Denis telah sampai di rumahnya, Mami yang tahu hari ini kepulangan anaknya sudah menunggu di teras. Bersama Airin yang sejak tadi merengek karena kakak yang sudah ditunggunya tak kunjung datang.
Sebuah mobil Vios berwarna hitam memasuki pekarangan kediaman Pramudya, Airin berjingkrak girang sudah dipastikan mobil itu di dalamnya membawa mas Denisnya.
Pak supir memberhentikan laju mobil tepat di depan mereka, ia membukakan pintu lalu membereskan barang bawaan Denis.
"Mas, Mas Deniiiiiss." Teriak Airin berlari ke arah Denis.
"Jangan lari Airin." Ucap mami khawatir anaknya terjatuh.
Airin memeluk kaki panjang Denis dengan erat, ia benar-benar rindu dengan patner berantemnya ini.
"Aiyin tanen Mas,tanen banet."
Denis mensejajarkan tingginya dengan Airin, didekapnya tubuh mungil gadis kecil itu.
"Mas juga sama, kangen juga." Digendongnya Airin, mengajaknya menghampiri Mami yang sejak tadi hanya mematung melihat mereka berdua melepas rindu.
Mami hapal kebiasaan mereka, akan merasakan kehilangan jika salah satu jauh. Mami juga hapal tak lama lagi mereka akan beradu mulut, bertengkar seperti biasa.
Kadang mami heran dengan sikap Denis, sudah besar tak pernah mau mengalah jika beradu argumen dengan anak gadisnya. Apa dengan cara begitu Denis menyampaikan rasa sayangnya kepada adiknya?
"Mam, kok masih pada di luar, dingin. Masuk yuk." Ajak Denis sesaat setelah mencium punggung tangan mami.
"Elah, kita tuh nunggu kamu pulang kali Mas." Ketus mami. Tak tahu apa Denis kalau Mami juga rindu.
"Iya, Denis tahu kok Mam, Mami pasti nunggu karena udah kangen banget? Denis juga kangen kok, kangen omelan Mami." Denis terkikik geli.
Rasa hangat menjalari leher Denis, Airinlah pelakunya. Anak itu sudah tidur dalam gendongan Denis. Ternyata sejak tadi sudah sangat mengantuk, tapi menahan untuk tidak tidur sebelum Denis sampai rumah. Dan kini gadis kecil itu seolah menemukan tempat ternyamannya.
"Tuh kan, ni anak sudah ngantuk daritadi. Nungguin kamu nih." Mami mengusap kepala Airin lembut.
"Maaf deh Mam." Ucap Denis menyesal, tak tega melihat Airin yang hampir tengah malam ini menunggunya pulang.
"Lagian ke mana sih? mampir?"
"ho oh, mampir sebentar tadi."
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Denis dengan hati-hati menggendong Airin agar tidak terbangun.
Denis duduk di sofa ruang tamu, mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Sembari mengusap punggung Airin yang menggeliat dalam gendongannya. Ia belum mau menidurkan Airin langsung ke kamarnya, pasti Airin akan terbangun karena tidurnya belum terlalu lelap. Biarkan seperti ini sebentar saja.
"Kamu mau makan lagi tidak? biar Mami panasin lagi lauknya."
"Tidak usah Mam, masih kenyang. Daddy ke mana Mam?" tanya Denis, karena sejak tadi ia sama sekali tak melihat Daddy. Kalau Adrian sih ia sudah tahu, apalagi yang dilakukan bayi berumur 6 bulan itu selain tidur.
"Daddy udah tidur jam 8 tadi, kayaknya kecapean di kantor harusnya libur malah lembur." Cicit mami.
Sejak Denis berlibur otomatis Daddy melakukan aktivitasnya di kantor sendirian, jadi wajar kalau tenaganya banyak terkuras.
"Istirahat gih, capek kan pasti." Titah Mami.
"Iya deh, ngantuk juga."
Dengan hati-hati Denis menaiki tangga, menuju kamar Airin.
"Gak mauuuuu, gak mauuuu." Ucap Airin merasakan punggungnya menyentuh kasur, malam ini ia ingin bermanja setelah dua minggu tak bertemu Denis.
"Stttt..... Bobo cantik ya sayang." Denis berusaha menenangkan adiknya, namun Airin malah mengencangkan tangannya yang melingkar di leher Denis. Ia tak mau ditidurkan.
"Mass..Mau bobok sama Mas."Rengek Airin.
Mami mencoba membujuk, namun pegangannya bertambah erat saja. Dengan berat hati mami membiarkan Airin tidur bersama Denis, bukan apa-apa mami hanya takut Airin rewel dan akan mengganggu istirahat Denis.
"Tidak apa-apa Mam, biar sama Denis. Mami bobo gih." Dikecupnya kedua pipi dan kening Mami, sebagai ucapan selamat malam. Lalu ia membawa Airin ke dalam kamar, kamar yang terasa dingin karena dua minggu lamanya ditinggal pemiliknya.
Dibaringkan Airin dengan hati-hati, Denis menuju ke dalam kamar mandi. Mencuci kaki , tangan, wajah, dan tak lupa menggosok gigi. Rutinitasnya sebelum tidur, supaya tidur dengan nyenyak.
*****
Pagi-pagi sekali Airin sudah mengusik tidur nyenyak sang kakak, ia menarik-narik rambut Denis yang sudah gondrong membuat sang punya mengaduh lirih di alam bawah sadarnya.
"S-sakit dek." Rintih Denis, Airin tak segera melepaskan jambakannya.
"Sakit Airin Dwi Pramudya." Geram Denis, mencoba menahan amarahnya karena ia takut kelepasan dan membentak adiknya.
Airin duduk di sisi kakaknya Ke dua tangan kecil gadis itu dilipat di depan d**a, matanya sudah bulat sempurna berbanding terbalik dengan mata Denis yang masih menyipit. Jujur Denis masih mengantuk.
"Angun Mass, yayi-yayi yuk!"
Denis mengerjap beberapa kali lalu memutar bola matanya malas, Airin mengajaknya lari-lari jam segini? Jam empat subuh saja belum genap.
"Mas Denis masih ngantuk Airin , bobo lagi ya." Bujuk Denis.
"Huwaaaaa, mau yayi yayi!" Suara bising tangis Airin menggema.
Ampun ni anak, mending gue balik aja ke Semarang .Gerutu Denis dalam hati.
Mendengar suara tangisan anaknya, Mami segera berlari ke arah sumber suara. Tanpa mengetuk pintu, Mami masuk ke dalam. Ia mendapati Airin yang sedang menangis sembari mengusap-usap matanya sedangkan Denis menutup tubuhnya dengan selimut.
"Peyih Mami, peyih." Adu Airin, matanya terasa perih karena air matanya sendiri.
"Cup, jangan nangis dong biar gak perih. Sama Mami ya, biar Mas Denis istirahat dulu." Bujuk mami.
"Mas Denis, Mami."
"Iya, nanti sama Mas ya. Biar Mas bobo dulu, Airin sama Mami ya. Mau ya anak Mami yang paling cantik." Bujukan mami kali ini berhasil, Airin bersedia ikut dengan Mami. Mereka berdua ke luar dari kamar.
Denis membuka selimutnya, pengap juga. Ia menghela napas lega, kemudian melanjutkan tidurnya.
*****
Tepat jam sebelas siang Denis keluar dari kamarnya, sudah siang ternyata. Lantas turun ke bawah.
Di ruang keluarga Mami tengah menonton tv sembari mebaca majalah fashion terbaru minggu ini, meskipun sudah mendekati umur 50 tahun Mami masih harus berpenampilan modis bukan ?
Mengimbangi Daddy yang sering ada acara penting dengan kliennya. Mami wajib mengikuti perkembangan mode supaya tak ketinggalan, dan membuat Daddy semakin jatuh hati kepada mami.
Sebetulnya Daddy sudah menambatkan hati sepenuhnya kepada mami dan anak-anakya namun Mami tetap harus berjaga-jaga, tidak mau kecolongan lagi untuk kedua kalinya.
"Mam?" panggil Denis, ia mendekat ke arah Mami lalu duduk di sampingnya.
"Hmm."
"Kok sepi? Pada ke mana?"
Mami masih sibuk melihat halaman demi halaman majalahnya. "Daddy mancing, Airin sama Adrian di belakang main sama Mbak."
"Ohhh." Denis membaringkan tubuhnya mencari posisi nyaman, paha Mami ia jadikan bantalan.
"Mandi sana, jorok ihh."
"Bentar doang Mam, manjaan sama Mami bolehkan?"
Tabiat Denis yang seperti ini sudah mami hapal, jika seperti ini Denis pasti ingin bercerita sesuatu entah masalah penting atau hal sepele sekalipun.
Bagi Denis, Mami lah tempat ternyaman dan aman untuknya berkeluh kesah. Tanpa takut bocor ke mana-mana.
"Oh iya, bagaimana liburannya? seneng?" pancing mami.
Denis menghirup napas dalam, ada dua hal yang ingin ia ceritakan kepada mami. "Seneng sih Mam, cumaa.. Pas di cafe, ada yang nyinyir. "Adu Denis.
"Gak usah terlalu diambil hati, karena mereka sesungguhnya ingin menyampaikan kritik secara langsung akan tetapi tidak memiliki keberanian. Justru karena kamu sendiri yang mendengar, jadi tahu apa keluh kesah mereka. Nyinyir juga bisa lho jadi motivasi kita supaya bisa berbuat dan berlaku yang lebih baik lagi. Asal nyinyirnya, masih dalam batas wajar." Terang mami, dengan intonasi lambat dan lembut agar dipahami Denis.
"Iya juga sih Mam, bener nih kata Mami. Terus ada satu masalah lagi Mam..."
"Apa nih?"
Denis bangkit dari berbaringnya, menegakkan punggungnya duduk di samping Mami, "Mami inget tentang Diva?"
"Yang anak Semarang?"
"Iya Mam, Denis belum sempat cerita sama Mami. Dia kan temen Denis SMA, jadi ceritanya Denis sama dia sudah pacaran selama tiga tahun. Dan niat buat serius, karena Denis pikir memang hanya Diva yang cocok sama Denis." Mami dapat melihat kesungguhan dari mata Denis.
"Jadi masalahnya, selama Denis LDR an sama Diva sering banget Jalan sama cewek-cewek. Istilahnya selingkuh, tapi jujur Denis tobat Mam. Sekarang cuma Diva doang, semuanya udah Denis putusin termasuk Indri."
Mami mencoba maklum, mungkin memang gaya remaja sekarang. Apalagi masih dalam masa penjajakan.
"Kapan kamu mutusin Indri?"
"Tadi malem."
"Kamu putusin begitu saja, Mas?"
"Iya, Denis pikir kan lebih cepat lebih baik putusnya. Daripada semakin lama, takut semakin sakit si Indri."
"Jahat banget sih kamu." Cibir mami.
"Ya allah Mam, Denis tuh niat buat tobat Mami. sudah bukan waktunya lagi kan main-main, cukup satu saja Mam yang diseriusin, betul tidak?" Mami megangguk setuju.
"Jadi menurut Mami, kamu mulai belajar berkomitmen tidak sekedar main-main seperti dulu. Mami akan dukung apapun yang kamu lakukan, asal itu baik buat kehidupanmu.Terus soal Indri, kamu harus berbesar hati buat minta maaf kepada dia. Kan kamu udah nyakitin hatinya. Hati cewek rapuh lo Mas!" Denis mengangguk mengerti, meskipun ia tahu ini akan sulit tapi ia akan bersaha memperbaiki hubungannya dengan Indri seperti sebelum mereka pacaran.
"Pinternya anak Mami, mandi sana." Ucap Mami mengakhiri sesi curhat yang lebih mirip curhatan anak perawan dengan ibunya ini.Diusapnya puncak kepala Denis .
"Oke deh Mam." Denis beranjak dari duduknya, melangkah ke kamarnya untuk mandi. Membersihkan tubuh sekligus menyegarkan pikirannya.
Mami tersenyum menatap punggung Denis yang menjauh, ia senang Denis masih seperti yang dulu.
Masih menjadi dirinya sendiri saat bersama Mami, dan masih bersedia meluapkan keluh kesah dalam hidupnya kepada Mami. Karena dengan begitu Mami merasa dibutuhkan meskipun anaknya sudah beranjak dewasa.
Tak jarang diluar sana, saat memasuki dewasa anak lebih tertutup dengan orang tuanya. Syukurlah Denis tak seperti itu. Di luar sana bolehlah ia jadi orang dewasa, tapi di dalam rumah dan dalam hati mami ia tetap anak kecil Mami.