Teruntuk perasaan yang tidak seharusnya ada. Sebuah keinginan konyol menyeruak masuk kedalam isi kepala.
Lalu, tertawa karena lagi-lagi kekosongan itu seperti menghinanya. Menyadarkannya bahwa tidak ada yang lebih di khawatirkan, selain bagaimana cara mengatasinya.
Deruman motor sudah memekik sirkuit malam itu. Sebuah hadiah besar menjadi peluang, hingga pertandingan malam ini diikuti dengan banyak orang. Bukan hanya anak Danirian, beberapa anak Ocean, Aerebos dan juga Garuda terlihat memenuhi sebagian sirkuit. Gila, mereka memang mengincar peluang demi hadiah itu.
Dan kehadiran Bianca diatas motor Aiden, menjadi sorakan riuh beberapa penonton yang datang. Apalagi anak-anak Danirian yang mengenal Bianca dan hadir untuk menonton, mereka tidak berhenti memekik nama gadis itu. Kembali seperti sebelumnya, Bianca berhasil mengacaukan fokus para pemain malam ini.
Dengan rambut panjangnya digerai begitu saja, Bianca masih memegang helm fullfacenya diatas d**a. Memperhatikan sekeliling dengan pandangan malas, Bianca tidak butuh riuhan itu meneriakinya. Bianca hanya butuh ketenangan agar dirinya bisa melewati pertandingan malam ini tanpa kendala. Tanpa bencana seperti sebelumnya, karena Bianca rugi jika sampai itu terjadi.
Bianca butuh menang dan membantu Ayahnya. Setidaknya itu pedoman yang harus Bianca tekankan, mengingat terakhir kali ia sudah gagal. Bianca tidak akan melewatkan kesempatan emas kali ini.
Setelah beberapa percakapan yang dibahasnya bersama Aiden, Bianca bersorak karena cowok itu mengizinkannya untuk meminjam ninjanya. Tentu dengan sejuta permohonan yang Bianca erangkan. Dan Aiden akhirnya luluh.
Tapi jika memang Bianca berhasil kali ini, Bianca akan membagi beberapa persen uang kemenangannya kepada Aiden. Jadi semoga saja ia berhasil.
Menghela napas, Bianca menoleh dan tidak menemukan Titan. Mencari-cari sosok songong itu, Bianca mengerutkan dahi heran. Bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat seorang dewa tidak terlihat batang hidungnya dipertandingan kali ini?
Menggeleng cepat. Bianca menepis pikiran itu. Untuk apa ia memikirkan setan sialan itu? Lebih baik seperti ini memang. Tanpa Titan, tanpa lawan yang sulit, bukankah itu akan mempermudahkan Bianca sendiri untuk memenangkan pertandingan kali ini? Bodoh. Sejak sentuhan gila yang mengacaukan pikirannya digudang bersama Titan, Bianca pula tidak bisa melepaskan bayangan itu dalam ingatannya.
Ketika teguran dari seseorang mengejutkannya. Barulah Bianca menepis kuat pikiran mengenai Titan--sisongong itu.
"Ini, kedua kalinya gue liat lo di sirkuit."
Menoleh, Bianca menatap cowok disebelahnya, menyunggingkan senyum mengejek ia berdecak. "Kenapa? Lo takut gue berhasil ngalahin lo?" goda Bianca setelahnya. Memperhatikan sosok yang tengah menyisir rambut gondrongnya tersebut, Bianca sempat meneguk ludah karena itu. Tidak ada apa-apa. Ia hanya terbuai seperti biasanya.
Terkekeh, cowok itu bersiul. Bianca, gadis itu berhasil membuatnya tertarik. Raja, ia menatap Bianca lekat dan mengangguk mantap. Menyeringai karena ia mengenal cewek disebelahnya ini. "Anak Danirian kan lo?"
Diam, Bianca memilih untuk mengabaikannya. Memasang helm fullface diwajahnya, Bianca hanya berjuang untuk meluruskan pikirannya. Tidak ingin tampak bersahabat dengan cowok disebelahnya ini.
"Si jagoan Danirian, cupu juga ternyata."
Barulah Bianca menanggapi. Paham betul siapa yang dimaksud oleh cowok disebelahnya ini. "Maksud lo?" pekiknya malas. Tahu bahwa suaranya teredam oleh pelikan mesin-mesin yang siap bertanding.
Raja, ia mengedipkan sebelah mata. Pandangannya tidak lepas dari mata Bianca yang tersisa dari helm fullfacenya itu. "Titan." jawabnya singkat. "Seharusnya dia datang malam ini."
"Emang dia datang kok." sahut Bianca lagi. Tidak pernah berpikir bahwa Titan akan melewatkan pertandingan malam ini. Ia juga hanya berdecak asal agar percakapan ini selesai.
"Lo enggak tahu?" kekeh Raja kemudian. Merapikan jaket kulit ditubuhnya, ia masih menatap gadis disebelahnya. Memahami ada kerutan bingung diwajahnya, Raja berdecak kembali. "Dia batal tanding, karena sahabatnya sakit."
Menajamkam pendengarannya, Bianca berusaha mencerna itu. Meminimasirkan keterkejutannya, karena aneh, ia merasa kosong. Tapi, menepis itu, Bianca menyahut tidak peduli. "Sok tahu lo."
"Tuh, curut-curutnya barusan ngasi tahu." imbuh Raja lagi. Tidak berhenti mengambil topik untuk membuat gadis menakjubkan itu berbicara dengannya. Jika Titan bisa menjadi alasan atas itu semua, Raja tidak akan menyerah.
"Gue enggak peduli." sela Bianca cepat. "Bagus kalau gitu, peluang buat menang makin banyak." decak Bianca lagi. Memajukan ninjanya, ia memilih menggeser diri menjauhi cowok tersebut.
Raja Alterio Bagaswara. Bianca tahu nama cowok itu, ada banyak gosip yang beredar tentang betapa jago Raja dalam setiap pertandingan. Beberapa menganggapnya raja dari semua tikungan. Sang pelacak jalanan nan keji dan pandai memanipulasi.
Namun setelah ada Titan, segalanya itu tertepis begitu saja. Keberadaan Titan seperti menenggelamkan banyak sekali orang-orang hebat sebelumnya.
Karena sejatinya Dewa adalah segalanya. Raja-raja pun tidak akan pernah sanggup melawannya. Dan itu sebabnya, sejak Titan mulai memenangkan banyak pertandingan, Raja harus digeser dan lambat laun dilupakan.
Dan ketiadaan Titan malam ini, berhasil membuat Bianca bernapas sedikit lega. Setidaknya, tidak ada yang terus ia kalutkan pada setiap laju yang diambilnya. Pada segala tindakan yang akan dilakukannya. Walaupun bohong jika ia tidak memikirkan banyak hal atas alasan ketidakhadiran setan sialan itu. Apalagi perkataan Raja tidak semudah itu Bianca abaikan. Alana sakit, dan Titan membatalkan pertandingan ini demi sahabatnya itu.
Bianca tahu, bagaimana Alana adalah segalanya bagi si songong tersebut. Namun, kekosongan itu, seakan menampar Bianca bahwa kehadirannya, tidak akan pernah sama. Lagi pula, untuk apa Bianca memikirkannya? Sialan, Raja benar-benar mengecoh isi kepalanya.
"SEBENTAR LAGI PERTANDINGAN DIMULAI!" teriakan MC, membuat seisi sirkuit bersorak riuh. Mendambakan masing-masing nama yang menjadi jagoan mereka malam ini.
Dan ada yang kurang tentu saja, tidak ada Titan membuat kaum hawa hanya menjerit malas. Terlalu lupa bahwa mendamba dewa, itu adalah segalanya.
"Titan skip malam ini." Arkan berujar saat posisinya sudah berada disebelah Bianca.
Para petinggi Carswell tersebut memutuskan untuk ikut bertanding. Mengambil alih tempat untuk menunjukkan pada banyak orang siapa peranan mereka yang sesungguhnya.
Lagi. Bianca seakan tidak pernah lepas pada setiap pembicaraan mengenai sosok itu. Dalam setiap sudut dan ruang yang menjadi tempatnya, nama itu seakan tidak berhenti membuatnya untuk peduli. Sialan. Bianca menghindari Raja karena percakapan itu tidak berhenti, dan kini? Arkan malah menambahkannya lagi.
"Gue tahu." sahut Bianca akhirnya. Ia tidak ingin tahu, tapi semua orang seperti memaksanya untuk mendengarkan kabar itu.
Tapi Arkan tidak berhenti. Ia hanya terlalu semenggebu itu untuk membahas alasan konyol Titan meninggalkan pertandingan malam ini.
"Alana sakit perut." gelengnya kembali.
"Anjir, sakit perut doang, dan Titan batalin nih pertandingan??" ujar Zidan tidak percaya. Menyambung, karena posisinya juga berada disebelah Arkan.
"Segitu hebatnya Ana. Dia satu-satunya yang buat Titan tunduk." kekeh Arkan lagi. "Kagak habis pikir gue."
"Giliran kita, boro-boro. Udah sekarat nanti, baru dikasihanin." tambah Zidan menimpali. Yang langsung disetujui oleh Arkan, sementara Bianca memilih untuk mengedikkan bahu. Malas.
Tidak ada yang harus Bianca pikirkan selain memenangkan pertandingan malam ini. Setidaknya, ia harus menyusun strategi. Tidak ada Titan, membuat peluang itu semakin didepan mata.
Lantas menyadari ada yang kurang dari salah satu petinggi Carswell yang lain. Bianca berujar. "Gavin ikut main malam ini?" tanya Bianca, mengalihkan pembicaraan seputar Titan karena ia tidak ingin berlarut memikirkan sosok songong tersebut
"Ada, di posisi belakang." Zidan menambahkan. "Noh, di sono." sambung Zidan menunjuk.
Mengangguk, Bianca mencoba menoleh untuk memastikan. "Aiden?" tanya Bianca lagi. "Apa dia tetap ikut meskipun gue make motornya?"
"Main, dia naik motor Titan. Tuh anaknya." tunjung Arkan pada sohibnya yang berada di ujung kiri belakang.
Mengangguk paham, Bianca menutup kaca helmnya. Menatap layar tancap yang dipasang sebesar gapura disana, detik sudah berjalan mundur, yang artinya pertandingan benar-benar dimulai.
Bianca menghela napas, merapikan jaket kulit yang sudah tersimpul ditubuhnya, lalu mulai membenarkan posisi. Memberikan fokusnya pada jalanan yang akan dilewatinya, Bianca membiarkan degup jantungnya kembali berpacu gila. Hingga detik itu terhitung mundur dari angka tiga, Bianca menarik napas sebelum mulai menekan gas ninjanya.
***
Titan masih memusatkan perhatiannya pada seorang gadis yang sudah meringkuk diatas ranjangnya.
Meringis, Titan memilih mengambil kompresan yang sudah disiapkan. Membilasnya dengan air hangat, lalu mendekati sahabatnya disana. "Tiduran gih, biar gue yang kompresin perut lo."
Menurut, Alana merebahkan diri. Membiarkan Titan mengompres perutnya, Alana tidak berhenti memandang cowok itu. Seperti tidak ada yang lebih indah selain perlakuan Titan terhadapnya. Berpikir bahwa ia bisa mendapatkan sosok itu lebih dari pada ini. Menginginkannya tanpa henti. Bisakah Titan mengerti? Sampai kapan mereka akan seperti ini?
"Apa, semua cewek kayak lo?"
Mengangguk, Alana meringis. Bagaimana Titan mengobatinya dengan sangat hati-hati membuat perasaan Alana jauh lebih hangat dari sekedar kompres yang ia rasakan. Ada apa dengan hatinya? Kenapa ia bisa mengagumi sosok itu? Menginginkannya lebih-lebih dalam lagi? "Semua cewek selalu kesakitan dihari pertama haid." jelas Alana lagi. Menjabarkan itu agar Titan mengerti.
Titan sendiri hanya manggut-manggut. Memang jatah bulanan, jadi Alana selalu seperti ini. "Gue dah bawain lo kiranti, sesuai pesanan." katanya. "Semua orang ngeliat gue tadi waktu beli ini."
Tertawa, Alana mendengus geli. Tapi, apapun yang terjadi, ia akan selalu menceritakan hal-hal kecil seperti ini pada Titan. Saat ia menangis karena jatuh, saat ia kesakitan karena haid, dan segala keluhan yang terus Alana katakan pada sahabatnya itu. "Lo gapapa, enggak jadi tanding?" tanya Alana kemudian.
"Menurut lo?" geram Titan. "Apa balapan lebih penting dari pada lo?" sambungnya. Sudah Titan katakan, tidak ada yang lebih penting selain Alana dalam hidupnya.
Diam. Alana bungkam dengan semua perkataan itu. Seolah-olah menamparnya bahwa ini bukan persahabatan yang masuk akal. Alana ingin lebih, Alana ingin lebih dari pada ini, lantas, tidak bisakah Titan melihatnya? Mengerti bahwa mereka seharusnya tidak terikat oleh persahabatan ini? "Maafin gue..."
"Ana, gue enggak masalah. Anak-anak juga ikutan semua malam ini." jelas Titan kemudian. Walaupun sangat disayangkan ia tidak bisa bertanding. Tapi sekali lagi untuk Alana, Titan mampu menukar apapun.
"Tedi, gue sayang lo." erang Alana kemudian. Menjelaskan pada Titan rasa sayang yang ia miliki. "Gue bahagia punya lo dihidup gue..."
"Gue juga Ana. Lo sahabat gue." sahut Titan kemudian. "Gue juga sayang sama lo."
Alana meringis lagi. Seperti pernyataan itu kembali menamparnya. Bahwa mereka, akan selalu menjadi dua yang seperti ini. Menerka-nerka tanpa pasti, dan tertampar pada kenyataan pilu, bahwa selalu ada keinginan lain pada setiap cerita. "Te--"
"Sahabat cewek lo juga ikut." kata Titan tiba-tiba. Entah kenapa ia mengatakan itu? Tapi apa yang terjadi terakhir kali saat Bianca disirkuit, membuat pikiran Titan tiba-tiba terlintas kesana.
Membulatkan mata, Alana mengerjap untuk memastikan pendengarannya. "Bianca??" tebak Alana langsung. Tidak susah untuk mengartikan siapa yang Titan maksud.
Titan mengangguk. "Enggak ada orang lain sebar-bar dia kan?" kekehnya santai. "Segila sahabat lo yang itu?"
Alana sendiri sudah menggeleng tidak percaya. Bianca--dia akan selalu punya cara untuk membuat mereka semua takjub. "Astaga, Bian. Buat apasih dia ikut-ikutan balapan liar gitu. Bahaya kan?"
"Asal dia enggak lewat batas. Everything ok gue rasa." kekeh Titan. "Lagi pula, enggak ada yang perlu lo khawatirin. Dia bakal baik-baik aja."
"Bianca tuh--gak bisa ditebak." ucap Alana lagi. Membayangkan bagaimana sahabatnya itu memiliki banyak kejutan. "Siapapun yang ngatain gue, yang ngatain Tata, dia bakal langsung pasang badan."
"Gue, enggak nanya." sahut Titan cepat. Dirasa cukup untuk membahas gadis gila itu. Jadi ia menjulurkan lidah pada Alana.
"Kenapa sih lo benci sama Bian?" tanya Alana pertama. Menaikkan kedua alisnya untuk menunggu jawaban. "Dia baik, dia sayang sama sahabatnya. Dia--"
Titan juga tidak mengerti. Menafsirkan segala hal yang ia bisa. Tapi benci bukan poin utama bagi Titan. Sebenarnya ia tidak benci, ia hanya malas setiap kali berhadapan dengan wanita itu. Jadi Titan mengedikkan bahu seraya berujar. "Ana, jangan banyak ngomong, gue enggak tega liat lo kesakitan lagi..." potong Titan cepat. Tidak tahu harus mengatakan apa, karena ia juga bingung.
Mengerucutkan bibirnya masam. Alana berdecak. "Enggak sakit lagi Tedi. Ini udah mendingan." ucap Alana.
Lalu Titan menatapnya garang, mengunci pandangan mereka dengan semua keinginan, dan terpenjara pada perasaan konyol itu.
"Serius, udah mendingan kok." sambung Alana lagi, meyakinkan. Lalu ia terkekeh setelahnya. Pembahasan mereka mengenai Bianca belum selesai. Alana harus mendapatkan jawaban atas itu. "Apa lo benci sama Bian, karena dia satu-satunya yang berani sama lo?"
Titan mengabaikannya. Mengedikkan bahu malas dan memilih untuk memberi perut Alana dengan polesan minyak kayu putih. "Jangan masuk aja kalau masih sakit."
Menghela napas panjang, Alana pula tidak punya pilihan. Tapi setiap sentuhan yang Titan berikan padanya berhasil membuat Alana membayangkan banyak hal tentang hubungan mereka. Lantas ia berujar. "Gue bukan lo yang doyan enggak masuk!"
Dengan Titan yang hanya mendengus.
Jika Titan terlalu terlewat santai, Alana menahan diri untuk tidak bertanya lebih banyak dari apa yang Titan katakan. Karena Alana tahu lelaki itu membenci Bianca. Setidaknya hanya itu yang dapat disimpulkannya. Ataukah Alana sudah salah mengartikan kebencian itu sendiri? Lalu, memilih untuk diam. Alana memperhatikan bagaimana perhatian Titan sepenuhnya untuknya.
Lantas, untuk apa semua yang Titan lakukan, jika tidak ada yang berubah di antara mereka??
***
Riuhan tepuk tangan memecah kemenangan Bianca malam ini. Sorakan bahagia silih berganti mengisi sekelilingnya. Setelah berhasil mendapatkan posisi pertama dan mengalahkan Raja, Bianca menyeringai puas.
Membuka helmnya, ia berlonjak saat para petinggi Carswell sudah memeluknya bergantian. Padahal dari jauh Bianca melihat bagaimana Raja ingin menghampirinya, tentu Bianca akan senang hati untuk membalasnya dengan sorakan angkuh, namun cowok itu memilih untuk berbalik badan dan kembali berlalu.
"t*i! Keren lo bi!" Arkan memuji pertama. Selalu bangga dengan semua yang Bianca lakukan. Pencapaian yang gadis itu berikan untuk membuat semuanya bangga.
"Gue dah hampir menang padahal..." kekeh Zidan tidak percaya. Menepuk pundak Bianca pelan, karena ia puas mendapatkan posisi ketiga. "Soo cool!" ucapnya pada Bianca.
"Hebat!! Lo benar-benar keren!" Gavin menambahkan. Memberikan jari jempolnya.
Menyeringai puas, Bianca mengedikkan mata. Setidaknya, kemenangan malam ini bisa ia gunakan untuk membantu Ayahnya. Kemudian menghampiri Aiden, Bianca memeluk cowok itu. "Makasih den, gue bakal bagi lo separoh untuk motornya."
Menggeleng, Aiden menatap gadis itu lekat. "Kagak perlu, gue tahu lo butuh duit. Ambil aja buat lo."
Bianca menggeleng cepat. Tidak akan. Ia sudah memutuskan untuk membagi hadianya jika mendapatkan posisi ini.
"Enggak, den. Gimanapun, gue tetep minjam motor lo." ujar Bianca lagi. "Gue tetep bakal kasi lo."
Membalas pelukan Biancan. Aiden berujar kembali. "Santai, anggap aja gue lagi baik hati."
Menguraikan pelukannya, Bianca tersenyum tulus. Paham betul dengan sifat petinggi Carswell yang satu ini. "Den--"
"Gapapa, jangan buat gue berubah pikiran." ancamnya. "Lo tahu kalau gue minta bayaran, gue kagak maen-maen." Yang langsung dibalas Bianca dengan kekehan geli.
Dan malam itu, semuanya bersorak untuk Bianca. Menerima hadiah uang tunai yang besar, Bianca tersenyum sepanjang malam.
Bergabung dengan para petinggi Carswell--Arkan, Aiden, Gavin dan Zidan menyambutnya hangat. Membiarkan tatapan iri para penonton terus berpusat padanya. Mereka mendambakan Bianca.
"Seharusnya Titan ada disini, biar dia enggak ngeremehin lo lagi." imbuh Arkan pertama. "Dia bakal malu sendiri liat cara lo main malam ini, Bi..."
"Raja kesal tuh mukanya." tunjuk Gavin pada sosok menyebalkan diujung mereka. Terkekeh geli.
"Kalau aja kagak jatuh, gue juga bisa jadi juara." sela Zidan kemudian. Tidak berhenti membanggakan dirinya.
"Halah, podium 3 juga udah keren. Riyak lo!" geram Aiden. Kesal.
"Tau lo, sialan. Lo gak perlu duit, lo perlu dipuja doang!" sindir Arkan setelahnya. Dengan mereka yang hanya terkekeh disana.
Lalu, seorang wanita berambut pendek sebahu berjalan mendekati mereka. Mengerutkan dahi, semuanya terdiam serentak. Memikirkan apa yang akan gadis itu lakukan, mungkin hanya sekedar modus biasa untuk mendekati para petinggi Carswell tersebut.
Hingga gadis itu bersuara, barulah semuanya ikut mendengarkan. "Lo Bian anak Danirian kan?" katanya pertama. Mengangguk, Bianca semakin tidak mengerti. Memahami apa yang salah dengannya.
"Nih, tadi cowok pakai kacamata disana nyuruh gue ngasi lo." katanya lagi.
Menerima itu, Bianca kembali menghela napas. "Mana orangnya?"
"Itu!" kata gadis tersebut. Menunjuk objek yang berada dikerumunan, lalu ia ikut menoleh kesana. "Gatau, dah pergi kayaknya. Dia cuma nyuruh gue kasi ini. Pakai kacamata orangnya." jelas gadis itu dan berlalu dari sana.
Membiarkan Bianca memperhatikan bingkisan buket bunga itu. Ia membaca secarik kertas yang ada didalamnya.
"Congratulation My Athena..."
Dan Bianca memilih untuk melempar bunga itu pada Gavin. "Buat lo aja, lumayan buat ngasi Tata."
Gavin menerimanya, menatapnya sesaat sebelum kembali membuangnya. "Ogah, gue bisa beliin Tata yang lebih oke dari ini."
"Cie, udah mau buka jalur nih?" ledek Arkan.
"Jalur apa? Jalur buat lo ke neraka?" sahut Gavin malas.
"Halah, lo jangan jadi Titan sama Ana deh. Suka sama suka, tapi gengsi mau mulai luan." sindir Arkan lagi.
Memilih mengabaikan itu, Gavin memutuskan untuk mengambil rokoknya, menghidupkan sebatang benda candu itu, yang di-ikuti oleh beberapa sohibnya yang lain.
"Siapa sih yang ngasi lo ini?" tanya Aiden kemudian. Masih penasaran pada buket bunga yang di terima Bianca. Lebih aneh lagi karena gadis itu langsung membuangnya tanpa banyak berpikir.
Mengedikkan bahu, Bianca menggeleng tidak peduli. "Orang iseng kalik." sahutnya malas. "Gue enggak suka bunga. Gue sukanya coklat sama duit."
Menoyor kepala Bianca, Aiden berdecak. "Sialan, semua orang juga suka duit." katanya. Dan keduanya langsung tertawa disana.
"Eh, Titan kesini kagak?" tanya Arkan lagi.
"Telfone gih." saran Zidan setelahnya.
"Bi, tolong telpone Titan. Hape kita ketinggalan." pinta Gavin.
Bianca sendiri langsung menggeleng cepat. Sialan. Untuk apa ia menghubungi setan yang satu itu?
"Gue?" tanya Bianca. "Ogah!"
"Yah, Bi! Bentaran doang, sini deh gue yang ngomong??" mohon Aiden. Memaksa Bianca.
Bianca tetap menggeleng kuat. "Gue enggak punya nomornya!"
"Digrup kelas, digrup kelas!" saran Arkan.
Memutar bola matanya jengah, Bianca tidak punya pilihan. Ke-empat berandalan ini terus memaksanya. Lantas mengambil ponselnya, ia menyerahkan benda pipih itu. "Kirim pesan aja, gue males mau nelfone tu setan."
Mereka tertawa, Bianca dan Titan sama-sama keras kepala. Sebesar apapun usaha untuk membuat keduanya mengalah, maka jawabannya tidak ada. Karena itu--tidak akan pernah.
Kebingungan sendiri, Aiden mengembalikan ponsel Bianca kembali sebelum berdecak. "Lo aja deh yang chat."
Lalu, mencari kontak si songong itu, Bianca mulai mengirimnya pesan dengan terpaksa.
Bianca Dialova
Lo ke sirkuit gak? Temen² lo nanya?
Bukan, bukan karena itu paksaan dari para sahabat Titan tersebut. Tapi karena Bianca juga sepertinya ingin menyombongkan diri atas kemenangannya malam ini.
Setan Sialan
Gue lg jaga Ana.
Aneh karena jawaban Titan berhasil membuat Bianca menghela napas panjang. "Dia enggak kesini, lagi jagain Alana." kata Bianca akhirnya.
"Alana lagi, Alana lagi..." erang Zidan. Menggeleng geli.
"Cinta ini....membunuhku..." Aiden bernyanyi. Menimpali.
"Kalau udah sama Alana, dunia cuma punya bedua." tambah Zidan. Akan selalu seperti itu setiap kali menyangkut Alana.
"Yodah, cabut yuk?" ajak Gavin akhirnya.
Semua mengangguk, menatap Bianca untuk memilih siapa yang akan wanita itu tumpangi. Tersadar, Bianca berujar. "Gue sama temen gue aja."
"Siapa? Sama gue ajalah Bi?" tawar Aiden, setengah memaksa. "Gue anterin dengan selamat kok."
Menggeleng, Bianca merapikan jaket kulitnya. "Gue punya banyak teman. Kagak usah khawatir."
Para petinggi itu tahu, tidak ada yang bisa melawan kehendak Bianca. Memilih untuk menaiki ninja masing-masing, mereka mulai meninggalkan Bianca.
Hingga punggung-punggung itu menghilang, Bianca ikut berlalu.
Namun, satu hal yang tidak Bianca tahu. Seseorang masih memantaunya, sejak ia pertama datang ke sirkuit bersama Aiden, dan setelah ia berhasil memenangkan pertandingan malam ini.
***