V. Pertempuran 2 Ronde

3781 Words
Carswell Arkan Mahardika : Satu jam lagi, balap dimulai. Raja udah datang dengan muka sialannya. Arkan Mahardika : Lo dimana, Tan? Gavin Adelardian : Gue bentar lagi meluncur Aiden Demitri : Motor lo udah disiapin, Tan. Dah beres. Zidan Ragasta : Vin, jemput gue. Motor gue habis aki. Gavin Adelardian : Beban. Titan Deimos Kennedy : Sepuluh menit sebelum tanding gue datang, gue mau beresin sesuatu dulu. Arkan Mahardika : Njir, terserah lo dah. Jangan sampai babak belur aja tu muka. Aiden Demitri : Gila memang sobat lo semua, udah mau tanding masih mikirin mau mukul anak orang. Gavin Adelardian : Kalau butuh bantuan, kabari kita-kita. Zidan Ragasta : Walaupun itu mustahil sih ckckc, titisan dewa mah kagak bakal kalah. Arkan Mahardika : Udahlah, buru sini. Gue sama Aiden udah di sirkuit, t*i. Titan menyudahi kekehannya pada semua rentetan pesan tidak penting yang dibahas sahabatnya disana. Menyimpan ponsel pada saku celananya, Titan turun dari ninjanya, ia sudah berada di sebuah gudang yang terletak tidak jauh dari SMA Ocean. Sebuah gudang yang Titan yakini sebagai basecamp anak-anak Ocean. Tapi ia tidak peduli apapun tempat yang akan dimasukinya itu. Persetan dengan segalanya, Titan tidak akan membiarkan apa yang anak Ocean lakukan tadi begitu saja. Harus diberinya pelajaran untuk tahu siapa orang yang ingin mereka lawan. Tidak perlu membawa anak Carswell yang lain, karena Titan tahu ia bisa melakukan semua ini sendirian. Mempermalukan Alex didepan seluruh anak buahnya, karena b******n itu bukan lawannya yang setimpal. Akan Titan buktikan setelah apa yang Alex lakukan padanya terakhir kali. Merenggangkan otot dan jari-jarinya, Titan mulai melangkah cepat. Berdiri pada sebuah pintu kayu dihadapannya, sebelum menendang pintu itu hingga terbuai jatuh kelantai. Sontak semua yang disana terlonjak, menoleh dan menemukan Titan tengah melangkah mendekat pada mereka. Raut keterkejutan tidak bisa dihindari disana, beberapa membulatkan mata tidak percaya. Sebagian lagi melongo seperti orang t***l. Hingga tepuk tangan mulai terdengar dari sana, mereka semua masih memperhatikan Titan dengan remehan yang tak kunjung mereka sadari. Lantas ketika wajah yang dicarinya muncul, Titan menemukan Alex baru saja keluar dengan dua kacung dikanan dan kirinya. Dan ia masih berdiri santai dengan satu tangan tersimpul disaku celananya. Sementara bibirnya sudah mencecap rokok dengan brutal. Tanpa kentara. Tanpa ketakutan. Titan benar-benar datang seorang diri. Membuktikan siapa dia, mempertontonkan seperti apa pemimpin Carswell yang sebenarnya. Alex menggeleng pertama. Terkekeh seraya menepuk tangan bangga. "Wow, wow, wow!" gerutu Alex pertama. "Apa yang ingin dilakukan jagoan Carswell disini?" "Ngebunuh lo!" sahut Titan enteng. Memperlihatkan kilatan tajam dimatanya. Sementara dirinya masih berdiri santai diposisinya, tangannya sendiri sudah gatal sejak tadi. "Masih kurang jelas?" Lalu semua yang disana terkekeh, meremehkan kedatangan Titan. Padahal mereka tidak tahu siapa sebutan Titan. Alex tertawa, pura-pura mencari seseorang sebelum kembali menatap musuhnya berang. "Mana kacung lo yang lain?" Titan menggeleng santai. Melipat kedua tangan didada. "Ngelawan lo, kagak butuh banyak pasukan." jawab Titan mengejek. Menampilkan seringai tajam diwajahnya. "Gue sendiri kok, santai aja." "b*****t! Tapi lo kabur tadi siang!" geram Alex kemudian, dia sudah mengepal tangannya kuat. Sementara Titan masih terkekeh ditempatnya. "Karena gue harus ngelindungin tu cewek bodoh." "Alasan klasik, Dewa Titan! Karena lo udah datang jauh-jauh, ayo mulai." decak Alex. "Kasi b******n itu pelajaran!" perintahnya pada seluruh anak buahnya. Mengangguk serempak, mereka yang berada digudang tersebut berlari untuk menyerang Titan. Tanpa aba-aba pula Titan mengarahkan pukulannya pada semua orang disana, membalasnya tanpa permisi, memberi mereka pelajaran dengan sekali percobaan, hingga beberapa yang tersisa melangkah mundur. Tidak Titan sisakan siapapun yang berani melawannya. Membiarkan tubuhnya kelelahan oleh semua serangan itu, tapi Titan tidak menyerah. Ia harus memperlihatkan siapa dirinya. Merasakan ketakutan karena gertakan yang Titan berikan, seperti menampar mereka bahwa Titan bukan lawan yang mudah. Hingga meninggalkan Alex yang sudah membulatkan mata tidak percaya. Dia mematung seperti orang t***l. Mengerjap untuk memastikan apa yang dilihatnya tidak salah. Menepis darah dibibirnya, Titan semakin mendekat. Berhenti ketika jaraknya dan Alex sudah sangat dekat, lalu dia berujar. "One fight one, loser!" Kemudian keduanya berhadapan, Alex maju, begitu juga dengan Titan. Lalu decitan pukulan mulai beriringan. Memopori pertengkaran itu dengan brutal. Titan memukul wajah Alex, perutnya, rusuknya, bahkan menendang kakinya. Melakukan itu berkali-kali dengan semua tenaganya. Alex juga melakukan yang sama, tapi bagaimana kemurkaan Titan membara malam ini, membuat Alex tersadar dan membayangkan bahwa dia mungkin bisa menebak akhirnya. Hingga Titan berhasil melemahkan pertahanan Alex, cowok itu sudah terkapar dilantai. Menginjak d**a Alex kuat, Titan berujar. "Segini doang?" singgung Titan santai. "Ini kandang lo padahal, tapi tenaga lo tempe." "B--b--angsat!" erang Alex dengan sisa tenaganya. Masih tidak ingin mengakui kekalahannya. Lalu Titan membersihkan kedua tangannya, menendang tubuh Alex kuat hingga cowok itu muntah dan terbatuk, Titan berujar kembali."Lain kali, kalau mau berurusan sama gue, liat-liat dulu kemampuan lo. Sorry, lo bukan lawan gue." sindirnya dan berlalu dari sana. Meninggalkan seluruh anak buah Alex yang sudah membulatkan mata tidak percaya. Karena semua gosip itu benar, Titan memang titisan dewa! *** "t*i! Baek-baek aja lo?" tegur Arkan pertama ketika Titan baru saja turun dari motornya. Memperhatikan seluruh penampilan sahabatnya tersebut Arkan menggeleng tidak percaya. "Udah gue bilang juga, titisan dewa mah kagak butuh bantuan." kekeh Aiden, menepuk punggung Titan pelan dan juga bangga. "Bravo!" "Gimana Alex? Baek-baek aja tu bocah?" tambah Zidan kemudian. Mengulum senyumnya, karena ia tidak butuh tahu apa yang selanjutnya terjadi. "Gila lo, sempat-sempatnya mau mukulin anak orang, udah tau mau tanding." seru Gavin tidak percaya. Menggeleng dan juga lega karena Titan selalu punya cara menyelesaikan urusannya. "Benar-benar gabut lo?" Menghiraukan perkataan dan seruan sahabatnya, Titan memilih untuk menoleh pada pergelangan tangannya. Tepat waktu, 10 menit lagi balap dimulai. Mengeratkan jaket kulit ditubuhnya, Titan merenggangkan tangannya, lalu berjalan melewati ke-empat sahabatnya. "Bener kata Neng Bianca, Titan tu emang cucok dipanggil Setan!" geram Aiden. Membuat semua yang disana terkekeh geli. Lalu semuanya memilih berdiri di stars masing-masing. Semua peserta sudah bersiap, hingga pertandingan hampir dimulai, semakin banyak orang yang berdatangan. Sorakan penonton menggema untuk mendukung jagoan mereka sang titisan Dewa. Sementara yang disorak hanya berlagak untuk tetap tenang. Tentu saja masih dengan wajah songong dan menyebalkan itu. Titan berada digaris terdepan, disebelahnya Raja sudah terkekeh. Seperti tengah meremehkan, namun tahu siapa lawannya kali ini. "Seperti biasa, lo enggak ada takut-takutnya." sindir Raja pertama, sementara tangannya masih menggengam helm fullface dalam pelukannya. "Enggak pernah mengecewakan untuk nantangin lo." Titan terkekeh, menatap Raja dengan kilatan tajam, lalu berujar. "Takut? Sebaiknya lo cari tahu gelar gue apa." lagaknya. "Dan semoga lo juga enggak ngecewain gue." "Sebenarnya, gue juga kagak peduli sama apa yang orang-orang omongin tentang lo. Mau lo titisan dewa, titisan dukun kek, enggak buat gue gentar buat takut sama lo!" jawab Raja berani, merasa diremehkan karena waktu itu Titan mempermalukannya didepan semua orang. Dihadapan banyaknya penonton. "Terserah lo, buktiin aja. Kagak usah ngoceh mulu kayak bencong." ledek Titan lagi. Menyeringai dari balik helmnya. Membuat Raja mengepal tangannya kuat, menatap Titan berang karena cowok itu memang kurang ngajar. Lagaknya tidak bisa dipungkiri lagi. "Please deh, kalo lo berdua mau ngoceh, mending ke warung kopi sana." Suara itu berhasil membuat Titan dan Raja menoleh. Lalu detik selanjutnya Titan hampir oleng karena suara itu terdengar tidak asing, bukan, bukan karena suaranya saja. Melainkan dengan helm fullface diwajahnya, Titan tahu itu--Bianca. Titan mengenal gadis gila itu. Lantas, saat Bianca membuka helmnya, Raja langsung membulatkan mata tidak percaya. Bagaimana rambut Bianca mulai tergerai indah diterpa angin, membuat tidak hanya Raja, namun seluruh penonton yang ada terpukau. "WOI-WOIII!! BIANCAA WOII BIANCAA!!" teriak Gavin bersemangat. Sontak Aiden yang baru saja berlalu untuk membeli minuman kembali lagi. "MANA-MANA??" "s**t! BIANCA IKUT BALAP JUGA?? GILA-GILA, TU CEWEK EMANG OTAKNYA DIDENGKUL!" pekik Zidan tidak percaya. "Sumpah, definisi cewek paling gila dan bar-bar emang ada di Bianca semua." tambah Arkan kemudian. "Stress juga, gue tambahin." Tidak hanya rutukan dari ke-empat petinggi Carswell tersebut, semua penonton juga dibuat berlonjak oleh peserta balap kali ini. Satu-satunya perempuan yang berada disirkuit. Bianca--dia benar-benar mengejutkan semua orang. Juga membuat siapa saja yang ada disana melongo. Titan menoleh, menatap gadis itu dengan gelengan tidak percaya. "Lo ngapain bodoh?!" Tegur Titan kemudian. Menajamkan mata untuk meneliti semua penampilan gadis gila itu. "Sakit lo gue rasa." Mengedikkan bahu santai, Bianca memberi Titan salam jari tengahnya. "Nyuci piring!" sahut Bianca malas. "Buta lo? Ya mau ikut tandinglah, t***l!" "Lo pernah mikir enggak sih, apa yang bakal lo lakuin ini bahaya??" tanya Titan kemudian, masih tidak percaya karena Bianca akan selalu menjadi lawannya. Tidak hanya disekolah, namun juga diluar sekolah. Tapi terlepas dari itu semua Titan tidak mengerti kenapa ada kekhawatiran yang menyerangnya. Ketakutan yang mendadak memenuhi sebagian dirinya? Apa benar itu semua karena Bianca? "Goblok." geram Titan kembali. Tapi Bianca tidak akan menyerah. Ia sudah memutuskan banyak hal untuk mengikuti ini. "Terus, kalau gue enggak ngelakuin ini, pertandingan ini enggak bahaya?" beo Bianca pertama. "Enggak ada bedanya, setan! Sebaiknya lo siap-siap karena lima puluh detik dari sekarang, balap dimulai!" tegas Bianca dan mulai memasang helmnya kembali. Mengabaikan Titan akan selalu menjadi pilihan terbaik baginya. Meringis, Titan menuruti. Memasang helmnya kembali, kemudian mengeber motornya untuk memastikan dirinya siap. Sebelumnya Titan tidak tahu siapa saja lawannya kali ini, apalagi sepertinya sejak tadi Bianca memasukkan seluruh rambutnya dibalik helm, hingga membuat semua yang ada disana tidak tahu bahwa gadis gila itu seorang perempuan. Tapi Titan juga tidak peduli alasan apa yang membuat Bianca ikut pertandingan ini, selain gadis gila itu memang senang melakukan segala hal berbahaya. Setidaknya hanya itu yang dapat Titan simpulkan. Bukan, bukan karena ia peduli. Tapi karena kehadiran Bianca benar-benar membuatnya muak. Karena Titan akan selalu senang mengingkarinya. Gadis itu bertingkah seperti yang paling bisa segalanya, berlagak untuk membuktikan dia hebat, tapi Titan tahu--Bianca tidak sepenuhnya terlihat semampu itu. Lalu menggeleng kepalanya, Titan meringis--membayangkan beberapa detik itu hanya untuk memikirkan gadis bodoh tersebut. Gila, Titan menyesali pemikiran konyolnya barusan. Untuk apa ia mengkhawatirkan Bianca? Tidak ada gunanya. Kemudian percitan ban dan gas yang di mainkan mulai menggema disana, menandakan bahwa balap benar-benar akan dimulai. "Eh, tu cewek anak Danirian?" pekik Raja, menanyakan bagaimana sosok Bianca mulai membuat pikirannya kacau. Karena sejak tadi, ia memperhatikan percakapan antara Titan dan juga gadis itu. "Cari tahu sendiri!" sahut Titan tidak peduli. "Tanya aja kalau lo mau." sambungnya memekik, karena suara mereka sudah kalah oleh deruan mesin yang menggema disirkuit sana. Kemudian seorang wanita berdiri satu meter dari garis stars, mempertontonkan keseksiannya untuk melihatkan balap ini sudah akan dimulai, lalu setelah mengibarkan bendera, wanita itu melemparnya. Menandakan bahwa pertandingan benar-benar dimulai. Semuanya langsung melaju, tidak peduli meskipun alat pelindung ditubuh mereka sangat minim. Namun semuanya semakin mempercepat laju mereka. Semua orang bersorak karena posisi Titan yang biasanya ditempat pertama--berhasil terkalahkan, karena kini Bianca memimpin pertandingan. Sementara Raja diposisi kedua, Titan malah mendapat posisi ketiga. "BIANCAAAA!! LO KERENNN!" teriak Aiden bersemangat. Tidak pernah semangat seperti ini dari sebelumnya. "t*i, cewek itu bener-bener t*i! Gila, gue baru tahu Bianca sejago ini? FAK!! KEREN t*i!" geram Gavin kemudian. Menggeleng tidak percaya. Bianca benar-benar mengacaukan seluruh pikiran penonton yang ada. "Titan kenapa? Bodoh, dia kelihatan kacau malam ini!" imbuh Arkan setelahnya. Memperhatikan cara sahabatnya itu melintasi sirkuit. "Kalem, Titan lagi pemanasan kali. Lo kayak kagak tahu aja tuh titisan dewa, skillnya ngalahin petir zeus!" Zidan menimpali, menghiperbolakan perkataannya sendiri. Membuat ke-empatnya terkekeh disana. "Kalem, kita semua tahu Titan kayak begimana." Dan perkataan Zidan memang tidak main-main, karena terbukti saat tikungan tajam, Titan memaksa untuk menerobosnya, sehingga membuat cowok itu berhasil berada diposisi kedua. Seperti saling menghujani dengan kekuatan masing-masing, baik Titan maupun Bianca bergilir untuk memperebutkan posisi pertama. Jika detik selanjutnya Bianca diposisi pertama, maka Titan masih bertahan diposisi kedua. Kehadiran Raja dan semua peserta lainnya seperti tidak ada gunanya, karena kini semua tatap mata berfokus pada pertandingan Bianca dan juga Titan. Semuanya masih tidak percaya oleh sosok Bianca yang paling lihai memanipulasi, membuat Titan beberapa kali oleng dan juga hampir hilang kendali. Tapi bukan Titan namanya jika dia langsung kalah hanya oleh kecohan sederhana tersebut. Bahkan, Raja yang katanya sudah berlatih, tidak membuat Titan tergeser dari posisinya. Semuanya hanya karena gadis gila itu. Titan sendiri harus mengakui kegilaan Bianca dalam pertandingan ini. Jadi ia sengaja, Titan ingin melihat bagaimana seorang Bianca mampu melewati tikungan demi tikungan. Dan Titan benar-benar menggeleng tidak percaya, Bianca--gadis gila itu sungguh menakjubkan. "Posisi pertama masih cewek itu kan?" seorang cewek berambut pendek bertanya pada temannya. "Baru kali ini ada yang berhasil ngalahin Titan!" jawab salah satunya. "Masih sekolah juga kan tu cewek?" tanya cewek yang lainnya. "Anak Danirian, gue denger-denger." jawab cowok dengan bandana hitam disebelahnya. "Lah? Sama dengan Titan? Satu sekolah? Gila, Danirian emang gila!" Setidaknya, itulah percakapan dari beberapa penonton yang ada. Seperti mengagungkan kehadiran Bianca, karena gadis itu membuat semua orang yang ada ikut terpukau. Satu putaran lagi, maka pertandingan selesai. Bianca menyeringai puas dari balik helm fullfacenya. Sudah terlanjur meyakinkan kemenangannya malam ini. Tidak menyangka bahwa lawannya akan segampang ini, Bianca sudah membayangkan bagaimana hadiahnya nanti akan ia bagikan kepada ayahnya. Dan Bianca sudah mengumpulkan banyak sekali hinaan dan ledekan yang akan ia lontarkan pada Titan, karena sisongong itu tidak sesulit yang Bianca kira. Lalu, kadang semesta memang senang bergurau. Atau juga, karena Bianca terlalu meremehkan. Ia menoleh untuk melihat sejauh apa jarak antara dirinya dan Titan, karena sejak tadi lelaki itu memang senang mengocehnya. Membuatnya beberapa kali hilang kendali. Lalu saat Bianca kembali melihat untuk memastikan, ia tidak melihat pagar pembatas dihadapannya, hingga membuat Bianca mengerem mendadak dan ia terjatuh. Motornya terlempar kedepan, sementara tubuhnya berguling tidak jauh dari tempatnya jatuh. Meringis, Bianca bangkit kembali. Lalu ia berdiri, berusaha untuk melanjutkan namun sia-sia, karena motornya terpental jauh sekali. "SIALAN!" geram Bianca dalam hati. Apalagi saat Titan melewatinya dan cowok itu memberinya salam jari tengah, kekesalan Bianca semakin berlipat ganda. "SETAN SIALAN! SEMOGA LO JATUH JUGA!" teriak Bianca. Menyumpahi sang pemimpin Carswell tersebut. Sial. Sial. Sial. Tapi percuma karena suaranya terkalahkan oleh decitan ban yang semakin membabi buta. Bianca pikir kesialannya hanya sampai jatuh saja, ketika sirene polisi mulai terdengar. Dan Bianca benar-benar tidak tahu harus meratapi nasibnya seperti apa. "s**t! s**t! s**t!!" rutuk Bianca kembali. Mengacak rambutnya frustasi karena ia bingung harus bagaimana. Akhirnya, dengan sisa kekuatannya Bianca mulai melangkah pelan, tidak juga mampu berlari mengingat lututnya perih karena terjatuh tadi. Memang tidak ada yang parah, tapi beberapa luka dikakinya berhasil membuat celananya ikut terkoyak. Beberapa orang juga melewatinya, seperti saling berlomba-lomba untuk kabur karena jika mereka tertangkap, mereka akan ditahan. Dan itu lebih seperti mimpi buruk. Bianca mengerang putus asa, semua lambaian tangan dan teriakan yang ia tumpahkan tidak menimbulkan perubahan, tetap tidak ada yang berhenti untuk menolongnya. Karena semua orang sudah berlari pontang panting. Pertandingan itu ilegal. Kebanyakan dari mereka masih dibawah umur. Itu sebabnya, tidak ada yang peduli pada apa yang terjadi, karena lari dan menghindari polisi adalah yang terpenting. Setidaknya, jika mereka berhasil kabur, mereka aman. Merasa sia-sia, Bianca mempercepat langkahnya yang semakin terasa berat. Menoleh untuk melihat kakinya, Bianca meringis karena darah dari lututnya semakin bercucuran. Tapi menghiraukan itu lagi dan lagi, Bianca hanya memikirkan bagaimana jika ia ditangkap setelah ini. Sialan. Bianca tidak mungkin membiarkan Ayahnya menjemput dirinya dikantor penjara? "HEI, KAMU YANG DISANA!!" Bianca menoleh, berlonjak karena polisi berseragam itu meneriakinya, apalagi saat polisi itu setengah berlari, Bianca menggeleng kuat. Ia semakin mempercepat langkahnya, menahan kakinya yang terasa seperti lumpuh. Persetan dengan itu semua, Bianca harus berlalu secepatnya. Semampu yang ia bisa. Karena kini, dalam pikirannya Bianca hanya ingin pergi. Ingin hilang atau tidak diketahui. Ketika decitan ban disampingnya memekak telinga, Bianca menoleh kembali. Ia menemukan Titan disana, bahkan dari balik helm fullfacenya, Bianca tahu cowok sialan itu sedang menertawakannya. "Butuh tumpangan pig?" kekeh Titan pertama. Bianca terdiam, berada dalam situasi yang mencekik. Karena disisi lain ia tidak ingin Titan merasa puas, tapi disisi lain ia juga tidak punya pilihan. "Terserah, kalo lo mau berakhir di kantor polisi juga bukan urusan gue." kata Titan lagi, bersiul menggoda karena wajah memerah Bianca dalam kegelapan, berhasil ia temui. "Cuma, gue takutnya Danirian heboh kalo tahu jagoan mereka ini di tangkap polisi." "Bacot lo!" geram Bianca. "Enggak usah nolongin kalau cuma mau ngeledek." sambungnya tidak suka. Sialan, kenapa jadi Titan yang meledeknya? "Emang itu tujuan gue kok." tawa Titan puas. "Udah tahu tinggal satu putaran lagi, masih aja sibuk noleh. Nyari gue lo? Mastiin gue baik-baik aja?" "Sinting lo!" geleng Bianca tidak percaya. "Najis!" Dan Titan benar-benar tertawa puas. Bagian terbaik dari ini semua adalah bukan kemenangannya, melainkan karena dirinya berhasil meledeki gadis gila itu. Bianca memang senang melawannya, tapi jika Titan punya cukup alasan untuk meledeknya, Titan tahu ini lebih membuatnya puas dari apapun yang diterimanya. "Cup-cup-cup. Dikit lagi mau jadi juara. Eh malah nyungsep." "Sumpah gue gampar lo!" geram Bianca. Memberi aba-aba untuk memukul Titan. "t*i lo!" Mengedikkan bahu seiring motornya berjalan pelan disamping gadis itu, Titan bersorak girang. "HEI! BERHENTI KALIAN BERDUA!" teriak petugas polisi itu lebih kuat. "JANGAN KABUR!" sambungnya cepat. Menekankan dan mempertegas itu. Bianca semakin was-was, sementara Titan masih terus menggodanya. Tapi Bianca punya harga diri, jika ia menyerahkan diri dengan Titan malam ini, setan itu akan besar kepala. Tapi jika ia mempertahankan harga dirinya, Bianca tidak ingin berakhir dikantor polisi. Lalu Titan terkekeh, ia sedikit melajukan