RCSB 20

1543 Words
Sebuah mobil datang sesaat setelah mobil Alvin menjauh, ada Denis di dalamnya dengan diantar supir. Mobil itu masuk ke pekarangan rumah, melewati Syla begitu saja. Ada rasa marah di hati Denis melihat sikap manja Syla kepada Alvin tadi, ia mendengus kesal. Jadwalnya di Semarang selalu saja berantakan, karena ia merasa ada yang tertinggal di rumah ini. Barangkah? Tentu saja tidak. Denis bukan tipe orang seteledor itu, entahlah Denis saja tidak mengerti. Denis keluar dari mobil, bertepatan dengan Syla yang juga akan menaiki teras. Lagi-lagi Denis mendengus kesal, niat hati ingin menghindari Syla malah gadis itu ralat wanita itu sudah berada di hadapannya. Syla tersenyum ramah kepada pak supir yang menurunkan koper dari dalam bagasi, mengacuhkan Denis yang menatapnya dengan tatapan kesal. "Hebat sekali, suami pergi ke luar kota di sini bisa seenaknya pergi dengan pria lain." Desis Denis tajam, tangannya meraih pergelangan tangan Syla. "Dia sepupuku, apa kamu cemburu?" tantang Syla, entah kenapa ia memiliki keberanian berkata seperti itu. "Kau istriku, aku tidak mau ada omongan miring soal keluargaku. Apalagi kau bermesraan di depan rumahku!" Geram Denis. Syla tidak tahu jika Denis melihat semuanya, melihat perlakuan istimewa Alvin untuknya. "Iya, aku tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Syla,tak mau terjadi keributan di rumah mertuanya. "Nah, gitu dong. Pulang bareng." Mami keluar dari ruang tengah, menatap semringah melihat kedekatan anak dan menantunya. Dengan cepat Denis melepas genggaman tangannya "Kebetulan saja Mam," "Tumben kamu di Semarangnya pulang cepat? Belum ada sehari loh?" "Bukan apa-apa Mam, ada yang harus aku urus di sini." Kata Denis seraya naik ke lantai atas menuju kamarnya. Denis segera melepas semua yang melekat di tubuhnya, merasa gerah dan juga menahan amarah. Ia merasa heran dengan dirinya sendiri. "Hahhh... Lebih baik aku mandi, mendinginkan kepala yang rasanya akan mendidih." Denis memasukkan barang-barangnya ke dalam koper, hari ini akan pindah ke rumah baru yang sudah siap untuk dihuni. Ia merencanakan ini sudah dari beberapa bulan lalu. Baru bisa terlaksana hari ini. Ia sempat uring-uringan saat mandor proyek memberi alasan keterlambatan pembangunan rumah yang akan Denis tempati, membuat Denis harus sedikit bersabar tetap tinggal bersama orangtuanya. "Apa tidak bisa diundur beberapa Minggu lagi Mas?" ucap Mami sendu. "Tidak Mam, aku dan Syla harus mandiri. Masa kita numpang terus di rumah Mami dan Daddy, tidak enaklah Mam." "Yaah, bakalan sepi rumah ini." "Rumah kita kan hanya beberapa kompleks dari sini, masih bisa sering-sering main Mam." "Ya sudah deh," kata Mami akhirnya, ini keputusan mereka. Mami ikut mengemasi barang-barang Denis dan Syla, sesekali Mami menyeka air mata yang membasahi pipinya. Mami akan berpisah dengan menantunya yang sudah memberi warna tersendiri di rumah ini. "Sudah semuanya?" tanya Mami. Sebuah kotak kecil membuat Denis tidak mendengar apa yang Mami ucapkan, perhatiannya tersedot oleh benda itu. "Sudah tidak ada yang ketinggalan Mas?" ulang Mami. "Ah, sepertinya sudah Mam." Setelah Mami keluar dari kamar, dengan ragu dibukanya kotak yang dibalut dengan kotak kecil lain sebagai pembungkus nya. Sebuah tespek. Dua garis, Syla hamil. Batin Denis. "Sejak kapan!" Cecar Denis ketika Syla baru saja masuk ke dalam kamar. Dilemparnya tespek itu ke hadapan Syla. Syla memungutnya, menggenggamnya erat. Syla tahu akan seperti apa reaksi Denis. "Enam Minggu lalu," kata Syla. "Kenapa kau tidak memberitahuku!" Geram Denis, ia mencengkeram pundak Syla. "Memangnya kamu ingin tahu apapun yang terjadi kepadaku?" luruh juga air mata yang selalu Syla tahan jika dihadapan Denis. "Siapa yang tahu soal ini selain kau dan aku?" Syla menggeleng. "Termasuk lelaki yang bersamamu waktu itu!" tebak Denis. "Dia sepupuku. Hanya dia yang ku beri tahu." "Ya, siapapun dia aku tidak peduli. Bahkan kau lebih mengutamakan dia daripada aku, suamimu!" Syla terperangah, sejak kapan Denis mengakui status pernikahan mereka? Pasalnya lelaki itu selalu acuh kepada Syla. "Mas, apakah semua sudah..." Ucapan Mami terhenti melihat Syla dan Denis berdiri mematung, Mami mendekat memungut tespek yang terjatuh dari tangan Syla. "Sayang, kamu hamil?" rona bahagia diwajah Mami sangat kentara, dipeluknya sang menantu. "Selamat ya sayang, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu." Ucap Mami haru. "Iya Mam," lirih Syla seraya membalas pelukan Mami, pelukan yang sangat hangat. Untuk sementara ketegangan antara sepasang suami istri itu terhenti berkat kehadiran Mami, Mami tidak pernah berhenti memperlihatkan kebahagiaan yang tengah dirasakannya. "Kamu sudah ke dokter Syla?" "Sudah Mam," Lagi-lagi Syla memancing emosi Denis, bahkan ke dokter kandungan pun Syla tak mengajaknya. Namun Denis berusaha menahannya, karena ada Mami di sana. "Kapan? Sudah berapa Minggu usia kandunganmu?" "Dua Minggu lalu Mam, usianya jalan enam Minggu sekarang." "Kamu yang nganter Mas? Kok kamu tidak bilang pada Mami kalau Syla mengandung?" "Mana ku tahu." Jawab Denis sengit, ia duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan bersedekap didepan dadanya. "Kamu sih terlalu sibuk, sampai tidak pernah ngurusin istri." Ketus Mami. Denis memutar bola matanya malas, selalu saja Mami membela menantunya yang jelas-jelas salah. Sudah tidak memberitahu kehamilan yang sudah berusia enam Minggu, dan pergi ke dokter kandungan tanpa mengajak Denis. Masih saja Denis yang disalahkan. **** Barang-barang sudah dipindahkan di rumah baru, bahkan sudah ditata sedemikian rupa sesuai keinginan Denis. Sebelumnya Mami memohon untuk mereka tinggal di rumah lama saja, namun Denis bersikeras untuk tinggal di rumah yang dibangun dari jerih payahnya sendiri. Denis mengatakan jika mereka ingin memiliki privasi dan ketenangan, terlebih kondisi Syla yang tengah hamil butuh istirahat yang banyak. Di rumah baru suasana lebih tenang, dibanding di rumah itu ada Adrian dan Airin yang selalu membuat keramaian. "Jaga istrimu baik-baik, jangan biarkan dia banyak pikiran." Wejangan Mami kepada putranya, Denis mengangguk saja daripada Mami terus mengoceh. Kini tinggal mereka yang berada di rumah tersebut, setelah Mami dan Daddy pamit pulang beberapa saat lalu. "Kamu bisa memilih kamar mana saja yang ingin kau tempati," ucap Denis datar, namun mampu menusuk hati Syla begitu dalam. Jadi ini alasan Denis pindah rumah? Sengaja untuk bisa pisah kamar dengan Syla? "Aku pilih kamar di lantai satu saja." Setelah menerima jawaban Syla, Denis masuk ke dalam kamarnya yang ada di lantai atas. Meninggalkan Syla yang termenung di sofa ruang tamu. Tak lama, tercium bau gosong dari dapur. Denis yang ada di kamarnya berlari dengan cepat, takut jika ada kebakaran di rumah yang baru saja jadi itu. Terdengar suara Syla yang sedang memuntahkan isi perutnya di dalam kamar mandi, Denis mendesis marah. Denis mematikan kompor, disiramnya wajan yang mengepulkan asap. Syla keluar dari kamar mandi, ia ternganga melihat dapur yang berantakan. Penggorengan sudah berada di tempat cuci piring dengan warna hitam di sisi tengahnya. "Apa kau sengaja ingin membakar rumah ini!" ucap Denis garang membuat Syla menciut. "Maaf, aku tidak sengaja. Tadi perutku mual, aku ke kamar mandi." lirih Syla, digigit bibir bawahnya saking takutnya. Denis menghela napas panjang, diacak rambutnya dengan kasar. "Kamu bisa meminta bantuan ku, jangan bertingkah seolah-olah kamu tidak membutuhkanku." Denis membuka kulkas, mengambil dua butir telur dan siap menggorengnya. Cuma itu yang ada dikulkas, karena mereka belum sempat berbelanja. "Duduk, kamu bisa bilang padaku kalau kamu lapar." Ucap Denis sedikit lembut. Syla menurut saja, ia menatap punggung Denis yang sedang sibuk memasak untuknya. Hanya telur dadar, tapi bisa membuat hati Syla bergetar. Ini kali pertama Denis bersikap manis. "Makanlah," ucap Denis seraya menarik kursi di samping Syla. Syla menatap Denis tanpa berkedip, tiga bulan hidup bersama baru kali ini Syla merasa terharu dengan sikap lembut Denis. "Terimakasih." Ucap Syla dengan mata berkaca-kaca. Meskipun cuma telur dadar, bagi Syla ini istimewa. Apalagi memasaknya dengan cinta. Cinta? Syla tersenyum pedih, akankah cinta itu bisa hadir diantara mereka? "Enak?" Denis kembali duduk di samping Syla setelah membuat kopi untuknya sendiri, disesapnya kopi yang masih mengepulkan asap tersebut. "Enak." "Kamu mau s**u? Atau mau minum sesuatu?" tawar Denis. "Air putih saja." Denis dengan suka rela mengambilkan segelas air putih untuk Syla, memberikannya kepada wanita itu. "Jika kamu sudah kenyang, istirahatlah. Kamu terlalu sibuk mengurus ini itu untuk perpindahan kita." Disesapnya lagi kopi itu selagi hangat. "Nanti saja." Ini menjadi obrolan terlama bagi mereka, berkat insiden gosongnya penggorengan membuat dua insan itu begitu dekat. "Oke, aku tinggal dulu." Pamit Denis. Syla menatap punggung Denis yang menjauh, Syla tersenyum samar. Dalam hatinya berharap ini awal yang baik untuk hubungan mereka berdua. Tidur Denis malam ini terasa gelisah, ia sibuk mencari posisi tidur yang nyaman. Ia mengacak rambutnya kesal setelah sejam lebih belum bisa memejamkan mata. Tempat kosong disisinya lah yang membuatnya tak dapat tidur. Teringat saat di Semarang pun ia tidak bisa tidur pulas, dan memaksanya untuk segera pulang. "Sebesar apa pengaruh dia terhadapku?" tanya Denis pada hatinya. Perlahan ia melangkahkan kaki keluar kamar, menenangkan pikiran dengan secangkir kopi menjadi tujuannya. Langkah kakinya tak membawanya ke arah dapur, melainkan menuju ke kamar yang berada di lantai satu. Kamar pertama di dekat ujung tangga menjadi tujuannya, dibuka perlahan takut mengganggu tidur Syla. Kosong. Syla tidak berada di kamar itu. Kamar kedua, di dekat pintu masuk. Sama seperti kamar pertama, Denis membukanya dengan pelan.Denis mulai panik saat di sana tidak mendapati Syla juga. "Kemana dia? Apa dia kabur?" Kunci rumah terlihat menggantung di dalam, berarti Syla tidak keluar dari rumah.Saat Denis ke dapur, ia mendapati Syla tertidur di sana. "Astaga." Syla terlihat tidur nyenyak dengan posisi kepala menelungkup di atas meja, perlahan Denis mengangkatnya. Membawa Syla ke kamarnya. Perlahan ia baringkan Syla ke atas ranjang, dirapikannya rambut Syla yang menutupi wajah. "Cantik." Gumam Denis. Denis ikut berbaring di samping Syla, menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang sama dengan Syla. Didekapnya tubuh wanita itu. Nyaman. Terasa nyaman bagi Denis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD