Dua sejoli menghabiskan malam dengan suka cita, mereka menebus waktu yang terlewat tanpa kebersamaan.
Mereka baru saja keluar dari bioskop, menonton film terbaru.
"Seneng?"
Sang gadis mengangguk, bisa membuat senang hati sang kekasih merupakan kebanggaan tersendiri bagi Denis. Apapun akan ia lakukan demi Diva.
Denis kembali mengajak Diva berputar-putar di salah satu mall di Semarang, ia sudah menawarinya untuk membeli sesuatu namun dengan lembut Diva menolaknya. Ini yang Denis suka, gadis itu tak pernah memanfaatkannya.
Tak terasa malam mulai larut, Denis tak ingin melanggar norma kesopanan. Ia segera mengantar Diva pulang ke rumahnya. Tak lupa membeli oleh-oleh untuk ibu dan adik Diva yang ada di rumah.
Mobi Denis sudah terparkir di depan rumah Diva, ia mencekal tangan gadis itu saat hendak turun dari mobil.
"Tunggu sebentar." Ucap Denis, ia menatap ke arah Diva.
Dibungkukkan badannya ke arah Diva.
Cup!!!
Kecupan singkat mendarat di bibir merah muda milik gadis itu.
"Manis." Ucap Denis, membuat pipi Diva merona.
Ini adalah kecupan pertama yang Diva dapat selama mereka pacaran, selama ini saat bertemu mereka hanya berkencan sehat.
Meskipun Denis sudah banyak melakukan ciuman dengan para mantan pacarnya, baru sekali ini ia berani mengecup bibir Diva.
Diva berbeda dengan gadis-gadis nakal yang ia temui di Jakarta l, Baginya Diva adalah perempuan yang harus ia jaga dan tak akan pernah ia rusak.
Kecupan barusan merupakan hal wajar kan? Sebagai wujud cinta kasihnya, Denis berjanji ini yang pertama dan terakhir. Ia akan menunggu sampai sebuah ikatan halal mengikat keduanya.
Denis turun terlebih dahulu, sementara Diva masih mematung di tempat duduknya. Masih shock dengan kecupan Denis yang tiba-tiba.
"Gak mau turun? Mau ikut aku pulang?" suara Denis mampu menyadarkan Diva.
"E-eh, i-iya. Anu, maksudnya iya mau turun." Ucap Diva gugup.
Denis terkekeh melihatnya, jujur ia juga sama gugupnya dengan Diva. Saat melakukannya tadi saja jantungnya berdetak kencang.
"Aku pamit sama ibu ya, setelah itu aku pulang."
Diva mengangguk, mereka berjalan beriringan sampai di depan pintu.
Ibu Diva sudah menunggu anaknya, tidak baik jika sampai malam gadis itu belum juga pulang. Untung kini anak itu sudah sampai di rumah.
"Maaf Bu, kemalaman." Ucap Denis sungkan, ia merasa tak enak. Karena ternyata ini sudah pukul 21.30.
"O-oh, tidak apa-apa nak . Ibu maklum kok, kan kalian memang jarang menghabiskan waktu berdua." Kata sang ibu maklum .
"Baik kalau begitu saya pamit, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Ucap mereka berdua berbarengan .
Diva dan ibunya menatap Denis sampai masuk ke dalam mobil, dan perlahan mobil itu melaju meninggalkan pelataran rumah mereka.
"Masuk yuk Buk," ajak Diva kepada ibunya yang masih menatap jalanan.
"Denis baik ya, ibu dibeliin oleh-oleh banyak banget. Lupa bilang makasih lagi, besok sampein Yo nduk."
"Iya buk, yuk masuk." Ajak Diva lagi, mereka masuk ke dalam rumah.
******
Selama di Semarang, Denis menyempatkan bertemu dengan Devan dan Rama. Sahabat terbaik dalam hidupnya, tak ada yang bisa menggantikan mereka. Pasalnya merekalah yang selalu memberi semangat dalam keterpurukan yang di alami Denis.
"Basecamp yok."
"Sudah lama, masih basecamp aja?" tanya Denis.
"Masih lah, walaupun formasi sudah gak lengkap kita masih sering ke sana kok."
"Iya, sekalian nostalgia." Timpal Raka.
"Oke deh, yok." Ucap Denis.
Dengan semangat Denis mengendarai mobilnya, terlebih dahulu ia akan menjemput Diva.
"Loh, kita mau ke mana!" Teriak Rama saat Denis tidak mengarahkan mobilnya ke tempat yang akan dituju.
"Jemput pacar dulu dong." Cibir Devan , ketiganya tertawa.
"Masih sama Diva toh? Kirain sudah putus."
"Masih lah."
"Masih setia juga?" seloroh Devan.
Suara Denis tercekat, selama di Jakarta ia sering sekali bergonta-ganti pasangan. Ya, meskipun tanpa ada rasa.
"Ma-masih." Ucap Denis gugup.
Raka dan Devan yang duduk di jok belakang tergelak l, mereka merasa lucu dengan Denis yang tak biasanya gugup begitu.
"Hahaha, Lo lucu kalau lagi gitu . Syukur deh kalau masih setia." Ucap Rama disela-sela tawanya.
Mereka bertiga telah sampai di depan rumah Diva, gadis itu sudah standby. Setelah pamit dengan ibu Diva, mereka berangkat ke studio musik yang dulu jadi basecamp kedua mereka setelah rumah singgah milik Denis .
Tak perlu repot untuk mengantri, karena Rama telah membooking tempat itu terlebih dahulu untuk empat jam ke depan. Lumayan lama. Rama sengaja agar bisa berlama-lama menyalurkan hobi bersama teman lama.
"Cek..cek...dicoba ..."
"Siap?"
"Yoook ah."
Suara Denis menggema, suara merdu meskipun sudah lama ia tak bernyanyi lagi seperti saat ini karena sibuk dengan kegiatannya.
Sementara Denis dan kedua sahabatnya main, Diva sibuk merekam video. Sebagai kenang-kenangan. Suatu hari kalau sedang rindu, ia akan memutar kembali rekaman ini.
Tak terasa empat jam sudah berlalu, mereka nampaknya enggan untuk meninggalkan tempat yang menyimpan banyak kenangan bagi ketiganya.
Masa-masa SMA yang sangat menyenangkan, mereka lebih memilih mengisi waktu mereka dengan hal yang positif. Ngeband ini misalnya. Bahkan mereka sudah mempunyai nama besar di kalangan remaja usianya, sayang kepopuleraan mereka yang sedang naik harus tebuang sia-sia. Banyak tawaran yang ditolak, karena sang vokalis akan berpindah domisili ke kota metropolitan. Tidak ada yang bisa memaksa Denis untuk tinggal, karena itu adalah keputusan dari kedua orangtua Denis. Biarkan semuanya menjadi kenangan indah yang bisa mereka kenang.
Masih dalam acara lepas kangen, Denis mengajak ke cafenya. Sudah lama juga ia tak berkunjung ke sana, cuma laporan rutin dari Natasha saja yang ia terima. Kasihan juga wanita paruh baya seumuran dengan Maminya itu, mengurus dua cafe sekaligus. Tak pernah ada keluhan dari pegawai ataupun pelanggan cafe yang Denis terima, semua berkat kerja keras Natasha sebagai seorang manager. Sesekali bolehlah Denis memberi apresiasi kepadanya, tiket liburan keluarga misalnya. Nanti akan Denis pikirkan.
Seorang pelayan cafe membawa empat gelas ice cappuchino, mengantarnya ke meja di mana keempat s*****n itu duduk.
"Pas banget, cuaca panas gini minum yang adem-adem." Celetuk Rama
"Iya nih, apalagi gratisan kayak gini. Mantep." Timpal Devan, keduanya tertawa bersama. Denis hanya tersenyum melihat tawa bahagia mereka, ternyata beberapa tahun terlewat, tak ada yang berubah. Mereka masih suka dengan yang namanya GRATISAN.
Sedangkan Diva, ia sedang menyembunyikan wajahnya. Merasa tak enak dengan pelayan lain, yang lain sibuk kerja ia malah enak-enakan. Sama si boss lagi. Habis ini, ia pasti akan dibully habis-habisan oleh pelayan yang sudah senior di cafe. Mereka iri dengan Diva yang bisa pacaraan dengan bos besar mereka.
Hari menjelang sore, Rama dan Devan pamit pulang. Dicari mama katanya. Dasar, sudah sedewasa ini masih saja takut dengan mahluk yang bernama "MAMA". Takut durhaka katanya jika tidak menuruti apapun yang mama katakan.
Dengan pulangnya kedua curut itu, Denis juga mengantar Diva pulang ke rumahnya. Tak enak jika mengajak anak orang terlalu lama, belum ada ikatan resmi lagi. Hanya sekedar pacaran. Berbeda saat di Jakarta, Denis tak pernah memikirkan nasib gadis yang menjadi teman kencannya. Karena pasti orang tuanya tak akan pernah peduli dengan anak gadisnya, mereka sibuk dengan pekerjaan sehingga tak terlalu mengurusi pergaulan anak-anaknya.
Mobilnya sudah terparkir di depan rumah Diva. Seperti kemarin , ia menahan saat Diva hendak turun dari mobilnya. Ditariknya tengkuk Diva agar mendekat.
Denis mengecup bibir Diva untuk kedua kalinya, kali ini disertai lumatan kecil .Sejak ciuman pertama mereka, bibir Diva seakan menjadi candu baginya. Terlalu manis untuk tidak dikecup. Pipi Diva memerah. Iasama sekali belum pengalaman masalah ciuman, jadi ia hanya diam tanpa membalas sembari mengatur detak jantungnya yang berbar kencang.
Satu menit, sudah bisa mengobati rasa candu yang Denis rasakan. Ibu jarinya terulur untuk menyeka bibir Diva yang basah karena ulahnya.
"Cuma punyaku." Bisik Denis posesif , ia ingin bibir Diva hanya miliknya. Diva mengangguk samar, lalu turun dari mobil.
Denis pamit dengan ibu Diva, kemudian pulang ke rumahnya.
*****
Dengan menggunakan handuk, Denis menyeka rambutnya yang basah. Ia baru saja selesai mandi. Di tangannya yang bebas ia mengetik pesan, mengirim balasan untuk sang Mami yang rutin menanyakan kegiatannya. Selalu begitu, saat Denis tidak di Jakarta Mami akan terus memantaunya. Baru juga beberapa hari, batinnya.
Felicia Pramudya
Pagii...
Lagi di mana ?
Sama siapa ?
Ngapain aja ?
Kapan pulang ?
El Denis P.
Di rumah , sama Putri sama pak bon ,mau pergi-pergi happy-happy , 720 jam 30 menit 16 detik lagi.
Mami yang tengah duduk di sova ruang tamu terkekeh membaca jawaban dari putranya, sampai Mami membuka aplikasi untuk mengetahui berapa hari lagi Denis akan pulang. Sekitar 11,5 hari lagi, masih lama. Matanya sesekali mengawasi Adrian yang tengah belajar merangkak di karpet ditemani Airin dan pengasuhnya.
"Hape mulu." Cibir Daddy.
"Lagi chat sama Denis, jangan cemburu." Ketus Mami .
"Coba lihat, sini!" Daddy merebut ponsel mami, memastikan mami benar-benar chat dengan anaknya.
Mata daddy menajam, saat melihat foto yang baru saja Denis kirimkan.
El Denis P.
Ini kemarin mam , pas main sama Rama sama Devan juga.
"Ihh, Daddy. Ganggu saja , Denis lagi curhat . Ini , pacarnya dia di Semarang. Cantik kan?" tanya Mami.
"Siapa yang cantik Mi?" ucap Sebuah suara dari ambang pintu.
Suara itu membuat Mami dan Daddy menoleh, Adam dan Rissa berdiri di sana dengan Tara berada digendongan Rissa. Mami dan daddy menyambut kedatangan mereka, meskipun telat karena mereka sudah melangkah menghampiri Mami dan Daddy.
"Yang cantik Mami, aduuh cucu Oma yang ganteng. Oma kangen, sayang." Mami mengecup pipi Tara,cucu pertama dari putra sulungnya.
"Ke sini kok tidak ngabarin sih?" Mami mencubit lengan Adam keras, membuat sang empunya meringis ke sakitan. Beberapa paper bag yang ia bawa terjatuh.
"Sakit, Mi." Keluh Adam .
Rissa hanya tersenyum melihat suaminya merintih, ia tak kaget lagi melihat perlakuan sang mertua terhadap suaminya. Mami masih saja memperlakukan Adam seperti anak kecil yang nakal. Mencubit, memukul b****g, menciumi pipi adalah cara mami melampiaskan rasa kangennya.
"Ayo, duduk." Ajak Daddy, tak ingin tamunya hanya dibiarkan berdiri.
"Baik Dad." Ucap Rissa dan Adam bebarengan, mereka duduk.
Tara yang sejak tadi anteng dalam gendongan sang ibu meronta, meminta turun ke atas karpet. Bergabung dengan Om dan Tante kecilnya. Rissa ikut bergabung bersama mereka.
Setelah meminta asisten rumah tangga membuatkan minum untuk tamunya, Mami kembali sibuk dengan ponselnya. Membalas pesan beruntun yang Denis kirim karena Mami tak segera membalas.
"Serius amat?" tanya Adam ketus, kedatangannya diabaikan. Padahal ia baru saja mudik dari Semarang, dibela-belain ke rumah mami malah dicuekin.
"Aduuuh, Mami lagi buka sesi curhat. Buat adekmu, ." Ucap Mami.
Adam mendengus kesal, ternyata Denis yang membuat fokus Mami tidak berada di sini.
"Lihat. Pacar adekmu, cantikkan?" Mami memperlihatkan foto pacar Denis.
Adam mencibir, cantik darimana ? Seperti tante-tante .Batin Adam .Entah sudah berapa gadis yang Adam tahu sebagai pacar adiknya itu. Rata-rata mereka semua memiliki wajah yang boros. Tampang seperti ibu-ibu beranak satu. Apa mungkin karena muka Denis yang kelihatan imut ? Membuat gadi-gadis itu jadi terlihat dewasa ? Entahlah .
"Ini yang keberapa sih?"
"Mami juga gak ngitung, banyak kayaknya."
"Playboy ya dia?" tanya Daddy penasaran .
"Iya lah Playboy, lihat bibitnya dong. Lo kan doyan kanan kiri." Suara lain lagi-lagi menyerobot obrolan Mami dan Daddy.
Kini ada rombongan keluarga Milka, berbeda dengan Adam yang dipersilahkan duduk. Mereka sama sekali tidak, toh mereka saat ini sudah duduk manis membaur dengan Mami dan Daddy. Daddy mendengus kesal, suami sepupunya itu memang kurang ajar.
"Ngapain ke sini!" ucap Daddy garang , ia selalu tak ramah akan kehadiran Aditya. Mantan kekasih mami yang sekaligus ayah dari Adam.
"Nganter tuh, duo babon. Kangen Adrian katanya, maklum lah gue dan istri belum dikasih yang imut kayak Adrian sih." Ada segelintir curhatan di dalam ucapan Adit.
"Oh iya, gimana tadi Fel? si Denis ? playboy?" sambung Adit, ia masih kepo. Dan juga mencari bahan untuk meledek Daddy.
"Kalau kata aku sih enggak playboy ya, soalnya dia kan masih milih. Masih muda juga kan, jadi wajar kalau punya banyak teman dekat." Kata Mami membela Denis.
"Ya sama aja kan Fel, gue rasa itu turunan sih dari Daddy-nya. Satu? mana cukup?" Adit sengaja menjadikan kisah masalalu Daddy sebagai bahan olokan.
Ia melihat raut wajah Daddy, masih biasa saja. Tidak ada kemarahan yang terlihat, Adit memasang tampang melas. Ia kali ini gagal mengusili kakak sepupu dari istrinya itu. Mereka semua tertawa melihat air muka Adit, lucu sekali. Seperti bayi komodo.
Daddy sepertinya sudah mengantisipasi agar tidak marah atas cibiran Adit, lagi pula itu masa lalu. Yang pentingkan sekarang tidak lagi.
"Mas Denis ke mana Tante?" tanya Audrie.
"Ke Semarang, berlibur katanya."
"OOOOhhh."
"Kok dia tidak bilang aku? Kan bisa barengan liburnya." Ucap Adam.
"Mana Mami tahu, biar tidak diganggu mungkin." Kata Mami.
Suasana rumah keluarga Pramudya ramai sekali pagi ini, riuhnya celotehan tiga balita ditambah 8 orang dewasa membuat suasana menjadi hangat akan kebersamaan. Cuma kurang satu, Denis.
Di Semarang, Denis mengusap-usap kupingnya yang terasa panas. seperti ada yang sedang membicarakan tentangnya.
"Siapa sih yang ngomongin gue." Gerutu Denis. Ia segera memakai bajunya, bersiap mengunjungi rumah singgah yang ia bangun sewaktu SMA dulu.