Menunjukkan raut jijiknya, Tata menggeleng geli. "Kurang kerjaan banget orang mau ngeguna-guna lo? Cantik juga kagak. Dih!"
Memberikan sahabatnya itu jari tengah. Bianca berdecak. "Sumpah taik lo, Ta!"
Dan Tata tertawa pecah disana. "Udah, udah! Nanti aja mikirnya." kekeh Tata kemudian. Menatap Bianca lekat sebelum berujar kembali. "Mendingan sono kelapangan, lo pasti dah ditungguin!" ajak Tata setelahnya, berusaha menyemangati sahabatnya itu sebelum pertandingan dimulai.
Menghela napas berat, Bianca mengerucutkan bibirnya masam. "Alana mana?"
Tata tidak perlu menjawab itu untuk tahu dimana keberadaan sahabat mereka yang satu itu. "Pakai nanya lagi, udah dilapangan lah, nyemangatin Titan!"
Akhirnya melempar coklat itu pada Tata, Bianca membenarkan tali sepatunya diatas meja sesaat. "Buat lo!" katanya. "Kalau diracunin, lo yang mati duluan, bukan gue." sambung Bianca, sebelum berlalu dari sana.
"Sialan lo!" teriak Tata dan menyusul Bianca cepat. Sementara Bianca hanya tersenyum dari sana. Senang setiap kali menggoda Tata.
Kemudian Bianca melangkah dengan pasti ketengah lapangan, karena semua orang terlihat sudah menunggunya. Atau semua orang tahu bahwa ia dan Titanlah objek utama dalam pertandingan ini.
Maka, akan Bianca perlihatkan kehebatannya kali ini. Ia tidak mungkin kalah melawan setan sialan itu. Tidak akan pernah. Karena sampai kapanpun, Bianca tidak akan menyerah.
***
Selalu ada permainan bodoh untuk menentukan siapa pemenang tahun ini di SMA Danirian. Sebuah permainan konyol yang harus dilewati selama setahun sekali. Dan harus ada perwakilan untuk siapapun yang berani.
Lalu--selalu ada Titan dan Bianca yang akan mengisi itu tanpa berhenti. Dua orang berbeda jenis dan bertolak belakang yang kerap kali mengikuti permainan bodoh itu. Tentu saja hanya untuk menentukan siapa pemenangnya, lalu semua orang tahu bahwa Titan dan Bianca akan selalu menyombongkan diri dengan kemenangan mereka.
Bahkan, sorakan dari penonton sudah mendominasi seluruh lapangan siang ini. Sebagian bersorak untuk Titan, sebagian lagi bersorak untuk Bianca.
Sebuah keadaan gila yang hanya mereka temukan setiap satu tahun sekali, dari dua objek yang paling sering dibicarakan satu sekolah.
Titan yang songong, dan Bianca yang gila. Mungkin, keduanya akan tetap memuncaki berita teratas di SMA Danirian. Padahal mereka tidak tahu, sesuatu yang lain memuncaki ketegangan diantara mereka.
Titan hanya menyunggingkan senyumnya saat sorakan itu terdengar mengaum disetiap sisinya. Sama sekali terlihat tidak tertarik, karena ia tidak butuh itu semua.
"TITAN! TITAN! TITAN!"
Seperti saling sahut menyahut, kini teriakan kembali bergeming. Memecah belah setiap sisi, karena sorakan itu saling memopori.
"BIANCA! SEMANGAT CANTIK!"
Memutar bola matanya jengah, Bianca menoleh sesaat, mengedarkan seluruh pandangan pada semua sosok cowok yang sudah berteriak disana, ia menghela napas malas.
Terkekeh, para cowok disisi lapangan itu hanya semakin gencar menggoda Bianca, merayunya dengan semua ucapan manis yang tentunya berakhir sia-sia, karena Bianca tidak akan pernah punya waktu untuk menatap mereka.
Semua siswa sudah berteriak girang, mendukung Titan dan Bianca secara bergantian.
Jika Titan diagungkan oleh seluruh kaum hawa, maka Bianca didambakan oleh para kaum adam. Gila memang, tapi begitulah kedua orang itu menguasai SMA Danirian.
"Udah siap kalah?" ledek Titan pertama. Terkekeh untuk meremehkan gadis itu. Ia menatap Bianca geli, mengunci pandangan mereka didalam sana.
Menaikkan sebelah alisnya, Bianca menyunggingkan senyum mengejek, mengedipkan sebelah mata sebelum berujar. "Buktikan dulu dong, jangan cuma modal bacot."
Masih dengan kilatan permusuhan, keduanya saling berhadapan. Titan mengedikkan bahu, sementara Bianca tersenyum penuh tantangan.
"Titan, Titan. Jangan terlalu sok, ngalahin lo gampang kok." sindir Bianca lagi. Tidak peduli meskipun harus berdebat dengan petinggi Carswell itu. Bianca tidak akan pernah takut. "Buktinya, tiap tahun gue juga selalu nemuin tuh bendera."
Mengangguk malas, Titan hanya mengabaikan gadis gila itu, tidak akan ada habisnya jika ia hanya meladeni Bianca untuk berdebat. Karena kini, pandangan Titan hanya berpusat pada sosok gadis berambut panjang yang sudah melambaikan tangan kearahnya--Alana.
Hingga suara peluit berbunyi nyaring, baik Titan maupun Bianca langsung berlari dan meninggalkan halaman sekolah. Permainan itu sudah dimulai, maka Bianca dan Titan akan berjuang untuk memenangkannya.
Katanya Titan menakutkan. Tatapannya mampu membuat semua orang bertekuk lutut dihadapannya. Auranya yang dingin membuat beberapa orang memilih untuk mengaguminya dalam diam. Tidak ada yang berani terang-terangan menggodanya, atau mencoba untuk mendekati si brutal ketua Carswell tersebut.
Namun, semua itu hanya bisa dibantah oleh seorang cewek yang selalu berhasil menjinakkannya. Menjadi tameng dan segala hal yang mampu disingkirkan mengenai seorang Titan. Alana Humeera Kenrick, primadona SMA Danirian yang merupakan satu-satunya sahabat perempuan yang Titan miliki. Perempuan yang menduduki peringkat utama dalam list hidup sang ketua Carswell tersebut.
Hidup Titan seperti tidak ada orang lain, karena sejak kecil hanya ada Alana. Jika Alana terluka, maka Titan yang turun tangan. Jika Alana sakit, maka Titan akan menjadi gardu terdepan. Bahkan, hingga semua orang berusaha menyakiti Alana, akan Titan pastikan orang itu berakhir lebih sakit.
Persahabatan mereka membuat semua orang iri. Yang satu tampan bak dewa yunani, yang satu cantik seperti dewi. Seolah-olah setiap kali Titan dan Alana berdampingan, mereka akan tahu wujud sempurna dari kedua orang itu.
Tapi selalu ada keresahan dalam setiap persahabatan, entah siapa yang terluka dan kalah. Karena mereka menjadi dua orang yang harus menjaga, lalu berpura-pura biasa saja.
Lalu selalu ada hal lain yang membuat semua orang gencar ingin masuk ke SMA Danirian. Seorang gadis bernama Bianca Dialova. Gila, menyebalkan dan juga bar-bar. Begitulah kehadiran Bianca melengkapi SMA Danirian.
Cantik--setidaknya itu menjadi poin penting karena Bianca diagungkan oleh banyak cowok di Danirian. Kecuali Titan tentu saja.
Titan dan Bianca seperti anjing dan kucing. Saling sikut dan punya ego yang sama besarnya. Jadi tidak heran, jika Titan dan Bianca terus terjebak dalam setiap tatapan permusuhan itu.
Seperti dua orang asing yang tidak mungkin bersatu, tapi siapa sangka keduanya malah menjelma sebagai yang paling ingin tahu.
Perdebatan Titan dan Bianca masih terus terjadi setiap kali mereka saling berhadapan. Tidak heran, topik tentang keduanya selalu mengisi pembicaraan setiap sudut sekolah.
Seperti mereka berandai-andai atas banyak hal. Untuk segalanya yang tidak mungkin terjadi. Bagaimana jika akhirnya Titan dan Bianca bersama? Seandainya Titan akhirnya jatuh cinta dengan gadis gila itu? Atau pada akhirnya Bianca terpesona oleh segala hal yang ada pada Titan? Konyol memang. Tapi semua orang selalu membantah itu, karena Titan dan Alana-lah objek utama yang sebenarnya disana.
Tapi tidak ada yang tahu bukan?
***
Menghela napas panjang, Bianca masih berjalan dengan santai. Mungkin sudah hampir seratus meter jarak yang ia tempuh sejak meninggalkan sekolah. Memasuki jalan setapak yang berada tidak jauh dari gerbang belakang sekolahnya, Bianca ingin membuktikan bahwa perkataan yang ia dapat dalam secarik kertas itu benar.
Mengedarkan pandangannya, Bianca mengerutkan dahi karena ia tidak menemukan Titan, mungkin si songong itu sudah lebih dulu menemukan benderanya, pikir Bianca. Tapi ia juga tidak peduli untuk itu.
Lalu, Bianca mendekat pada sebuah pohon besar yang berjarak lima meter dihadapannya. Mengulum senyumnya karena ujung bendera itu berhasil lewat dari celah pohon, Bianca menariknya cepat. Benar, ini bendera kecil Carswell, yang artinya pengirim rahasia itu benar-benar tahu semua rute yang akan Bianca lewati.
Menyeringai puas, Bianca hanya tinggal berbalik dan kembali kesekolahnya, lalu semua orang tahu ia masih menjadi pemenang lomba menemukan bendera tahun ini.
See? Bianca tidak akan menyerah. Tapi harus ia akui bahwa secret admirernya itu benar-benar membantu Bianca atas banyak hal.
Bianca baru saja hendak berbalik, tapi langkahnya terhenti saat Bianca mendengar erangan yang cukup keras. Memasuki jalan setapak itu semakin jauh, ia menyeringai saat menemukan Titan tengah berkelahi dengan tiga orang siswa berseragam dari SMA Ocean.
Bianca kenal seragam itu. Kenal bahwa permusuhan antara Ocean dan Danirian tidak akan berhenti semudah itu. Tapi ia tetap santai berada disana, lagi pula Bianca tidak takut apapun.
Masih melipat kedua tangan diatas dadanya, Bianca terus menyaksikan itu. Memperhatikan perkelahian tersebut tanpa takut, ia memusatkan pandangan pada sosok Titan, bagaimana si songong itu tengah memukul sang lawan dengan brutal.
Semua orang tahu mereka tidak perlu mengkhawatirkan Titan. Tidak perlu takut jika hal-hal seperti ini terjadi. Karena semua orang tahu, Titanlah sang dewa perkelahian. Tidak akan ada alasan yang mampu mengalahkan dewa itu.
Kemudian saat beberapa orang kembali datang dengan seragam yang sama, Bianca tahu sesuatu yang buruk akan terjadi setelah ini.
Seharusnya itu bukan menjadi urusan Bianca, lagi pula dia Titan, tidak ada yang perlu Bianca takutkan. Namun saat semua orang disana terlihat mulai bersekongkol untuk menumbangkan Titan, Bianca tahu ia harus melakukan sesuatu.
Titan juga sudah sempoyongan, mengingat betapa banyak pukulan yang dia dapatkan secara keroyokan disana, tapi itu juga sebanding dengan hindaran yang bisa Titan lakukan. Balasan yang sudah Titan lemparkan pada beberapa anak yang kini sudah tumbang sebab pukulan dari ketua Carswell yang satu itu.
Bianca pikir Titan kalah, apalagi saat ini tidak ada petinggi Carswell yang berada disisinya. Lantas, saat Titan mulai memukul seluruh pasukan Ocean dengan kejam, Bianca terperangah dari tempatnya. Sang petinggi Carswell, Titan berhak mendapatkan posisi itu. Tidak ada keraguan dimatanya. Tidak ada ketakutan yang membuat Titan mundur. Gila memang, tapi harus Bianca akui bahwa ia juga terperangah pada apa yang dilihatnya kini.
Setan sialan itu! Dia benar-benar menghancurkan segerombolan pasukan Alex. Bodoh, Alex benar-benar bodoh karena masih tidak memahami siapa lawannya kali ini.
"Segini doang kemampuan lo?" singgung Alex pertama, sang pemimpin Ocean yang sudah terkekeh menatap Titan. Tidak menyadari pasukannya sendiri sudah banyak yang berjatuhan.
"Titan--ternyata lo kagak ada apa-apanya tanpa kacung lo yang lain!" sindir Malvin, sosok tinggi putih yang sudah berdiri tepat disebelah Alex.
Menggeram, Titan mengepal tangannya kuat. Dia maju untuk memukul wajah Alex atau siapapun yang ada dihadapannya, ketika dari arah belakang tubuhnya di tendang dan Titan terpental.
"Sial!" teriak Titan geram. Kali ini, matanya sudah berkilat marah. Emosinya sudah mendidih diatas kepala. Titan mengepal tangannya lebih kuat, semua orang seharusnya tahu, dia Titan. Bukankah seperti namanya saja semua orang tahu bahwa dia titisan dewa?
Titan menghela napas, menahan diri untuk tidak menghancurkan lawannya kali ini.
"Buktiin dong kekuatan yang lo punya? Mana? Segini doang??" kekeh Alex lagi, terlalu meremehkan keadaan Titan. Masih tidak menyadari bagaimana petinggi Carswell itu memiliki banyak sejarah.
Lalu tidak butuh waktu lama hingga Titan berhasil menumbangkan seluruh anak buah Alex yang berdatangan. Bahkan hanya dengan sekali tendangan dan juga pukulan keras, semuanya sudah terkapar diaspal. Menghujani seluruh pasukan Ocean itu dengan semua tamparan keras, Titan merenggangkan otot-otonya untuk menghancurkan sisanya.
Hingga hanya tersisa Alex dan Malvin--kedua orang itu terkekeh sebelum bekerja sama untuk membuat Titan berlutut.
Bianca yang merasa semakin tidak wajar mulai mengambil gerakan. Bukan, bukan karena ia meragukan Titan, tapi karena Bianca tahu Alex bermain curang. Tidak pernah ada keraguan yang harus Bianca tunjukkan pada lelaki itu. Karena Titan tidak akan pernah mengecewakan Danirian.
Cih, satu lawan semua pasukannya? Alex benar-benar rendahan. Akhirnya melangkah mendekat--kehadiran Bianca mengejutkan semua orang disana. Terlebih lagi, Titan. Matanya tidak berhenti menatap Bianca dalam.
Saat satu pukulan akan Alex layangkan pada Titan, suara Bianca menghentikan itu semua. Mengintrupsi semua orang disana, bahwa ini bukan saat yang tepat. Tangan Titan berhasil ditahan Malvin, namun langsung ditepis detik itu juga. Dan Titan punya kesempatan untuk mendorong tubuh Malvin menjauh.
Bianca sudah berhenti ditengah sana. Melipat kedua tangan diatas d**a dengan santai. "Apa Ocean memang doyan keroyokan?" kekeh Bianca pertama, menyindir semua orang disana. Membiarkan dirinya menjadi titik perhatian. "Cupu banget dong? Satu lawan sebanyak ini?!"
Diam, sebagian menatap gadis itu tidak percaya. Sementara yang lainnya masih terpana oleh kehadiran Bianca.
Alex terkekeh pertama, menatap gadis itu dari atas hingga kebawah sebelum berujar. "Pergi, Bian. Jangan ikut campur urusan gue." singgungnya. "Jangan buat gue main kasar sama cewek!"
Bianca ikut tertawa. Menatap remeh semua orang disana. "A-ah, enggak heran sih, gue tahu anak Ocean emang doyan ngasarin cewek." ledeknya. "Dan ya, Alex seharusnya gue yang ngomong gitu. Pergi lo, dan serahin Titan sama gue." balas Bianca tanpa takut.
Alex menggeleng geli. "Apa sekarang lo ngincar ketua sekolah lo sendiri?" tanyanya kemudian, menyeringai. Karena sejak Danur memberitahunya waktu itu, Alex seperti memahami situasi ini. "Mau cari muka? Atau lo dan sahabat lo itu terlalu murahan untuk rebutan dan berbagi cowok modelan begini?"
Titan sudah mengepal tangannya kuat. Sementara Bianca ikut menatap Alex geram. "Bukan urusan lo. Lepasin tuh setan, gue sama dia lagi lomba, t***l!" sahut Bianca. Tidak ada kesan takut sama sekali dengan siapa ia berhadapan.
"Karena itu, hari ini gue mutusin buat nyerang nih cowok sialan!" beo Alex setelahnya. "Kenapa? Takut pentolan lo ini kalah?"
Bianca terkekeh setelahnya, menyunggingkan senyum mengejek. "Lo yakin? Coba lo liat anak buah lo, udah sekarat semua."
"Tapi gue belum, gue masih mampu ngehancurin pemimpin Carswell yang satu ini!" geram Alex lagi. "Gue masih mampu buat dia bertekuk di kaki gue!" titahnya. Menatap Titan meremehkan. "Kenapa? Mau manggil kacung-kacung lo?"
"Lo bacot anjing!" teriak Titan. Kehadiran Bianca sendiri benar-benar menyulitkannya.
Dan Bianca masih tetap menahan gerakan Titan. Tidak ingin lelaki itu gegabah. Ia kembali menengadahkan kepala untuk menatap Alex. "Tapi enggak pernah ada yang berhasil." potong Bianca cepat. Tidak pernah melewatkan desas desus mengagumkan soal Titan. "Seharusnya lo sadar setelah lihat kondisi anak buah lo disini."
Terkekeh, Alex baru saja menguraikan rengkuhannya pada seragam Titan, berniat menghampiri Bianca untuk memberi gadis itu pelajaran.
Ketika Titan malah mengambil kesempatan, ia menendang tubuh Alex dari belakang. Memukul Alex kuat, Titan bahkan membuat bibir cowok itu terkoyak dalam satu tamparan keras. Tidak peduli dengan rintihan Alex, Titan benar-benar menghajarnya dengan gila.
Dan perlakuan Titan, membuat semua anak buah Alex terlonjak, dan mereka bergerak.
Tapi terlambat, karena Titan sudah menarik tangan Bianca dan berlari dari sana. Bukan, bukan karena dia kalah, karena dia sudah pasti menang. Titan hanya tidak ingin membuang tenaga untuk lawan yang rendahan seperti itu.
Akhirnya memasuki jalan setapak semakin dalam, sementara tangannya masih menggengam tangan gadis sialan itu, kuat. Titan berlari sejauh mungkin karena anak buah Alex, terlihat masih mengejar mereka.
Dengan kedua jemarinya dan Bianca yang saling terpaut, angin sepoi-sepoi menjadi saksi, erangan napas saling beradu, tanpa ada yang tahu akan menjadi seperti itu.
Ketika memastikan semuanya aman dan merasa napasnya sudah habis. Titan menghentikan langkahnya, membuat Bianca menepis tangannya kasar, lalu gadis itu menatap Titan gusar.
"Eh setan! Lo tu apa-apaan sih?! Kenapa lo narik gue bodoh?!" pekik Bianca geram. Mengatur napasnya yang sudah hampir habis, lalu terdiam untuk mengumpulkan kekuatannya kembali. "Ngapain juga lo lari?!"
Titan menarik napas panjang. Tidak ada yang pernah membuatnya gencar. Tapi gadis sialan ini, dia benar-benar mengusik pertahanannya. "Bisa enggak lo diam dulu? Dasar babi!" geram Titan. "Gue tuh berusaha bawa lo kabur dari sana." sambungnya Titan tidak mau kalah. Kesal sendiri karena Bianca malah menyalahinya.
Bianca terkekeh. Menatap cowok dihadapannya remeh. "Lo cupu tau enggak? Ngelawan Alex doang lo enggak mampu? Songong doang lo, tapi lemah!" sindir Bianca. "Kenapa enggak lo habisin aja semuanya? Tumbangin semua ketanah?!" singgung Bianca kembali. "Atau benar kata Alex? Lo enggak bisa tanpa kacung-kacung lo yang lain?"
Titan tahu Bianca akan selalu mengatakan omongan sepedas itu setiap kali berhadapan dengannya. Tapi ini keterlaluan. Gadis gila itu sudah melewati batasnya. Menggeram, Titan menarik wajah Bianca dengan gusar. Mengapit wajah sialan itu dengan satu genggaman jemarinya, Titan menatap gadis itu dengan kilatan marah. "Jangan buat gue nampar muka lo ini!" geramnya. "Lo enggak tahu apa-apa!"
Menghela napas, Bianca terkekeh sebelum menepisnya. Menjauhi tangan Titan dari wajahnya. "Apa? Enggak cuma cupu. Lo juga beraninya sama cewek doang!"
"Itu karena ceweknya modelan lo! Cewek sialan!" geram Titan lagi. Seharusnya gadis gila ini tahu, Alex pernah merencanakan sesuatu kepadanya. Dan ialah yang berkorban atas itu. Sialan! "Lo benar-benar enggak tahu diri." geleng Titan tidak percaya.
Bianca hanya memutar bola matanya jengah. Kenapa jadi emosi begini sih? Setan sialan itu. "Lo tuh udah gue tolongin, bukannya terimakasih, ini malah ngomel." imbuh Bianca malas, memutar bola matanya jengah. "Aneh banget!"
"Tanpa lo tolong juga mereka bukan lawan yang berat!" balas Titan cepat. "Dan sejak awal gue enggak nyuruh lo buat nolong gue."
Benar. Titan benar. Untuk apa tadi Bianca berjalan ketengah sana? Seharusnya ia pergi. Membiarkan Titan sendirian, mengabaikan setan itu. Tidak mempedulikannya apapun yang terjadi. "Benar juga sih, ngapain coba gue nolongin lo?"
Lalu mengabaikan tatapan gadis itu, Titan menggantinya dengan menatap bendera yang sudah dibawa Bianca. Meliriknya sesaat sebelum berujar. "Sayangnya, tahun ini gue juga masih jadi pemenang." kekeh Titan seraya mengeluarkan bendera Carswell dari saku celana sekolahnya. Menatap Bianca remeh.
Tapi Bianca tidak akan mau kalah. "Sorry, lo enggak bakal semudah itu buat menang lawan gue." singgung Bianca. "Nemuin bendera ini bukan hal yang sulit. Jangan belagu.
Tentu. Ia Titan. Seharusnya apapun yang ia lakukan adalah urusannya. "Lo juga, lo pikir cewek kayak lo bisa menang lawan gue?"
"Off course. Setidaknya gue menang karena nolongin cowok cupu kayak lo!" imbuh Bianca puas. Lalu ia mengedipkan sebelah mata, sebelum berbalik dan berlalu meninggalkan Titan. Sebut saja Bianca gila. Maka seperti itu kegilaan yang sering ia lakukan setiap kali berhadapan dengan ketua Carswell yang satu itu.
Membiarkan Titan yang sudah menatap punggung Bianca dengan helaan napas berat. Karena sampai kapanpun, keduanya memang selalu seperti ini. Berperang dan menampilkan sorot tidak suka bagi satu sama lain.
***
"Lo dari mana aja? Lama banget sih? Gue cari kemana-mana juga kagak ada!" gerutu Tata pertama. Menatap Bianca malas karena sahabatnya itu masih fokus dengan makanannya. "Ngapain aja? Tumbenan banget tahun ini lo lama?"
Menengadahkan kepala, Bianca menggeleng sebelum berujar malas. "Ta! Bisa diem enggak? Gue mau makan dulu! Capek ini nyari bendera seharian, lo malah bacot aja dari tadi!"
"Ampun deh Bi, gue khawatir sama lo. Dan lo malah ngomel? Dasar cewek enggak punya hati!" sahut Tata masam. "Kesel banget. Gue nungguin dahal, dan lo cuma ngomel!"
"Gue capek. Gue laper. Gue mau makan dulu, setelah ini--baru dah gue ngomong sama lo. Oke?" rayu Bianca. Berusaha menghindari bacotan sahabatnya yang satu itu. "Buset dah, ngambekan banget dah lo jadi cewek!"
Tapi Tata sudah terlanjur menggerutu.
"Bener kata orang-orang, lo tuh nyebelin!" decak Tata kemudian. Tapi ia juga mulai menyantap siomay miliknya. Membiarkan Bianca yang sudah terkekeh menatapnya.
Lalu ketika seisi kantin heboh, dan bisikan-bisikan tidak wajar mulai terdengar, Bianca tahu apa yang terjadi. Seperti biasa--tentu saja itu karena kedatangan kelima petinggi Carswell.
Menoleh, Bianca menaikkan kedua alisnya. Memperhatikan Titan si setan yang memimpin di depan, sementara dibelakangnya sudah ada Zidan dan Aiden yang sibuk menggoda beberapa adik kelas. Tidak ketinggalan Arkan dan Gavin yang masih berlagak sok keren dan sok ganteng.
Bagaimana kedatangan lima orang cowok itu membuat para kaum hawa menjerit frustasi. Memimpikan para pemimpin Danirian itu, lalu menghayalkan kegilaan jika mereka dapat memiliki salah satunya.
Duduk pada pojok kantin yang sudah menjadi hak milik anak-anak Carswell, kelimanya bahkan tidak perlu memesan, karena semua pesanannya sudah di siapkan.
"Titan! Astaga, mimpi gue!"
"Apa gue sejelek itu? Kenapa noleh aja mereka enggak sudi?"
"Gue dah dandan cantik buat dilihat Arkan, tapi boro-boro. Dilirik aja kagak."
"Gavin, itu cowok kenapa keren banget sih?!"
"Apalagi Zidan, anjir! Mimisan gue lama-lama!"
"Arkan anjir, dia yang paling oke!"
"Apaan sih! Cakepan Aiden tahu!"
"Gue diabetes lama-lama, kasi satu ke gue, pleasee!!"
Mengerutkan dahi, Bianca menoleh untuk menatap suara-suara menjijikan itu. Mendapati bagaimana semua cewek dikantin itu memuja Titan dan teman-temannya, membuat Bianca ingin memuntahkan kembali seisi siomaynya.
Berlebihan memang, tapi itu benar! Bianca dibuat pasrah mendengarkan suara-suara kekaguman itu. Apalagi saat sahabatnya sendiri ikut menyuarakan kegilaannya.
"Bi--Gavin cakep banget..." erang Tata frustasi. Memperhatikan teman sekelasnya itu sejak tadi. "Damagenya Bi. Ih gakuatt!" sambung Tata tidak percaya. "Kapan ya Gavin peka sama gue? Huhu..."
Bianca menggeleng tidak percaya. "Ta! Gue gampar lo ya! Jangan malu-maluin, lo tiap hari ngeliat tuh jelangkung dikelas!" rutuk Bianca kesal. Membuat Tata mengerucutkan bibirnya masam. "Lebay banget dah lo. Gabung sono sama tuh cewek-cewek alay!" sindir Bianca kembali.
Tapi mengabaikan itu, Tata menatap Bianca sesaat. Lalu, detik selanjutnya ia berujar lagi. "Setelah gue lihat, lo cocok tahu sama Titan, Bi."
Bianca tersedak detik itu juga. Meneguk habis minumannya dalam sekali tegukan, lalu menggeleng tidak percaya. "Ta! Jangan ngada-ngada! Gue muntahin lo ya!" geram Bianca kemudian. "Lo tahu sendiri gue setiap ketemu tuh setan maunya berantem mulu!" tolak Bianca mentah-mentah. "Najis gue, suka sama setan berwujud manusia gitu!"
Dam Tata sukses tertawa puas. "Kebalik woi kebalik!" kekehnya kemudian. "Cakep gitu kok ditolak..."
"Serah, dia bukan tipe gue!" sahut Bianca setelahnya. Tidak ingin melanjutkan pembicaraan mengenai Titan.
Tata tertawa, tidak peduli pada semua orang yang sudah menatapnya bingung. "Gue rasa, lo emang kagak punya tipe deh. Lagian, mana ada cowok mau dekatin lo? Udah kabur duluan mereka!" ledek Tata puas. Membuat Bianca menatap sahabatnya itu masam, lalu menodongnya dengan garpu. "Nah, lihat tuh lihat! Lo tuh jadi cewek garang! Bikin cowok-cowok kabur!" sambung Tata lagi. "Lo cantik Bi, tapi sayang kayak iblis."
"t*i lo!" sungut Bianca, tidak terima. Menghela napas, Bianca menggeleng tidak peduli.
Tapi Tata masih tidak berhenti untuk menggoda sahabatnya itu. "Tapi nih yah Bi--"
"TEDI!"
Dan suara teriakan itu, membuat Bianca dan Tata menggeleng geli. Kenal betul si pemilik suara, keduanya hanya terkekeh.
Hingga suara itu bergema pada seisi kantin, semua orang ikut menoleh. Dengan rambut panjang bergelombangnya, gadis itu memasuki kantin dengan langkah cepat. Jika semua orang hanya dapat mengagumi Titan dari jauh dan dalam diam, mungkin gadis itu pengecualian.
Keduanya sudah tumbuh bersama sejak kecil, tidak heran hanya gadis itu yang dipersilahkan untuk menjadi satu-satunya yang berhak atas Titan. Dia, Alana Humeera Kenrick.
"Nah, lo liat sahabat lo yang satu itu. Lo mau dibunuh karena suka sama si setan itu?" kekeh Bianca kemudian. Menyadari bahwa hayalan Tata mengenai dirinya dan Titan adalah sebuah ketidakmungkinan. "Jangan mikir yang enggak-enggak deh lo."
"Gue bilang lo yang cocok, kenapa jadi gue?" sahut Tata tidak terima. "Lagian nih, Alana sama Titan tuh abu-abu, enggak jelas."
Mengabaikan Tata, Bianca memilih untuk memperhatikan apa yang Alana lakukan disana. Menyaksikan sahabatnya yang satu itu, lalu menggeleng. Selalu. Alana dan Titan akan tetap menjadi objek utama disana.
"Lo abis berantem sama anak-anak Ocean?" tanya Alana pertama. Ia sudah duduk dimeja petinggi Carswell. Diapit oleh Arkan dan Aiden, Alana terus memusatkan perhatiannya pada sosok Titan. Meneliti penampilan sahabatnya itu. "Bener?"
"Tahu dari mana? Si babi itu?" tunjuk Titan pada Bianca. Gadis gila yang berada tidak jauh dari mejanya. "Dia ngadu lagi ke elo?"
Mengangguk, Alana membenarkan itu. "Bianca yang ngasi tau gue. Lo enggak papa?"
"Ana, lo kagak liat tuh muka songongnya masih utuh gitu?" Arkan menyindir pertama.
"Tau ah, kagak usah lebay!" Zidan ikut menimpali. Kesal karena Alana selalu seperti itu. "Apa yang lo takutin sih? Takut muka songongnya ini babak belur?"
Membuat Alana mengerucutkan bibirnya masam, menghiraukan ke-empat petinggi tersebut, dia menatap Titan lagi. "Tedi, mending lo lem deh mulut empat sahabat lo ini!" decaknya. "Bacot banget! Berisik!"
"Yatuhan, gue diem aja dah dari tadi!" Aiden protes pertama. Menggeleng tidak percaya.
"Gue juga anjir, kenapa jadi gue yang kena?" tambah Gavin tidak terima. "Selalu salah dimata cewek."
Terkekeh, Titan menatap gadis dihadapannya lembut. Memastikan sahabatnya itu bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkannya. "Gue baik-baik aja, Ana."
"Sama Alana aja, muka lo berseri kayak nemu duit sebakul!" ledek Zidan, menggeleng kepala geli.
"ASLI!" potong Aiden cepat. "Kayak menangin lotre sepuluh angka lo!"
Menghiraukan seruan itu, Alana menghela napas, "Bagusdeh, kalau sampai lo kenapa-kenapa, gue lapor sama Tante Lea." ancam Alana.
Sementara Titan sudah mengangguk patuh, tidak ingin masalahnya sampai terdengar orang tuanya. "Enggak akan, tenang aja, Ana."
Lalu Alana berdiri untuk berlalu dari sana. Menatap Aiden, Zidan, Gavin dan Arkan malas, ia berdecak. "Yaudah, gue mau ke Bianca dulu."
"Salam ya, buat yayang Bianca gue!" imbuh Aiden kemudian.
"Mending lo mimpi dah!" sahut Alana tidak suka. Lalu ia pergi dari meja Titan, menghampiri Bianca dan Tata, kemudian larut dengan kedua sahabatnya disana.
Meninggalkan kekehan geli dari seluruh anak Carswell dimeja sebelah.
Lalu saat Bianca memilih menoleh untuk melihat Titan, ia menyunggingkan senyum mengejek karena Titan masih menatapnya garang.
Hell, Bianca bahkan tidak peduli dengan semua sorot tajam yang si songong itu berikan!
***