X. Sentuhan Tidak Terduga

2509 Words
Tidak ada yang tahu perihal kemana kita akan melangkah. Atau apa yang kita temui setelah lelah. Tapi satu yang tak pernah berkesudah, ada suatu hal dalam kejadian yang berakhir indah. Bianca baru saja berhasil mendarat dengan sempurna setelah lompat dari gerbang belakang sekolahnya. Tadi mendapati ayahnya yang tidak ada di rumah, membuat Bianca meringis karena ia pasti terlambat lagi kali ini. Lalu merungut karena ia harus menunggu angkot dan bersabar dengan semua keterlambatan hari ini. Bianca hanya merapalkan doa dalam hati. Berharap bahwa bu Nadine tidak memanggilnya ke BK lagi. Atau kedatangannya kali ini berhasil ia lewati dengan baik seperti sebelumnya. Walaupun Bianca hampir saja ketahuan, tapi lagi-lagi kadang keberuntungan sering mengiringi langkahnya. Semua pesan dan deringan panggilan pula sudah Bianca abaikan sejak tadi. Bianca tahu bahwa itu Tata atau Alana, lagi pula tidak ada yang pernah menghubunginya selain dua sahabatnya tersebut. Eh satu lagi, Bianca hampir lupa--secret admirernya. A-ah, bicara soal secret admirernya itu, Bianca harus mengatakan bahwa sosok itu sepertinya tidak pernah berhenti untuk mengusiknya. Tidak pernah lelah dalam mencoba untuk mendekatinya. Tapi bukan Bianca namanya jika ia peduli. Bianca sendiri tidak ingin memusingkan dirinya atas segala hal yang secret admirernya itu lakukan. Mengabaikannya setiap kali adalah pilihan terbaik daripada meladeni. Lantas mengabaikan itu, Bianca hanya memikirkan bahwa hari ini ia akan lolos dengan selamat. Jadi sepanjang perjalanan pula Bianca memikirkan banyak hal yang akan dijadikannya sebuah alasan jika sampai ia dihukum atau ditanyai lagi. Jam pertama, Bu Nana. Maka Bianca tidak perlu terlalu mengkhawatirkan itu. Lagi pula, memang tidak pernah ada yang menjadi kekhawatiran Bianca kan? Kecuali satu, teriakan pak Didi yang merupakan satpam SMA Danirian kali ini. "HEIIIIIIII!" Membulatkan mata, Bianca menoleh sesaat, menggeleng tidak percaya, karena sialan Pak Didi berhasil menangkapnya. Kelimpungan sendiri, Bianca memutuskan untuk berlari. Sangat cepat demi melindungi dirinya sendiri. Tidak, tidak boleh, Bianca tidak akan berakhir bertemu bu Nadine lagi. Bukan itu yang ia inginkan atas keterlambatannya kali ini. Dan satu keberuntungan yang masih ia miliki adalah karena pak Didi rabun. Itu sebabnya, satpamnya itu tidak mengetahui siapa yang diteriakinya kali ini. Lagi pula, ada belasan siswa dalam sehari yang melompati gerbang belakang ini. Jadi Bianca tidak perlu khawatir pak Didi akan menduga itu dirinya, karena untuk saat ini yang harus Bianca lalukan adalah berlari sekuat dan semampu yang ia bisa. Menelusuri ruangan belakang yang melewati wc cowok, koridor yang berbelit-belit, lorong yang berputar-putar, Bianca berlari tidak tentu rudu. Mengecoh pak Didi agar satpamnya itu kebingungan dan kelelahan. Bainca hanya butuh memikirkan banyak cara untuk lolos kali ini. Persetan jika gerakannya hanya berporos pada lorong-lorong belakang itu. Bianca harus membuat pak Didi lelah agar satpamnya itu berhenti. Hingga ada satu ruangan yang menjadi pusat perhatiannya, Bianca tahu itu tempat anak-anak Carswell, mengerti bahwa disanalah para pembuat onar itu sering berkumpul, ia memilih untuk menyelinap dan memasuki gudang belakang tersebut. Karena Bianca sendiri sudah kelelahan untuk berlari lagi. Setidaknya, melindungi dirinya untuk saat ini adalah yang terpenting. Mendorong pintu itu kasar, lalu menutupnya keras, Bianca menghela napas panjang sebelum menyenderkan tubuhnya dibelakang pintu. Lama ia terdiam sembari mengatur napasnya, lantas menengadahkan kepalanya, Bianca berlonjak saat menemukan Titan sudah berdiri dihadapannya. Terlonjak, Bianca membulatkan mata sebelum berteriak. "Ngapain lo?!" bentak Bianca pertama. Masih mengatur degup jantungnya karena lelah berlarian sejak tadi. Titan terkekeh pertama. Menyilangkan kedua tangan diatas dadanya, sebelum menaikkan alisnya. "Ngapain kata lo?" sahut Titan tidak mau kalah. "Ini gudang tempat anak Carswell ngumpul, btw. Dan lo, datang-datang langsung teriak-teriak?" geram Titan. Gila, apa gadis gila ini memang tidak pernah tahu diri? Bianca pula menepuk kepalanya. Benar, ini gudang adalah milik Carswell. Gudang yang sudah ditandai sebagai tempat terbaik untuk mereka mengatur strategi disekolah. Jadi Titan tidak salah. Bianca lah yang salah sejak awal memilih tempat ini. Lantas menatap Titan, ia berujar. "Gue kabur dari pak Didi." kata Bianca akhirnya. Menghela napas panjang karena kejaran pak Didi benar-benar menyulitkannya. Titan tersenyum mengejek. Menggeser tubuhnya, sebelum membiarkan Bianca kembali membulatkan mata. Menemukan banyak sekali siswa Danirian yang masih bertengger santai disana. Bianca menggeleng tidak percaya. Dasar. Para berandalan itu. "Ng-ngapain lo semua enggak masuk kelas?" "Lo sendiri?" sahut mereka serentak. Sama sekali santai setiap kali berbicara dengan Bianca. Dan lagi-lagi karena itu Bianca. Cewek penuh kejutan yang sering mereka jumpai untuk sekedar meledek atau menggodanya. "Udah dibilangin gue ngindarin pak Didi." erang Bianca kemudian. "Gue telat." katanya, menjelaskan alasan itu disana. Bianca menggeleng takjub. Tidak habis pikir pada pemandangan yang sedang dilihatnya. Beberapa temannya dan juga adik kelasnya memilih untuk diam digudang itu tanpa berniat pergi. Tanpa berniat untuk masuk kelas, padahal Bianca tahu bel sudah berbunyi sejak tadi. Tapi mereka semua masih saja terlihat santai. "Kak Bian, kenapa telat mulu sih? Demen banget lompat gerbang belakang." Dono, anak kelas sebelas itu menyuarakan pertanyaannya. Mengerjap menatap Bianca, karena gadis itu selalu membuatnya terpukau. Bianca sendiri sudah mengedikkan bahu malas. "Gue juga enggak mau telat, kok." kata Bian akhirnya. "Tapi malah telat mulu?" Fajar, anak 12 Ips 4 ikut menimpali. Terkekeh. "Bian, Bian," godanya. "Lo seneng banget deh kayaknya ketemu bu Nadine." "Ya kali," kata Bianca malas. "Kagak ada seneng-senengnya t*i, gedek yang ada." sahutnya. Membuat semua yang ada digudang tertawa geli. "Lagian, telat bangun mulu alasannya." Atlas, anak 12 IPA 1 ikut bersuara. "Mau gue bangunin nggak? Siniin nomor hape lo." Menggeleng, Bianca memberi lelaki itu jari tengah sebelum berdecak. "Jadi pembantu gue aja lo kalau gitu." singgungnya. Dan gelak tawa langsung pecah memenuhi gudang. Selalu saja, Bianca memang tidak pernah lepas dari pusat perhatian. Atas semua yang gadis itu lakukan, dan segala hal yang membuat semua orang berdecak kagum karenanya. Bianca akan selalu dikenal dengan gadis gila dan bar-bar yang Danirian miliki. Mungkin itu tidak akan pernah berakhir, karena namanya akan selalu dikenang hingga nanti. Titan sendiri tidak ingin melihat Bianca ada disana. Lantas memusatkan perhatiannya kepada gadis itu, ia berdecak. "Pergi lo!" usir Titan kemudian. "Keluar dari gudang ini sekarang." Bianca mengerucutkan bibirnya masam. Memutar bola matanya jengah, "Nanti dulu, gue lagi sembunyi dari pak Didi!" tekannya kembali. Setan sialan ini, apa dia tidak mengerti apa yang Bianca katakan? "Emang gue keliatan peduli?" tukas Titan tajam. Sama sekali tidak penting apapun alasan gadis itu berada disini. "Bukan urusan gue," Bianca semakin menatap Titan keki. Lagi pula, ini milik sekolah, siapapun berhak memasuki gudang ini. Ya walaupun orang tua Titan donatur terbesar disini, tidak ada alasan untuk Bianca tidak boleh datang. "Paan sih lo," geram Bianca kemudian. "Bikin kesel aja." "Gue bikin kesel?" tawa Titan. Gadis gila ini, setelah tidak tahu caranya berterimakasih, dia malah menodongnya kembali. "Bener-bener satu spesies sama babi deh lo," "Ya, sodara-sodara gue tuh." sela Bianca. "Puas lo?" Gavin memekik dari sana, menyeringai geli karena perdebatan Titan dan Bianca malah menjadi tontonan menggemaskan. "Kagak ada capek-capeknya lo bedua." "Capek, Vin." sahut Bianca cepat. "Tolongin dong kasi tahu sahabat lo ini mulutnya jangan kebanyakan bacot." Titan memotong cepat. "Eh, elo tu yang banyak bacot!" Arkan benar-benar mengerjap tidak percaya. See? Titan dan Bianca tidak akan pernah berhenti. "Asli, lo sadar kagak sih, lo bedua tuh malah kelihatan cocok?" Arkan, ia ikut menimpali dengan cengiran menggoda. Zidan pula sudah mengangguk dari tempatnya. Menyetujui. "Hal-hal kecil aja lo perdebatin." ledeknya. Mengabaikan itu, Titan menggeleng. Lantas ia mendekat, berusaha untuk meraih gagang pintu, berniat untuk mengusir Bianca secepat dan semampu yang ia bisa, tapi terlambat ketika pintu gudang lebih dulu dibuka secara kasar. Membuat Bianca tersentak dan terdorong, hingga tubuhnya bertubrukan dengan Titan, Bianca spontan memeluk punggung Titan, dan ia oleng hingga keduanya terjatuh kelantai. Titan sendiri tidak sigap karena kejadian itu mendadak sekali. Tubuhnya tidak kuat menahan pijakan, dan Titan berakhir ikut terjatuh. Membulatkan mata, semua yang berada di gudang ikut terlonjak. Bagaimana pemandangan dua orang dihadapannya, membuat mereka berdiri--kikuk. Tidak juga dapat berbuat banyak karena itu benar-benar mengejutkan. Titan dan Bianca terjatuh dengan posisi paling fatal karena bibir Bianca ikut menempel pada bibir Titan. Bahkan Aiden yang mendorong pintu masih mematung diambang pintu. "HELLLLLLL!" pekiknya. Hingga detik yang beradu itu membuat Titan dan Bianca tersadar. Titan mendorong tubuh Bianca, hingga membuat gadis itu meringis karena ia dilempar Titan kasar kesamping. "Setan sialan!" rutuk Bianca. Merapikan seragamnya, Bianca berdiri dengan gusar. Sementara Titan sendiri sudah angkat, ikut membersihkan seragamnya. Aiden menggeleng tidak percaya. "APA YANG LO BEDUA LAKUIN????" pekik Aiden lagi. Tersadar karena pemandangan barusan masih menghantuinya. "Bodoh! Itu gara-gara lo ngedorong pintu!" protes Bianca pertama. Menoleh, Titan mendapati keterkejutan dari wajah semua orang disana. "APA!" teriaknya berang. Lalu semua menundukkan kepala. Dan pengecualian hanya berlaku untuk para petinggi Carswell. Aiden, Gavin, Zidan dan Arkan terkekeh geli. Tertawa puas karena pemandangan itu tadi membuat semuanya bersorak. Menyeringai ganas, Titan menatap satu persatu sahabatnya dengan galak, membuat ke-empat sahabatnya itu segera membungkam mulutnya. Tapi percuma karena erangan ledekan tidak berhenti mereka suarakan. Titan dan Bianca masih berdiri pada posisi yang benar-benar kikuk. Setelah apa yang terjadi, keduanya sama-sama tidak mengerti harus bereaksi seperti apa. Titan sendiri sudah mendekat, menatap Bianca lekat, membiarkan gadis itu memperhatikannya. Hingga pandangan mereka beradu ditengah sana, Titan ingin Bianca melihat tepat dikedua manik matanya. "Ayo luruskan--ciuman sialan tadi!" tandas Titan pertama. Sama sekali tidak menyangka hal itu bisa terjadi. Bianca sudah menggeleng cepat. Sangat cepat. Gila, apa setelah terjatuh tadi otak Titan semakin tidak terkendali? "Apasih? Enggak sengaja! Temen lo tuh yang dorong pintu!" sahut Bianca tidak suka. Seolah-olah ia menerima itu, seolah-olah Bianca lah penyebab ciuman itu, padahal Titan tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. "Ya lo siapa suruh masuk kesini b**o?!" sahut Titan malas. Benar-benar geram, karena bertemu gadis gila itu seperti sebuah kesialan. Membuatnya terus menerima banyak hal tidak terduga. "Lo budeg atau gimana sih?? Udah gue bilang gue ngindarin pak Didi!" balas Bianca gusar. Gedek sendiri karena Titan tidak juga mengerti. Menggeram, ia menatap Titan tidak suka. "Lo juga, ngapain mau ngeraih pintu? Gue bisa buka sendiri kok." sambungnya tidak terima. "Tangan gue masih berfungsi baik asal lo mau tahu." Dan perseteruan itu tidak berhenti begitu saja. Bianca dan Titan masih saling sahut-sahutan tanpa ada yang mau mengalah. Membuat semua yang disana mengulum senyumnya, menahan geli karena perdebatan Titan dan Bianca selalu menjadi tontonan seru. Padahal mereka tidak tahu, Titan dan Bianca berdebat karena detak mereka masih saling sahut-sahutan dan tidak karuan. Titan sendiri tidak akan menyerah atas apa yang Bianca terima dari bibirnya. Jadi ia tetap mempertegas bahwa gadis gila itu penyebab semua ini. "Lo bisa masuk wc, ke ruang ganti yang ada, sembunyi dikantin, kenapa malah kesini?!" kata Titan lagi. Mendesak gadis gila itu untuk segera mengakuinya. "Ini bukan tempat terakhir yang seharusnya jadi tujuan lo." Menghela napas panjang dan berat, Bianca menggeleng tidak percaya. "Eh setan, gue lagi panik. Udah deh, kayak gini doang lo permasalahin. Aneh lo!" balas Bianca tidak suka. Apasih sebenarnya yang Titan inginkan? Bianca juga tidak ingin masuk kegudang ini jika ia masih punya tujuan lain. "Harus gue permasalahin lah." imbuh Titan. "Lo gila! Lo nyium gue t*i!" sela Titan tidak suka. "Najis!" decak Bianca. "Gue juga ogah nyium lo! Gila lo!" sambungnya tidak percaya. "Kalau mau marah, lo marah Aiden. Dia yang ngedorong pintu, kenapa malah nyudutin gue?" Menggeram, Titan menarik seragam Bianca kasar. Membawa gadis gila itu mendekat sebelum membiarkan wajah mereka sejajar. Benar-benar begitu dekat. Sangat dekat. Hingga napas mereka mengudara disana. Sampai kehangatan dari helaan Titan menyadarkan Bianca. Ia mendorong tubuh Titan kasar, menatap cowok itu tajam dan memilih pergi dari sana. Tidak tahu sebanyak apa perdebatan yang akan terjadi, karena Titan benar-benar sialan! Titan menyudutkannya, padahal semuanya terjadi karena Aiden. Menahan kekesalannya Bianca hanya mengumpat sepanjang koridor. Persetan. Tidak peduli jika akhirnya ia harus dihukum. "GILAAAA!" pekik Zidan girang. Terkekeh karena pemandangan tadi masih terbayang jelas dikepalanya. "Sakit jiwa lo!" "Lo mau nyium Bianca lagi?" sambung Gavin setelahnya. "Benar-benar dah lo!" "t*i, gue berasa nonton drama!" tambah Arkan kemudian. "Ini tuh udah tahap k*****s," kekehnya. Lalu Aiden melangkah cepat, memukul pundak sahabatnya sebelum berujar. "Gue gak nyangka, lo sama neng Bia--" "Bacot!" putus Titan. Berbalik badan, ia kembali menatap satu persatu semua orang di dalam gudang. "Gue hampir mau mukulin tu cewek sialan!" "Gila lo, Bianca cewek." decak Aiden lagi. "Paan sih, biasa aja kale." Aiden b******n. Dia pikir Titan bisa biasa aja disaat sentuhan tadi membuatnya hampir hilang kewarasan? "Emang ada cewek modelan gitu?" kata Titan akhirnya. Menggeleng. "Bae-bae lo. Nanti suka." kekeh Arkan. Masih tidak berhenti meledek. "Roda tuh berputar." "Benci jadi cinta. Kayak lagu Kekeyi. Huh?" timpal Zidan. Ikut menyorak girang. "Itu bukan boneka t*i! Bukan benci jadi cinta." sahut semuanya serempak. Lalu gudang dipenuhi gelak tawa para pembuat onar tersebut. Tapi Titan meringis. Menggeleng geram, ia berujar "Keluar lo semua!" titahnya. Para adik kelas dan yang lainnya mengangguk, berdiri untuk berlalu. Pengeculian hanya untuk ke-empat petinggi utama tentu saja. Mereka masih terkekeh untuk menggoda Titan. Namun langkah yang lainnya terhenti ketika Titan berujar. "Jangan sampai apa yang terjadi barusan kedengaran Alana. Paham?" "Siap! Paham bang!" jawab adik kelasnya serentak. Dan tatapan tajam yang Titan berikan, benar-benar berhasil membungkam semuanya. *** Selalu ada kekacauan yang menjadi ingatan pada setiap rentan kejadian yang tidak disengaja. Seperti saat ini, Bianca bahkan menghiraukan seluruh lukanya, mengingat bagaimana ciumannya dengan Titan tadi lebih memenuhi isi kepalanya. Memilih untuk melewatkan jam pelajaran pertama, Bianca duduk pada bangku panjang yang tersedia di Taman belakang Danirian. Menghela napas panjang, Bianca berusaha mencari udara segar, karena sejak tadi pikirannya hanya berporos pada kejadian tidak terduga itu. Bianca tahu ini tidak benar, ini juga bukan ciuman seperti yang Bianca harapkan. Tapi itu adalah neraka. Bibirnya seperti direbut paksa pada hal konyol itu. Bianca tidak mengerti, tapi benar-benar sialan karena kejadian itu ia tidak diberi waktu untuk berpikir lebih jernih lagi. Membuka ponselnya, Bianca menemukan banyak sekali pesan dari Tata disana. Mengabaikannya, Bianca menyimpan kembali ponselnya. Merebahkan diri pada bangku panjang taman tersebut, ia memejamkan mata. Gila, karena dalam otak yang lelah, Bianca hanya terbayang sentuhan kecil bibir Titan tadi menguasai dirinya. Namun menepisnya, Bianca menggeleng kuat. Tidak boleh, Bianca tidak boleh terlena karena setan yang satu itu. Hell! Sialan! Bianca benar-benar sudah terjebak ditempat yang salah sejak tadi. Lalu, ketika pukulan pelan dikepalanya menyadarkan Bianca, ia tersentak. Duduk, ia menemukan Tata sudah menyeringai dihadapannya. "Ish! Tata! Apaan sih?!" rutuk Bianca kesal. Tata terkekeh. Duduk di sebelah sahabatnya sebelum berujar. "Lo ngeread chat gue doang! Siapa suruh?!" "Lo bawel banget abisnya." sahut Bianca kesal. "Apa lagi?" "Siapa suruh lama dateng. Telat lagi?" tebak Tata. Tidak tahu harus bagaimana lagi meladeni sahabatnya yang satu ini. Bianca mengerucutkan bibirnya masam, lalu mengangguk pasrah. "Sumpah, lo gila. Setiap hari aja lo telat, ketahuan bu Nadine baru tahu rasa. Mau diskors lagi?" "Nah kan, baru juga gue bilang. Bawel banget tau enggak lo! Pusing gue!" rutuk Bianca. "Gue izin ke wc buat nyamperin lo. Bukannya disambut, malah di omel. Tega benget!" ringis Tata. "Siapa suruh nyamperin gue?" sela Bianca. Tidak merasa bahwa ia membutuhkan sahabatnya itu. Tata sendiri sudah memukul lengan sahabatnya itu, menatap Bianca masam, lalu berujar. "Yuk ah masuk kelas, ada yang mau lo ceritain kan?" tebaknya. Berdiri, Bianca mengangguk. Membiarkan Tata berada disampingnya, ia mulai menceritakan kejadian kemarin. Tentu saja hanya sampai situ, karena Tata akan heboh jika Bianca menceritakan apa yang baru saja terjadi. Lagi pula Bianca juga masih tidak mempercayainya. Sentuhan itu...seperti membuatnya gila. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD