IV. Kegilaan yang sama

2531 Words
Setiap orang menginginkan kebahagiaan yang sama setiap kali masa remaja dimulai. Berharap bahwa masa itu membawa kenangan terbaik yang memang patut untuk dikenang. Atau membuat kita lupa? Lalu, tidak mengherankan bahwa SMA Danirian menduduki tempat tertinggi sebagai salah satu sekolah yang hampir diminati seluruh anak di Jakarta. Beberapa mengatakan bahwa Danirian adalah sekolah kebanggaan. Penuh cerita dan juga hal mengejutkan yang ada didalamnya. Desas-desus mengenai Danirian juga segala hal menarik yang kerap kali orang-orang katakan tentang itu. Lantas, selalu ada cerita dibalik sekolah-sekolah berpengaruh itu. Entah karena seluruh kegiatan dan juga penghargaannya atau karena siswa-siswa yang ada didalamnya. Dan selalu ada pula hal gila yang terus terjadi pada setiap sekolah. Sesuatu yang mutlak tanpa bisa dihindari. Sesuatu yang menjadi pedoman dan objek utama bagi siapapun yang berada disana. Jika sekolah lain punya banyak hal untuk dibanggakan, maka SMA Danirian punya dua orang ini untuk selalu dibicarakan. Segala sumber masalah dan sumber kekacauan. Titan, Bianca. Yang satu cowok, yang satu cewek. Yang satu keras kepala yang satu bar-bar. Tapi tidak menghindari bahwa keduanya selalu menjadi bahan pembicaraan seantero sekolah. Bukan, bukan karena mereka sepasang kekasih. Tapi karena keduanya selalu bertengkar dan bertemu dalam wujud perang. Layaknya batu yang akan mengapung diatas air, Titan dan Bianca adalah wujud dari ketidakmungkinan itu. Tapi pada satu hal yang selalu membuat mereka diagungkan dan didambakan, sebut saja keduanya sama-sama gila. Seperti saat ini, Bu Nadine--guru BP SMA Danirian, sudah hampir hilang kesabaran karena dua orang yang sama setiap harinya. Dua orang yang sejak pertama selalu memuncaki namanya dibuku hitam milik. Menghela napas, bu Nadine berusaha untuk menormalkan emosinya. Tidak ingin membuat dirinya sendiri naik darah hanya karena dua manusia tidak bisa diatur dihadapannya ini. Ingin menyerah tapi itu adalah tugasnya, jadi bu Nadine tetap bertahan dengan seluruh kesabaran yang sudah menyelimutinya. Kesabaran yang entah sampai kapan mampu bertahan. Dan kesabaran yang cepat atau lambat akan habis karena batasannya sudah berakhir. Lantas bu Nadine menatap Titan dan Bianca bergantian. Menggeleng tidak percaya kepada dua orang yang selalu mengusik harinya disekolah. Yang selalu mengacaukan segala tugasnya. Dua siswa yang sampai kapanpun akan selalu di-ingatnya. Dan dua siswa yang tidak akan berhenti menjadi pembicaraan satu Danirian. "Titan, Bianca! Kalian berdua lagi!" geramnya pertama, memijat pangkal kepalanya dengan gusar, sementara matanya tidak berhenti menatap kedua siswa bangor itu bergantian. "Kalian tahu?! Buku hitam ini, semuanya nama kalian!" singgung Bu Nadine lagi. "Sadar tidak??!!" Jika Titan masih merebahkan kepalanya diatas kursi tanpa mencoba peduli, Bianca hanya menyilangkan kaki dengan wajah tidak ingin tahu, memainkan kukunya yang panjang untuk mengalihkan bu Nadine, benar-benar gambaran keras siswa tidak bisa diatur. Atau keduanya sama-sama tidak ingin tahu. Lagi pula, tidak ada yang Titan dan Bianca kalutkan, karena keduanya sudah terbiasa menghadapi ruangan ini. Dan itu sudah menjadi keseharian selama bertahun-tahun ini mereka menempati Danirian. "Merokok disekolah?! Kamu itu sudah tahun terakhir, Titan!" pekik bu Nadine galak. "Coba jadi siswa yang berbakti sedikit! Berbudi pekerti dan memberikan hal-hal baik ditahun terakhir." sambung bu Nadine lagi, suaranya terdengar putus asa. Urat-urat dilehernya mengencang karena Bianca dan Titan masih saja terlihat santai. "Dan kamu Bianca! Berkelahi dikoridor???" singgung Bu Nadine tidak percaya. "Kamu itu perempuan! Bertingkahlah sewajarnya, jangan bergaya seperti preman!" erang Bu Nadine kemudian. Masih memijat pangkal kepalanya dengan gusar. "Mau jadi apa kamu? Perempuan tapi doyan pukul-pukulan?" Titan mengangguk-angguk malas. Mengerjap untuk menatap bu Nadine dengan iba. "Bu, nasihatnya bisa dipercepat nggak? Saya mau masuk kelas, nanti di cariin Pak Jaka." Titan, si songong itu berujar santai. Gerah sendiri karena bu Nadine terlalu bertele-tele dan membuang banyak waktunya. Membuat bu Nadine menatap Titan tajam. Menggeleng tidak percaya, karena tahu sebanyak apapun usahanya untuk mengomeli kedua siswa itu, tetap saja berakhir sia-sia. Entah sampai kapan segala nasihatnya ini akan didengar? "Kalian itu, coba sekali saja membanggakan nama sekolah. Jangan bisanya nyusahin orang tua!" beo Bianca pertama. "Itukan nasihat yang mau ibu kasi tau?" kekeh Bianca setelahnya. "Kita udah hapal." Menoleh, Titan menggeleng menatap gadis gila disebelahnya. Sebelum berbisik pelan, "Eh gila, jangan b**o-b**o amat! Lo mau hukuman lo ditambah?" Membalas tatapan cowok disebelahnya dengan garang, Bianca berujar tajam. "Eh setan! Lo diam aja, gue bukan ngomong sama lo!" "DIAM KALIAN BERDUA!" pekik Bu Nadine setelahnya. Menatap dua siswa dihadapannya dengan kilatan marah. "Nahkan, lo, bangunin singa siang bolong gini!" decak Titan malas. "Lo doyan banget barengan sama gue begini?" "Najis!" potong Bianca cepat. "Lo juga, banyak omong. Sok-sokan pak Jaka nyariin, jadwal hari ini aja lo gatau, t***l!" sahut Bianca tidak suka. Memutar bola matanya jengah. "Emang lo tau? Lo juga kerjaannya tidur dikelas!" singgung Titan kemudian. Tidak ingin mau kalah. "Gue lebih pintar dari lo, btw." "Setidaknya masuk, enggak kayak lo!" sahut Bianca. "Dan gue juga enggak bodoh-bodoh amat." Membiarkan bu Nadine menatap keduanya dengan penuh intimidasi. "Kalian berdua--daripada saya naik darah! Mending kalian pergi!!" geram Bu Nadine lagi. Dia sudah mengibaskan tangan dengan kasar, tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi dua orang siswa dihadapannya. Membuat Titan dan Bianca langsung berdiri detik itu juga, hendak berlalu ketika teriakan bu Nadine kembali bergema. "HEI SIAPA YANG NYURUH KALIAN LANGSUNG PERGI?!" Menghela napas, Titan dan Bianca sama-sama menghentikan langkah mereka. Membalik badan dan menatap bu Nadine malas. Gila memang ini guru? batin Bianca dalam hati. "Tadi nyuruh pergi, sekarang manggil lagi. Ibu itu udah monopause apa gimana sih?" sindir Titan pertama. Tidak peduli meskipun bu Nadine sudah membulatkan mata menatapnya. "Monopause? Hellow, enggak ada hubungannya b**o!" kekeh Bianca kemudian. "Bu, langsung aja kasi hukuman, jangan ngomel lagi. Ibu mau jantungan di sekolah? Enggak ada yang nolongin entar." sambung Bianca geli. Sama sekali tidak ada takut-takutnya. "Biaya rumah sakit juga mahal." Titan terkekeh disebelahnya, menatap gadis gila itu geli, sebelum berujar. "Lo tahu nggak?" kekeh Titan pertama. Bianca benar-benar menakjubkan. "Babi, itu sebutan yang cocok buat cewek gila kayak lo!" Tentu Bianca tidak akan kalah. Ia membalas tatapan Titan sebelum berdecak. "Lo mau tahu juga nggak?" sahutnya. "Lo juga cocok dipanggil setan! Titan--setan! Udah jadi satu kesatuan paling oke." imbuh Bianca tidak mau kalah. Menggeram, Titan mendekat, mencoba untuk menjitak kepala Bianca, Tapi terhenti karena teriakan bu Nadine kembali melengking disana. "Kalian berdua! Benar-benar kurang ajar!" geram Bu Nadine keras. Menatap Titan dan Bianca bergilir sebelum menitahkan hukumannya. "Bantu Pak Dadang bersihkan daun kering dihalaman dan bereskan selokan depan gerbang!" "Itu doang? Bukan masalah, yaudah ibu Nadine yang cantik, istirahat dulu. Jangan marah-marah lagi." saran Titan dan berlalu dari sana. Diikuti Bianca yang juga hanya terkekeh dibelakangnya. Bagi mereka berdua, berhadapan dengan Bu Nadine, benar-benar bukan masalah besar. Itu lebih terasa seperti buang-buang waktu. Jika Titan berbelok kekanan untuk pergi ke gudang belakang, Bianca melakukan yang sebaliknya. Mereka hanya melangkah berbeda arah, tanpa menjalankan hukuman yang diberikan, karena keduanya juga tidak akan pernah peduli. Motonya pasti sama, untuk apa pak Dadang digajih, kalau keduanya harus melakukan hukuman itu? See? Begitulah kehadiran Titan dan Bianca meramaikan SMA Danirian dengan tingkah keduanya. *** "Tan, Raja ngajak lo balap nanti malam." ucap Arkan kemudian. Kelima anggota inti Carswell itu sudah berada digudang belakang. Memilih tidak masuk kelas, disanalah mereka berada. Titan masih bersender dengan rokok ditangannya, Gavin dan Aiden yang masih memperdebatkan sesuatu, sementara Zidan dan Arkan ikut mengambil sebatang rokok milik Titan. "Kenapa dah muka lo kek lumpur gitu?" ledek Aiden pertama. "Bu Nadine ngasi hukuman berat?" tebaknya lagi. Lalu Zidan terkekeh nyaring. "Mau dikasi hukuman apa juga, emang Titan pernah ngejalaninnya? Kagak ada tuh istilah nih anak mau disuruh-suruh." "Benar, ngesot gue sampe monas kalau Titan ngejalanin tuh hukuman." timpal Gavin setelahnya. Menghela napas berat, Titan melempar sebatang rokoknya asal, sebelum berdecak. "Raja?" kekehnya. "Udah sembuh tu anak?" Mengedikkan bahu, Arkan berujar lagi. "Kita buktikan nanti malam, gue denger dia udah banyak peningkatan setelah kalah dari lo waktu itu." "Bahkan kalaupun dia udah latihan keras, gue enggak yakin tuh orang bisa ngalahin, gue." jawab Titan percaya diri. "Ckckck," kekeh Gavin kemudian. "Semua orang tau, kondisi kayak gimanapun enggak bakal buat seorang dewa kalah." ledeknya pada Titan. "Off course!" kekeh Titan. "Kan, kasi tau Raja. Gue harap dia enggak telat, dan kasi tahu, jangan sampai jatuh lagi." Arkan mengangguk, dengan ketiga sahabatnya yang lain hanya menggeleng geli. Kentara sekali, bahwa Titan mampu mengecoh sang lawan dengan caranya sendiri. Lagi pula, tidak ada yang pernah mampu membuat Titan kalah. Entah itu disirkuit ataupun dilapangan. Karena seperti yang semua orang tahu, wujud titisan dewa ada pada sosok cowok itu. "Tadi lo dihukum sama yayang Bianca?" Aiden bertanya pertama. Menyadari bahwa Titan telat karena sahabatnya itu harus keruang BK. "Kasihan bu Nadine." tawa Aiden. "Muka lo aja berdua yang tiap hari dia temuin." Mengerutkan dahi, Titan menatap geli Aiden pertama. "Yayang pala lo." selanya. Tidak mempedulukan perihal pembahasan mengenai bu Nadine. Aiden terkekeh. "Lo tau, lo sama Bian tuh kayak kucing sama anjing, kagak pernah akur!" "Ye biarin, lagian siapa juga mau akur sama cewek bar-bar kayak begitu? Lo aja yang kagak waras suka sama tuh cewek." timpal Titan kemudian. Menggeleng ngeri. "Kagak ada indah-indahnya. Gila iya!" Aiden menggeleng. "Gue kan sekedar suka, enggak yang suka-suka banget, t*i!" bela Aiden tidak mau kalah. Membuat Arkan, Gavin dan Zidan tertawa puas disana. "Gimana dah maksud suka tapi enggak yang suka-suka banget?" beo Gavin. "Playboy cap badak lo." "Sama kayak lo t*i!" balas Aiden cepat. "Kemaren Sinta, besok Bella, lusa Rahma, minggu depan Wati, sebulan kemudian Tuti, dua bulan kemudian Sarinah." ledek Arkan kemudian. "Sekalian aja lo masukin mpok Tari!" protes Aiden kemudian. "Gue enggak seplayboy itu, t*i. Emang dasarnya aja gue cakep." "Iyedah iya. Lo doang yang paling cakep sedunia!" singgung Zidan. Membuat Aiden menatap masam seluruh sahabatnya itu. "Tapi serius anjir, Bianca tuh susah banget t*i didekatin." "Aelah lo den, kayak kagak ada aja cewek didunia ini. Danirian banyak ciwi-ciwi gemes, kagak usah lebay gitu." ledek Zidan lagi. "Gue bediri didepan tuh cewek-cewek aja, mereka menjerit," beo Aiden bangga. "Masalahnya ni ye, gue ngomongin Bianca!" protes Aiden lagi. "Tu cewek hati batu, cobadah lo pernah liat dia ama cowok? Kagak kan? Palingan sama Alana ama Tata doang." "Kenapa jadi ngurusin tu cewek gila sih? Udah ah, bahas yang lain. Kagak punya kerjaan ngomongin tuh cewek?" protes Titan. "Gue muak dengarnya." Barulah semuanya mengganti topik. Karena jika Titan sudah menitahkan sesuatu, maka semua orang harus mendengarkannya. "Sensi amat mas, udah kayak merek masker." sindir Arkan geli. "Sekalinya bahas Alana, seneng lo!" decak Zidan. "Kasi kepastian tuh anak orang." saran Gavin. "Kasian..." "Lo juga t*i, Tata tuh diurusin!" balas Titan tidak mau kalah. "Hadeh, lo bedua emang gede digengsi." imbuh Aiden cepat. Membuat Titan dan Gavin menoleh dan memberinya jari tengah. Membiarkan kekehan geli itu mengaum pada sesisi gudang. Mempertontonkan kehidupan beringas para petinggi Carswell tersebut. *** "Hell to the hell, Bian. Lo tuh kenapa sih pakai mukulin si Tessa segala?" protes Tata ketika menemukan sahabatnya itu baru saja memasuki kelas. Menyemprotnya dengan semua ketidakpercayaan. Alana sendiri sudah mendengarkan, menunggu penjelasan atas dasar apa pertengkaran Bianca tadi. Berhubung guru sejarah mereka tidak masuk, tidak perlu diperjelas lagi seperti apa situasi di kelas 12 IPS 3, saat ini. "Dia ngomongin Ana, dan kebetulan gue lewat. Yaudah, gue pukulin aja sekalian kepalanya. Gedek gue sama tuh anak!" sahut Bianca asal. "Gabut banget sampe ngomongin orang sana sini? Emang musti digampar tuh mulutnya." Dengan Tata yang sudah menggelengkan kepala tidak percaya. "Lo tahu kan Tessa itu siapa? Bokapnya komite sekolah ini. Lo mau dikeluarin dari sekolah?" "Enggak akan kok, lo punya gue, tenang aja." sambung Alana bangga. "Kalau Tessa ngelapor ke bonyoknya, gue juga bisa lapor ke bonyok gue." "Iya, iya tahu yang bokapnya donatur terbesar!" singgung Tata. Alana menggeleng. "Bokap Tedi tuh yang paling banyak," "Lo kenapa manggil dia Tedi sih? Aneh banget dah," geleng Tata tidak habis pikir. Memang sudah lama ia mendengar itu, tapi setiap kali Alana memanggil Titan seperti itu, telinganya mendadak rabun. Benar-benar terdengar aneh. "Namanya Titan, kagak ada embel-embel Tedinya?" "Tedi bear." potong Bianca. "Atau Tedi tukang salon dekat rumah gue." kekehnya lagi. "Eh tapi, dia tuh cocoknya dipanggil setan. Itu lebih pas buat cowok modelan Titan." Menatap tajam kedua sahabatnya, Alana berujar lagi. "Jangan ngatain Titan gue. Dia baik kok, kalian aja yang enggak kenal deket." "Haduh, salah ngomong gue." erang Tata kemudian. Membuat Bianca terkekeh sebelum kembali melanjutkan. "Iya-iya Tedi lo dah. Tedi lo, iya, punya lo." "Gue tuh dah kenal Titan dari dulu, lo bedua tahu kan?" jelas Alana lagi. Lalu Bianca dan Tata mengangguk serempak. Tidak juga ingin mengomentari lebih banyak, karena pembelaaan Alana untuk Titan akan sepanjang rel kereta api. "Siapa coba yang enggak kenal Kenrick ama Kennedy? Wajarlah lo dari bayi dah deket, orang tua lo bedua juga sahabatan." kata Tata lagi. "Kata bokap gue, Titan tuh nurunin sikap bokapnya--songong. Jadi enggak heran kenapa dia begitu." cerita Alana kemudian, menjelaskan bagaimana orang-orang harus melihat Titan dengan sisi yang berbeda. Menelungkupkan kepala diatas meja, menjadi pilihan Bianca setelahnya. Memilih untuk terlelap, karena terlanjur malas dengan pembahasan kedua sahabatnya itu. Setidaknya sudah cukup Bianca bertemu dengan Titan di ruangan Bu Nadine tadi. Untuk mendengar cerita cowok itu--maka tidak lagi. "Dia tuh enggak cuma songong, Ana! Tapi juga belagu, sombong, ngeselin, ba--" "Diam lo!" Menoleh, Tata menghela napas, membungkam mulutnya saat menemukan Titan sudah menatapnya garang. Bianca menahan kekehan gelinya, setidaknya ia tahu, bahwa menghindari pembahasan mengenai cowok songong itu adalah pilihan yang tepat. Sementara Alana terkekeh, Tata memutuskan untuk berbalik kembali kemejanya, karena sejak tadi ia duduk dikursi milik sang pentolan itu. "Bian, seharusnya gue ikut lo aja mejamin mata kayak begini." rutuk Tata, memperagakan hal yang sama dengan apa yang Bianca lakukan. Bianca meledek Tata masih dengan mata terpejam. Lalu angkat ia menatap Tata sesaat, menemukan Tata sudah meringis, lantas ia menoleh kebelakang, Bianca mendapati Titan sudah menatap Alana lembut. Menggeleng karena perbedaan yang Titan tunjukan setiap kali berhadapan dengan Alana benar-benar terlihat jelas sekali. Begitukah persahabatan Titan dan Alana terjalin? Bianca tidak tahu harus mengatakan apa, selain ia bahagia melihat wajah berseri Alana. "Gavin tuh, pepet sana!" singgung Bianca. Tata hanya menggeleng, memutuskan untuk memainkan ponselnya, lagian ia tahu bahwa Bianca akan tidur setelah ini. Dan jika sudah ada Titan, Tata tidak punya cukup waktu untuk berbicara dengan Alana, karena sahabatnya itu akan diambil alih oleh Titan. Mungkin, banyak yang tidak mengira ini, namun semua petinggi Carswell berada dikelas yang sama. Jangan dipertanyakan bagaimana itu bisa terjadi, para orang tua mereka yang memopori itu. Jika Gavin dan Aiden dimeja ketiga barisan nomor dua. Arkan dan Zidan dimeja terakhir, barisan ketiga. "Ta, Gavin ngajak jalan!" teriak Aiden pertama. Membuat seisi kelas langsung bersorak untuk itu. "Enggak, gue udah terlalu sering dikecewain." balas Tata nyaring. "Makanya mba Tata, sama mas Zidan aja ya?" rayu Zidan kemudian. Mengerutkan dahi, Tata berdecak sebelum menampilkan ekpresi geli. Membiarkan seisi kelas terkekeh puas karena pembicaraan saling sahut-sahutan tersebut tidak berhenti sampai disitu saja. Tata menatap Gavin sesaat, bagaimana sosok itu masih tetap terlihat dingin, ia hanya menghela napas berat. Akan Tata buktikan, bahwa Gavin pasti ia dapatkan. Memberantaskan semua hal buruk tentang cowok itu, Tata tidak tahu harus mengatakan apa, selain ia menyukai teman sekelasnya itu, bolehkah? Gavin dekat, namun sulit untuk digapai. Dia memberi Tata banyak harapan, lalu menghempasnya dalam-dalam. Kemudian hadirnya, mampu menenggelamkan Tata hanya dengan melihat wajahnya. Setelahnya, dari semua jawaban itu, tidak mengherankan bagaimana mereka semua bisa sekelas, tentu saja karena permintaan Alana. Lagi pula, memang ada yang berani melawan salah satu kehendak anak donatur terbesar itu? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD