Lembar demi lembar tisu diambil, meremas ketika ia selesai memakainya lalu membuangnya begitu saja sehingga berserak di atas lantai. Membuat pemilik apartemen mencak-mencak, sudah kelima kali membersihkan lantai dari lembaran tipis berwarna putih itu.
"Lo pulang gih sono!" ucap Arga mengusir tamunya yang tak tahu diri .
Semalaman gadis itu menangis, mulai dari tersedu-sedu hingga meraung-raung. Arga gemas sendiri dibuatnya.
Padahal kan apartemen mereka hanya dibatasi dengan dinding sebagai penyekatnya, tapi betah sekali berada di apartemen Arga.
"Sudah lah Ndri, mau nangis sampe air mata Lo jadi darah juga dia gak bakal balik. Sadar diri dong, harusnya Lo juga kan tahu konsekuensinya pacaran dengan bocah tengil satu itu. Lo contoh deh Vina, dia meski tetep ngejar Denis dia juga tahu diri kalau cuma mantan. Tunjukin Lo juga kuat, dan kalau bisa sih jangan seperti Vina deh dia lebih gak tahu diri daripada Lo. Aduh Gue bingung sendiri mau kasih solusi bagaimana yak, soalnya kan Gue belum pernah pacaran juga. Lo pergi ke psikiater atau psikolog atau apalah buat curhat, jangan ke Gue!" Cerocos Arga.
Sungguh bukan maksud untuk menambah tingkat kegalauan Indri yang baru tadi malam diputus oleh Denis, tapi ia sama sekali tak memiliki pengalaman tentang masalah patah hati yang dialami Indri.
Semalam sampai sesiang ini Indri masih diam diposisinya, duduk sembari memeluk lututnya. Menangis dan terus menangis.
Arga memilih acuh tak acuh, mengabaikan Indri sejenak. Ia ingin fokus main game online kesukaannya.
Sebuah ketukan membuyarkan fokus Arga, ia menggeram kesal karena baru saja kalah karena kehadiran tamu yang tak diundang itu.
"Siapa sih!" Gerutu Arga, berjalan malas ke arah pintu.
Seorang gadis cantik berdiri di depan apartemennya, membuat Arga mengernyit. Sama sekali tak mengenal tamu ini.
"Cari siapa?" tanya Arga , takutnya salah kamar atau cuma iseng mengganggu kesenangannya.
"Anu, Kak Indri ke mana ya? Soalnya tadi aku ke rumah kata Mama gak pulang, terus Mama bilang di apartemen. Nah, aku cari tetep gak ada. Jadi aku mau tanya, apa kamu melihat kak Indri? Soalnya kan kamu tetangganya." Cerocos sang tamu, tak memberi kesempatan bagi Arga untuk menyela.
"Kak Indri? Indri kakak kamu?" gadis itu mengangguk.
Arga menggeser posisinya,memberikan jalan masuk untuk tamunya.
"Di dalam." Ucap Arga.
Ucapan Arga sukses membuat gadis yang tidak ia ketahui namanya mengernyit, dengan tatapan tajam menyelidik.
Dengan tergesa ia masuk ke dalam apartemen Arga, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
Pandangannya jatuh kepada seseorang yang sedang duduk di pojokan, dengan mata sembab dan rambut yang basah terkena air mata.
"Kamu apakan kakak ku!"
Arga kebingungan, pasalnya ia tak melakukan apapun.
"Heh! Kalau ditanya jawab!" kata gadis itu garang .
Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, di sini ia korban dari tidak kesopanan Indri yang menginap semalaman malah seakan dituduh sebagai tersangka yang membuat kondisi Indri seperti itu.
"Kamu perkosa kakak ku ya!" Tuduh sang gadis semakin ngawur.
"Gila aja! Kakak Lo tuh, dia nginep semalaman di apartemen Gue. Nangis-nangis karena abis diputus cinta, Lo malah nuduh gue yang enggak-enggak!" Sergah Arga tak terima.
Alih-alih mengamuk atas pembelaan diri Arga, gadis itu justru tertawa. Suara tawanya membahana ke seluruh ruangan, membuat Arga menatapnya aneh. Gadis yang dari tampilannya sangat anggun dan lemah lembut itu ternyata urakan juga kalau tertawa, oke Arga punya satu catatan lagi buat gadis idamannya ia akan memilih gadis yang kalau tertawa biasa saja tidak seperti gadis ini yang baginya terlalu berlebihan.
"Kak ...kak, player seperti kakak bisa patah hati juga? Udah lah malu kali, biasanya juga sehari langsung dapet ganti." Ucapnya .
Indri menatap adiknya, ia mendengus kesal. Merasa malu tertangkap basah sedang kondisinya seperti ini, mengenaskan.
"Cerewet!" Ketus Indri, justru membuat adiknya tergelak.
"Cuci muka gih, jelek banget ya ampun! Kayak abis diperkosa lagi, aku kira bocah kecil ini yang memperkosa mu Kak." Tunjuknya kepada Arga.
"s****n, gue bukan bocah kecil kali ! Gue udah kuliah, dan sebentar lagi Gue wisuda!"
"Benarkah?" gadis itu nampak terkejut.
Postur tubuh dan wajah imut yang menggemaskan membuat Arga sama sekali tak pantas disebut anak kuliahan. Lihat saja tampangnya.
Tubuhnya yang pendek untuk ukuran anak kuliahan membuatnya lebih cocok menjadi anak kelas satu SMA, sungguh kalau masalah fisik Arga selalu merasa miris. Tuhan, kenapa ia tak diciptakan sesempurna cowok lain.
"Udah jangan nyinyir sama tubuh gue, biarpun umur Gue nanti tambah tua Gue gak bakalan dibilang tua. Itu sih yang Gue syukurin selama punya tubuh mungil Gue ini." Ucap Arga membela diri.
"Iya deh iya, menang kamu. Btw mau sampai kapan kak, kamu kayak gini ? Plis deh, ini bukan kamu banget. Besok juga pasti udah dapet lagi kayak dulu." Sindirnya.
Adiknya sengaja mengungkit masa lalu indri, yang memang menurut Indri sendiri sebelas dua belas seperti Denis. Tapi itu kan dulu, sebelum kenal Denis.
Awalnya Indri hanya iseng dengan Denis, karena menjadi pria idaman di seantero kampus. Ia pernah bertaruh pada dirinya sendiri apabila mendapatkan Denis akan menjadikan cowok itu sebagai pelabuhan cinta terakhir nya, hingga ia juga menaruhkan seluruh cintanya untuk Denis.
Namun sayang, ternyata ia hanya sebuah pelarian semata. Mungkin ini juga karma yang harus ia terima berkat doa-doa mantan yang pernah disakiti hatinya.
"Bener nih Ndri, serasa jiwa Lo mati. Padahal juga putus cinta, apalagi nanti skripsi Lo ditolak sama dosen. Beuuh, itu lebih menyakitkan Ndri . SAKIIIITTT." Ucap Arga mendramatisir memegang dadanya seolah benar-benar tersakiti.
Ulah Arga kali ini membuat Indri terkekeh, melupakan sejenak kisah kasihnya yang memilukan. Tetangga apartemen nya ini benar-benar menggemaskan, Indri bangkit dari duduknya lalu mencubit gemas pipi Arga membuatnya mengasuh keras.
"Rasain!"
"Sakit b**o!"
Indri menuju kamar mandi milik Arga, ia melihat pantulan wajahnya dari sebuah kaca yang ada di sana. Merasa geli terhadap dirinya sendiri, kenapa ia sampai seterpuruk ini besar sekali pengaruh Denis dalam hidupnya.
Dibasuhnya wajah menggunakan air keran yang mengucur dari wastafel, membuat wajah Indri yang kusut bak benang ruwet menjadi terlihat sedikit lebih segar. Lantas ia keluar setelah menyeka wajah basahnya menggunakan handuk, yang tentu saja milik Arga.
"Arsyla."
"Arga."
Indri melihat mereka saling jabat tangan mengenalkan diri masing-masing, ia ikut bergabung dengan mereka.
"Kapan kamu balik Syl?" tanya Indri yang sudah duduk di tengah-tengah.
"Kemarin kak, bosen di rumah. Sepi." keluh Syla.
Arsyla, adik Indri yang hanya terpaut usia hanya setahun membuat mereka lebih seperti teman daripada kakak beradik. Setelah Syla "dibuang" oleh orang tuanya, Indri lebih sering menghabiskan waktunya di apartemen. Ia juga merasa kesepian jika di rumah, maklum mereka hanya dua bersaudara.
Syla dan Indri mengobrol, mengabaikan sang pemilik rumah yang kembali sibuk dengan game online nya yang sama sekali tidak peka dengan kedua tamunya. Memberikan minum misalnya.
Ketukan di pintu apartemen Arga kembali terdengar, satu lagi tamu tak diundang datang membuat Arga mendengus kesal. Ia beranjak dari duduknya, membukakan pintu untuk tamu barunya.
"Siapa lagi sih!" Gerutu Arga, ia memang hobi sekali menggerutu.
Saat pintu dibuka, Lintang tengah berdiri dengan mata tajam ke arahnya.
"Lo? Kenapa ke sini?" tanya Arga. Lintang semakin kesal dibuatnya.
"Adik kecil yang manis, kita udah janjian dari tahun kemarin! Lo lupa?" kata Lintang.
Arga berpikir sejenak, janji? Janji apa ya? Ia benar-benar lupa.
"Skripsi." Lintang mencoba mengingatkan.
"Ohhh... Iya iya, sorry gue lupa. Beneran deh, kita janjian kan ke rumah Denis? Yuk yuk masuk dulu, ya Allah kenapa gue bisa lupa gini ya?" Omel Arga pada dirinya sendiri.
Lintang memutar bola matanya malas, adik nya itu sungguh terlalu . Padahal ia sudah menunggu berjam-jam di rumah karena Arga sendiri yang bilang akan menjemputnya lalu pergi ke rumah Denis bersama.
Lintang mengikuti tuan rumah masuk. Ada dua gadis di dalam, yang satu Indri dan satunya lagi ia tidak kenal. Jadi ini penyebab Arga lupa? Eh, tapikan anak itu memang pelupa.
"Pagi." Sapa Indri.
"Pagi? Siang kali." Jawab Lintang membenarkan, karena memang ini sudah sangat siang.
Lintang lantas masuk ke dalam kamar Arga, seakan mencari jawaban kenapa dua gadis itu bisa di sini? Tak biasanya Arga membawa tamu gadis, atau jangan-jangan Arga sudah melakukan sesuatu yang.....? Lebih baik Lintang bertanya langsung kepada Arga.
"Ga, kok tumben? Lo gak abis ngapa-ngapain kan? Jahat Lo bikin anak orang nangis!" Kata Lintang yang tadi melihat sekilas Indri habis menangis.
Arga menyonyor kepala Lintang cukup keras.
"Dia nangis udah sejak semalam dan bukan karena gue, oh iya yang satu itu adiknya Indri namanya Syla." Ucap Arga sembari memasukkan barang-barang yang akan dibawa ke rumah Denis, barang yang tak jauh dari tugas akhir bagi mahasiswa.
Mereka lebih senang mengerjakan bersama-sama, karena prinsip mereka suka duka lara akan mereka tempuh dan semakin mudah apabila mereka lakukan bergotongroyong.
"Yok!"
Arga dan Lintang sudah siap, namun masalahnya cuma satu. Bagaimana cara membuat Indri keluar dari apartemen Arga tanpa harus mengusirnya. Semalam sampai sesiang ini gadis itu masih betah di sini.
"Lo yang ngomong, buruan!" Titah Lintang.
"Kok gue? Lo bantuin kek!"
"Ya ini kan apartemen punya Lo, masa gue yang nyuruh. Udah tinggal bilang kita mau ke rumah Denis, masalah kelar." Ujar Lintang enteng .
Arga masih ragu-ragu mengutarakan maksudnya, ia takut menyinggung perasaan Indri.
"Anu, Ndri. Gue lupa, gue ada acara sama Lintang, jadi abis ini gue mau pergi. Lo masih mau di sini?"
Lintang menepuk jidatnya, kenapa Arga tidak langsung meminta Indri pulang malah memberikannya pilihan .
"Kemana?"
"Ke rumah Denis, jadi kita pamit. Berhubung gak ada orang nih, kamu bisa pulang gak?" kata Lintang kali ini, tak mau bertele-tele seperti Arga meski ia bukan tuan rumahnya .
Mendengar nama Denis disebut, Indri kembali menangis. Hatinya masih terasa sakit.
"Loh? Nangis? Sorry, gue gak maksud ngusir Lo kok." Kata Lintang tak enak.
Indri tak menjawab, justru bangun dari duduknya lalu keluar apartemen. Syla yang melihat kakaknya pergi mengikutinya dari belakang, terlebih dahulu ia pamit dan mengucapkan terima kasih.
Lintang penasaran dengan sikap Indri, kenapa gadis itu?
"Kenapa dia Ga?"
"Nanti gue ceritain, kita ke rumah Denis sebelum dia ngamuk." Kata Arga.
"Oke deh."
Setelah mengunci pintu, Arga dan Lintang menuju ke tempat parkir. Mengambil mobil Arga, lalu pergi ke rumah Denis.