RCSB 23

1928 Words

"Eghh... Kenapa kamu pulang cepat?" tanya Syla saat tangisnya mulai mereda. "Firasatku memang sudah tidak enak sejak pertama berangkat, selalu was-was meninggalkanmu sendirian di rumah." Ungkap Denis jujur. "Aku tidak apa-apa, kamu jangan mengkhawatirkan aku terlalu berlebihan." "Bukan aku, tapi hatiku." Mereka saling pandang, menyelami perasaan masing-masing. Wajah Syla merona, dialihkan pandangan ke arah lain. Bunyi perut Syla membuyarkan pembicaraan mereka. "Hahaha, kamu lapar?" Denis tertawa kencang, ia sudah tidak malu lagi jika di depan Syla. Jika dulu ia sosok yang sedingin es, sepertinya kini sudah mencair. Denis turun dari ranjang, mengambilkan kotak makan yang diberikan Mami menatanya dalam piring yang sudah Mami sediakan. Sebetulnya masakan Bibik masih ada, tapi Den

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD