RCSB 6

1503 Words
   Jadwal keberangkatan pesawat yang akan Denis tumpangi masih beberapa jam lagi, masih sempat baginya untuk berkunjung di rumah singgah yang dulu ia bangun. Tak banyak berubah semenjak terakhir kali ia mengunjungi tempat itu, usaha sovenir kecil-kecilan yang dibangun oleh Denis dulu maju dengan sangat pesat berkat kerja keras mereka. Denis puas dengan semua itu, mereka yang dulu hanya luntang-lantung di pinggir jalan kini sudah memiliki ketrampilan yang bermanfaat dan bernilai ekonomis. Setelah berbincang-bincang, ia memutuskan pamit menuju ke cafenya. Memberi gaji dan bonus untuk para pegawainya. Itung-itung sekalian mengucapkan terima kasih atas dedikasi mereka, berkat kerja keras mereka juga cafe Denis masih berdiri sampai sekarang. Mumpung cafe masih sepi dua puluh pekerja diminta berkumpul di ruangannya, ditangannya sudah ada amplop yang sudah tertulis nama masing-masing. Ada yang senyum-senyum sendiri karena gaji hari ini cair, ditambah bisa melihat wajah bos mereka yang sangat tampan. "Mumpung saya di Semarang, Alhamdulillah saya bisa berkesempatan memberikan langsung apa yang menjadi hak kalian setiap bulannya." Suara Denis membuat pandangan mereka fokus tertuju padanya, awalnya ia gugup tapi ia juga harus terbiasa berbicara di depan banyak orang seperti ini mengingat kelak akan melanjutkan perusahaan Daddy. "Terima kasih atas kerja sama kalian, berkat kerja keras kalian juga El Denis cafe masih ada sampai saat ini." lanjutannya, disertai senyum yang tersungging di bibirnya. Ia memanggil satu persatu nama yang tertera di amplop,lalu menyerahkannya. Sebagian besar pegawai wanita terpesona dengan bosnya itu, termasuk Septi dan Nurul yang pernah membicarakan di belakang. Mereka menyesal ketika tahu jika Denis adalah orang baik, terbukti dari berapa besar bonus yang mereka terima. Hampir dua kali gaji selama sebulan. Tak lupa mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati bos mereka. "Bu Natasha, hari ini saya pamit pulang ke Jakarta. Saya titip cafe, sekalian saya minta izin membawa Diva untuk mengantarkan saya ke bandara." Ucapnya . Natasha terkikik geli mendengar ucapan formal Denis, terasa asing di telinganya. Tapi ia memaklumi, ini di depan semua pegawai cafe . "Baik Pak, hati-hati di jalan. Terima kasih untuk bonus yang bapak berikan kepada kami." Ucap Tante Natasha , Denis mengangguk kecil lalu pamit mengajak serta Diva bersamanya. Tante Natasha mengikuti di belakang, mengantar Denis sampai di depan. "Tante nitip salam buat Mami ya, Tante kangen banget." "Iya Tante, nanti Denis sampaikan. Denis pamit ya." Karena ini malam Minggu dan cafe mulai ramai, Denis sempat kesulitan untuk menerobos kerumunan para pengunjung itu. "Permisi." Denis melambaikan tangannya, lalu menggandeng tangan Diva agar bisa melewati mereka semua. Para pengungjung yang kebanyakan gadis ABG histeris melihat Denis. Sudah seperti fans yang akan bertemu idolanya. Diva yang tangannya digenggam sejak tadi hanya menunduk, ia malu dikerumuni banyak orang seperti ini. Tak salah jika mereka mengagumi ketampanan Denis, dia juga sudah terkenal sejak masih SMA dulu waktu masih sering manggung bersama band besutan bersama kedua sahabatnya. Ahmad yang merangkap sebagai tukang kebun sekaligus supir sudah standby menjemput tuan mudanya, mengantar ke bandara. "Makasih ya Mad, gue pamit. Titip rumah, sama titip Diva nanti tolong anterin kembali ke cafe." Ujar Denis yang diangguki Ahmad. "Sayang." Denis membingkai wajah Diva, Diva menatap Denis matanya mulai berkaca-kaca. "Plis, gak usah nangis. Gak cocok." Gurau Denis, ia mencolek hidung kekasihnya. "Aku pamit ya Yange." Diva menatap tubuh jangkung di depannya. Dua minggu terasa singkat baginya, dan ia harus menunggu cukup lama lagi untuk bertemu dengan Denis. "Masih kangen." Rengek Diva, ia mulai sesenggukan. Denis terkekeh geli, setelah menjalin kisah cinta selama tiga tahun ia sudah mengenal Diva lebih jauh. Sungguh sifatnya sangat berbeda dengan awal mereka pacaran. Diva yang ia kenal dulu adalah gadis yang sangat jaga image di depannya. Namun semua itu telah berubah, seiring berjalannya waktu semua sifat itu hilang dengan sendirinya dari diri Diva. Berubah jadi sosok manja saat dihadapannya. "Cup..cup.. Kita bakal ketemu lagi kok, janji gak lama. Tinggal nunggu aku selesain skripsi, nanti kita bakal bersama." Ucap Denis, diusapnya lebut rambut Diva. "Udah ya, kalau kelamaan pamitnya nanti ketinggalan pesawat." "Janji ya gak lama." "Iya Sayange, gak lama. Setahun dua tahun paling." Diva membulatkan matanya menatap Denis, setahun dua tahun katanya ? enam bulan saja ia sudah dilanda rindu yang mendalam. Kadang ia merasa ragu dengan hubungan jarak jauh yang mereka jalani, ia ragu Denis memiliki rasa rindu yang menggebu-gebu seperti dirinya. Meskipun gerak-gerik dan tutur kata Denis meyakinkannya namun ada yang mengganjal perasaannya. "Aku pamit ya, jaga diri baik-baik. Jada hatimu, see you sayang." Dikecupnya kening Diva, membuat gadis itu tertegun. Perasaan nyaman menjalar di hatinya. Akhir-akhir ini Denis suka sekali menciumnya. "Iya, kamu juga. Jangan NAKAL!" Diva sengaja menekankan kata terakhir sebagai perigatan untuk Denis, ia ingin Denis seperti dirinya yang selalu menjaga kesetiaan. Denis mendorong perlahan kopernya, jujur ia masih betah di sini. Jika saja tidak memikirkan skripsinya, sudah pastikan akan menambah jadwal liburannya. Liburan sebulan baginya sangat singkat, karena dua minggu untuk ke Semarang dua minggu lagi ia habiskan bersama keluarganya di rumah. Habis ini, ia ingin fokus menyelesaikan kuliahnya. Rencana besar sudah menunggunya. Dengan langkah berat ia melangkah masuk ke dalam bandara, sebentar lagi pesawat yang ia tumpangi akan lepas landas. Dengan sesekali menoleh ke arah Diva yang melambaikan tangan ke arahnya. Tunggu aku kembali Semarang, batin Denis. *****  Di Jakarta, Indri sudah menunggu kedatangan pesawat yang membawa Denis. Indri girang setengah mati. Selama dua minggu tak ada kabar tiba-tiba Denis menghubunginya. Tadi cowok itu mengirimkan pesan untuk menjemput di bandara. Ini pertama kali Denis membutuhkannya, ia dengan senang hati riang gembira langsung meluncur. Pesawat dari Semarang sudah medarat, Indri mengamati penumpang yang baru saja keluar. Menajamkan matanya untuk menyambut Denis kekasih  tercintanya. "Heyy... di sini." Ucap Indri saat menangkap sosok Denis. Dengan santai Denis berjalan ke arahnya, menyapanya dengan ramah. Duuuh, senangnya. Andai gini terus tiap hari kalau ketemu. Batin Indri teriak kegirangan. "Udah lama nunggunya?" "Baru kok, sejaman paling." Ucap Indri ceria. Padahal biasanya ia akan mengomel jika menunggu terlalu lama meskipun cuma lima menit, menunggu itu membosankan katanya. Tapi untuk Denis kali ini lain cerita. "Udah makan malam? Mampir cafe mau? mumpung satnight nih." Tawaran Denis di sambut dengan senang hati, kapan lagi diajak malam mingguan dengan cowok yang memiliki tingkat cuek yang tinggi kepadanya. Indri tak hentinya bergelendot manja di lengan Denis, tak peduli cowok itu merasa berat harus menahan beban tubuhnya sekaligus menarik koper. "Biar gue aja yang nyetir." Ucap Denis saat sampai di mana mobil Indri terparkir. "O-Okeyy beb." Lagi-lagi batin Indri berteriak senang. Denis melirik Indri yang duduk di sebelahnya, senyum tersungging sejak tadi dibibir tipis gadis itu yang sering ia nikmati. Dua minggu tak bertemu kangen juga rasanya. Mobil terparkir di depan sebuah cafe dengan desain cukup romantis, mereka berdua turun lalu melangkah ke dalam cafe. Lampu temaram membuat suasana kian romantis, demi tuhan Indri sangat bahagia malam ini. Denis mengelap makanan yang belepotan di sekitar bibir Indri dengan ibu jarinya, Indri sampai memejamkan rapat matanya merasa gemas. "Ndri." "Iya?" "Ada yang mau gue omongin." Indri menyangga dagunya dengan kedua telapak tangannya, memasang telinga dengan baik. "Katakan saja beib." Ucap Indri dengan gaya centil khasnya. Denis bingung memulainya, namun ia harus katakan ini kepada Indri. "Sorry , sebenarnya gue..." Denis memberi jeda sejenak, memperhatikan raut Indri. Indri masih dengan wajah seceria tadi. "Sorry, sebenarnya gue mau katakan ini udah lama. Namun gue rasa mesti ngomongin ini sekarang, sebelum semuanya terlambat." "Tentang?" Indri penasaran. "Hubungan kita kan udah setahun..." "Terus?" "Sorry Ndri, sebelum semuanya terlanjur jauh. Gue mau jujur sama lo, selama ini gue punya pacar selain elo. Dan kita udah jalan tiga tahun, rencananya gue mau serius sama dia. Jadi maaf kalau sekiranya gue nyakitin perasaan lo, gue rasa hubungan kita sampai di sini." Wajah sumringah Indri hilang seketika, berubah menjadi muram. Kekecewaan tercetak jelas di wajahnya. Bulir bening mengalir begitu saja. Indri masih di tempatnya duduk, bergeming merasa syok. Jadi selama setahun ini ia cuma jadi pelarian? Pantas saja Denis selalu cuek meskipun status mereka pacaran, harusnya ia sadar sejak awal. Dulu ia cuma iseng menjadikan Denis sebagai pacarnya, sayangnya ia terlanjur terbawa perasaan hingga sejauh ini. Ia benar-benar mencintai Denis sekarang. Ia menatap tajam Denis, orang yang ia cintai dengan tulus telah menghancurkan perasaannya. Siapa yang tak sakit diputus saat lagi sayang-sayangnya? Denis membalas tatapan tajam yang cenderung sendu itu "Sorry" ucap Denis. Ia tahu ini sangat melukai perasaan Indri, namun cepat atau lambat ia harus mengatakannya. Denis sudah memutuskan memilih Diva, orang yang selalu memberikan semangat saat ia terpuruk. Menerimanya tanpa memandang kekayaan. Bukan seperti gadis-gadis yang selama ini ia pacari. Usianya sudah dua puluh tahun lebih, bukan waktunya untuk bermain-main lagi. "Ndri, gue anterin?" Indri mencibir, sudah menyakitinya masih sok-sok an baik lagi. Ia beranjak dari duduknya, meninggalkan Denis yang menatap kepergiannya. Di dalam mobil, Indri meluapkan kekesalan dan kesedihannya. Denis baru saja pulang dijemput oleh supir pribadi Daddynya, meninggalkan Indri yang baru saja patah hatinya. Sorry Ndri, Batin Denis berucap. Mobil meluncur ke kediaman Pramudya, membawa putra sulung yang selalu menganggap anak bontot pulang ke rumah. Denis teringat Diva, diambilnya ponsel dalam tas kecil di pinggangnya. El Denis P. Yange, aku udah di Jekartah. Good night Setelah selesai mengetikkan pesan kepada Diva, Denis memasukkan kembali ponselnya ke tempat semula.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD