Mengupas tanya, membiarkan jawaban, lalu menelan dalam-dalam semua kekacauan.
Mencoba mengerti untuk semua penjelasan, lalu terakui bahwa mungkin kata-kata terlalu berharga untuk sekedar tanya.
Bianca mengerutkan dahi saat sedan Aiden berhenti pada sebuah kafe minimalis yang terletak tidak jauh dari rumah Alana. Menghela napas, Bianca turun dengan wajah ditekuk masam. Sementara Arkan dan Zidan hanya terkekeh disebelahnya. Masih tidak berhenti menggoda Bianca, mereka bahkan terang-terangan membuatnya lelah oleh tingkah ketiga cowok tersebut.
Tapi tanpa bertanya tentu Bianca tidak akan mendapatkan jawaban. Bukankah seharusnya mereka langsung kerumah Alana? Kenapa ketiga b******n ini malah membawanya kesini? Lantas jika memang menghindari Titan dan Alana adalah datang kesini, sebaiknya Bianca tidak akan masalah atas itu.
Aiden menatap Bianca pertama. Menyunggingkan senyumnya seraya berujar. "Nyantai dulu bentar, rumah Ana juga kagak jauh lagi." kata Aiden pertama. Paham betul kebingungan yang tengah meliputi gadis dihadapannya. "Kalem, buru-buru kesana juga kagak ada gunanya."
Arkan ikut mengangguk membenarkan.
"Haus nih, gue butuh minum dulu." tambahnya. Ia sudah merangkul pundak Bianca, mengiring gadis itu untuk segera memasuki kafe. "Takutnya gue dehidrasi, terus mat--"
"Ya-ya-ya," potong Bianca cepat. Menatap geram cowok tersebut, karena tingkah menyebalkan Arkan tidak berhenti sejak tadi. "Ntar yang lain nyari." sambung Bianca kemudian. Tahu bahwa Alana dan Tata tidak akan berhenti merecokinya nanti.
Zidan memotong cepat. "Siapa? Kagak ada yang nyari lo, sahabat lo bedua lagi pada ngebucin." jawab Zidan cepat, mengulum senyumnya. "Pede banget gila!"
Terdiam, Bianca berpikir sejenak. Menghela napas, lalu memutar bola matanya jengah. Ia menyetujui itu. Benar, Alana dan Titan. Gavin dan Tata. Lalu, untuk apa ia memusingkan itu? Lebih baik memang Bianca bersama tiga pembuat onar ini. "Bener juga sih, ngapain gue repot-repot mikirin itu?" geleng Bianca. "Yaudah, kenapa kagak disini aja kita? Jangan pergi kerumah Alana." saran Bianca setelahnya.
Arkan, Aiden dan Zidan mengangguk serempak. "Bener juga kata lo, apa kita disini aja?" kekeh Arkan kemudian. "Ngapain juga ke Alana? Palingan nonton, ye gak?"
"Hu'um, disini kan bisalah tipis-tipis," kekeh Zidan. Memotong cepat. "Cuci mata."
"Najis, tipis-tipis apa?" tanya Bianca polos. Tidak mengerti.
"Lihat cewek. Itu namanya tipis-tipis. Mengambil kesempatan." jelas Aiden dengan sabar. Menggeleng tidak percaya, Bianca akhirnya tidak bertanya lagi.
Kemudian ke-empatnya memasuki ruang cafe dengan santai, masih dengan Bianca dalam rengkuhan Arkan. Memilih duduk pada meja panjang diujung kafe, Bianca tahu sejak pertama datang ke kafe ini beberapa orang melihatnya. Ralat. Hampir semua orang menatapnya.
Jika memang tidak salah menebak, itu seragam SMA Garuda, mengingat SMA itu berada tidak jauh dari tempat mereka singgah kali ini. Gila. Bianca lupa bahwa ini sudah jam pulang sekolah, tentu anak-anak dari sekolah lain sudah berbondong-bondong untuk nongkrong disini. Mengingat cafe yang mereka datangi ini pula memang ditargetkan untuk anak sekolah. A-ah, mungkin Arkan, Aiden dan Zidan sengaja datang kemari? b******n ini!
Sialan, Bianca risih tentu saja. Tapi ia juga tahu, pandangan dari siswa perempuan itu tertuju pada ketiga petinggi carswell disebelahnya. Lagi pula, siapa yang tidak mengenal ketiga cowok ini?
Bohong jika semua siswa disana bisa mengabaikan sosok Arkan, Aiden dan Zidan. Walaupun petakilan, pesona mereka mampu membuat seluruh kamu hawa menjerit frustasi. Tapi tidak berlaku untuk Bianca. Ia hanya terlalu sering mendengar seluruh pujian itu untuk para petinggi Carswell ini. Dan itu tetap saja membuatnya muak. Atau mungkin karena Bianca mengenal ketiga petinggi Carswell ini sangat dekat, tidak ada pesona yang bisa Bianca lihat atau ia terima.
Aiden--The Dragon Captain. Orang-orang menyebutnya seperti itu. Wajah mungilnya yang runcing, membuat semua orang meneguk ludah setiap kali membayangkannya. Paling senang menebar senyuman, tidak mengherankan Aiden berdiri sebagai si paling ramah diantara ke-empat petinggi yang lain.
Kemudian Zidan--The Cruel Eagle. Begitu sebutannya, jidatnya yang terus terekspos sempurna menjadikannya sebagai salah satu cowok tertampan di SMA Danirian. Senang menggoda setiap orang, Zidan memberi sensasi sendiri dengan cara pandangnya yang membunuh. Hobi menggoda juga meledek ciwi-ciwi.
Lalu, tidak ketinggalan Arkan--The Crazy Wolf. Rambut adalah kebanggannya, hidung mancung dan bibir tebalnya membuat beberapa orang selalu tergoda untuk terus memimpikannya. Beberapa beranggapan ia sombong, namun Arkan akan menanggapinya dengan kekehan menyebalkan.
Jadi, tidak mengherankan sejak tadi pandangan itu terus tersohor pada meja mereka. Mengharuskan Bianca untuk tetap sabar dan bertahan. Apa sebaiknya mereka kerumah Alana saja? Itu jauh lebih baik daripada seperti ini.
"Ciwi-ciwi itu pada ngeliatin lo bertiga." kata Bianca akhirnya. Risih sendiri pada situasi ini. Duduknya tidak tenang karena tatap mata itu terus memperhatikan mereka. "Samperin sono, buat pingsan sekalian."
Arkan, Aiden dan Zidan terkekeh. "Tahu kok. Namanya juga orang cakep, enggak herankan kalau diliatin?" Arkan menyahut cepat. Mengedipkan sebelah mata untuk menggoda Bianca. "Sadis banget neng, repot dong kalo dibuat pingsan?"
"Ye biarin. Sekalian tuh lo kasi kiss dipipinya, biar pada histeris." geram Bianca. Bagaimana ia bisa duduk tenang disaat semua mata seperti menjarahnya?
"Ini belum, biasanya nih--ada yang nyamperin kita. Ngasi coklat, bunga, makanan," sambung Zidan bangga. Sengaja memamerkan itu semua pada gadis dihadapannya, agar Bianca mengerti. "Atau nanti deh, tunggu aja, pasti salah satu yang gue bilang bener terjadi."
Bianca menggeleng tidak peduli. Persetan dengan itu semua.
"Beruntung banget kan kita? Lo t**i Bi? Tukarnya cuma sama nomor hape doang..." sela Aiden kemudian, "Emang enak banget kan jadi cowok-cowok cakep?!"
Mengerutkan dahi, Bianca memasang ekpresi geli. Mensidekapkan kedua tangan diatas d**a seraya berujar jijik. "Dih, sumpah. Gue kagak nanya."
Dan perkataan Bianca sukses membuat gelak tawa Aiden, Arkan dan Zidan memecah meja mereka.
"Neng Bianca, jangan galak-galak banget napa?" rayu Aiden lagi. Masih tertantang setiap kali berhadapan dengan Bianca yang keki. "Santai aja, minum dengan tenang. Mereka kagak ganggu lo,"
"Bener, yang ada, mereka takut deketin lo." Zidan berujar, tahu betul bagaimana sifat gadis itu. "Keburu pontang panting ketakutan sama lo yang galak." sambungnya geli.
"Ye ngapain cewek dekatin gue? Sakit jiwa lo!" decak Bianca. "Lo kata gue lesbi?"
"Maksudnya tuh cewek-cewek kagak bakal berani dekatin lo," jelas Zidan dengan sabar. "Cowok aja takut? Apalagi cewek?!"
"Gue gak butuh tuh dideketin cowok!" potong Bianca cepat. Tidak merasa itu harus ia pikirkan.
Membulatkan mata, Arkan memasang wajah kagetnya sebelum berujar. "Jadi, apa jangan-jangan lo lesbi selama ini seperti yang lo perkirakan?"
Menoleh, Bianca memukul kepala Arkan kuat. "Sialan! Gini-gini, gue masih suka cowok!"
"Siapa?? Siapa coba cowok yang lo suka??" tantang Arkan. Memainkan kedua alisnya. Menunggu bahwa Bianca tidak berbohong.
Menatap tajam cowok itu, Bianca memikirkan banyak hal. Langsung saja dia kerjai ketiga b******n ini, lagi pula mereka tidak akan tahu apa yang Bianca katakan. Secara mereka bodoh. Lantas menatap Aiden, Arkan dan Zidan bergantain, Bianca berujar. "Hermes..."
"Hermes??" beo Arkan kembali. Sementara Aiden dan Zidan ikut mengerutkan dahi bingung. Ketiga petinggi itu menerka-nerka nama yang Bianca maksud, karena itu terdengar begitu asing. Lalu menatap Bianca lekat, mereka bertiga mencari-cari kebenaran dimata gadis itu.
"Hermes??" ulang ketiganya serempak. Bianca mengangguk mantap, mengulum senyumnya karena ekpresi bodoh ketiga cowok dihadapannya membuatnya menahan tawa.
"Lo betiga kan petinggi Carswell. Masa gaktau sih??" tantang Bianca lagi. Menyeruput segelas jeruk besar dihadapannya. Menahan gelak tawa yang hampir pecah dari mulutnya. "Cowok yang gue suka terkenal juga kok. Lo pasti tahulah,"
Arkan menggeleng pertama.
"Siapa anjir? Namanya asing!" katanya menggerutu. Tidak bisa memikirkan sosok yang Bianca maksud.
"Ada, dia tuh terkenal cakep, pintar. Enggak ada yang ngalahin deh." puji Bianca lagi. Masih mencoba untuk memberi bocoran. "Serius, masa gatau? Aneh banget."
"Anak mana?" tanya Aiden kemudian. Masih memasang wajah t***l untuk mencari tahu. Seperti kehabisan ide untuk menebak siapa yang Bianca maksud.
"Anak Ocean? Anak Aerebos? Anak Garuda? Atau anak Danirian??" tebak Zidan kemudian. Bertubi-tubi hanya karena penasaran. "Gue enggak pernah dengar."
Lalu Bianca menggeleng, membuat raut ketiga petinggi Carswell itu semakin frustasi. Bahkan, hingga semua bocoran yang Bianca berikan tidak juga mampu membuat ketiga cowok itu mengerti, Bianca hanya bersiul mendengar jawaban konyol dari Arkan, Aiden dan Zidan.
"Serius namanya Hermes?" decak Arkan penasaran. "Atau nama lengkapnya siapa?"
Bianca mengangguk. Menaikkan sebelah alisnya sebelum berujar. "Masa gue bohong?? Lo bertiga juga yang tadi nanya..." kekehnya. "Ya itu namanya, lo mau sepanjang apa lagi?!"
"Abisnya kayak nama Tas." kekeh Aiden. Membuat Zidan dan Arkan ikut terkekeh seraya membenarkan.
"Kalau benar, gue yang traktir deh..." tambah Bianca lagi. Menawarkan dengan licik. "Gue bayarin nih satu meja."
Arkan mengacak rambutnya, memikirkan siapapun yang pernah didengarnya atau ia ketahui. Sementara Aiden memejamkan mata untuk berpikir dengan keras. Serta Zidan sendiri menyimpan kedua tangan disisi kepalanya untuk menebak siapa sosok yang Bianca maksud. Namun nihil, tidak ada titik terang yang dapat ketiganya temui.
Kemudian menatap Bianca malas, Zidan berdecak geram. "Serah ah, nyerah gue. Lo tinggal kasi tahu anak mana. Kita bakal nyari." ucap Zidan akhirnya. "Gue yang bayar dah, serah, lo kasi tahu aja anak mana."
Bianca menggeleng cepat. Masih mengulum senyumnya. "Serem ah, mau lo apain coba kalau tahu?" timpal Bianca takut-takut. "Kagak perlu tahu juga, kalau enggak tahu."
"Kagak diapa-apain, t*i!" gerutu Zidan lagi. "Cuma penasaran aja, sini liatin fotonya." sambungnya bersemangat. "Lagian, seriusan itu cowok yang lo suka? Enggak kebentur tuh hidupnya kalau tahu tingkah lo?"
"Sialan, emangnya gue kenapa? Tai." sela Bianca cepat. Kemudian ia menyambung. "Kalau gue liatin fotonya lo bakal tahu lah, bukan kejutan dong namanya."
Tapi Arkan, Zidan dan Aiden sudah tidak peduli. Mereka hanya ingin tahu. "Buru ah Bi, siapa sih? Mana mukanya?" Aiden berdecak kesal.
"Tau ah, mana sih? Gue penasaran gila!" geram Arkan setelahnya. Memaksa Bianca untuk segera memberitahu mereka.
Akhirnya, Bianca mengangguk geli. Ia memajukan kepalanya, memberi perintah supaya Arkan, Aiden dan Zidan mendekat, Bianca menyeringai sebelum berujar. "Hermes atuh, dewa mitologi yunani..."
Menggebrek meja, Arkan, Aiden dan Zidan menggeram. Membuat Bianca tertawa terpingkal-pingkal, geli sendiri karena ketiga cowok itu mudah sekali untuk di tipu.
"SIALAN! GUE PIKIR BENAR!" protes Aiden pertama. Menatap Bianca malas. "Sumpah bener-bener dah lo Bi!" geramnya kemudian. Tidak percaya.
Arkan juga sama. Menatap Bianca geram, ia sudah dibuat seperti orang bodoh sejak tadi. "t*i lo, Bi!" ketus Arkan setelahnya.
"Gue mikir tu sampe ubanan!" geram Zidan juga. Menggeleng tidak percaya. Lagi pula, kenapa mereka sebodoh ini untuk percaya? Sialan.
Bianca masih terkekeh geli. Menahan tawa diperutnya. "Makanya, pelajaran sejarah tu jangan cabut. Dewa Hermes aja lo pada kagak tahu??" ledek Bianca lagi, tidak berhenti menggoda ketiga pembuat onar tersebut.
Arkan menggeleng sebelum berdecak. "Emang tingkat halu lo udah kagak manusiawi," katanya kemudian.
Aiden mengangguk menyetujui. "Benarkan kata Zidan? Kagak ada cowok yang berani deketin lo. Ketar-ketir deluan,"
"Lo enggak waras soalnya!" tambah Zidan menimpali. "Mimpi lo ketinggian, asli."
"Nye-nye-nye," ledek Bianca. Menjulurkan lidahnya tidak peduli. "Iri aje lo," kekehnya. Masih tertawa setiap mengingat kebodohan ketiga cowok tersebut. Bianca benar-benar merasa puas.
Akhirnya, Zidan angkat dari tempatnya. Seraya berujar. "Udah deh, yok cabut. Capek gue ngomong sama nih babi." gerutunya, menyindir Bianca.
"Eh sialan, enak aja lo!" protes Bianca tidak terima. "Mau kemana? Katanya mau disini aja,"
Membiarkan seluruh tatapan para pengunjung kafe memang terarah pada meja mereka. Zidan berdecak kembali. "Percaya lo?" imbuhnya. "Ya kali Bi, Titan pasti nyariin."
"Lah, bukannya lo bertiga yang males?" potong Bianca. Tidak mengerti. "Gaje."
Aneh memang, tapi Bianca senang setiap kali bersama para petinggi Carswell tersebut. Apalagi mereka sudah bersama selama hampir tiga tahun, tidak mengherankan Bianca dekat dengan seluruh petinggi itu. Dan setelah mengerjai ketiga cowok itu pula Bianca memutuskan untuk tetap berada disana. Memang lebih baik dari pada bertemu Titan bukan?
Zidan sendiri sudah membuka ponselnya. Menemukan banyak sekali pesan dari sahabatnya sebelum berujar. "Eh, Titan ngechat nanya dimana." ujar Zidan pertama. "Nelfone nih anak tiga kali, gak gue angkat, gara-gara Hermes tadi!" singgung Zidan lagi. Masih menahan geli mengingat tebakan bodoh itu.
"Udah-udah, sakit perut gue ketawa mulu." kekeh Bianca geli. "Ya maap..." sambungnya. "Jadi, mau tetep ke Alana nih?"
Arkan yang mengangguk. "Titan udah nanya. Mau kagak mau, yaudah deh kesana aja."
"Takut amat mas? Enggak datang juga enggak masalah kalik," kekeh Bianca
"Males aja gue ditanya-tanya." sahut Arkan akhirnya. Dan Bianca hanya menghela napas panjang. "Bilang aja lagi ngisi bensin." saran Arkan kembali.
Yang langsung disetujui oleh Aiden. "Tumben banget tuh setan nyariin kita? Kagak pernah-pernah."
Hingga perkataan Aiden terucap, membuat Arkan dan Zidan tersadar, lalu ketiganya menoleh menatap Bianca.
Membuat Bianca menghentikan serupan pada minumannya, seraya melongo menatap ketiga cowok itu. "Apa anjir?!"
"Ini karena Bian lagi sama kita." tebak Aiden asal. "Asli! Bener! Ini pasti karena Bian. Ye gak?"
Cepat Arkan mengangguk. "Benar! Tuh curut, mana pernah mau tahu kita ada dimana." kekeh Arkan setelahnya.
"Anjir. Setuju!" pekik Zidan. Mengangguk. "t*i tuh curut, giliran cewek aja nomor satu!"
Bianca sendiri sudah mengedikkan bahu tidak mengerti. "Dih, apaansih, gak jelas!" decak Bianca malas. "Kenapa jadi gue? Enggak ada hubungannya ya!"
Menghela napas, Zidan, Arkan dan Aiden berujar serempak. "SETAN NYARIIN LO!"
"Disuruh Ana kali. Gak usah lebay." kata Bianca malas. Namun, ketiga cowok itu masih bersikeras.
Arkan mengendorkan dasinya pertama, menyimpan kedua tangannya pada sandaran kursi lalu berujar, "Bi, gimana kalau Titan suka sama lo?"
Mendengus, Bianca menghela napas panjang. Merapikan rambutnya sebelum menyilangkan kedua kakinya. Menggeleng, karena itu sesuatu yang tidak mungkin. Apalagi setiap mengingat bagaimana ia dan Titan terus bertengkar akan banyak hal.
"Coba deh, yang masuk akal dikit."
"Masuk akal gimana? Misalnya, lo sama Andom pacaran??" cetus Zidan. Ia sudah kembali duduk dibangkunya. "Emang lo mau?"
Menepuk tangan ke kepala lalu beralih kemeja, Bianca menggeleng kuat. "Ih amit-amit..."
Sialan Zidan! Apa? Andom katanya? Huh, siapa juga yang mau sama siswa aneh itu. Kaos kaki sering salah warna, seragam senin jadi batik, seragam batik jadi seragam pramuka. HELL NOO!! Bianca meringis membayangkan itu. "Kasi gue orang lain aja..." pinta Bianca. "Dewa Hermes yang cakep kek, Dewa Ares yang jago kek, atau Edward cullen juga boleh..."
"Itu semua panggilan Titan. Orang-orang bilang dia kayak Ares sama Edward." potong Aiden cepat. "Mau?? Nanti gue coba kasi tahu..."
"Sekali lagi, gue gampar lo Den!" jawab Bianca garang. Membuat semuanya tertawa kembali.
"Eh, yodah yok cabut." ajak Arkan, ia sudah berdiri dari kursinya. "Den, bayar sana."
Berdiri, Aiden menuju meja kasir. Sementara Zidan dan Arkan sudah merangkul pundak Bianca dan berlalu meninggalkan kafe.
Namun, baru saja sampai pada ambang pintu, langkah mereka terhenti. Tiga orang cewek siswa Garuda menghentikan langkahnya.
"Heh! Minggir! Gue mau lewat!" ketus Bianca. Memberi perintah lewat tatapan matanya, namun ketiga cewek itu masih bertahan ditempatnya. Ini dia nih yang sejak tadi menatap Bianca tidak suka. Jadi tidak herankan? Bianca membalasnya dengan sinis? Toh ketiga cewek ini lebih dulu mengusiknya.
Mengeratkan rangkulannya pada punggung Bianca, Arkan tersenyum manis. "Maaf ya adek-adek, kakak ini emang galak kayak medusa. Mulutnya pedes kayak cuka."
"Cuka asem, t*i, bukan pedas!" potong Zidan cepat. Membuat ketiga cewek berseragam SMA Garuda itu terkekeh dan tetap tersenyum manis. Tapi bagi Bianca itu terlihat sangat menggelikan.
"Ini, buat kak Arkan." kata cewek berambut sebahu itu takut-takut. "Terima ya kak..."
"Ini juga, ini buat kak Zidan..." temannya, cewek berambut ikal sebahu ikut menambahkan.
"Ini...buat kak Aiden." cewek berambut dikucir dua, ikut bersuara ketika Aiden baru saja tiba.
Menerimanya dengan senyuman manis, Arkan, Aiden dan Zidan masih bertingkah sok keren. Membiarkan Bianca meringis memperhatikan ketiga petinggi Carswell tersebut.
"Eh, emangnya Kalian kenal mereka?" tanya Bianca kemudian. Heran sendiri karena sekolah mereka cukup berjauhan. "Mau-mau aja buang duit buat kasi nih curut?"
Lalu ketiga cewek itu mengangguk serempak. "Kak Aiden, Kak Zidan sama Kak Arkan para petinggi Carswell." gadis berambut sebahu menjelaskan pertama. "Semuanya kenal mereka, kak."
"Kakak yang namanya Bianca kan? Sahabat Kak Alana, cewek yang dekat sama kak Titan??" cewek berambut ikal ikut menambahkan.
"Anak-anak Carswell terkenal di SMA Garuda..." kata cewek berkucir itu pelan.
Bianca menghela napas panjang, menggeleng tidak percaya sebelum melepaskan rangkulan Arkan dipunggungnya.
Lalu, ia memutuskan untuk melewati ketiga cewek itu dan berlalu keparkiran lebih dulu. Tidak pernah menyangka bahwa Carswell memiliki pengaruh luar biasa bagi setiap sekolah. Gila, karena SMA Danirian beruntung memiliki pasukan tersebut.
"Mau?" tawar Aiden ketika mereka sudah berada didalam mobil. Memberikan coklat tersebut kepada Bianca.
"Gratis nih??" kekeh Bianca. Wajahnya sudah berseri bahagia. Berbinar.
"Bayar. Ngedate sama gue, mau??" rayu Aiden.
Melempar setumpuk coklat yang diberi tadi, Bianca berujar garang. "Enggak deh, gue bisa beli ndiri."
"Pepet terus den, kagak bakal dapat lo. Selera Bianca tuh yang kayak Titan." teriak Arkan bersemangat. Menggoda.
"Lo mah, hanya sebutir debu tak tersentuh..." racau Zidan juga.
"t*i lo bedua!" imbuh Bianca. Dengan Zidan dan Arkan yang semakin jadi menggodanya.
"Becanda ah Bi, lo kayak kagak tahu gue aja. Makan sono tuh coklat." ujar Aiden kembali.
Lalu menyunggingkan senyumnya, Bianca menerima coklat itu cepat, memakannya dengan lahap, seiring dengan sedan Aiden yang melaju.
Seperti tidak ada habisnya, pembicaraan mereka juga tidak berhenti hanya sampai disitu saja.
***