RCSB 5

2212 Words
  Ingin rasanya Denis menghabiskan sisa waktunya di Semarang untuk berduaan dengan Diva, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Kesibukan Diva menjadi penghambat keinginan Denis itu, Diva sudah memiliki segudang jadwal yang padat sesuai apa yang ia kerjakan setiap harinya. Membantu ibunya, kerja di cafe, dan berangkat kuliah, belum lagi menjadi guru les untuk adiknya. Denis mendengus kesal sekaligus khawatir mengetahui fakta itu, ia tak mau sang kekasih yang sangat ia sayangi kelelahan dengan kegiatan yang sepadat. Sedikit berlebihan memang, Diva sendiri sudah terbiasa karena itu semua memang kewajiban nya. Pemuda yang beranjak dewasa itu tak kehilangan akalnya, ia ikut Diva bekerja di cafe miliknya. Hal yang sudah lama tak ia kerjakan semenjak pindah ke Jakarta, sejujurnya ia rindu saat-saat masih berada di kota kelahirannya ini. Namun bagaimana lagi, mungkin sudah jalan hidup yang harus Denis lalui. Sudah hari ke tiga Denis sibuk dengan cafenya, ia tak segan melayani pembeli yang datang. Bahkan berkat kehadirannya, pengunjung cafe membludak. Setiap hari selalu dipenuhi gadis-gadis remaja, tak sedikit dari mereka yang meminta foto bersama Denis. Wajah tampannya dapat memikat siapapun yang walau baru sekali melihatnya. Ia menuruti keinginan para pengunjung, hitung-hitung mencari pahala dengan menyenangkan hati orang banyak. Disamping itu juga, dengan meningkatnya pengunjung yang datang, otomatis meningkatkan omset cafenya juga. "Capek?" tanya Denis saat melihat keringat di kening Diva bercucuran, ia dan pegawai lainnya bekerja ekstra melayani para pengunjung yang datang dan pergi silih berganti. Diva menggeleng, ia reflek mencegah tangan Denis yang hendak menyeka keringatnya dengan tisu. Tidak ingin perlakuan Denis ini membuat para pegawai lain merasa semakin iri padanya. "Makasih." Diva mengambil alih tisu itu, lalu dengan cepat menyeka sendiri keringatnya dan melanjutkan pekerjaannya. "Permisi, Mas. Minta buku menu." Ucap salah seorang pengunjung yang baru saja datang. "Silahkan Mbak." Dengan sopan Denis memberikan buku menu, dapat dilihat pengunjung itu mencuri pandang kepadanya. "Ini ya Mas, ganteng banget sih." Godanya. "Permisi Mbak, pesanan akan segera kami antar." Denis tersenyum kemudian berlalu, menuju pantry untuk meminta pegawainya menyiapkan pesanan. "Duh, capek banget." Keluh salah satu pegawainya . "Iya, kapan sih Pak Bos pulang? gak nyaman rasanya kerja ada yang ngawasin, gak bebas. Mana penuh terus nih cafe." Keluh pegawai lainnya. "Malesin ya, semoga gak lama deh dia di sini. Biar kita bisa nyantai kayak biasanya." Tanpa mereka sadari , Denis berdiri belakang mereka . Denis tahu, mungkin semua merasa lelah. Tapi tak seharusnya mereka mengeluh di belakangnya seperti ini, bukan kah sudah menjadi tanggung jawab semua pegawai bagaimana pun keadaan cafe? Ia berdehem kecil, mengagetkan mereka berdua yang sedang berkeluh kesah ria. Mereka serentak menoleh kearahnya, merasa tak enak sekaligus takut dipeca . "Bukan kah ini jam kerja santi, Nurul!" Tegur Denis . "M-maaf Pak, k-kami permisi." Ucap Santi tak enak, ia menyenggol lengan Nurul untuk mengikutinya pergi. Denis menghela napas panjang, sejujurnya bukan mereka saja yang merasa lelah tapi dirinya pun demikian. Ia melanjutkn langkahnya menuju pantry, mencoba memaklumi dua pegawainya tadi. Sebetulnya membludaknya pengunjung bukanlah tujuan Denis,ia sama sekali tak berpikir sampai ke sana. Karena tujuannya ikut bekerja di cafe hanya untuk menemani Diva saja. Dan ia pun bukan bos yang raja tega, yang memanfaatkan situasi untuk keuntungannya sendiri. Tentu saja ia akan memberi bonus untuk kerja keras mereka selama tiga hari ini. ******   Jam kerja untuk sift pagi telah usai, biasanya Denis akan mengantar Diva untuk pulang ke rumah. Namun tidak untuk hari ini, ia sangatlah lelah dan juga masih kepikiran omongan pegawai tadi. "Tumben belum pulang?" tanya Tante Natasha saat melihat ruangan Denis masih menyala. "Belum,Tan." "Keliatannya kamu capek banget?" Denis mengangguk kecil , iya ia lelah jiwa dan raganya. "Oh iya, bagaimana kabar Mami kamu? duh , Tante baru sempat nanyain. Cafe rame terus sih, jadi pada sibuk." Cerocos tante . "Baik Tante, kapan-kapan main lah ke Jakarta. Mami pasti senang." "Iya juga sih ,oke deh. Bisa Tante pikirkan, btw tante pulang dulu ya. Nih." Pamit tante sembari memberikan hasil pendapatan cafe shift pagi. Denis membaringkan tubuhnya di atas kasur setelah pulang dari cafe, entah kenapa omongan dua pegawai cafenya tadi masih terngiang di telinganya. Apa mereka tidak suka kehadirannya di sini? Bukan kah haknya untuk ikut bekerja dengan mereka? Sejak kecil Denis sangat perasa dengan omongan orang, cemoohan yang ia terima masih berdampak hingga kini ia menginjak dewasa. Sulit baginya untuk tidak memikirkan omongan nyinyir yang diterimanya. Ia memejamkan matanya, sambil menghela napas panjang. Berusaha merilekskan pikirannya. Mencoba tidur, dan berharap pikiran itu enyah saat ia bangun nanti. Namun ia malah terbayang wajah Mami. Diraihnya ponsel yang ia letakkan di nakas tadi. Ada beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Diva, Denis memilih mengesampingkannya dulu. Ia butuh Mami saat pikirannya sedang gundah seperti ini. El Denis P. Mami. Sudah tidur? Tak lama mami pun membalas pesan itu . Mami Belum, kenapa sayang ? What happen ? Mami selalu tahu bagaimana kondisi putranya, karena Denis tak pernah mengirim pesan basa-basi seperti ini. El Denis P. Kangen... Mami tahu bukan ini maksud Denis menghubungi nya . Mami Cerita gih , jangan sok melow. El Denis P. Beneran kangen mami , pengen cepet pulang. Mami Iya, sini atuh pulang. Lama-lama sih di sana. Mami sama adek-adek kangen tauk ! Denis tersenyum, ungkapan kangen Mami membuat suasana hatinya sedikit lebih baik .Ia jadi membayangkan saat masih tinggal di Semarang, belum ada kedua adiknya. Di mana kasih sayang mami tercurah seutuhnya untuknya. El Denis P. Iya Mami ku yang paling cantik, Denis bakalan pulang. Sekaligus bawa calon mantu buat Mami , boleh? Mami Beneran? Yang kemarin? Aduh Mas, kamu tuh masih 20 tahunan. Sudah mau nikah? Mami jadi sedih Jangan cepet-cepet dong, Mami tuh masih nganggep kamu anak  Mami yang masih belasan tahun. El Denis P. Yaah, ya sudah pulangnya nanti aja kalau sudah boleh nikah. Gimana ? Mami BIG NO !!! PULANG, ATAU GAK USAH PULANG SAMA SEKALI! El Denis P. Oke fine, jangan lupa coret Denis dari KK ya Mami. Mami Mami bercanda, Kakak. El Denis P. Sama, Denis juga. Mam, sudah malam. Bobo gih, capek pasti kan urus dua tuyul ? Simpan tenaga buat besok , love you. Mami Yaah ? Gak jadi cerita nih? Oke deh , love you too bontot gede nya Mami Jaga diri baik-baik sayang. Setelah Denis menyudahi percakapan mereka lewat chat , Mami masih membaca ulang pesan tadi. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya, dengan jarak yang memisahkan mereka seperti ini membuat rasa sayang mami kepada Denis tak akan pernah berkurang sedikit pun. Justru semakin bertambah. "Kok nangis?" tanya Daddy yang baru saja naik ke atas ranjang . Mami beringsut mendekati Daddy, dipeluknya tubuh suaminya yang masih gagah meskipun termakan usia. "Kangen Denis, Mami rasa dia sedang ada masalah." Daddy mengecup puncak kepala Mami "Anak kita sudah dewasa, Daddy yakin ia sudah bisa mengatasi masalah dengan caranya sendiri." Mami mengangguk kecil, ia juga sepemikiran dengan daddy. Tapi sebagai seorang ibu, ia memiliki perasaan yang lebih peka terhadap anaknya. "Bobo yuk, sudah malam." Ajak Daddy. Mami kembali mengangguk, dibaringkan tubuhnya untuk mencari posisi yang nyaman untuk terlelap. Mami tersenyum saat merasakan tangan besar melingkar di pinggangnya. "Sweet dream sayang." Bisik Daddy . *****   Tak terasa dua Minggu cepat sekali  berlalu dan besok hari terakhir Denis di kota kelahirannya ini, hari ini ia meminta Diva menemaninya seharian. Sebagai obat penahan rindu yang harus ia bendung beberapa bulan bahkan setahun ke depan, ia harus fokus dengan skripsi nya.  Diva mengirimkan pesan kepada Denis, memberi tahu jika ia hampir sampai. Denis segera bangkit dari tempat tidurnya yang nyaman, melangkah ke arah kamar mandi untuk membersihkan bau sisa-sisa cairan tidurnya. Suara motor terdengar ditelinga Denis saat ia sedang duduk di ruang tamu rumahnya, sudah dapat dipastikan itu Diva pujaan hatinya. Dengan langkah cepat dan senyum mengembang, dibukanya pintu utama untuk menyambut kedatangan Diva. "Yuk masuk." Ajak Denis. Diva menatap bangunan yang megah itu dengan pandangan takjub, dua kali ini ia ke rumah Denis dan reaksinya masih sama seperti pertama kali berkunjung. Rumah dengan dua lantai itu setara dengan 4 kali lebar rumahnya, pantas saja Diva berdecak kagum. Ini baru rumah di Semarang, belum yang di Jakarta batin Diva. Kadang ia juga merasa minder menjalin kasih dengan Denis, teman seangkatan sewaktu SMA dan juga menjabat sebagai bosnya. Mengingat jika Denis teman sekelasnya dulu membuatnya membayangkan awal mula bisa dekat dengan remaja yang bernama Denis itu, Diva merasa iba saat melihat Denis sendirian selalu murung. Diva juga kagum melihat perubahan sikap Denis ketika bersama teman-temannya, dia selalu terlihat ceria padahal disisi lain sebetulnya sangat rapuh. Dengan sifat Diva yang supel, membuat Denis mulai nyaman dan perlahan terbuka kepadanya. Ia sering curhat tentang betapa sangat merindukan sosok seorang ayah, karena sejak kecil memang tak pernah mengenal ayah kandungnya sendiri. Tapi itu semua masa lalu, kini Denis yang Diva kenal adalah Denis yang bahagia dengan kehidupan yang lebih baik. Memiliki sebuah keluarga lengkap yang harmonis, ada Daddy, Mami, dan dua adiknya yang menggemaskan. "Hei, ngelamunin apa?" Denis melambaikan tangannya di depan wajah Diva . "Ah...T-tidak." Ucap Diva sedikit tersentak. "Hmm.. Masuk yuk." Setelah Diva mengangguk, Denis masuk ke dalam rumah diikuti Diva di belakangnya. "Put, tolong buatin minum sama bawain kue ya. Terus anter ke taman belakang " Teriak Denis kencang, ia tahu kebiasaan Putri. Di jam-jam segini pasti gadis itu tengah streaming drama Korea di ponselnya, memanfaatkan hotspot di rumah ini. "B-baik den Denis, siap laksanakan." Balas Putri tak kalah kencang, ia segera meletakkan ponselnya lalu menuju dapur membuatkan pesanan sesuai perintah tuan mudanya. Di bawah pohon yang rindang, mereka berdua duduk di sebuah gazebo. Taman kecil di sudut rumah paling belakang ini sangat asri, hawanya yang sejuk membuat siapapun merasa nyaman jika berada di tempat ini termasuk Diva yang baru sekali diajak kemari. Denis melipat kedua tangannya ke belakang, menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya. Diva tak menyadari itu, ia terlalu sibuk menghirup udara yang sejuk dan menikmati pemandangan. Pot-pot bunga terjejer rapi dengan bunga indah yang bermekaran. "Cantik." Ucap Denis. Diva tersipu malu, wajahnya memerah. "Bunganya." Mata Diva membulat, malu setengah mati. Ternyata Denis memuji bunga-bunga itu bukan dirinya, ia merutuki ke-PD-annya. "Hahaha ,kenapa?" "Tahu ah!" Diva cemberut maksimal, selalu begitu. Denis suka sekali bicara ambigu, membuat Diva merasa kesal karena selalu salah menangkap arti ucapan Denis. "Yang ini juga cantik, lebih cantik dari bunga-bunga itu malah." "Gombal!" ketus Diva, ia tak mau terjebak lagi. "Ngambek? Nesu? Marah?" Denis menusuk-nusuk pipi Diva yang mulai mengembung dengan salah satu tangannya, yang satu masih berada di tempat semula, di belakang tubuhnya. Diva memutar wajahnya, membuat jari telunjuk Denis tepat di depan bibirnya. Cepat Ia menggigit jari itu. "Aduuuuuh." Denis meringis kecil. "Tahu rasa!" Diva bersorak dalam hati, setidaknya itu bisa mengurangi kekesalan dalam hatinya. Mereka terkekeh bersama, hal-hal kecil seperti ini kadang sangat mereka rindukan saat berjauhan. Denis beranjak dari duduknya, memasukkan barang yang sejak tadi ia sembunyikan ke dalam saku celananya. Dipetiknya sebuah bunga yang berwarna oranye. Ia kembali duduk di samping Diva, diselipkannya bunga itu ke telinga Diva. Lagi-lagi Diva tersipu malu, namun kali ini benar-benar malu. Sama sekali Denis tak pernah bersikap manis seperti, ia gemas dan seakan ingin mencubit kedua pipi Denis. Namun ia tak diberi kesempatan, Denis kembali mengejutkannya. Sebuah kotak kecil berhasil keluar dari celana Denis, saat dibuka di dalamnya ada sebuah cincin sederhana tapi sangatlah cantik. Disematkannya cincin itu di jari manis Diva. Denis menghela napas, membuang kegugupan dalam hatinya. "Sorry, mungkin aku bukan tipe orang romantis yang harus bertele-tele dengan hal-hal yang manis. Tapi aku harap dengan terpasangnya cincin di jari manismu bisa meyakinkan mu akan keseriusan cintaku selama ini, karena memang dari awal aku berusaha menjaga hubungan kita agar sampai ke jenjang yang serius." "Tiga tahun pacaran ditambah tiga tahun berteman, cukup untukku mengenalmu. Umur kita juga udah dewasa untuk sekedar pacar-pacaran tanpa faedah. Tolong jaga hati saat kita jauh." Ucap Denis diakhiri senyuman .Sudah sejak lama ia menyiapkan ini, ia tak mau lagi main-main. Diva bergeming, ia masih dikuasai rasa terkejutnya. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Denis menyatakan hal semanis ini, bahkan tak terpikirkan sama sekali dibenak Diva. Ia tak pernah menuntut macam-macam akan hubungannya dengan Denis, mereka menjalaninya dengan santai tak ada tekanan untuk segera meresmikan hubungan mereka. Namun hari ini Denis menyatakan kesungguhannya, dan cincin yang sudah terpasang menjadi bukti cinta Denis kepada Diva. Di pintu penghubung taman dan dapur Putri berdiri dengan dua gelas minuman dan setoples camilan  permintaan Denis tadi, ia terpaku melihat sweet moments seperti dalam drama yang sering ia tonton. Ia jadi merasa iri, ingin nasibnya seperti Diva. Ia masih menunggu sampai Denis selesai dengan acaranya, ia takut menganggu. "Soo sweeeet." Celetuk Diva . "Jadi gimana? Mau enggak ?" Denis menarik turunkan kedua alisnya. Diva terkikik geli, jujur ia lebih suka Denis yang seperti ini bukan seperti Denis yang tadi. Sangat-sangat tak sesuai dengan sifat Denis sebenarnya. "Iyaaa... Aku mau." "Mau apa?" goda Denis. "Embuh!" Kesal Diva. Denis tertawa keras, ia senang sekali membuat kekasihnya ngambek. "Permisi Den, Non. Ini minumannya. "  Ucap Putri sembari meletakkan nampan beserta isinya. "Makasih Put." Ucap Diva dan Denis berbarengan. Sebelum Putri sampai di dalam rumah, Denis memanggilnya. Mewanti-wanti agar ia tak memberitahukan apa yang ia lihat kepada Mami, biar ia sendiri yang cerita. Denis tahu Putri melihat semuanya karena gadis itu lama sekali mengantarkan minuman untuk mereka. Hampir lima belas menit, padahal jarak dapur dan taman belakang hanya beberapa langkah. "Sekali lagi, makasih ya Put." Kata Denis kepada gadis yang sepantaran dengannya itu. "Baik den, saya permisi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD