Ada sebuah perhatian paling bodoh yang terus terjalin, sebuah keinginan untuk memiliki, namun paling berat dalam mengutarai.
Perhatian konyol yang terbukti selalu ada dalam persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Seperti saat ini, kedatangan sang titisan dewa dan primadona SMA Danirian, tengah menjadi pemandangan hangat semua orang yang melihatnya. Terlahir sebagai anak pemilik perusahaan terbesar, membuat keduanya menjadi topik utama setiap harinya.
Sebuah deruan kagum dan iri mendominasi setiap pengutaraan seluruh siswa Danirian. Gambaran kedua orang itu pula selalu menjadi alasan betapa banyak siswa Danirian yang ingin bertukar posisi.
Bagaimana kedua orang itu membungkam siapapun yang melihatnya, karena mereka pasangan yang cocok. Lalu hal itu akan ditepis karena pernyataan bahwa keduanya berdiri hanya sebatas sahabat. Tapi bodoh jika semua orang tidak melihat bagaimana sorot menginginkan dari tatapan masing-masing mendominasi dalam diri keduanya.
Bagaimana seluruh perhatian dan pandangan itu seolah-olah hanya berpijak pada satu tempat. Pada satu ruang yang terus berharap, juga pada satu dan lainnya yang masih tidak mengerti pada apa yang dirasakannya.
Apakah persahabatan itu murni, atau ada hal lain yang mendominasi asas-asas keberadaan keduanya. Tapi tatapan menginginkan itu pula tidak bisa mengingkari, tidak bisa menjadi alasan bagaimana semua itu bisa terjadi. Lantas atas alasan bahwa persahabatan merekalah yang menjunjung itu semua, semua orang juga tertawa karena sama sekali bukan itu yang dapat mereka temui.
"Yatuhan, gue berasa kutu ada disekolah ini." rengek seorang siswa berambut sebahu. Matanya tidak lepas memperhatikan semua perhatian Titan pada Alana. Merungut, karena sang pentolan tidak akan pernah menyadari keberadaannya.
"Apalagi gue? Gue mungkin hanya sebutir debu atau abu atau sebongkah esbatu, atau apapun yang enggak terlihat." sahut temannya yang lain. Masih meringis saat memperhatikan Titan membawa Alana dalam rengkuhannya.
"Cocok banget udah, Kak Titan sama Kak Alana tuh satu kesatuan paling sempurna tau gak sih?" tambah siswa yang lainnya. Matanya juga tidak lepas memperhatikan objek yang kini menjadi tontonan banyak siswa diDanirian.
"Bahkan kak Megan yang menang kontes tercantik di sekolah juga kalah sama kak Alana." sambung salah satunya. Mengerjap, seolah-olah tidak percaya betapa indah dan sempurnanya seorang Alana.
"Lagian siapa yang milih kak Megan sih? Cantikan kak Alana menurut gue." gerutu yang lain lagi. Tidak berhenti membanding-bandingan kakak kelas mereka sendiri.
"Iya, bener. Cantikan kak Alana. Baik, cantik, pinter. Sempurna banget gak sih woi?" erang yang satu lagi. Menggeleng tidak percaya. "Saingan kita tuh berat..."
"Eh, sorry. Tapi gue lebih suka liat Kak Bianca sih." potong yang satunya. Benar-benar melenceng dari semua yang teman-temannya itu bicarakan. "Jago, berani, keren. Dia panutan gue juga!"
Sontak perkataan gadis itu membuat semua temannya yang disana menoleh tidak percaya. Seperti meneliti gadis berkacamata itu apakah dia salah lihat? Atau apakah kacamatanya tidak berfungsi dengan baik? Bagaimana dia bisa memilih Bianca disaat semua yang terbaik ada pada Alana?
Tapi sang gadis tetap pada pendiriannya. Menghela napas panjang, ia menatap temannya satu-persatu. Kemudian berdecak. "Ya kan menurut gue. Kalau kalian suka liat kak Alana yaudah. Lagian satu Danirian emang suka kak Alana kan?" kekehnya. "Itu tadi pandangan pribadi gue aja, kalau gue lebih suka liat kak Bian. Enggak ada yang aneh kan?"
"His, lo suka yang barbar begitu? Kak Bian itu kasar, nyeremin, garang. Galak." sambung gadis yang berambut sebahu tadi. Lalu yang lain ikut mengangguk serempak, menyetujui.
"Itu makanya! Kak Bian itu satu-satunya yang langka!" sahut cewek berkacamata itu lagi. Masih tidak ingin mau kalah.
"Aneh banget." geleng mereka. Masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu. "Lo coba deh perhatiin baik-baik, betapa sempurnanya kak Alana? Baik. Pinter. Cantik. Paket lengkap."
Sang gadis berkacamata mengangguk. Memang benar, tapi apa salahnya jika kesukaan mereka berbeda. "Iya, emang gue bilang kak Alana jelek? Enggak kan?" helanya. "Udah deh, lihat kak Alana udah mau deket tuh."
Mengangguk, mereka langsung menyudahi pembicaran itu karena Alana dan Titan sudah terlihat mendekat.
Hingga Titan dan Alana lewat, semuanya membungkuk serempak sebelum berujar. "PAGI, KAK ALANA!"
Tersenyum, Alana mengangguk sebelum melambaikan tangannya. Terkekeh karena perlakuan adik kelasnya tersebut membuatnya geli. "Pagi juga..."
"Cantik banget kak pagi ini."
Alana sendiri sudah terkekeh. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa selain tertawa karena ia sudah sering mendengar itu semua. Bukan maksud menyombong, tapi memang seperti itulah faktanya. "Makasih ya," kata Alana akhirnya.
Dan adik kelasnya tersebut mengangguk dan tersenyum girang. Membuat Alana terkekeh. Sementara Titan hanya menggeleng malas.
"Mereka bahkan enggak berani manggil lo!" kekeh Alana. Menyinggung Titan, karena ia mengerti seperti apa Titan disekolah ini bagi seluruh adik kelasnya. Tidak ada yang benar-benar berani menyapa atau mendekatinya. Karena Titan terlalu sulit bagi mereka untuk didekati. Auranya memang selalu semenakutkan itu.
Titan hanya mengedikkan bahu tidak peduli. "Gak penting. Dasar mereka aja kurang kerjaan. Pagi-pagi udah ngerumpi."
"Titan! Mereka tuh mungkin aja lagi bahas sesuatu." potong Alana. Selalu berpikiran yang baik setiap Titan menyuarakan tuduhannya.
"Bahas sesuatu?" kekeh Titan. "Iya, tapi mata mereka enggak lepas dari kita sejak datang tadi!"
"Lagian itu karena mereka kaget ngeliatin lo enggak telat!" potong Alana cepat. Masih bersikeras. "Bisa aja kan?"
"Oh ya? Jadi, gue harus berterimakasih sama nih cewek disebelah gue?" sindir Titan. Menaikkan kedua alisnya menantang.
Alana menyeringai. Mendekat, ia menyimpan kedua telunjuknya dipipi Titan, memutar jarinya disana sebelum berujar. "Makanya, muka cakep ini dikasi senyum dikit..." ucapnya. "Kayak gini nih..." lanjutnya seraya memberi toyoran dikedua pipi Titan.
Menahan kedua tangan Alana, Titan menatap gadis itu tajam. "Enggak perlu senyum buat orang lain. Senyum gue tuh sepenuhnya buat lo!" katanya, lalu ia mengacak rambut Alana pelan. "Gue kegudang dulu, masuk kelas sana."
Haruskah Alana katakan bahwa perlakuan Titan mampu membuatnya mengulum senyumnya malu-malu? Tapi menetralkan itu, Alana menatap Titan tajam. Mengerutkan keningnya seraya berujar kembali. "Jam pertama bu Nana. Ngapain lagi sih kegudang?" protes Alana kemudian. "Masuk kelas aja, nanti kena hukum lagi. Ini udah bagus-bagus dateng awal, malah mau kegudang. Nanti dihukum dikiranya lo telat, seneng banget ketemu sama bu Nadine."
Titan tertawa dari tempatnya. Menggeleng geli karena Alana malah mengomelinya. Mendekat, Titan menangkup wajah Alana dengan kedua tangannya. Menatap wanita itu lekat sebelum berbisik. "Mau ngerokok, sebentar doang. Sekalian nyamperin anak-anak, habis itu gue naik, huh?" ucapnya. "Lagian, kita udah berangkat bareng loh. Masih aja lo kangen? Gue cuma pergi bentar kok."
Memukul perut Titan kuat, Alana menggeleng cepat. "Sembarangan aja, siapa coba yang kangen sama lo? Dih!"
"A-ah, jadi enggak kangen nih? Lagian, ditinggal bentar doang, udah ngomel-ngomel..." ledek Titan, ia sudah menjulurkan lidahnya geli. "Tapi gemes banget sih lo."
"Lagian loh tuh ya, masih pagi juga udah mau ngerokok." gerutu Alana kembali. "Enggak baik buat kesehatan. Pagi-pagi tuh sarapan, minum s**u. Makan roti."
"Ya tadi kan udah dirumah lo?" kata Titan, masih tidak mau kalah. "Emangnya tadi dirumah lo gue enggak sarapan?"
Menghela napas panjang, Alana mengangguk pasrah. Lagi pula benar kata Titan, mereka sudah sarapan tadi dirumahnya. Untuk apa omelannya pagi ini? Titan juga memang setiap hari seperti ini. Lantas menatap Titan galak, Alana berujar kembali. "Yaudah deh sana, habis sebatang langsung balik kelas. Ajak anak-anak juga, oke?"
Mengangguk hormat, Titan berdecak bangga. "Oke sayang," kekehnya.
Alana sendiri sudah menggeleng tidak percaya, sementara Titan sudah berlalu. Alana tidak berhenti untuk menatap Titan hingga punggung cowok itu menjauh. Alana menahan dadanya, mengulum senyumnya, karena perkataan Titan berhasil membuat jantungnya berpacu tidak normal.
Itu juga terasa sejak Titan datang menjemputnya sekolah. Meminta izin pada orang tuanya, lalu mengutarakan segala hal yang membuat Alana semakin memahami perasaannya. Ataukah Titan juga merasakan yang sama?
Alana menahan senyumnya. Pacuan gila dihatinya membuat Alana menyimpulkan ini, gila karena semuanya sudah mulai tidak wajar. Seperti persahabatan mereka tidak ada apa-apanya karena perasaan itu.
Lantas bolehkah Alana menaruh harap? Bolehkah ia menunggu hingga saat itu tiba? Saat Titan semakin yakin pada apa yang ada diantara mereka? Haruskah Alana menunggu lebih keras lagi? Bersabar lebih dalam lagi? Hanya untuk perasaan yang semakin hari, membuat dadanya berpacu gila?
Atau, haruskah Alana yang lebih dulu mengatakannya? Menyadarkan Titan bahwa persahabatan mereka bukankah harus lebih dari pada itu?
Tidak ada yang salah bukan? Saat Alana mengatakan bahwa ia sudah terlanjur jatuh cinta?
***
Suasana kelas yang kacau dan juga riuh selalu mendominasi setiap kali guru belum masuk kelas. Bel sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu. Pelajaran pertama belum juga dimulai.
Dan hanya kelas ini--12 IPS 3 yang selalu di-isi dengan bangku kosong terbanyak, mengingat para pembuat onar itu belum juga masuk kelas. Beberapa anak yang lain sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Beberapa memilih untuk mengacaukan seisi kelas dengan memainkan permainan yang tidak jelas. Seperti lempar spidol, lempar bongkahan kertas dan banyak yang lainnya. Atau memang seperti itulah masa terbaik putih abu-abu.
"Eh, Bian belum datang?"
Tata dan Alana menoleh serempak, menaikkan sebelah alisnya pada cowok berkacamata itu sebelum mengedikkan bahu.
"Lo kayak gak tau Bian aja." kekeh Tata pertama. "Emang Bianca pernah datang tepat waktu??
Benar. Evan mengangguk menyetujui itu. Tidak pernah ada dalam kamusnya bahwa Bianca--teman sekelasnya itu akan datang tepat waktu. Jadi ia hanya membalas dengan anggukan mengerti.
"Masih dijalan palingan, kenapa?" Alana berujar, menambahkan.
Evan sendiri sudah menggeleng, sebelum kembali memainkan ponselnya. Memang tidak ada yang penting, ia hanya ingin menanyakan Bianca perihal beberapa hal.
Kemudian Tata menatap Alana. Memperhatikan sahabatnya itu sebelum berdecak. "Na, telfone Bian deh. Kemarin dia nyariin lo." seru Tata pertama. Polos. Karena ia masih tidak tahu apa yang terjadi. Ralat, karena belum ada yang memberitahunya apa saja yang terjadi kemarin.
Alana sendiri sudah membulatkan mata. Terlonjak karena Tata tidak tahu apa saja yang mereka lewati kemarin. "Astaga, Bian belum cerita?" decak Alana. "Kemarin gue sama dia jadi tawanan anak Ocean." jelas Alana setelahnya. "Ada tawuran di Taman utama."
"WHATTT??" pekik Tata tidak percaya. Mengerjap, ia sama sekali tidak tahu apa-apa. "God! Bian baik-baik aja???"
Alana mengangguk. "Dia pingsan kemarin. Titan nolongin."
"HAH?!" teriak Tata lagi. "Seorang Bianca pingsan? Gue enggak percaya."
"Kita tungguin aja, terus dengar cerita tuh anak." putus Alana setelahnya. "Gue juga belum dengar dari sisi Bian." sambungnya. "Lagian lo taukan Bian sama Titan kayak Tom and Jerry?" kekeh Alana kemudian. Geli sendiri setiap mengingat Bianca dan Titan selalu bertengkar. Tapi menemukan sahabatnya itu berada diapartemen Titan membuat Alana tidak bisa membayangkan apa saja yang terjadi. "Gue enggak tahu apa aja yang mereka berantemin."
Tata mengangguk. Menyetujui. "Tapi--setelah dipikir-pikir, Titan sama Bian tuh selalu ketemu dalam situasi yang salah gak sih?" ucap Tata pertama. Sudah mulai meracau tidak jelas. "Kayak, mereka tuh ditakdirin buat terus terjebak ditempat yang sama, tapi dalam keadaan kacau."
Alana sendiri sudah menggeleng tidak mengerti. Tidak paham atas apa yang diracaukan sahabatnya itu. "Paan sih Ta? Gue enggak ngerti."
Menghela napas panjang, Tata berujar kembali. "Gini, maksudnya tuh Titan sama Bian, sering banget terjebak dalam situasi yang enggak wajar. Tawuranlah! Gerbang belakang, diruang BK, dihukum dilapangan bareng," jelas Tata kemudian. "Ngerti kan maksud gue? Kayak mereka tuh emang ditakdirin gitu."
Alana mengerucutkan bibirnya masam. Menggeleng tidak suka dengan apa yang dikatakan Tata. Tentu saja Titan dan Bianca sering bertemu, mereka objek utama biang onar di Danirian. "Ya lo kan tahu sendiri Titan sama Bian tuh sering ngelanggar banyak aturan disekolah!" decak Alana kemudian. Memutar bola matanya jengah.
Lalu menyadari perkataannya salah, Tata terkekeh setelahnya. "Enggak, maksud gue takdir mereka berdua tuh buruk." ralat Tata pertama. "Tenang ajalah, Titan enggak bakal juga suka Bianca. Yang ada mereka cakar-cakaran tiap hari." sambungnya. Mengatakan itu karena Alana salah pahan atas apa yang dikatakannya.
"Ta--" tegur Alana. Wajahnya kembali serius, menatap sahabatnya tajam, sebelum berujar. "Apa menurut lo Titan juga suka sama gue?"
Tata mengerjap, menyeringai geli dan menyahut. "Juga?? Apa barusan lo jelasin kalau lo suka sama sahabat lo yang satu itu???" kekeh Tata. Meledek. "Ana--akhirnya, gue denger pengakuan lo juga!!" sambungnya girang.
Alana menggeleng. "Apasih, gue nanya doang."
"Ckck. Ana, ana. Lo tuh hobi banget nyembunyiin perasaan lo." ledek Tata kemudian. "Satu sekolah. Ralat. Satu dunia juga tahu lo berdua tuh saling suka."
Alana meneguk ludahnya. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa, karena perkataan Tata seperti menghantamnya. Tapi, Alana masih berusaha mengelak itu. Tidak ingin salah paham lebih dulu jika perkataan Tata memang benar, bahwa Titan dan dirinya memiliki perasaan yang sana. "Enggaklah, Titan tuh sahabat gue dari lahir."
Tata tertawa keras. Menggeleng geli karena Alana masih berusaha menghindari itu. "Sumpah, lo masih aja gamau ngaku." tuduhnya. "Lo pasti tahu, enggak ada persahabatan antara cewek sama cowok yang gak ngelibatin apapun."
Benar. Harus Alana akui bahwa semua yang dikatakan Tata adalah kebenaran. Memang tidak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Selalu ada perasaan itu timbul meski kita berusaha mengelaknya. Tapi Alana tetap tidak ingin mengakui itu. "Ta, udahdeh. Capek gue ngomong sama lo." elak Alana akhirnya. Menghindar.
Tapi Tata masih gencar menggoda sahabatnya itu. Tidak akan berhenti. "Itu terbukti, lo langsung cemburu waktu gue ledek Titan sama Bian."
"Enggak, siapa yang cemburu? Enak aja!" decak Alana. Menggeleng cepat. Ia hanya tidak suka bahwa Tata mengatasnamakan pertemuan Titan dan Bianca adalah sebuah takdir. Atau karena Alana memang ingin menentang itu. "Udah deh, males gue."
"Iya deh iya, enggak. Kalau gitu gue aja yang deketin Titan, gimana?" tawar Tata. Mengedipkan sebelah mata menggoda.
Yang dibalas Alana dengan pelototan tajam. "Coba aja kalau lo berani."
"Mundur deh, Titan bukan levelan gue." sela Tata lagi. Sejak awal pula Titan bukan objek utama yang diinginkannya di Danirian.
"Terus, levelan lo yang gimana? Gavin??" balas Alana meledek. Tahu bahwa itulah yang dimaksud sahabatnya tersebut.
Tata tersedak sebelum memukul pundak sahabatnya pelan. "Na, ah! Diem-diem, sialan!"
Mengedikkan mata Alana tersenyum menggoda. "Gue laporin Gavin nih..." kekehnya. "Apa tadi kata lo? Diem? Heh, satu kelas juga udah tahu ya lo suka sama Gavin!"
"Ana! Gue tabok lo ya!" ancam Tata. Walaupun tahu Alana tidak akan mengindahkan itu.
"Coba aja, yang ada lo yang ditabok Titan. Dia mana tega ngeliat sahabatnya digangguin." sahut Alana bangga. Selalu menjadi poin utama untuk membawa-bawa nama Titan disaat seperti ini.
Lalu, baru saja Tata ingin menjawab, suaranya terhenti karena Bu Nana--guru Sejarah mereka sudah memasuki kelas.
***