VI. Musuh Bebuyutan

3924 Words
Ada keraguan yang pada akhirnya terpaksa untuk didengar. *** "Bian, bangun sayang. Kamu sudah telat sepuluh menit." "Oke, masih enggak mau bangun?" "Ayah siram nih? Pakai air rendaman beras?" Bianca membuka mata detik itu juga, menoleh sesaat pada nakasnya, lalu kembali meringis. Apalagi saat ancaman terakhir ayahnya berhasil membuat Bianca muak. Oke, maka akan Bianca jabarkan bagaimana bau busuknya air rendaman beras itu. Maka jawabannya--sangat-sangat memuakkan. Bianca bahkan keramas sepuluh kali sehari, memakai masker rambut selama seminggu penuh dan juga menolak untuk berbicara pada ayahnya. Hal itu bermula saat Bianca ketahuan mencuri buah mangga tetangganya. Lalu ayahnya memberinya hukuman sialan itu. Tapi bukan itu poinnya, karena Bianca juga berhasil membuat kebun tetangganya hancur berantakan. Dan--sudahlah. Mengingatnya saja membuat Bianca benar-benar ingin muntah. "Ayah--ish! Kenapa baru bangunin sekarang sih??!!" rutuk Bianca kesal, menatap ayahnya masam, karena ia benar-benar terlambat lagi. Menggeleng tidak percaya, Basir menatap putrinya dengan lekat. "Jelaskan dulu kenapa kaki sama tangan kamu penuh perban begini? Jatuh?!" tanya Basir kemudian. Tidak tahu harus bagaimana atas semua kegilaan yang terus putrinya itu lakukan. Tapi sekali lagi Basir tidak mempermasalahkan itu, karena Bianca adalah segalanya. Yang ia inginkan hanya putrinya itu jangan pernah sampai terluka. Lantas pagi ini, ketika menemukan Bianca dipenuhi perban, Basir benar-benar kelimpungan. Menerka-nerka apa lagi yang putrinya ini kerjakan. Atau apa yang dia lakukan hingga membuatnya terluka seperti ini? "Ayah enggak pernah melarang Bian melakukan apapun." omel Basir kemudian. "Tapi kalau sudah sampai luka seperti ini? Bagaimana?" Menghela napas, Bianca angkat dari posisinya. Membalas tatapan ayahnya sebelum mengangguk. "Nanti Bian cerita, Bian mau cuci muka dulu." sahutnya masam. "Ayah seneng banget sih nyuruh Bian lompat gerbang belakang sekolah?!" rutuknya. "Emang support anaknya jadi nakal, ya emang cuma ayah..." Basir tertawa mendengar itu. "Kenapa jadi ayah?" sela Basir geli. "Bian yang terlambat, kok ayah yang dimarahin." sambung Basir membela diri. "Lompat gerbang juga enggak apa-apa, latihan kebugaran jasmani!" "Nah, coba liat!" geleng Bianca tidak percaya. "Cuma ayah yang support anak ceweknya lompat gerbang." rutuk Bianca kembali. Lalu ia melewati ayahnya yang sudah terkekeh disana. Selalu saja paginya disambut seperti ini, walaupun tampangnya garang, penuh tato dan juga menakutkan, Basir tetap jagoan Bianca. Sampai kapanpun, ayahnya itu tidak akan tergantikan. Karena Basir selalu memperlakukannya seperti hartanya. Semua yang Bianca lakukan, tingkah lakunya, Basir bahkan tidak pernah marah, tidak pernah memukulnya, tidak pernah memberinya hukuman atas apapun yang Bianca lakukan, hanya dengan syarat Bianca tidak boleh kalah. Ia harus mampu bertahan dan mengambil resiko atas segala hal yang ia lakukan. Itu sebabnya, sebanyak apapun ancamam dari guru di sekolah, tidak pernah Bianca indahkan. Lagi pula, Ayahnya akan berada digaris terdepan jika Bianca membutuhkan bantuan Jadi, Bianca pula tidak semata-mata senang menjadi pengacau disekolah. Segala yang ia lakukan di Danirian, karena memang Bianca hanya ingin menikmati masa putih abu-abunya. Itu saja. Datang terlambat dan lompat melewati gerbang belakang juga sudah sering Bianca ceritakan pada ayahnya. Masuk ruang BK, dan menjadi siswa terbanyak dibuku hitam juga sudah ia katakan. Bertengkar dengan beberapa teman sebaya dan saling pukul juga bukan hal yang biasa. Dan sekali lagi, Basir tidak masalah dengan itu. See? Seberuntung apa Bianca memiliki Ayah sepengertian itu? Kemudian Bianca selesai dengan rok di atas lutut, baju seragam yang dibiarkan keluar tanpa ikat pinggang, sepatu vans putih dengan kaos kaki setumit, juga rambut berwarna coklat terang. Semua pelanggaran SMA Danirian, benar-benar ada pada Bianca. Tapi gadis itu tidak menghiraukan itu, karena tidak ada yang berhak melarangnya, tidak untuk Bu Nadine, tidak untuk semua guru. Bagi Bianca, yang seharusnya lebih diperhatikan adalah otak seluruh siswa, bukan bagaimana cara mereka berpenampilan. Memang menegur untuk lebih baik adalah kunci penting sebuah kesuksesan, tapi cara menegurnya kadang kala tidak juga sesuai etika. Jadi, menjadi lebih brutal adalah bagian terbaik untuk menunjukkan apa yang sebenarnya kita inginkan. Karena sebuah pelanggaran, membuat banyak orang menjadi lebih tertantang. "Ayah udah buatin mie goreng kesukaan kamu, sarapan dulu." tegur Basir ketika putrinya itu sudah berada dihadapannya. Menggeleng sekali lagi untuk memperhatikan penampilan putrinya, ia berdecak kembali. "Itu mau sekolah atau mau ngamen dijalan?" "Mau ngamen." sahut Bianca enteng. "Emang ada ya pengamen secantik Bian?" katanya percaya diri. Basir sendiri hanya terkekeh dari tempatnya. "Banyak kok pengamen yang cantik." "Ish! Ayah!" rutuk Bianca. Ia sudah mengerucutkan bibirnya masam. "Ayah kapan pulangnya sih? Bian enggak sadar." "Emang Bian pernah sadar kalau ayah pulang?" sela Basir cepat. "Bian tidurnya aja pulas banget gitu." sambung Basir kembali. "Itu, kenapa bisa diperban begitu?" Menghela napas panjang, Bianca berujar kemudian. "Jatuh semalam dari motor." jelasnya singkat. Lalu Bianca menoleh pada pergelangan tangannya. Menunjukkan jam tangan itu pada ayahnya sebelum berujar gusar. "Tolong deh Ayah baginda yang terhormat, Bian udah telat tiga puluh menit. Ayah mau Bianca diskors lagi?" Basir terkekeh setelahnya. "Bukannya kamu lebih suka di skors?" godanya. "Biar enggak ketemu siapa itu yang kamu benci? Si setan itu loh?" "Ayah!" kekeh Bianca. Tawanya pecah disana. "Namanya Titan," katanya lagi. A-ah, harus Bianca akui bahwa ia sering merutuki segala hal yang Titan lakukan dengan menceritakan cowok itu pada ayahnya. Itu sebabnya, Basir tahu segala hal mengenai Titan. Basir mengangguk membenarkan. "Loh iya, Titan. Ayah itu terlalu sering denger kamu ceritain dia." goda Basir kembali. "Sampe ayah bingung, ini tuh benci apa suka?" "Ayah!" potong Bianca. Menggeleng kuat. "Apaan sih, siapa juga mau sama cowok modelan gitu? Tengil. Udah itu kelakuannya emang mirip setan yah!" Mengangguk-angguk sambil terkekeh, Basir berdecak kembali. "Yasudah, nanti aja ceritanya. Satu suapan dulu, terus berangkat." pesan Basir kemudian. Bianca menuruti, melahap mie goreng tersebut dalam satu suapan penuh, lalu mencium pipi Ayahnya lembut. "Bi-an, pergi dulu!" katanya, dan berlalu dari sana. Meninggalkan Basir yang sudah menggeleng geli. Bagaimana senyum putrinya itu, menjadi semangat dalam hidupnya. Lalu Basir akan mengatakan ini, jika semua orang menganggap harta mereka adalah uang atau barang, bagi Basir hartanya adalah putrinya sendiri. Tidak ada yang lebih berharga selain anaknya tersebut. Maka siapapun yang mencoba melukai Bianca, Basir akan turun tangan untuk membela putrinya. Tidak ada hal terbaik bagi seorang ayah selain menyaksikan putri mereka tumbuh menjadi lebih dewasa. Dan tidak ada pula alasan seorang ayah untuk menyakiti atau menghakimi putrinya sendiri. Itu sebabnya, Basir akan menjadi yang paling mengerti segala keinginan Bianca. Apapun yang putrinya itu butuhkan, meski ia menjadi sekarat dan tak berdaya, Basir akan selalu memenuhi keinginan putrinya tersebut. *** Berdiri digerbang belakang dengan helaan napas panjang, Bianca belum juga melompati gerbang itu. Memilih untuk membuka ponselnya, ia menemukan banyak sekali pesan dari sahabatnya disana. Sementara tubuhnya masih ia biarkan bersender pada sisi tembok. Tata Sandya BIAN? LO DIMANAAAA??? Tata Sandya Lo bolos lagi? Tata Sandya P for punten Tata Sandya P for pigggg Tata Sandya P for Bianca piggg Tata Sandya Hehe Tata Sandya Ish, Lo dimana??? Masuk kelas dong, gue bete banget enggak ada teman sebangku. Tata Sandya Titan juga belum datang. Tata Sandya Mending lo hub tu cowok, terus nanya dimana? Tata Sandya Kalau lo telat, dia juga kan telat. Biar hukumannya ringan HEHE Tata Sandya Masuk ya? Awas aja lo gak masuk! Gue kasi obor tuh mulut lo. Bianca hanya geleng-geleng kepala. Menghela napas karena Tata akan selalu semerepotkan itu. Jadi ia memutuskan untuk tidak membalas pesan tersebut. Tidak akan ada habisnya jika meladeni Tata. Lantas mengantongi ponselnya kembali, Bianca menghela napas panjang. Bianca memikirkan banyak hal, tidak tahu kenapa ia senang sekali menggoda bu Nadine. Hobi sekali membuat dirinya sendiri masuk keruang BK, bahkan dengan alasan yang kadang kala tidak Bianca pahami. Misalnya, kelasnya ribut hingga mengusik kelas lain, tersangka pertama adalah dirinya dan Titan. Pertengkaran yang sama sekali tidak ada hubungannya, jika Bianca berada disana tetap semua salahnya. Lihat? Bianca sendiri kadang tidak mengerti kenapa bu Nadine senang menemuinya? Ataukah gurunya itu penyuka sesama jenis? Gila. Bianca menggeleng cepat sambil terkekeh karena hayalannya sudah melampaui batas normal. Lantas menyadari bahwa waktunya terbuang sia-sia. Bianca akhirnya bersiap untuk lompat, ketika suara kekehan yang tidak asing membuat Bianca menoleh. Lalu detik selanjutnya ia makin menghela napas panjang. "Mau lompat?" Titan berujar pertama. Terkekeh geli karena sejak tadi ia memperhatikan gadis bodoh itu. Cepat Bianca menggeleng. Bodoh. Memangnya apa lagi yang akan ia lakukan? "Enggak, mau nabur garam." Mengangguk, Titan berujar geli. "A-ah, pantesan. Lo kan medusa." "Daripada lo setan!" sahut Bianca tidak mau kalah. Titan tidak lagi menjawab, dengan seragam yang dibiarkan keluar, dua atas kancingnya dibiarkan terbuka, dia memanjat dengan lihai. Mengedipkan mata mengejek sebelum melompat meninggalkan Bianca. Tapi Titan tidak langsung pergi, ia masih menunggu untuk melihat sejago apa Bianca melompati gerbang itu. Kemudian, menemukan gadis itu sudah berdiri diatas tembok, Titan punya rencana. Ia menjulur lidah untuk meledek Bianca, sebelum berteriak. "PAK DIDI, ADA YANG TELAT DATANG, LOMPAT GERBANG TUHHH!!" Membulatkan mata tidak percaya, Bianca menggeleng seraya memberi Titan jari tengahnya. "SETAN, TAII!! MULUT LO GUE INJEK-INJEK NANTI!" teriak Bianca dan mulai melompat. Dan Bianca bersyukur karena ia mendarat dengan sempurna. Lalu ketika langkahan kaki dari arah samping semakin nyata, Bianca bergegas cepat, memungut tasnya asal dan berlari mengejar Titan. Sialan memang setan berwujud manusia yang satu itu. Berlari melewati lorong, Bianca benar-benar sempoyongan demi melindungi dirinya dari hukuman. Lalu ketika sampai didepan kelasnya. Mungkin tidak ada yang lebih Titan dan Bianca syukuri, selain mendapati kelas mereka yang masih kosong. "t*i, gue hampir ketahuan Pak Didi! Lo sialan benar asli!" rutuk Bianca, ia menoleh untuk membunuh cengiran Titan dibelakangnya. "t*i lo!" Tapi Titan menggeleng. Mengedikkan bahu tidak peduli, seolah-olah ia tidak tahu apa-apa. "Lah, bukan gue yang teriak. Aiden noh, dia tadi dibelakang gue!" tuduh Titan kemudian. Senang sekali membuat sahabatnya menjadi korban omelan gadis gila itu. Aiden sendiri mengerutkan dahinya bingung, menggeleng tidak mengerti. lalu saat Bianca menatapnya, dia terkekeh. "Neng Bian, pie kabare? Semalam baik-baik aja?" Memutar bola matanya jengah, Bianca kembali menatap Titan galak. "Sumpah, gue bales lo nanti." geramnya. "Liat aja, gue dendaman orangnya. Awas lo!" Titan sendiri sama sekali tidak mengindahkan itu. "Nyenyenye," ledeknya. Membiarkan Bianca menggeleng seraya mengatur napasnya, karena ia sudah hampir kehilangan napas setelah berlari sekuat tenaga. "Bian--ada apa sih?" Potong Alana pertama. Menatap kedua sahabatnya itu silih berganti. Bingung sendiri karena Titan dan Bianca terus sahut-sahutan. "Ada apa Tedi?" tanyanya lagi pada Titan. Memastikan. "Gaktau aneh, gue juga bingung. Lo tanyain aja tuh sendiri." kekeh Titan kemudian. Sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang ia lakukan. Lagi pula, membuat Bianca kesal adalah moto dalam hidupnya. Lalu Bianca membalik tubuhnya lagi. Mengerucutkan bibirnya masam, karena Titan benar-benar menguji kesabarannya. "Kenapa, kenapa, kenapa?!" tanya Tata. Merasa tidak punya ruang untuk bertanya tadi, kini ia mulai menatap Bianca lekat. "Lo abis jatoh dari mana? Kenapa coba perban-perban ini?" "Gue jatoh dari motor." kata Bianca kemudian. Here we go. "WHATTT??" pekik Tata nyaring. "Omg, Bian? Lo enggak apa-apa? Ada yang luka? Kok bisa? Jatuh dimana? Terus motornya?" Membuat seisi kelas menoleh karena teriakan hebat Tata. Bianca menggeleng, tidak percaya bahwa dirinya punya batas kesabaran yang melimpah ruah setiap kali berhadapan dengan sahabatnya yang satu itu. "Ta, diem. Kerjain tugas, jangan gosip mulu lo!" tegur Andri sang ketua kelas. "Heboh mulu dah perasaan lo itu." Mengerucutkan bibirnya masam. Tata menggeleng. "Baru sekali ini doang. Udah dimarahin..." rajuk Tata setelahnya. Membuat teman sekelasnya yang lain terkekeh geli. "Sekali? Gue rasa ini kelas cuma kedengeran suara lo dah." Chava, sang sekretaris kelas ikut bersuara. Selalu sensi setiap kali berhadapan dengan Tata. "Alah, kagak usah lebay. Enggak ada guru juga," Arkan berteriak. "Kalau mau sepi sono ke kuburan!" bela Arkan. Membuat Tata tersenyum, dan menjulurkan lidahnya meledek. Merasa menang, karena jika salah satu petinggi Carswell yang bersuara, tidak ada lagi yang berani protes. Tapi perkataan Arkan selanjutnya malah membuat Tata gusar. "Gue bukan bela lo, enggak usah senyam-senyum gitu!" Dan itu berhasil membuat seisi kelas tertawa puas. Membuat Tata semakin mengerucutkan bibirnya masam. Dengan Bianca yang sudah menahan kekehan geli disebelahnya. Tapi Tata tidak akan menyerah. Melihat sahabatnya itu penuh perban membuatnya ikut bertanya-tanya. "Cerita dong, kenapa lo bisa diperban kayak begini?" tanyanya lagi, tidak berhenti meskipun Bianca sudah menatapnya malas. "Pantesan chat gue enggak dibalas!" gerutu Tata kembali. Tidak punya pilihan selain menceritakannya, Bianca berdecak. "Gue semalam balapan, dan jatoh." jawab Bianca santai. Jika ia tidak mengatakannya, Tata tidak akan berhenti menodongnya. "WHAT? BALAPANNNN??" teriak Tata lagi, berlonjak karena perkataan Bianca tidak bisa dipercaya. Bianca langsung menutup mulut Tata dengan tangannya. Membulatkan mata sebelum berujar tajam. "Sumpah, gue ulekin mulut lo pakai cabe, diam-diam bodoh!" geramnya. "Lo tuh doyan banget liat anak-anak marahin lo!" Tata mengangguk cepat. Menyeringai geli. "Gue kaget Bian! Lo tu kenapa bisa sampai jatuh??" tanya Tata lagi. Selalu mengerti hal-hal gila yang biasa sahabatnya itu lakukan. Dan inilah yang membuat Bianca malas. Kadang kala, Tata menanyakan sesuatu yang terlalu bodoh untuk tidak diketahui. Kenapa bisa jatuh? Ya bisalah. Namanya juga manusia. "Enggak liat kedepan," katanya pertama. "Dan sialnya, gue hampir aja ketangkep polisi!" Tata sukses membulatkan mata tidak percaya. Lalu detik selanjutnya ia terkekeh. "Kenapa enggak ketangkep aja? Kan seru!!" Bianca langsung memukul kepala sahabatnya itu. "Seneng lo gue ditahan??? Seneng lo enggak ngeliat gue??" Tata menyengir setelahmya. "Becanda doang," kekehnya geli. "Kenapa lo bisa lari?" "Titan nolong gue." sahut Bianca santai. Tata kembali membulatkan mata tidak percaya. Seperti ditolong Titan adalah hal yang mengejutkan dari pada jatuh dan dikejar polisi. Lalu ia menoleh untuk melihat sosok itu, bagaimana kini pemimpin Carswell tersebut sudah bercerita panjang lebar bersama sahabatnya Alana. "Setan yang ini? Nolong lo? Mimpi apa dia?" bisik Tata tidak percaya. Bianca hanya mengedikkan bahu dan berujar. "Karena dia juga lagi tanding." Mengangguk-angguk mengerti Tata menyudahi pertanyaannya, menatap Titan lekat, lalu menoleh pada Bianca. "Gue enggak bisa percaya yang ini." katanya pertama. "Sejak kapan anjing sama kucing bisa akur?!" "Sialan!" rutuk Bianca. Lalu ia ikut menoleh, terdiam mendengarkan betapa manisnya Titan setiap kali berbicara dengan sahabatnya. "Oh iya, Ta. Jangan kasi tahu Ana ya? Diem aja, kalo dia enggak nanya, enggak usah cerita." "Lah nape? Siapa tahu Titan udah ngasi tahu dia?" ucap Tata tidak mengerti. "Ya makanya diem aja kalo Ana enggak nanya. Dah, jangan protes lagi!" sela Bianca malas. "Capek gue ngomong sama lo." Mendengus, Tata tidak lagi bertanya setelah. Sementara itu, Titan sendiri sudah cukup bosan berada dikelas. Lantas menyadari kedua sahabatnya tidak ada disana, ia berujar. "Eh, Gavin sama Zidan mana?" teriak Titan kemudian. "Nyamperin anak sebelah, biasalah." sahut Arkan. Tidak perlu dipertanyakan lagi kemana dua playboy itu pergi. Tentu saja mencari mangsa selanjutnya. Lalu Titan berdiri, mengelus pangkal kepala Alana lembut, dan berujar. "Gue ke gudang dulu, nanti kalau ada apa-apa telfone aja." Alana mengangguk dengan binar bahagia dari tempatnya. Lalu menatap Titan tanpa berhenti, ia mengatur degup jantungnya yang semakin hari semakin tidak wajar. Tapi Alana senang setiap kali mendapatkan perlakuan manis yang kerap kali Titan berikan padanya. Sampai ia bertanya-tanya, sebenarnya mereka itu apa? "Tan, gue ikutt!" teriak Aiden dan Arkan serempak. Mereka sudah angkat dari bangkunya. Menyusul kepergian Titan dan berlalu begitu saja meninggalkan kelas. Membuat teman sekelas mereka yang lain kembali menggeleng kepala, paham betul bagaimana para petinggi Carswell tersebut menduduki sekolah. "Dia bakal balik ke kelas, enggak usah diliatin mulu!" singgung Bianca pertama kepada Alana, ia dan Tata sudah membalik kursi mereka untuk kembali bercerita seperti biasa. Surgawi adalah ketika kelas tidak ada guru. "Udah kayak mau ldr seribu tahun aja lo," tambah Tata kemudian. Menggeleng geli. Dengan Alana yang sudah terkekeh disana. "Apaan sih, siapa juga yang ngeliatin Titan? Gue dah muak tiap hari ngeliatnya." "Muak apa muak? Jangan sok-sokan deh, muka lo tu paling enggak bisa bohong." kekeh Bianca kemudian. Mengerti bahwa Alana hanya terlalu sulit mengakuinya. Alana sendiri sudah mengatur mimik wajahnya. "Kelihatan jelas banget ya?" "Pakai nanya lagi! Ya iyalah!" sahut Tata. Memotong cepat. "Enggak ada yang kagak tahu." Dan ketiganya kembali menghabiskan jam kosong itu dengan bercerita, tanpa ada yang mau mengerjakan soal yang ditinggalkan. Tidak hanya mereka, karena sebagian siswa dikelas memilih melakukan kegiatan mereka masing-masing. Bahkan, semua yang Alana katakan tentang Titan, membuat Bianca terkekeh, karena sosok itu tidak pernah membuatnya tenang barang sehari. Atau memang takdir mereka akan selalu begini, huh? *** Mungkin, Bu Dyta selaku wali kelas 12 IPS 3 sudah tidak heran saat mata pelajaran berlangsung Titan dan ke-empat sahabatnya pembuat onar itu tidak ada di kelas. Tidak juga punya pilihan untuk berbuat banyak, beliau hanya menghela napas dan tetap melanjutkan pelajaran seperti biasa. "Alana tidak masuk?" tanya Bu Dyta pertama. Semuanya menoleh pada kursi belakang, tidak hanya Titan dan gengnya, gadis itu juga tidak ada ditempatnya. "Enggak tahu bu, tadi masuk kok. Masih dikantin kali." sahut gadis yang berada dikursi terdepan. "Yasudah, mari kita lanjutkan. Kerjakan soal halaman lima puluh dua ya, ibu ke kantor sebentar, nanti balik lagi." pesan Bu Dyta pertama. "Baik ibu!" jawab semuanya serentak. Lalu tidak butuh waktu lama untuk menebak seribut apa kelas itu ketika Bu Dyta meninggalkan kelas. Maka semua sudah dapat menebak jawabannya. Bianca mengerutkan dahi bingung. Kemana Alana? Tidak seperti biasanya gadis itu terlambat seperti ini. "Ta, kemana Ana? Bukannya lo sama dia tadi ke kantin?" tanya Bianca pertama, menunggu, karena saat istirahat tadi ia memilih untuk tidur di kelas. "Enggak, Alana bilang dia mau belanja kedepan gerbang, jadi waktu gue ke kantin, dia ke depan!" jelas Tata pertama. Sama sekali tidak menyadari bahwa sahabatnya yang satu itu belum juga kembalim "s**t! Gue curiga sesuatu yang buruk terjadi sama Alana." cerita Bianca kemudian. Mengalutkan keresahannya karena kepergian mendadak Ana tidak seperti biasanya. Sementara Tata mengerutkan dahi tidak mengerti, "Maksudnya apa sih? Sesuatu yang buruk gimana? Aneh-aneh aja." Bianca angkat dari duduknya. Menatap Tata sesaat sebelum berdecak. "Kalau bu Dyta nanyain gue, bilang aja gue lagi boker." "Lo mau kemana emang?" tanya Tata penasaran. Membetulkan tali sepatunya diatas kursi, Bianca berujar. "Memberantas kejahatan." kekehnya dan berlalu meninggalkan kelas. Membiarkan Tata mengerutkan dahi bingung, karena sahabatnya yang satu itu paling sulit di pahami. Pasalnya setelah istirahat berlangsung, Danirian langsung dihebohkan oleh berita bahwa SMA Ocean mengundang pertempuran di Taman Castello. Maka semuanya sudah dapat menebak apa yang terjadi setelah itu. Dan berita itu pula yang membuat Bianca merasakan bahwa sesuatu yang tidak diinginkan sepertinya terjadi pada Alana. Jadi meninggalkan sekolah untuk sampai ketaman, Bianca melewati segala celah yang ia bisa. Tidak tahu kenapa langkahnya secepat itu, Bianca hanya merasakan bahwa ada yang tidak beres dari ini semua. Kini Taman Castello tengah menjadi saksi bagaimana SMA Danirian dan SMA Ocean sedang berdiri berhadapan. CARSWELL, sebutan bagi penguasa SMA Danirian sudah berdiri dengan lima pemimpin pada garis terdepan. Menatap musuh mereka dengan tatapan meremehkan. Titan berada diposisi tengah, sementara dua ke kanan di duduki Aiden dan juga Gavin. Lalu posisi ke kiri di isi oleh Arkan dan juga Zidan. Sementara pasukan yang lain berada dibelakang, tidak banyak seperti pasukan Ocean, tapi Titan tidak masalah untuk itu. "Apa kita enggak kurang orang?" tanya Nadhip, anak kelas sebelah yang juga merupakan pasukan Carswell. "Lo sekiranya takut, balik aja ke sekolah." Aiden yang menyindir. Tidak butuh ketakutan untuk lawan yang mereka hadapi. Karena ketakutan itu sendiri kadang kala menghancurkan. Membuat adik kelasnya tersebut meneguk ludahnya kuat. Nadhip pula tidak lagi banyak bersuara. Mereka hanya datang dengan lima belas pasukan termasuk Titan dan ke-empat petinggi lainnya. Membagi posisi sementara dua terbelakang sudah mengibarkan bendera Carswell berlambang singa. Mereka membentuk barisan yang kuat. "Buat lo semua yang takut, gue saranin pergi dari sekarang." Titan berujar tajam. Menoleh sesaat dengan mata tajamnya, sebelum kembali berujar. "Karena gue--enggak butuh pasukan cupu!" Hening, tidak ada yang berani menjawab, mereka yang ada langsung mempersiapkan diri, tidak juga berani melawan kehendak pemimpin bengis itu, karena kehadiran Titan saat pertempuran selalu membawa keberuntungan. Dengan seluruh baju yang dibiarkan acak-acakan, kelima petinggi utama hanya menyimpan tangan disaku, sementara sebatang rokok bergantung manis dibibir kelima sang pembuat onar tersebut. Menggunakan bandana hitam dikepalanya, Titan menjetik rokoknya hingga terjatuh tepat dihadapan Alex. Terkekeh, Titan menaikkan sebelah alisnya. Menyunggingkan senyum mengejek, karena Alex tidak juga jera setelah apa yang ia lakukan semalam. "Apa pukulan gue masih kurang pas dimuka lo itu?" sindirnya pertama. "Hebat. Udah gue kasi kesempatan, masih aja mau jadi orang t***l begini!" Alex mengedikkan bahu tinggi, terkekeh karena Titan akan selalu semenyebalkan itu. "Lo pikir gue bakal diam aja setelah apa yang lo lakuin di basecamp gue? HAH?!" "Dan sekarang lo bawa dua kali lipat anak buah lo?" sindir Titan geli. "Gue rasa, itu enggak akan cukup." "Kenapa? Apa sekarang lo ketakutan?" balas Alex santai. Membuat seluruh anak buahnya terkekeh. Tapi Titan hanya mengangguk-angguk kepalanya. "Gue cuma takut anak buah lo sekarat." "t*i!! ENGGAK USAH SOK JAGO LO!" teriak Alex kembali, menggeram gusar. Karena setelah apa yang Titan lakukan padanya kemarin membuatnya geram. Tapi Alex tidak akan menyerah, ia tetap akan menjunjung tinggi harga dirinya. Hingga membuat pasukan Carswell kembali tertawa, karena lawan mereka berhasil termakan emosi. "Cupu lo," teriak Arkan. "Sejak awal juga lo udah bawa anak buah, untuk ngelawan Titan. Kenapa? Takut?" Arkan menyindir pertama. "Ya takutlah Kan, lo masih nanya lagi. Itu mukanya aja habis dibonyokin Titan semalam, tapi enggak jera juga." Zidan menambahkan. "Emang dari lahir udah cupu, sampai tua juga bakal tetap sama. Dah, jangan banyak basa basi, tangan gue dah gatal mau ngerobek tu mulut." timpal Aiden setelahnya. Membuat Alex dan anak buahnya menggeram, mengepal tangan kuat, mereka kemudian mengeluarkan sesuatu dari koceknya. Sebuah pisau kecil yang ternyata Alex dan anak buahnya sembunyikan dan mereka siapkan untuk melawan pasukan Carswell. "A-ah, enggak berani pakai tangan kosong?" kekeh Titan. "Enggak masalah, sekalian senjata yang lain lo keluarin." Alex menyeringai sebelum menitahkan sesuatu yang membuat pasukan Carswell berdiam untuk mendengarkan semua bacotan musuh mereka tersebut. "Vin, bawa kesini tu cewek sialan!" titah Alex pertama. Menuruti, Malvin kebelakang--membuat hampir tiga puluh pasukan Ocean menyingkir untuk memberi jalan. Hingga Malvin kembali dan menarik gadis disebelahnya dengan paksaan. Tangan Titan mengepal kuat. Titan maju tanpa berpikir, menggeram karena menemukan Alana sudah disandera oleh orang-orang suruhan Alex. Tapi langkah Titan terhenti karena Alex dan pasukannya menodong pisau mereka tepat keleher Alana. "b*****t! APA YANG LO LAKUIN??!!" pekik Titan gusar. "LO SIALAN ANJING!" Alex terkekeh. "Gue enggak sengaja nemu nih cewek depan sekolah lo." katanya pertama. "Kenapa? Lo kenal ini cewek?" "t*i! ENGGAK USAH PURA-PURA b*****t!!" geram Titan lagi, bagaimana wajah Alana tampak ketakutan, juga lengannya sudah diikat, membuat Titan menggeram. "Siapa lo ini? Kenapa neriakin gue? Santai aja." goda Alex kemudian. "Cewek lo ya?" "Lex, gue saranin, lo enggak usah main-main sekarang." pesan Gavin pertama. "Ya tapi, kalau lo masih mau main-main, kita enggak tanggung jawab sama apa yang terjadi nanti." tambah Aiden setelahnya. Tapi memang dasarnya Alex tidak pernah mendengarkan orang lain, ia membawa Alana yang setelah dicari tahu merupakan seseorang yang paling berharga menurut musuhnya ini, Alex mengedikkan bahu menggoda. "Cantik juga. Gue ajak jalan sebentar, boleh kali ya?" kekeh Alex lagi, masih tidak menghiraukan tatapan tajam seperti pisau dimata Titan. Alana menggeleng, menangis dalam rengkuhan Alex karena todongan pisau cowok itu benar-benar menakutkan. Ia menatap Titan payau, meminta pertolongan untuk membawanya pergi secepatnya dari sana. Untuk membuat Titan menjemputnya. Melindunginya. Persetan--Titan langsung maju, menendang tiga pasukan Alex yang menghadangnya, dia menumpuhkan tiga lawan itu tanpa perhitungan. Lalu pasukan Carswell maju, Gavin, Aiden, Arkan dan juga Zidan ikut membagi posisi. Pertempuran itu baru saja akan berlangsung sengit, ketika teriakan dari seseorang menggagalkannya kembali. "ALANAAAA!" pekik Bianca pertama. Dia sudah berlari untuk meraih sahabatnya itu, ketika tangannya berhasil di tahan anak buah Alex. "Lepasin! Lepasin gue sialan!" pekik Bianca pertama. Menerjang, meronta dan semua bentuk usaha yang ia lakukan, namun berakhir gagal karena todongan pisau itu mengarah kematanya. "Sekali lagi lo ngeberontak, gue tusuk pisau ini kemata lo!" ancam Malvin kemudian. Barulah Bianca benar-benar bungkam. Tidak menyangka bahwa kedatangannya ini, semakin menambah beban untuk SMAnya sendiri. "Eh turunin pisau lo, lo mau gue tebas pakai ubi?!" ancam Aiden pertama. Yang tentu saja tidak di indahkan Malvin. Titan mengacak rambutnya frustasi. Menemukan Bianca--gadis gila itu disini, benar-benar sesuatu yang semakin gila. "Bodoh!" geram Titan. Dan Bianca tahu ucapan itu memang untuknya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD