Pada perasaan yang sulit dimengerti itu, Bianca menepisnya berkali-kali. Menahan diri karena malam ini rasanya sangat tidak wajar.
Seperti ia dibuat kelimpungan dan bingung seorang diri. Tidak mengerti pada apa sebenarnya yang ia rasakan. Tapi keanehan itu tidak berhenti sejak ia terbangun dan menemukan Titan ada disampingnya. Juga ingatan mengenai pertempuran tadi, apa yang Titan lalukan untuk membinasakan Alex dan Ocean membuat Bianca terus mengingat kejadian itu didalam kepalanya. Seolah-olah setiap pukulan itu silih bergantian memenuhi ingatannya. Perkataan Titan, kemarahan dan kemurkaan yang dia perlihatkan, apakah Titan melakukan itu karena dirinya? Tapi Bianca menepis itu karena ia sadar bahwa Alana-lah alasan untuk semua kegilaan yang Titan lakukan.
Mengerucurkan bibirnya masam, Bianca turun dari angkot kemudian berjalan malas ke rumahnya. Tahu betul pertanyaan apa yang akan ayahnya lontarkan saat menemukan keadaannya seperti ini. Namun dari sekian banyak pertanyaan itu, Bianca mengacak rambutnya karena lagi-lagi ia membayangkan Titan sialan itu. b******n, songong, belagu, k*****t, setan! Dia pikir, Bianca akan mengganggu dinnernya? Huh! Lebih baik Bianca makan indomie sepuluh bungkus di rumah daripada harus merusak acara cowok itu dan Alana.
Menggeleng kepalanya, Bianca menepis pikiran konyol itu. Geli sendiri karena ia sudah berandai-andai sejauh itu. Lagi pula, untuk apa kemarahan yang ia tunjukkan? Sama sekali tidak ada gunanya.
Kemudian, Bianca memutuskan untuk masuk kerumahnya. Lalu detik selanjutnya ia membulatkan mata tidak percaya, menemukan ayahnya duduk pada sofa panjang ruang tamu mereka dalam keadaam terluka! Tidak, Bianca menggeleng cepat. Basir tidak pernah seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi? "AYAH!" pekik Bianca. Ia sudah berlari untuk duduk disamping ayahnya. Menatap Basir gamang, sementara kelopak matanya sudah berair. Bianca memang jagoan, sering melawan dan sebentuk keadaan yang mampu membuatnya bertahan dalam situasi apapun.
Tapi tidak dengan menemukan Basir terluka. Bagaimana wajahnya penuh lebam, Bianca tidak pernah tega untuk melihat itu. "Apa yang terjadi? Kenapa ayah lebam-lebam kayak gini? Siapa yang mukul? Siapa yang ngelakuin ini sama ayah??" geram Bianca panjang. Menanyakan itu bertubi-tubi ditengah kekhawatirannya. "Ayah? Ada apa sebenarnya?"
Basir terkekeh. Mengacak rambut putrinya, untuk menenangkan gadis itu. Lalu ia menangkup wajah putrinya lembut sebelum berujar. "Bian, kalau ayah begini, Bian bisa nebak kan apa yang terjadi sama orang itu?"
"Apa? Mereka jauh lebih babak belur?" tebak Bianca. Tapi bukan itu yang terpenting. Luka ini, karena apa? "Kenapa Ayah bisa sampai kayak gini sih?" erang Bianca.
Mengangguk, Basir berbisik. "Mereka bahkan sampai kabur waktu ayah belum selesai mukulin."
Menghela napas, Bianca menggeleng pelan. "Ayah mukulin orang lagi?"
"Mereka enggak mau bayar uang tagihan. Ayah enggak punya pilihan lain..." jelasnya. "Maafin ayah Bian, kalau enggak, kita enggak bakal makan..."
Bianca terdiam, tidak tahu juga harus bagaimana karena itu memang pekerjaan ayahnya. "Setidaknya ayah gak perlu sampai terluka kayak gini..."
Basir mengangguk. "Selanjutnya gak akan buat anak ayah ini khawatir, oke?" kekehnya pertama. "Jadi, bisa jelasin kenapa putri ayah ini juga sama babak belurnya dengan ayah?"
"Tadi sekolah Bian, tawuran." sahut Bianca akhirnya. Tidak pernah melewatkan cerita apapun kepada ayahnya. "Dan ayah pula bisa menebak apa yang terjadi."
"Yatuhan, kamu ikut tawuran???" potong Basir, membulatkan mata tidak percaya.
Bianca menggeleng tentu saja. Gila, dia masih perempuan terlepas dari kenakalan yang sering dilakukannya disekolah. "Bian nyamperin Ana, dia jadi sandera." imbuh Bianca. "Dan luka ini, Bian dapat karena nolong Ana."
"Terus? Bian kemana saja? Kenapa udah semalam ini baru pulang?" tanya Basir lagi, suaranya terdengar khawatir. "Kenapa juga bisa luka? Anak-anak itu mukulin Bian?" tebak Basir kembali.
Bianca mengangguk. Bukan maksud untuk membuat ayahnya khawatir. "Mereka mukulin Bian," erangnya. "Dan pulang selarut ini, karena Bian ke rumah Titan. Ada yang harus Bianca urus." katanya beralasan, tidak juga ingin Ayahnya khawatir karena tahu ia pingsan.
"Mau Ayah belikan obat diapotek?" tawar Basir kembali. "Nanti ayah belikan pereda nyeri sama anti lebam untuk Bian..."
"Enggak ayah," tolak Bianca. "Seharusnya Ayah beli untuk ayah sendiri. Penampilan ayah lebih kacau dari Bian."
Terkekeh, Basir mengangguk setelahnya. "Ayah masih punya stok parasetamol dikotak p3k. Nanti ayah minum itu." yakinnya. Menghela napas panjang Bianca mengangguk. Lalu ikut duduk disamping ayahnya. Masih menatap putrinya lembut, Basir kembali berujar meledek. "Setelah ayah pikir-pikir, Bian itu enggak sepenuhnya benci sama itu si Titan." kekeh Basir. Dia sudah menyelesaikan olesan zambuk pada semua luka lebamnya.
"Siapa bilang? Pokoknya Bian benci sama tuh setan!" tegas Bianca. Tetap menjunjung tinggi motonya.
Yang dibalas Basir dengan gelengan kepala geli. "Ayah jadi penasaran anaknya kayak gimana," katanya pertama. "Lain kali Bian bawa kesini ya? Kenalin sama ayah?"
Bianca tidak tahu ayahnya serius atau bergurau saat mengatakan itu, tapi Bianca menggeleng cepat. Kelewat cepat karena itu tidak akan pernah terjadi. "Yah! Bian benci sama tuh anak, ngapain coba Bian bawa dia kesini? Kecuali kalau ayah mau bonyokin mukanya, dengan senang hati bakal Bian bawa!" protes Bianca. "Lagian, mukanya mirip setan, enggak ada bagus-bagusnya, serem iya!"
"Kan ayah penasaran sama itu anak. Soalnya anak ayah ini ngomongin itu setan setiap hari. Atau, Bian su--"
"ENGGAK!" potong Bianca cepat. "Enggak pokoknya enggak!!" decaknya. "Ayah apaan sih, ayah yang suka mancing Bian buat ngomongin tuh setan!"
Basir terkekeh geli. Menelusuri wajah putrinya itu, menerka-nerka bahwa tebakannya tidak mungkin salah. Lalu ia memilih untuk menyimpan semua tebakannya, dan berujar. "Iya-iya, yasudah makan dulu sana. Bian pasti belum makan seharian ini?"
Bianca mengangguk cepat. "Ayah juga kan? Ayo, makan sama-sama."
Basir mengangguk, kemudian keduanya angkat dari duduknya. Menuju meja makan, lalu melanjutkan cerita mereka disana.
Setidaknya, Bianca tahu betapa ia bersyukur memiliki ayah seperti Basir.
Sosok paling mengerti dan juga memahaminya. Jika ada hal berharga yang harus ditukarnya didunia ini, Bianca akan tetap memilih Ayahnya.
Tidak terhitung sebanyak apa jatuh bangun yang Bianca dan Basir lewati. Tapi mereka berdua tidak pernah menyerah. Saat-saat terpuruk dan kesusahan, saat jatuh dan butuh pertolongan, hanya Bianca dan Basir yang melewati itu. Tanpa bantuan siapapun, oleh sebab itu, atas banyak hal yang bisa Bianca lakukan untuk mendapat uang, akan ia kerjakan demi membantu dirinya dan Ayahnya. Karena segala yang ia perjuangkan, hanya untuk Basir, agar Ayahnya tidak perlu kerja sekeras itu lagi.
***
Mungkin rumor bahwa Titan titisan dewa adalah benar. Terbukti dari pertempuran tadi, hanya Titan satu-satunya yang masih bertahan tanpa kesakitan. Hanya Titan yang bertahan tanpa keluhan meskipun ada beberapa luka goresan, tapi sama sekali tidak membuat sosok itu menyerah.
Tadi setelah mengantar Alana pulang ke rumah dengan aman, disinilah Titan akhirnya. Memarkirkan ninjanya asal, dia memasuki sebuah gedung tua tidak berpenghuni. Gelap, menyeramkan dan juga horor. Tiga aspek paling utama untuk mesdeskripsikan bagaimana gedung itu saat ini. Melangkah dengan santai dan memasukinya tanpa takut, Titan sudah menemukan ke-empat sahabatnya dan beberapa pasukan Carswell disana.
Basecamp Carswell. Tempat mereka berkumpul untuk memikirkan segala rencana dan strategi perang, sebuah tempat yang dalamnya sudah tertata rapi dengan beberapa perlengkapan.
Beberapa orang yang melintas pasti memilih untuk pergi mengingat betapa menyeramkannya gedung tersebut. Padahal mereka tidak tahu dalamnya sudah di tata dengan sangat indah dan juga menakjubkan.
Diki--seorang perawat panggilan yang rutin dibayar Titan, terlihat sedang membereskan beberapa pasukan yang terluka cukup parah.
"b*****t emang tu anak Ocean, benar-benar cari mati!" gerutu Arkan pertama. Menggeram karena tangannya terluka dan terkena goresan pisau.
"Enggak jera-jera, heran gue." tambah Gavin setelahnya.
Titan hanya terkekeh, tidak tahu juga harus bereaksi seperti apa.
"Iye, ketawa aje lo. Puas?" sindir Zidan kemudian. "Kagak adil banget sang dewa semulus ini."
Mengedikkan bahu, Titan menjalan mendekat. Merebahkan diri pada sofa panjang, lalu berujar. "Baru anak Ocean yang enggak ada apa-apanya udah ngeluh begini." kekehnya. "Dan gue juga luka nih," katanya menunjuk.
"Sialan!" potong Zidan cepat. "Kagak seberapa itu luka lo!" protesnya. Dan Titan tertawa puas dari tempatnya.
"Eh Dewa! Lo enak ya, Zeus--poseidon semua ngelindungin lo!" racau Aiden kemudian. Hanya untuk membuat suasana menjadi lebih cair.
"Enggak ada hubungan t*i, emang lo aja cupu!" singgung Titan.
"Udah, lagian pasukan Alex dah kabur kan? Kita menang. Jangan bacot lagi!" potong Gavin.
Lalu semuanya kembali hening. Aiden angkat dari duduknya, memilih untuk menghampiri Titan dan duduk disebelah sahabatnya itu. "Eh, Bianca baik-baik aja?"
Titan mengangguk sebagai jawaban.
"Lo bawa kemana tadi? Udah lo antar pulang?" tanya Aiden lagi.
Menoleh, Titan mengerutkan dahi bingung. "Dia bisa pulang sendiri, ngapain gue antar? Tuh cewek enggak mungkin diculik. Preman juga takut."
"Ye, setan! Udah tahu dia luka, anterin kek, lo tega banget dah jadi cowok." gerutu Aiden. Protes.
"Nungguin dia sadar udah nguras emosi, apalagi nganter tuh babi pulang, bisa perang gue!" jelas Titan malas. "Lagian Alana datang."
"Tapi lo nyuruh Arkan ngebawa Alana..." ledek Aiden kemudian. Menyeringai geli, "Gue pikir lo lebih milih neng Bianca."
"Najis! Itu karena dia pingsan, kalau dia sadar juga ngapain gue mau nolongin? Tawuran tadi tanggung jawab gue." decak Titan dan berlalu. Memilih untuk menyaksikan Diki mengobati yang lainnya, Titan menghidupkan rokoknya sambil berkeliling. Tidak ada habisnya jika sudah berdebat dengan Aiden.
"Eh, Tan!" tegur Diki pertama. Menoleh untuk melihat siswa luar biasa itu. "Ada yang mau gue obatin kagak dari lo?"
Titan menggeleng sebagai jawaban. Lalu memilih untuk menanyakan hal lain, ia menaikkan kedua alisnya. "Gimana? Ada yang parah?"
"Aman. Masih bisa gue tanganin." kekeh Diki. "Kagak perlu khawatir. Pasukan lo hebat-hebat nih,"
"Kalau kagak begitu, kagak akan gue terima di Carswell." kekeh Titan geli. "Pasukan gue seharusnya lebih tangguh lagi." decaknya. Menyindir. Lalu Titan melewatinya, memperhatikan beberapa adik kelasnya itu dengan gelengan kepala geli. "Masih kuat?" ledeknya.
"Siap! Masih bang!" sahut adik kelasnya serempak. Mereka tidak hanya menghormati Titan sebagai ketua, tapi juga karena Titan selalu bertanggung jawab atas banyak hal.
Titan tertawa puas. "Intinya berani, kalau lo berani, lo enggak akan mudah di tindas orang."
"Siap bang! Gabung sama Carswell, bikin gue banyak dapat pelajaran."
"Gue, enggak hanya buat lo jago berantem. Gue mau lo lebih paham artinya persahabatan." imbuh Titan. Lalu dia kembali berlalu. Titan tahu bagaimana orang-orang sering menganggapnya keterlaluan, tapi ia hanya ingin semua orang paham, bahwa Titan tidak akan meninggalkan teman-temannya, dalam situasi apapun.
"Mau balas dendam lagi nih sama anak Ocean?" tanya Arkan pertama.
Titan menggeleng. "Gak perlu, jangan buang-buang waktu kita untuk lawan cupu begitu."
"Tapi tadi gila banget, mereka nyandera Alana sama Bianca." geram Zidan. Mengingat pertempuran kali ini jauh lebih gila dari yang biasanya. "Mana bawa pisau lagi, jingan emang tu Ocean."
"Actually, just Alana. Si babi itu nambah beban." tegas Titan kemudian. Ia sudah menghidupkan sebatang rokoknya lagi, menikmati benda candu itu, lalu terdiam dengan seluruh pikiran gila itu. Tapi Zidan ada benarnya. Ingatan tentang Alex menyiksa Bianca tiba-tiba kembali mengaum dikepalanya. Dan Titan mengingat itu sambil berusaha menepisnya. Tidak tahu karena kemarahannya mendadak memuncak mengingat itu.
"Gila, enggak heran semua cewek segan. Bianca emang gila!" sahut Gavin kemudian. Membayangkan apa saja yang terjadi tadi siang kepada gadis itu.
"Udah, gue muak ngebahas tuh cewek mulu." potong Titan setelahnya. Tidak ingin kemarahan itu kembali memenangkan dirinya. Dan Titan memilih untuk memainkan ponselnya.
"Sensi amat mas," ledek Gavin. "Enggak buat tuh cewek ada disini meski lo omongin ampe berbusa," kekehnya meledek Titan.
Sementara Titan benar-benar tidak ingin mendengarnya lagi. Tapi bohong jika Titan tidak memikirkan perkataan Aiden dan Gavin tadi, karena selepas kepergian gadis gila itu, Titan hanya ingin tahu apakah dia sampai dengan selamat atau belum?
Lantas Titan memilih untuk mengabaikannya. Namun perasaan aneh juga mulai bersarang dihatinya.
***
Mengacak rambutnya frustasi, Titan tidak tahu bahwa perkataan sahabatnya akan membuatnya berpikir sejauh ini.
Mulanya tidak begini, hidup Titan seperti berporos hanya tentang Alana--gadis itu. Sahabatnya yang sudah sejak kecil menjadi satu-satunya teman Titan, mengingat orang tua mereka juga bersahabat.
Hanya Alana. Seolah-olah tidak ada yang perlu Titan pikirkan selain sahabatnya itu. Tapi segalanya mulai kacau karena pikiran Titan tiba-tiba terarah pada teman sekelasnya tersebut--Bianca, gadis gila yang terus membuat emosinya terpancing.
Bahkan, hingga Titan sampai ke apartemennya dan merebahkan diri di ranjang yang sama tempat mereka berbaring sebelumnya, Titan lalu membayangkan hal buruk terjadi pada gadis itu. Tapi seharusnya tidak, karena Bianca satu-satunya gadis pemberani yang Titan kenal.
Menghela napas, ia membuka grup kelasnya, mencari-cari nomor dan kontak Bianca dan mulai mengetik sebuah pesan. Tidak untuk apa-apa, hanya memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja, maka Titan akan selesai dengan itu.
Tapi semua orang tahu bagaimana Titan dan Bianca akan selalu berdebat karena ego mereka yang keras, jadi tidak heran, meskipun bertukar pesan, mereka akan terus bertengkar. Entah pada alasan apa sebenarnya itu terjadi, atau karena keduanya belum memahami satu dengan yang lain.
Bianca menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan kacau. Sejak pembahasannya berakhir dengan sang ayah, Bianca terus memikirkan banyak hal. Tentang semua hal buruk yang kapan berkesudah dan sebentuk harapan bahwa Bianca hanya ingin hidupnya mulus dan juga lurus.
Mungkin Bianca tahu keadaannya bukan waktu terbaik untuk iri pada orang lain, namun sekali saja Bianca ingin kebahagiaan itu bertahan barang sebentar. Bianca tahu, orang-orang mungkin menganggapnya gadis kuat. Gadis pemberani, dan sebentuk kebanggaan yang biasa Bianca berikan. Tapi orang-orang tidak pernah ingin tahu bahwa ada masanya Bianca lemah, Bianca rapuh. Dan ia butuh seseorang untuk mendengarnya, menjadi yang selalu ada untuknya. Dalam setiap ia butuh sesuatu dan juga bantuan. Bianca ingin sekali semua itu ia dapatkan.
Terbukti pula saat ini, Bianca sudah menepis air matanya kasar. Memikirkan sebanyak apa beban yang ayahnya lewati hanya untuk menghidupi mereka, Bianca selalu merasa bersalah untuk itu.
Namun, keterpurukan Bianca berhenti ketika sebuah pesan masuk dari ponselnya. Mengerutkan dahi, karena Bianca tahu siapa pengirim pesan itu. Tiba-tiba Bianca merasa tertantang, ia mengukir senyumnya, tidak tahu kenapa Bianca melakukannya, mungkin karena ia senang mengerjai Titan sialan itu, atau karena ada sesuatu yang lain.
Titan Deimos Kennedy
Lo udah sampai rumah?
Bianca Danilova
Siapa ya?
Titan Deimos Kennedy
Udah apa belum?
Bianca Danilova
Siapa sih? Aneh lo! Gajelas!
Titan Deimos Kennedy
Babi. Nyesel gue nanya.
Bianca Danilova
Oh, setan?? Gue pikir siapa.
Titan Deimos Kennedy
Sialan lo!
Bianca Danilova
Lo yang sialan!
Terkekeh, Bianca terpingkal geli. Setelah itu, tidak ada lagi balasan. Bianca tahu Titan pasti kesal, tapi ia senang mengerjai lelaki itu.
Dan entah kenapa pula, pesan dari Titan seolah membuatnya lupa pada detik terakhir kesedihannya. Lucu memang, tapi bagaimana jika Bianca mengatakan ia butuh seseorang untuk menceritakan kekhawatirannya? Mengatakan ketakutannya? Juga keinginannya? Tapi Titankah orangnya?
Lantas menggeleng cepat, Bianca menyadarkan dirinya. Titan tidak akan pernah menjadi sosok terbaik yang mampu menampung semua ceritanya. Juga tidak akan pernah ada yang bisa.
Akhirnya, memutuskan untuk menghubungi Titan lagi, Bianca mengirimnya pesan.
Bianca Dialova
Gue udah sampe, ngapain nanya-nanya?
Titan Deimos Kennedy
Anak-anak yang nyuruh gue nanya. Gue juga ogah mau tahu.
Bianca Dialova
Oh ya? Bagusdeh. Enggak penting juga buat lo tahu kan?
Titan Deimos Kennedy
Nah, itu lo tahu. Tumben pinter?
Bianca Dialova
Emang gue pinter. Sorry ye.
Titan Deimos Kennedy
Enggak lebih pinter dari gue?
Bianca Dialova
Dih, songong!
Btw, Alana mana? Udah lo anter pulang?
Titan Deimos Kennedy
Udah, gak ada yang perlu lo khawatirin kalau Ana sama gue.
Bianca Dialova
Buktinya, lo enggak mampu ngerebut dia dari Alex tadi siang.
Titan Deimos Kennedy
Itu karena lo ngancurin semua rencana gue!
Bianca Dialova
Enak aja, gue mau nolong Alana tahu!
Titan Deimos Kennedy
Nolong? Seharusnya lo pahami dulu kalimat itu.
Bianca Dialova
Tau ah, serah lo.
Dan pesan itu benar-benar berakhir. Dengan Bianca yang sudah mengerucutkan bibirnya masam diatas ranjang.
Sementara Titan, ia mengepal tangannya kuat, karena penyesalannya kentara sekali, menghubungi gadis gila itu, memang sebuah kesalahan. Titan bersumpah, ia menyesal karena mengkhawatirkan gadis gila itu. Seharusnya tidak perlu, lagi pula untuk apa?
Kemudian memilih menghuhungi Alana, Titan melakukan panggilan video bersama sahabatnya itu. Meminimasirkan kekesalannya, karena ia butuh untuk melihat sahabatnya tersebut. Setidaknya meyakinkan bahwa perasaan aneh itu tidak salah.
Alana sendiri sudah bersorak girang saat panggilan dari Titan memenuhi layarnya. Senang setiap kali Titan menghubunginya atau mengabarinya atas banyak hal. Lantas mengatur senyum diwajahnya untuk terlihat biasa saja, Alana mulai menerima panggilan itu. "Apa? Udah pulang dari basecamp?" tanya Alana pertama, ia sudah terbaring diatas ranjangnya. Setelah balik dari apartemen Titan, Alana masih memikirkan cowok itu. Membayangkan betapa gilanya kejadian hari ini, lalu mencoba menerimanya karena setiap kali bersama Titan, ia merada aman dan juga tenang. Karena Titan akan selalu melindunginya.
Dari sebrang sana Titan mengangguk.
"Barusan aja pulang, ngeliatin anak-anak." sahut Titan kemudian. Dan benar, melakukan panggilan dengan Alana membuat senyumnya mengembang sempurna. Seperti tidak ada perasaan aneh yang harus ia khawatirkan.
Alana menghela napas lega. "Bagusdeh, enggak usah pergi lagi." pesan Alana. Menaikkan sebelah alisnya karena Titan sejak tadi terus menggodanya.
"Iya, gantinya--besok pergi sekolah bareng gue ya?" tawar Titan setelahnya. Tidak tahu apa sebenarnya sebutan untuk mereka. Tapi Titan murni menyayangi Alana, karena gadis itu adalah sahabatnya.
Menggeleng cepat, Alana menolak. "Ogah, gue enggak mau datang telat. Pergi sama lo bisa ngelewatin dua mata pelajaran."
Titan terkekeh dari tempatnya. Alana adalah sang juara, mengajak gadis itu untuk melewati gerbang belakang juga bukan perkara mudah. Karena itu tidak akan pernah terjadi. "Gue bisa bawa lo lewat gerbang belakang, nyusup tanpa ketahuan, dan lo bakal--aman."
"Enggak Tedi, gue di antar aja. Gue bukan Bianca yang ratunya telat kek lo." singgung Alana. Tetap bersikeras karena ia tidak mau berangkat bareng Titan.
Titan menghela napas panjang. Kenapa Alana malah membicarakan gadis bodoh itu? Pembicaraan mengenai Bianca adalah sesuatu yang paling dihindarinya saat ini. "Kenapa jadi tuh cewek gila? Huh. Susah banget mau pergi sekolah bareng." rajuk Titan akhirnya.
Tapi wajah masam Titan malah membuat Alana tertawa puas. "Makanya, kalau mau pergi sekolah bareng, jemputnya juga tepat waktu." timpal Alana. "Lo aja bangunnya udah jam berapa, gimana mau ngajak gue pergi bareng coba?"
"Ya lo tidur sini aja diapart gue, nginep. Nanti gue izin sama Om Sean." rayu Titan. "Mereka pasti izinin kok."
Alana menggeleng. Tertawa puas dari sana. Titan ini, apa dia tidak memikirkan apapun atas ajakan yang baru dikatakannya? Oke, mungkin itu bukan hal yang sulit baginya. Tapi tidak dengan Alana, bagaimana ia bisa tetap tenang setiap kali bersama Titan? "Otak lo!" sahut Alana geli. "Gue punya rumah, ngapain gue nginep di apart lo yang berantakan itu?"
"Ya buat bangunin gue lah," sela Titan cepat. "Supaya bisa berangkat sekolah bareng lo," sambungnya. Titan sudah menatap gadis itu tajam. Titan tidak tahu perasaan apa yang ia punya untuk Alana, selain bahwa ia nyaman bersama gadis itu. Karena Alana adalah segalanya dan karena gadis itu adalah sahabatnya.
Tapi malas membahas itu lagi, Alana memilih untuk membahas yang lain. Ketika ingatannya berputar saat menemukan Bianca ada diapart Titan tadi. "Gue masih kaget setiap bayangin Bian di apart lo." kata Alana kemudian. Tidak tahu kenapa ia mengatakannya, entah itu sesuatu yang baik atau karena ia sedikit tidak suka. Tapi menepis itu Alana menggeleng, Bianca sahabatnya. Seharusnya ia tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Lagi pula, tidak ada apa-apa antara Titan dan Bianca kan?
Memperhatikan Alana dengan tatapan penuh selidik, Titan berdecak. "Kenapa? Cemburu?" katanya menggoda.
Cepat Alana menggeleng. "Dih, ngapain? Gak guna!" sahut Alana ketus.
Meninggalkan Titan yang menyeringai puas. "Tidur sana, jangan cemburu mulu. Jelek..."
"Gue, enggak cemburu Tedi!" tegas Alana setelahnya, ia mengerucutkan bibirnya masam.
"Iya, lain kali enggak buat cewek ini cemburu lagi." kekeh Titan. Dengan Alana yang sudah menggeleng tidak percaya.
"Goodnight, Ana." kata Titan. Alana mengangguk dan mengulum senyumnya. Lalu panggilan terputus.
Jika Alana masih mengatur degup jantungnya, Titan bahkan terus memperhatikan wallpapernya yang sudah terpampang wajahnya dengan Alana waktu mereka kecil. Seolah-olah dunia mereka hanya berporos pada titik itu. Kebahagiaan.
***