ninjanya. Bersiul dalam hati, karena dia tahu dalam hitungan ketiga gadis bodoh itu akan meneriakinya. "Satu..." "Dua..." "SETAN! TUNGGUIN GUE!!" pekik Bianca nyaring. Dan Titan sukses mengulum senyumnya dan berhenti. Lantas Menaiki ninja Titan dengan cepat, Bianca memilih untuk mengesampingkan harga dirinya. Kemudian seiring ninja itu melaju kencang, Bianca tidak tahu bahwa tangannya ikut memeluk pinggang Titan kuat. Godaan setan memang tidak ada duanya. *** Bianca menelusuri pandangannya pada apartemen mewah yang tengah ia masuki. Tidak juga banyak bertanya, karena Titan menyuruhnya untuk tetap diam. Tapi itu tidak bertahan lama, karena Bianca penasaran kemana cowok songong ini membawanya. Kemana setan ini mengakhiri perjalanan mereka. Duduk pada sofa panjang yang tersedia, Bianca menemukan satu foto berukuran besar pada dinding tengah ruangan. Sebuah foto keluarga yang Bianca tebak, si setan itu masih berusia sekitar tujuh sampai delapan tahunan. Hell, entahlah, ia juga tidak ingin memusingkan itu. "Ngapain lo liat-liat foto gue?" sindir Titan pertama, meletakkan kotak p3knya tepat dihadapan Bianca. "Mau ngenalin gue lebih dalam lagi?" Bianca menggeleng tidak percaya. Menaikkan sebelah alisnya. "Najis tau nggak lo?" geramnya. "Pede lo, ngapain juga gue ngeliat foto lo? Enggak punya kerjaan lain apa?" sahut Bianca membela diri. "Ada banyak hal yang bisa gue perhatiin dari pada sekedar foto lo." "Terus? Lo liat apa? Dinding???" kekeh Titan kemudian, tidak habis pikir karena Bianca selalu menyahut semua omongannya. "Tuyul." jawab Bianca cepat. "Ini apartemen lo?" Titan menggeleng, ikut merebahkan diri disamping Bianca, lalu mulai menghidupkan rokoknya. Mengerutkan dahi, Bianca menatap Titan tajam. "Terus? Ini apartemen orang tua lo?" Menggeleng lagi, Titan hanya terus menghisap rokok ditangannya, menghembuskan asapnya pada Bianca, lalu terkekeh. "Apartemen pak Dadang." Bianca spontan memukul tubuh Titan keras. "AWW!" ringis Bianca. Lalu Titan menarik tangan Bianca, menggeleng kepala sebelum mengambil kotak p3knya kembali. "Seharusnya gue yang kesakitan dipukul, ini malah lo yang teriak!" Titan mulai membuang rokoknya keasbak. Berlutut untuk mengobati Bianca, ia mulai dengan mengambil kapas dan juga alkohol. Membersihkan lutut gadis itu pertama dan juga tangannya. "Makanya, enggak usah sok jagoan." sindir Titan, sementara tangannya sudah menyapu luka Bianca dengan pelan. "Gue bukan sok jagoan!" bela Bianca. "A-A-AW! Pelan-pelan setan!" "Ini juga udah pelan, dasar lo nya aja lemah." imbuh Titan kemudian. Meledek karena wajah masam Bianca. "Lo nekan luka gue t*i!" rutuk Bianca kesal. "Lo tahu? Cuma lo satu-satunya cewek yang berani ngelawan gue!" jelas Titan pertama, menatap Bianca lekat sementara tangannya masih memasang perban ditangan gadis itu. "Ngapain juga takut sama lo? Karena lo anak carswell? Karena bokap lo donatur terbesar disekolah? Atau karena lo emang doyan mukulin orang?" ledek Bianca. Menggeram, Titan mencekal tangan Bianca kuat. Selalu tertantang pada setiap pembicaraannya dengan gadis itu. "Karena semuanya! Lo seharusnya ngerti!" Menepisnya, Bianca membalas tatapan Titan sama tajamnya. "Mungkin gue pengecualian, jadi lo yang seharusnya ngerti!" "Emang enggak ada habisnya debat sama babi macam lo!" "Ye dasar lo nya aja macam setan, banyak bacot." ucap Bianca, bersikeras. Lalu ia menghela napas, memperhatikan Titan yang masih mengobatinya. Bianca juga tidak mengerti kenapa ia melakukan itu, tapi pikirannya memaksa dirinya untuk menatap Titan. Hingga satu objek yang terlihat jelas memar disana, Bianca berujar. "Muka lo? Habis berantem?" tunjuknya pada wajah Titan. "Bukan urusan lo." sahut Titan cepat. Sengaja tidak ingin Bianca tahu. Karena berabe, jika gadis gila ini melapornya kembali pada Alana. "Ngapain lo ikut balap tadi. Gimana kalau lo ketangkap? Lo yakin nyokap bokap lo bakal baik-baik aja??!" "Gue butuh uang." jujur Bianca kemudian. Tidak tahu kenapa ia mengatakannya, semuanya terasa mengalir begitu saja. Tapi itu benar, Bianca memang butuh duit. "Buat apa?" tanya Titan balik. Pertanyaan bodoh yang seharusnya tidak perlu ia pertanyakan. Lagi pula, semua orang memang perlu uang bukan? Namun kali ini ia sudah berpindah pada kaki Bianca, memberi betadine sedikit, lalu kembali melapis kaki wanita itu dengan perban. "Buat apa?" ulang Titan lagi, menemukan Bianca yang tak kunjung menjawab. Menghela napas, Titan melangkah kedapur, mengambil beberapa soda dan juga air botol, kemudian menyerahkannya pada gadis itu. "Gue juga enggak mau tahu." kata Titan setelahnya. Padahal Bianca baru saja ingin mengatakannya. "Minum, gue rasa lo butuh nenangin diri." Bianca menuruti, menatap Titan sesaat sebelum memalingkan wajah. Tidak boleh, Bianca tidak ingin terbuai karena kebaikan yang setan itu berikan. "Lo tinggal sendiri?" tanya Bianca akhirnya, mengalihkan pembicaraan. "Sepi banget disini.' "Sama Pak Dadang." ledek Titan lagi. Merasa konyol pada setiap pertanyaan Bianca. "t*i! Demen banget sama Pak Dadang!" rutuk Bianca. Meninggalkan Titan yang sudah tertawa disebelahnya. Aneh, karena Bianca juga terkekeh. Lalu dering panggilan memecahkan ruangan itu, Titan merogoh ponselnya, dan mulai menerima panggilan itu. "Iya, ini gue kesana sekarang." kata Titan manis. Bianca meringis karena ia tahu siapa yang menghubungi cowok itu. Apalagi saat Titan mengenakan jaket kulitnya, Bianca masih memusatkan perhatiannya pada sosok itu. "Gue mau pergi jemput Ana, lo bisa pulang sendiri kan?" Bianca mengangguk, "Gue bisa naik angkot." "Oke, gue duluan." "Eh," henti Bianca. Ia berusaha untuk berdiri. "Sekalian aja, ngapain gue disini sementara yang punya udah mau pergi?" "Yaudah, cepat! Gue gak mau Ana nunggu lama." "Sabar, kaki gue sakit t*i!" bela Bianca. "Apa lo sesuka itu sama Alana?" Titan menoleh, mengedipkan sebelah mata dan mulai melangkah kembali. Menyimpan kedua tangan disaku celananya, karena ia tidak tahu harus menjawab apa. "Gue nebak, Alana juga suka sama lo." kata Bianca lagi. "Jadi, sekiranya lo juga suka, kenapa enggak gas? Jangan coba-coba lo sakitin sahabat gue!" Titan terkekeh, berhenti untuk mengacak rambut Bianca, sebelum beujar. "Gue rasa, gue lebih banyak jagain dia, daripada lo!" tegas Titan setelahnya. "Dan lo tenang aja, gue enggak akan pernah nyakitin sahabat lo itu." Menghela napas, Bianca mengangguk pelan. Hingga mereka sudah sampai pada parkiran apartemen. Titan sudah menaiki ninjanya kembali, sementara Bianca masih berdiri untuk menunggu angkot. "Gue ke Ana, ya." Bianca tidak menjawab. Lagi pula, Titan sudah melajukan ninjanya. Hingga Titan melaju dan punggungnya hilang dari pandangan, Bianca memikirkan sesuatu yang lain dari biasanya. SIALAN! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD