Untuk setiap tatap yang penuh arti.
Ada banyak hal yang akan membuat kita mengerti.
***
Bel istirahat sudah berbunyi, maka Bianca akan bersyukur karena pelajaran Sejarah tadi berhasil ia lewati tanpa di hukum. Dengan semua aktingnya yang menjijikan dan semua alasan yang tidak masuk akal, Bu Nana akhirnya mempersilahkan Bianca untuk masuk dan juga duduk. Mungkin karena beliau sudah terlalu muak untuk mengomeli Bianca lagi.
Dan kini, semua siswa sudah berhamburan keluar. Menyisakan Bianca, Alana, Tata dan Titan, beserta ke-empat petinggi Carswell yang lainnya. Mereka masih bertahan di kelas, tidak juga ada yang angkat dari duduknya, sebab belum ada yang berbicara.
Oh iya, Titan dan anak-anak yang lain pula sudah dipersilahkan masuk tadi oleh bu Nana. Karena kelima pembuat onar itu sudah merayu sang guru dengan segala pujian yang membuat bu Nana pasrah dan malas meladeninya. Lantas cara terbaik memang membiarkan para pembuat onar itu untuk segera duduk ditempatnya.
Kini, hanya tinggal mereka berdelapan didalam kelas. Tapi suasananya sangat mencekam. Apalagi Titan dan Bianca, setiap kali mata mereka bertemu, segalanya semakin kikuk dan juga tidak terkendali. Namun Gavin, Aiden, Zidan dan Arkan memilih untuk menahan kekehannya.
Tata sendiri sudah celingak-celinguk. Bingung. "Kenapa sih?" kata Tata pertama. Kepo sendiri karena mereka hanya diam-diaman seperti orang bodoh. "Kenapa jadi diam-diaman begini?"
Alana juga sama. Ia mengedikkan bahu karena Titan juga tidak mengatakan apa-apa. "Hu'uh, tahu. Kenapa sih?" sambungnya kemudian. "Lo, kenapa lo senyam-senyum Vin? Gak jelas banget." tegur Alana kemudian.
Gavin menggeleng. Menormalkan kembali wajahnya, sebelum menyahut. "Lah, senyum doang gue enggak boleh?"
"Aneh tau enggak? Kek mau mangsa orang lo!" protes Tata. Tidak menemukan titik terang karena para petinggi Carswell tersebut hanya terus mengulum senyumnya. Seperti ada yang tengah mereka sembunyikan.
"Mangsa lo, mau?" potong Gavin. Menatap Tata lekat untuk menggoda gadis itu. "Sini kalau mau..."
Lalu Tata menggeleng malas. Memutar bola matanya jengah, karena Gavin hanya senang menggodanya. b******n itu. "Kagak. Males banget gue sama lo."
"Yakin malas?" ledek Gavin. Menjulurkan lidahnya menggoda. Sementara Tata hanya membulatkan mata galak.
"Tan, kenapa sih?" kata Alana kemudian, heran sendiri. Kesal karena mereka berada dalam tatap penuh kebingungan disana. Tidak ada juga yang bergerak. Mereka seperti orang bodoh yang kelimpungan.
Titan menggeleng sebelum meraih tangan Alana, lalu berujar. "Enggak ada apa-apa, yaudah ayo ke kantin. Gue laper."
Kemudian Titan dan Alana berlalu, sementara Gavin, Aiden, Arkan, Zidan dan Bianca masih saling pandang-pandangan.
Bianca menggeleng, memohon agar ke-empat b******n itu tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak ingin Tata heboh jika sampai para petinggi Carswell itu meledekinya.
"Ih kenapa sih?" gerutu Tata setelahnya. "Ayo ah kekantin aja nyusulin Titan sama Ana? Yuk?"
Mengedikkan bahu Bianca pula langsung angkat dari tempatnya. Menyusul. Sementara Arkan, Aiden, Zidan dan Gavin mulai mengikuti dari belakang.
"Aneh banget gak sih tadi?" kata Tata lagi.
Bianca menoleh, mengedikkan bahu dan berujar. "Apanya yang aneh? B aja!"
"Ish Bian! Lo ini!" protes Tata. "Aneh tahu, ngapain coba pada liat-liatan enggak jelas? Bukannya kekantin malah latihan hipnotis." gerutu Tata lagi. Dengan Bianca yang sudah terkekeh disebelahnya.
"Ta, lo sih enggak lihat kejadian paling epic sepanjang sejarah Danirian." Gavin menimpali dari belakang. Dengan kedua tangannya yang sudah tersimpul rapih disaku celananya. Ia terkekeh geli.
Begitu pula Arkan. Ia sudah mengangguk girang. Menyetujui perkataan sahabatnya. "Asli Ta, ini kalau lo tahu bakalan rame sih,"
"Gue sampe enggak tahu harus gimana selain melongo dan membulatkan mata tidak percaya," tambah Aiden, sengaja menggunakan bahasa baku untuk menghiperbolakan keterkejutannya.
"Seharusnya gue rekam aja gasih tadi?" Zidan ikut menimpali. Mengedipkan sebelah mata menggoda pada Bianca.
Bianca sendiri sudah menghentikan langkahnya, menoleh dan menggeleng tidak percaya, ia memberi pelototan agar keempat b******n itu berhenti meledeknya. Sialan memang. Tapi disini kenapa Bianca yang harus bersemu menahan malunya? "Ngomongin apa sih lo?" geram Bianca kemudian. "Jalan aja kekantin, jangan ngoceh. Berisik banget." sambung Bianca sensi.
Dan itu sukses membuat Arkan, Aiden, Gavin dan Zidan tertawa keras. Sementara Tata masih menggeleng tidak mengerti. "Emang ada apa sih sebenarnya?" tanya Tata polos.
Para petinggi Carswell serentak menatap Bianca. Menaikkan kedua alisnya menggoda, tapi Bianca sudah menggeleng dari tempatnya.
Barulah Gavin berdecak geli. "Enggak ada apa-apa sih, seneng aja liat lo kebingungan Ta. Bikin gue gemes."
"Gemes pala lo!" potong Aiden cepat. Dan Tata hanya menggeleng malas sebelum menarik Bianca lebih cepat lagi. Bianca pula akhirnya sudah bernapas lega.
Jika Titan dan Alana sudah memimpin perjalanan menuju kantin, Tata dan Bianca berada tidak jauh dibelakang keduanya. Zidan, Gavin, Arkan dan juga Aiden sendiri sudah berada tidak jauh dibelakang Bianca dan Tata. Suatu hal yang biasa karena mereka sekelas, jadi--tidak heran menemukan para pengacau 12 IPS 3 itu berbondong-bondong bersama menuju kantin.
Tata sendiri kembali memelankan langkahnya dengan sengaja. Berdecak pada Aiden, Arkan, Zidan dan Gavin ia berujar. "Kapan sih, sahabat lo itu ngasi kepastian sama sahabat gue?" tanya Tata pertama. Meneliti keempat lelaki itu siapa tahu menemukan jawabannya. Tapi tidak ada tirik terang. Tata sendiri sudah menghela napas panjang. Merasa percuma.
Gavin menyahut pertama. Mengedikkan bahu. "Tanya sama Titan, kalau lo nanya kapan gue ngasi kepastian sama lo, sekarang juga gue bisa." goda Gavin. Mambuat siulan mengejek terus berdatangan.
"Tancap teros Vin, tancap!" pekik Zidan heboh.
"Jijik gue," Arkan menimpali menggeleng tidak percaya.
"Jangan mau sama bekantan modelan gitu, Ta." Aiden menambahkan. Membuat Arkan, Zidan dan Bianca tertawa keras. Memenuhi sebagian lorong.
Bianca pula sudah menyunggingkan senyumnya. Girang karena keempat cowok itu sudah berhenti menggodanya. "Sa ae lo besi berkarat!" timpal Bianca geli.
Membuat Gavin mendengus, tapi ia tetap santai. Tidak berhenti untuk menggoda Tata. Aneh, karena Gavin pula senang memperhatikan gadis itu diam-diam. Tapi tidak bisa pula dipungkiri dengan gelarnya yang playboy, Gavin memang senang menggoda banyak perempuan.
"Neng Bian, jangan ngatain Mas Gavin kayak begitu dong!" Aiden memotong, ikut meledek. "Masa cakep-cakep dikatain besi bekarat..."
"Ye biarin, masih cakep lah dari bekantan." kekeh Bianca. Tawanya meledak-ledak. "Astaga, geli banget gue. Sabar ya Vin!" pekiknya. Tapi selanjutnya Bianca kembali berdecak.
"Lagian lo itu playboy cap kakap. Semua cewek aja lo gombalin!" rutuk Bianca. Menggeleng tidak percaya, "Ini sahabat gue, udah urutan cewek keberapa yang lo gombalin?" sambung Bian, mengatasi tawanya untuk meminta kejelasan. Paham betul bahwa Gavin sering bermain-main.
Gavin memotong kemudian. "Tapi, gimana ye kalau hati gue cuma terarah buat sahabat lo itu?"
Meringis, Bianca berdecak tidak percaya. "Wlee!" kata Bianca muak.
"Vin! Vin, udah deh. Buaya emang lo!" decak Zidan dari belakang.
"Ta, sama gue aja. Mau?" tawar Arkan setelahnya.
Menatap sinis cowok itu, Tata menggeleng. "Najis!"
Lalu gelak tawa tidak berhenti menghiasi koridor yang tengah mereka lewati. Hingga Titan dan Alana berhenti mendadak, ke-enamnya juga melakukan hal yang sama. Titan dan Alana menoleh sesaat dan menatap bingung karena Aiden, Arkan, Zidan, Gavin, Tata dan Bianca tidak berhenti tertawa disana.
Tapi bukan itu yang membuat langkah mereka terhenti. Melainkan karena ada dua orang adik kelas mereka yang mendadak menghentikan langkah Titan dan Alana didepan sana.
"Buset, gila juga nyali tuh anak." Zidan menggeleng tidak percaya. Tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Sementara Gavin, Arkan dan Aiden mengangguk menyetujui. Tata dan Bianca pula sudah melipat kedua tangan didada, menunggu dan memperhatikan apa sebenarnya yang adik kelasnya itu inginkan.
Semua orang tahu Titan tidak suka diusik. Mengerti bahwa sang pentolan itu tidak suka diganggu atas apapun yang terjadi. Juga tidak pernah menyukai siapapun yang berani mendekatinya secara terang-terangan.
Bukan, bukan karena Titan semena-mena. Tapi ia tidak ingin menyulitkan siapapun atas keinginannya. Apalagi yang bukan keinginannya. Tentu Titan tidak akan menyukai itu.
"Kak Titan, ini buat kakak..." seorang cewek berambut pendek sebahu menyerahkan sebuah coklat pada Titan. Ditemani salah satu temannya, kedua cewek itu masih menundukkan kepala dalam. Sebuah hal nekat yang tengah mereka lakukan dengan nyali yang entah berada dimana.
Titan sendiri sudah menggeleng tidak percaya. Menghela napas panjang sebelum berdecak malas. "Lo berdua ngapain? Gue enggak suka coklat." kata Titan malas. Memutar bola matanya jengah, karena ia muak terus menerima semua itu. Titan tidak perlu apapun dari semua orang yang menyukainya. Karena ia bisa membeli itu sendiri. Lagi pula, bukankah menyukai orang lain hanya membuang-buang waktu? Apalagi sampai memberikan banyak-banyak barang seperti ini?
Takut-takut, yang menyerahkan coklat tadi mulai menarik tangannya perlahan. Menahan tangisnya, karena penolakan Titan benar-benar menghantamnya.
"Tedi--" ucap Alana. Menatap Titan dengan gelengan payau. Alana masih disana untuk membuat Titan memahami.
Tapi Titan tidak juga peduli. Baginya, hal seperti ini malah menghambat langkah mereka. "Apa Ana? Lo mau? Bukannya lo enggak suka coklat juga?" tanya Titan, menoleh pada sahabatnya itu. Tidak sedikitpun memperhatikan kedua adik kelasnya tersebut yang sudah terdiam kaku.
"Jangan kayak gitu, ah." erang Alana setelahnya. "Terima doang, yang lain kan pasti mau." sambungnya meyakinkan.
Titan mengedikkan bahu malas. Tetap pada keputusannya. Karena jika Titan menerima itu dengan mudah, coklat-coklat dan yang lainnya tidak akan berhenti masuk kelokernya. Dan itu pula menyulitkan Titan. "Gue mau ke kantin. Jadi, lo berdua bisa minggir." tegas Titan kemudian. Jengah sendiri. "Coklatnya bisa lo makan berdua aja. Jadi silahkan pergi, atau mau gue tabrak?"
Tidak ada yang pernah mampu berhadapan dengan Titan. Kebanyakan orang memilih mundur. Memilih untuk memperhatikan sosok itu dalam diam, atau cukup mendoakannya saja. Titan begitu sulit untuk mereka gapai, sifatnya, kesongongannya, juga keangkuhannya, tapi tidak banyak yang benar-benar berhenti setelah ditolaknya. Ada beberapa yang masih berusaha memberi coklat atau apapun, walaupun akhirnya Titan hanya akan membagikan itu semua pada seluruh teman-temannya.
Konyol memang banyak dari mereka menyukai Titan dengan sorot kekaguman yang tidak bisa dihindari. Tapi sebenarnya, jika mereka mengenal dan mengetahui sifatnya, Titan sama sekali tidak layak untuk mendapatkan simpati atau semua perasaan suka itu.
Lantas menurut, dua adik kelasnya tersebut memilih menyingkir dengan posisi menunduk. Tidak juga berani melawan, karena mereka lebih baik mundur daripada dipermalukan lebih daripada ini. Namun kedua adik kelasnya itu berlonjak saat coklatnya ditarik. Menengadahkan kepalanya, keduanya kembali membulatkan mata tidak percaya.
"Buat gue aja. Gue laper." kata Bianca pertama. Memberi aba-aba agar kedua orang adik kelasnya itu pergi secepatnya. "Lain kali, jangan ngasi nih setan makanan. Kasi aja sampah." geram Bianca setelahnya. Perkataan Titan, perlaluan cowok itu, apa Titan memang tidak pandai menghargai hal-hal kecil seperti ini?
Mengangguk patuh. Yang memberi coklat tadi berujar payau. "I-iya kak Bian, buat kakak aja coklatnya." kata adik kelasnya tersebut, lalu berlari dari sana. Tapi Bianca tahu bagaimana adik kelasnya itu terlihat sudah menahan tangisnya. Entah itu karena malu, atau karena cara Titan menolaknya sangan tidak manusiawi. Menoleh, Bianca menghadang Titan dan Alana didepan. Menatap Titan dengan sorot tidak percaya dan juga penuh kemarahan.
"Aduh, perang lagi nih." kekeh Zidan pertama. Tahu bahwa akan selalu seperti ini pada akhirnya.
Arkan mengangguk geli. Waktu yang mereka habiskan bersama memang lebih banyak diliputi dengan pertengkaran dan perdebatan antara Titan dan Bianca. "Cocokan Bian sama Titan, atau Alana sama Titan?" Arkan memberi voting setelahnya.
Terkekeh geli, Gavin menambahkan. "Alana lah, gila kali lo."
Aiden tidak mampu lagi menahan kekehannya. Benar-benar semua orang tahu bagaimana Bianca dan Titan setiap kali dua orang itu berhadapan.
"Neng Bian, kagak berhenti buat Titan damai sehari aja." sambung Aiden geli.
Tata ikut menghela napas panjang. Capek sendiri melihat perdebatan sahabatnya itu. "Gue takut mereka saling suka."
"Mereka siapa?" kekeh Gavin. Menebak siapa yang dimaksud Tata. "Titan dan Bianca maksud lo?"
"ENGGAK MUNGKINN!" sahut Arkan, Aiden dan Zidan serentak. Membiarkan Tata menggeleng dan mengedikkan bahu.
"Bian--" kata Alana pertama. Memotong lebih dulu untuk menghentikan perdebatan Bianca dan Titan. Lagi pula, mereka harus secepatnya bergegas kekantin. Bukan malah berdebat seperti ini?
Menghiraukan sahabatnya, Bianca tetap menatap Titan garang. Menggeram karena lelaki itu selalu meremehkan orang lain. Selalu menganggap dirinya benar "Setidaknya, kalau lo enggak suka, lo tinggal terima aja! Jangan jadi banci kayak begini!" geram Bianca pertama. "Enggak perlu sampe nolak dan nyuruh tuh cewek-cewek pergi. Segitunya banget sih lo?"
Terkekeh, Titan menaikkan sebelah alisnya. Lihat, gadis gila ini? Dia selalu mengacau Titan untuk segala hal yang ia lakukan. Lagi pula, apapun yang Titan lakukan bukan urusan gadis ini kan? "Suka-suka gue. Yang dikasi gue, yang nolak juga gue. Kenapa lo yang sewot?"
"Karena lo enggak tahu terimakasih!" potong Bianca. Masih menggeram, ia sudah mengepal tangannya kuat. "Lo enggak tahu, bisa aja mereka nabung cuma buat beliin lo coklat ini, lo enggak tahu gimana mereka nyisihin duit jajan cuma buat ini dan dengan sombongnya lo jawab kayak gitu?"
Alana sendiri sudah tidak tahan. Kenapa Bianca jadi membesar-besarkannya seperti ini? Sebebarnya, apa yang Bianca inginkan?
"Bian, udah deh. Kenapa jadi ribet gini?" tambah Alana akhirnya.
Menghela napas, Titan kembali merangkul Alana, menatap Bianca tajam sebelum berujar. "Ana, udah, ngapain buang-buang waktu buat ngomong sama cewek gila ini?" katanya. Lalu Titan membawa Alana pergi, menyenggol tubuh Bianca tanpa permisi dan berlalu dari sana. Membawa Alana dalam rengkuhannya.
"DASAR LO SETAN SIALAN!" pekik Bianca kesal.
Tata sendiri sudah mendekat, merangkul sahabatnya sebelum menambahkan. "Titan bener sih, kenapa lo yang sewot?"
Benar. Semua orang juga benar. Tidak seharusnya Bianca seperti ini. Tapi Bianca hanya ingin menyadarkan b******n itu.
Ke-empat petinggi Carswell pula sudah menggeleng tidak percaya, menghela napas panjang.
"Udah-udah, benci jadi cinta nanti. Jangan berantem teros!" tambah Arkan, sengaja menyindir. Karena jika itu terjadi, merekalah yang akan tertawa lebih dulu.
"Lo cemburu Bi?" ledek Zidan setelahnya. "Aneh sih kalau ngamuk-ngamuk gini tapi enggak cemburu..."
"Neng Bian, kalau mau coklat. A'a, Aiden bisa beliin sekarung kok..."
"Diem lo!" sahut Bianca malas. "Dan gue enggak cemburu!" sambung Bianca menekankan. "Untuk apa gue cemburu? Najis!"
"Ampun, garang banget mbak jago..." kekeh Gavin. Masih bersorak. Tapi Bianca sudah terlanjur tidak peduli.
Lalu mereka semakin mempercepat langkah menuju kantin. Jika Alana bergabung dengan meja petinggi Carswelll, Bianca dan Tata memilih berada di meja yang lain.
Lagi pula Alana pasti akan menyusul mereka. Tidak mengherankan, bahkan sejak kedatangan mereka ke kantin, beberapa orang memilih mundur dan berbalik. Karena berurusan dengan Carswell adalah sebuah kesalahan. Dan mereka tidak akan pernah menyulitkan diri sendiri jika itu sampai terjadi.
***