XIV. Orang Tua Titan

2504 Words
Entah apa yang membuatmu seperti saling terhubung. Tapi ikatan itu menjadi jawaban bahwa sejak awal mengenai kita sudah saling berhubung. Selaras juga saling terbalas. Setelah meninggalkan cafe dan memutuskan untuk kerumah Alana, Bianca, Aiden, Zidan dan Arkan akhirnya tetap datang kesana. Walaupun sejak awal mereka tidak ingin pergi, ancaman dari Titan dan desakan dari Tata serta Alana membuat ke-empatnya mau tidak mau menuruti tanpa banyak bertanya lagi. Bianca menghela napas panjang, lelah karena sejak tadi tidak berhenti tertawa. Ia menatap Arkan yang kini sudah berada disebelahnya. Sementara Zidan yang menyetir, Aiden duduk dikursi depan penumpang. "Ganggu orang lagi double date aja sih kita?" gerutu Bianca pertama. "Enggak ada alasan lain nih buat cabut aja?" "Mau buat alasan apa? Kita ber-empat diserang anak Ocean?" kekeh Arkan setelahnya. "Lagian, udah deh gapapa. Nikmatin aja." "Apanya yang mau dinikmatin?" sela Bianca cepat. Memutar bola matanya jengah. "Nikmatin orang pada kasmaran? Gitu maksud lo?" Arkan mengangguk. Terkekeh geli. "Kenapa sih Bi? Cemburu lo?" ledeknya kembali. "Apa jangan-jangan lo demen sama Titan?" Memukul kepala Arkan, Bianca berdecak. "Ngawur lo!" geramnya. "Kagak ada hubungannya, plis deh." "Buset Bi, galak banget asli jadi cewek!" geleng Arkan. Mengelus kepalanya bekas timpukan Bianca. Sementara Bianca sendiri sudah tidak peduli, jika Arkan masih meledeknya lagi ia mungkin tidak hanya memukul cowok itu tapi juga menendangnya dari dalam mobil. "Lo sama gue aja Bi," Aiden memotong cepat. "Biar jadinya triple date. Hehe, mau?" tawarnya kembali. Mengerjap geli. Membuat Bianca langsung melemparkan jari tengahnya, "Najis!" tolaknya. Membuat Arkan dan Zidan tertawa ngakak disana. "Bengek gue," kekeh Zidan. "Tega banget Bi sama Aiden." sambungnya geli. Tapi Bianca sama sekali tidak peduli. "Lagian ah Bi, betah banget tiga tahun disekolah tapi jomblo." imbuh Aiden kembali. "Banyak kali ah yang deketin, tapi lo aja yang kagak mau. Kenapa sih? Lo nunggu si Hermes itu?" Sialan. Aiden benar-benar membuat tawa Bianca pecah disana. Menggeleng geli, ia berdecak. "Males. Pahamkan lo? M-A-L-E-S!" eja Bianca. Menekankan itu kembali. "Udah deh, stop bahas itu lagi. Udah mau nyampe nih." Dan Zidan menyetujui. Hingga sedan yang dinaikinya sudah memasuki kawasan rumah Alana, mereka semakin menggerutu malas. Karena sepertinya rumah Alana kedatangan banyak tamu. "Rame banget rumah Ana, lagi ada tamu kali ya?" tanya Bianca pertama. Zidan sudah memarkirkan mobilnya asal. Turun dari sedan Aiden itu, Bianca mengikuti langkah Arkan dan Aiden. Sementara Zidan masih memperbaiki letak setan tersebut. "Aduh, males banget." "Ada tamu kali." tebak Arkan kemudian. Mengedikkan bahu. "Santai ajalah, kita juga udah sering ngumpul disini. Kayak kagak tahu aja lo bonyok Ana emang sering banyak tamu." Menghela napas panjang, Bianca akhirnya mengangguk. Tanpa banyak bertanya lagi. Lalu ke-empatnya menghentikan langkah mereka ketika suara teriakan bergema nyaring melengking disana, menoleh dan menengadahkan kepala mereka menemukan Alana dan Tata sudah berteriak dari atas balkon lantai dua. Sementara Bianca, matanya tidak lepas pada sosok berkaos putih dengan wajah runcing yang sudah menatapnya tajam. Tatapan yang Bianca sendiri tidak tahu kenapa ia bisa terpaku. Seolah-olah dalam ikatan itu mereka terperanjat dan memaksa untuk saling menatap. Lantas menghiraukan itu, Bianca memalingkan wajah lebih dulu. Tidak ingin terbuai juga terlena, karena itu bisa membuatnya hilang kendali. Kemudian saat Aiden merangkulnya untuk segera masuk, Bianca membiarkan cowok itu mengiring kepergiannya. Karena ia harus menepis pikirannya pada bayangan setan sialan itu jadi Bianca melangkah cepat memasuki rumah mewah Alana. Namun, saat Arkan dan Zidan menghentikan langkahnya, Bianca dan Aiden lagi-lagi mengikuti itu. Disana--di ruang tamu rumah Alana bagaimana Om Sean dan Tante Alice sudah tertawa dengan tamu dihadapannya. Tawa bahagia yang jika ditebak semua orang tahu keempat orang itu sudah saling mengenal untuk waktu yang lama. Lantas saat Aiden, Arkan dan Zidan memeluk tamu itu hangat, Bianca menerka-nerka siapa gerangan tamu tersebut. Namun malas memikirkannya, Bianca memilih berdiri dengan kikuk dibelakang. Memperhatikan ke-empat anak muda itu dengan gelengan tidak percaya. Sean menyunggingkan senyumnya. "Titan sama Gavin udah diatas. Dari mana kalian bertiga?" tegur Sean pertama. Papa Alana. Aiden yang menyahut pertama. Begitu santai karena orang tua mereka juga saling mengenal satu sama lain. "Biasa Om, bersihin monas dulu..." kekeh Aiden. Bergurau walaupun krik-krik. Tapi lelucon itu pula tidak Membuat semua yang disana menggeleng geli. Jika, Arkan, Aiden dan Zidan sudah terlibat dengan perbincangan santai itu, Bianca semakin tidak memahami situasi ini. Berdiri kikuk dibelakang para petinggi Carswell tersebut, Bianca menunggu. Ketika Tante Alice menariknya. Bianca mengerutkan dahi bingung. "Salaman dulu, itu orang tua Titan." jelas Alice pertama. Meminta sahabat putrinya ini untuk kenalan dengan Lea dan Altair, karena sepertinya Bianca tidak mengenal orang tua Titan. Ralat. Bianca bukan tidak tahu. Bukan tidak mengenal. Lagi pula, siapa sih yang tidak mengenal keluarga Kennedy? Sang donatur terbesar di Danirian? Bianca hanya tidak pernah melihatnya dengan jarak sedekat ini. Mengangguk, akhirnya Bianca bersalaman dengan tante Lea dan juga om Altair. Bagaimana wajah Mama Titan mampu membuat Bianca meneguk ludah. Seperti sesuatu yang tidak mungkin, karena wajahnya masih sangat muda dan juga menakjubkan. Lantas berpaling pada Papa Titan, Bianca menemukan bagaimama hidung dan mata tajam Titan begitu selaras dengan Papanya. Kacau, tidak heran Titan terlahir sempurna jika orang tuanya begitu sempurna seperti ini? Gila, karena Titan benar-benar bibit sempurna. Dari orang tua yang hebat. Ketika seruan dari Mama Titan, memecah lamunan Bianca. Lea membawa Bianca mendekat. Meneliti penampilan gadis itu. Bahkan hanya dengan menebaknya, Lea tahu bahwa gadis tersebut berbeda. "Ini siapa namanya?" kata Lea pertama. Menanyakan Bianca, ia tidak berhenti memperhatikan gadis itu. Bagaimana Bianca mampu membuatnya mengukir senyum karena cara berpakaiannya benar-benar melambangkan Lea saat muda dulu. Bianca yang diperhatikan menjadi salah tingkah sendiri. Entah kenapa cara Mama Titan melihatnya membuat Bianca merasa senang. "Bian, Tante." sahut Bianca sopan. "Bianca." Sementara Lea mengangguk. Arkan memotong cepat. "Musuh Titan tuh, tante!" sahut Arkan kemudian. Terkekeh untuk kembali menggoda Bianca. Ia sudah menjulurkan lidahnya. Zidan sendiri tidak mau kalah. Ia kembali menambahkan. "Kalau sama Titan tuh tante, adu mulut mulu! Debat sampe pagi, gak kelar-kelar!" tambah Zidan kemudian. Puas mendapati wajah masam Bianca. "Malahan kalau beresin monas. Lebih kelar beresin monas deh kayaknya dari pada lihat Bian sama Titan berantem," "Kayak kucing sama tikus, Nte. Satu hari aja kalo akur, kiamat kali!" Aiden menimpali. Sengaja. Menemukan sembraut merah diwajah Bianca membuatnya puas bukan main. "Murid kesayangan Danirian." Menoleh, Bianca menatap garang ketiga cowok itu. "Diam lo!" sahutnya. Sialan. Arkan, Zidan dan Aiden benar-benar sudah mempermalukannya. "Nggak usah didengerin tante, suka ngawur tuh mereka!" "Dih, ngawur dari mana? Satu sekolah juga tahu ya lo sama Titan gimana." sela Arkan kembali. Membuat semua yang disana terkekeh. Altair--papa Titan sudah menggeleng geli. Di-ikuti Lea yang sudah mengangguk-angguk mengerti, tidak heran. Sean dan Alice sendiri sudah sangat terbiasa mendengar itu. Lantas, setelah pamit Arkan, Aiden dan Zidan berlalu terlebih dahulu. Meninggalkan Bianca yang terdiam karena masih terpana pada sosok orang tua Titan. Ia juga masih ditahan oleh tangan Lea--mamanya Titan yang sejak tadi memegangnya. "Om sama Tante juga dulu selalu berantem." Lea memecah keheningan. Sengaja mengatakan itu. "Bener-bener hampir tiap hari..." Cepat Lea mengangguk. Haruskah ia membagi kisahnya? Menceritakan bagaimana Titan selalu menjadi sesongong itu? Tapi Alice lebih dulu berdecak. "Bener Bian, Tante Lea dulu, benci banget sama Om Altair." Alice--mama Alana ikut berkomentar. Sean juga sudah mengangguk. "Persis kayak Titan sama Bian. Ana sering cerita Titan dan Bianca selalu berantem." Sean ikut berujar. "Hati-hati loh, jadi malapetaka nanti." goda Sean lagi. Tentu Bianca harus mengerti malapetaka yang dimaksudnya. Bianca menggeleng malu-malu. "Enggak berantem yang gimana kok, Om, Tante. Debat doang, Titan songong soalnya!" ujar Bianca setelahnya. Sengaja menekankan itu agar orang tua Titan tahu bagaimana putra mereka selalu semenyebalkan itu. Lea dan Alice sudah terkekeh. Sementara Altair dan Sean menyeringai geli. "Kalau gitu sama, Papa Titan juga songong!" Lea membenarkan. Membuat Altair menggeleng, lalu menarik istrinya itu dalam pelukan. Membiarkan Bianca menatap bagaimana orang tua Titan itu terlihat begitu hangat dan juga saling mencintai. "Mereka dulu berantem tiap hari," Alice berujar lagi. "Enggak terhitung sebanyak apa dalam sehari..." sambung Alice. Mengulas kenangan mereka dulu sekali. "Jangan sampai Titan sama Bianca jadi kayak mereka ya?" goda Sean. Meledek sahabat putrinya itu. "Bahaya loh..." Bianca menggeleng cepat. Sangat cepat. "Enggak mungkin kok Om." "Emangnya, kamu enggak suka sama Titan?" kali ini, Altair bertanya langsung. Putranya terlalu sempurna untuk tidak disukai. "Titan cakep, mirip Papanya. Apa yang kurang??" "See, sama-sama songong kan anak sama bapak?" sela Lea. Membiarkan Bianca melihat bahwa putra dan suaminya adalah perpaduan yang sepaket. Baru saja Bianca ingin menjawab, ketika suara Titan sudah lebih dulu memotongnya. "Mah, apaan sih." protes Titan. Lalu ia menatap Bianca, membiarkan Bianca terpana pada mata tajam itu lagi dan lagi. Ketika detik selanjutnya Bianca dibuat gusar. "Naik sana, lo ngapain sih kayak batu duduk disini? Kepo aja sama urusan orang tua!" geram Titan. "Naik." titahnya sekali lagi. "Eh, lo tuh batu! Datang-datang ngomel, gak jelas lo!" sahut Bianca malas. "SETAN!" cetus Bianca pelan. Membuat Titan menggeram menatapnya. Tapi, Bianca terlanjur tidak peduli. Kemudian, membenarkan seragamnya, Bianca pamit dan berlalu dari sana. Memikirkan bahwa tidak heran Titan bisa setampan itu, orang tuanya saja nyaris sempurna dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lantas, menggeleng kepala kuat, Bianca menepis pikirannya. Hell, untuk apa ia memikirkan setan itu? Buang-buang waktu! Dan perhatian Altair dan Lea benar-benar tertuju pada Titan dan juga Bianca. Sean dan Alice sendiri hanya terkekeh dari tempatnya. "Titan, Mama yang ngajak Bianca ngomong." Lea membenarkan. "Kenapa sih?" Mencium pipi Mamanya, Titan tidak menjawab lagi. Ia hanya mengedikkan bahu dan berlalu dari sana. Mengikuti langkah gadis gila dihadapannya yang sudah melangkah cepat. Aneh, tapi bagaimana kehadiran Bianca dan kejadian tadi pagi membuat pikiran Titan kacau hari ini. Dan Titan turun memang hanya untuk menjemput gadis itu, karena Alana memaksanya untuk segera mengajak Bianca naik karena mereka harus secepatnya nonton. "Titan benar-benar cerminan kamu dulu." Alice berujar pada Altair. Yang dijawab Lea dengan anggukan setuju. "Enggak ada bedanya..." Membuat semua yang disana terkekeh. Lalu mereka kembali membahas mengenai kerja sama antara Kennedy dan Kenrick. *** "Kemana aja sih tadi? Lama banget Bi?" protes Tata saat Bianca baru saja duduk disampingnya. Bianca menggeleng pertama. Menahan kekesalan dihatinya karena kedatangan Titan tadi. Akhirnya, menatap Tata malas, ia berujar. "Gue diculik tuh ama tiga curut!" sahut Bianca kemudian. Menunjuk Aiden, Arkan dan Zidan dengan dagunya secara bergantian. Tapi ketiga cowok itu hanya mengedikkan bahu sebelum terkekeh. "Mana ada sih cowok secakep kita mau nyulik lo?" Arkan menyahut kembali. "Lo yang nyulik kita. Gitu baru bener." sambungnya geli. Bianca benar-benar sudah malas untuk meladeni. Jadi ia hanya menggeleng. "Gue pikir lo dibuang ke bawah jembatan." Gavin menggoda. Mengejek Bianca pertama. "Enggak ngaruh, gue bisa berenang kok." imbuh Bianca kemudian. Sama sekali tidak peduli. Membuat semuanya kembali menganggukkan kepala geli. "Bi--sehari aja ngalah. Lo jadi cewek tegaan banget..." erang Gavin lagi. Tidak pernah punya kesempatan untuk menang melawan gadis itu. "Masih mending, tadi aja ciwi-ciwi datang ngasi coklat, disemprot langsong." timpal Arkan lagi. Bianca hendak menjawab lagi, ketika Titan lebih dulu berujar galak. "Berisik. Jadi nonton gak?" geram Titan kemudian. Alana menggeleng sebelum mulai menyalakan televisinya. Memutar Serial dari Netflix, dengan beberapa cemilan dan minuman yang sudah ia siapkan. "Tumben banget Tan, bonyok lo disini, baru datang?" Gavin bertanya kemudian. Kaget sendiri, karena kedatangan mereka pertama tadi disambut antusias oleh orang tua Alana dan Titan. Titan mengangguk cepat. "Semalam baru sampe, nanti juga balik lagi." jawab Titan malas. Selalu seperti itu, mengingat ada banyak kerjaan yang harus orang tuanya selesaikan. "Bonyok lo--awet muda cui. Udah tuir juga tingkahnya kek masih abege." tambah Arkan. Selalu iri setiap kali melihat om Altair saat memperlakukan tante Lea. "Asli!! Heran gue, kagak tua-tua, bikin yang muda iri." potong Zidan cepat. "Bokap lo, setiap ngeliat nyokap lo, udah kayak mau mangsa." kekeh Aiden lagi. "Kalau kagak penuh cinta, kagak bakal jadi gue." sahut Titan. Melawak. Membuat derap tawa memenuhi ruangan itu. "Lo bedua mau dinikahin kalik." ledek Arkan kemudian. Menaikkan sebelah alisnya pada Titan dan Alana bergantian. "Bener, udah pasti. Gas aja, bonyok kalian juga sahabatan." tambah Aiden kemudian. Antusias. Alana terkekeh, sementara Titan mendengus. "Gue belom kerja, mau kasi makan apa nanti anak gue?" sahut Titan malas. "Angin?" potong Zidan. Membuat Titan melempar bantal tepat di kepala sahabatnya itu. "Sampe lo punya cicit dan cicit lo punya buyut, dan buyut lo punya anak-anak lagi, kagak bakal bangkrut hidup lo!" gerutu Aiden. "Bonyok lo kaya raya!" "Lo aja nikah sana." timpal Titan kemudian. Menunjuk Arkan dengan kepalanya. "Nikah sama siape?" tantang Arkan. Menaikkan kedua alisnya. "Juminten." teriak Gavin. Mengerutkan dahi, semua yang disana menoleh. Menerka. Tapi tahu bahwa usulan Gavin tidak pernah masuk akal. "Juminten?" beo Aiden. Tidak mengerti. "Itu, janda, warung depan kompleks rumah gue." kekeh Gavin geli. Tawanya pecah. "b*****t!" geram Arkan. Dia mendekat, memukul kepala sahabatnya itu, lalu terkekeh karena pertengkaran kecil tersebut. Membuat semua yang disana ikut terkekeh. Sementara Bianca, ia terus memusatkan matanya pada layar televisi sebesar gaban milik Alana tersebut. Namun sialan, karena telinganya terus berpusat pada semua kekaguman yang para petinggi Carswell itu bicarakan untuk orang tua Titan dan perjodohan yang mereka katakan. "Tan, lo datang nanti malam?" tanya Alana kemudian, tidak pernah mampu membagi fokusnya setiap kali bersama teman-temannya. "As u wish. Bokap gue maksa." imbuh Titan. "Lo harus datang, temenin gue." "Mau kemana sih?" Tata menyahut bingung, ikut penasaran pada percakapan Titan dan Alana. "Kepo lo!" Titan yang menyahut. Menyela cepat. Alana terkekeh, lalu membenarkan. "Ada pertemuan sama rekan Papa, Om Altair juga di undang." "Udahlah Ta, pembahasan anak sultan, kita mah kentank!" kekeh Zidan. "Kentank? t*i lo! Bonyok lo punya Hotel berbintang dimana-mana." rutuk Tata kesal. "Ya lo juga." Zidan menyahut cepat. "Bonyok lo punya perusahaan kerajinan terbesar." "Eh, diem dong. Jadi nonton gak? Berisik banget." Bianca memotong cepat. "Udah lo nonton aja, jangan nimbrung!" Titan menyela. Hell. Menoleh, Bianca membulatkan mata tidak percaya. "Eh setan! Tadi lo yang nyuruh nonton." geramnya. "Lo juga yang marah kalau berisik. Sekarang? Lo sendiri yang ribut. Sumpah, sakit jiwa lo!" "Lah, dua nih anak! Kenapa lo bedua jadi sensian?" kekeh Arkan geli. Selalu saja terhibur oleh perdebatan Titan dan Bianca. "Tau tuh sohib lo, aneh banget! Resek!" geram Bianca. "Gak waras!" "Lo yang aneh!" kata Titan tidak mau kalah. Aneh memang. Semuanya karena bayangan bagaimana sentuhan Bianca tadi diatas bibirnya membuat Titan selalu hilang kendali setiap kali melihat wanita itu. Alana menggeleng geli, menangkup kedua tangan Titan sebelum menyapunya lembut. Membiarkan semua yang disana memperhatikan kedua orang itu dengan senyum mengejek. Semua tahu bagaimana peranan Alana dalam hati Titan. Maka satu-satu jawaban yang paling masuk akal, saat Alana mampu menenangkan Titan dalam situasi apapun. Memutar bola mata jengah, Bianca memilih melanjutkan nontonnya. Malas meladeni. Karena itu tidak akan pernah ada habisnya. Tata terkekeh, namun ia memilih menggosok punggung sahabatnya itu. "Sabar ya Bi, setan kan hobinya emang bikin rusuh manusia." Menghela napas, Bianca mengangguk malas. Bahkan, hingga langit sudah berubah warna, ketujuh orang itu belum ada yang beranjak dari kamar Alana. Seperti keseharian mereka di sekolah, semua orang tahu kedekatan Titan dan Alana mempengaruhi garis pertemanan mereka. Maka, tidak mengherankan setiap kali ketujuhnya selalu berkumpul diwaktu yang sama. Dan, selalu ada cerita dalam setiap pertemuan yang kerap kali terjadi. Entah beberapa dari mereka sering melirik satu sama lain, atau memikirkan tentang perasaan yang kian lama semakin kentara sekali. Dua objek tergila dalam garis yang selalu berkesinambungan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD