RCSB 3

1509 Words
Sekitar jam sebelas siang Diva selesai mengerjakan tugas dari ibunya, mulai dari menyapu, ngepel, cuci baju, cuci piring, dan membantu ibunya melayani pembeli. Istirahat sebentar, lalu bersiap untuk bekerja. Diva bekerja di cafe milik Denis, tujuannya supaya ia aman dan ada yang mengawasi. Tentu saja ataspermintaan Denis. Natasha, teman Maminya Denis sekaligus menejer cafe itulah yang selalu memberikan informasi tentang Diva. Disamping menjadi pelayan, Diva juga kerap menjadi penyanyi di acara live music yang kerap diadakan di cafe itu. Jam kerja Diva hanya sampai jam 18.00, karena setelah itu ia harus kuliah. Meskipun kondisi ekonominya yang kurang mampu, tidak mematahkan semangat Diva untuk terus melanjutkan cita-citanya. "Diva pamit kuliah dulu ya, Tante. " pamit Diva kepada Tante Natasha, wanita yang sudah menjadi atasannya selama tiga tahun itu. "Hati-hati di jalan." Ucap Tante Natasha. Wanita yang diberi kepercayaan untuk mengurus cafe Denis itu jauh dari kata sombong, jabatan yang tinggi diamanatkan kepadanya tak pernah merubah kepribadiannya. Toh mereka sama-sama pekerja, jabatan yang ia sandang saat ini hanyalah titipan. Banyak karyawan yang betah karena sifat Tante Natasha yang penyayang, dan tak pernah membeda-bedakan antara satu sama lain. Diva termasuk salah satunya. Ia malah sangat dekat dengan Bu managernya itu. Setelah kuliah pun, Diva masih harus menjadi guru les bagi adiknya yang duduk di kelas 7 SMP. Tak ada kata berleha-leha bagi Diva. ***** Tanpa disadari  Diva, ada seseorang yang dari pagi menunggu balasan. Orang itu uring-uringan sepanjang hari. "Mas, tidak makan malam?" Suara mami menggema bersama ketukan pintu berulang kali. Yang di dalam sepertinya enggan menjawab. Mami mencari cara lain, ia mengambil ponselnya dan memencet nomer putranya. Sekali, panggilan itu belum dijawab. Dua kali, masih sama. Ketiga kali, Mami mulai panik. Takut di dalam kamar anaknya melakukan hal yang tidak-tidak. "Daddy, tolong bujuk Denis dong. Dia belum makan malam Dad, nanti sakit. Pintu kamarnya dikunci lagi." Rengeknya manja kepada Daddy yang berada di ruang makan. "Capek mungkin dia Mam, biar istirahat dulu." Ucap Daddy mencoba menenangkan Mami. "Mami cemas, ayolah Dad." Mami kini sudah bergelayut manja dilengan Daddy. Airin yang sedang duduk di samping Daddy, terkikik geli melihat tingkah Mami. Ia mengikuti, memegang lengan Daddy yang satunya. "Mam, jangan manjaan di sini. Ada Airin." "Iya iya , yuk buruan ke kamar Denis. Airin, sama mbak yaa. Mami sama Daddy ke kamar Mas mu yang manja itu." Ucap mami pada putri kecilnya. Airin mengangguk . Sepasang suami istri itu berjalan ke kamar Denis, mencoba membujuk anak itu agar mau makan malam. Mami khawatir kalau ia sakit , seharian pasti lelah. Tok..tok.. tok... "Mas. Buka pintunya! Mami khawatir nih." Teriak Daddy . Denis yang sedang berbaring sembari meratapi kegalauannya mendengus kesal, ia dengan malas melangkah ke arah pintu sebelum Daddy mendobraknya. "Males makan Dad, Mam." Ujar Denis. "Jangan gitu dong sayang, kata Daddy tadi di kantor kamu juga tidak makan. " Ucap Mami, ditatapnya wajah sendu milik Denis. "Tidak Mam, Denis masih kenyang." Denis keukeuh tidak mau makan. Mami melihat kesedihan di wajah Denis, perasaan seorang ibu sangatlah kuat. Mami bisa tahu apa yang dirasakan anaknya, mami mendekat lalu membingkai wajah putranya itu. "Galau? Gara-gara siapa nih? Vina? Gita? Indri? Lisa? Mita? Atau yang mana?" Daddy hanya melongo mendengar beberapa nama gadis disebut, siapa mereka? Pacar Denis semua? Sebanyak itu? "Bukan Mam, sudah putus semua tinggal Indri." "Jadi karena Indri?" Denis menggeleng. "Ada lah Mam, sudah ya. Denis ngantuk." "Ya sudah, kalau mau makan nanti lauknya tinggal hangatin sendiri." "Iya." Daddy masih kepikiran tentang gadis-gadis yang disebutkan Mami, ia takut Denis menuruni sifatnya dulu. Sebagai ayah Daddy berharap anaknya bisa menjadi lelaki sejati, yang tak pernah menyakiti perasaan seorang wanita seperti dirinya di masa lalu. Daddy mengikuti Mami masuk ke dalam kamar, Mami menidurkan Airin terlebih dahulu. Setelah Mami kembali dari kamar Airin, Mami mendapati Daddy yang telah tertidur lelap. Dinaikkannya selimut untuk menghangatkan tubuh Daddy, Mami ikut berbaring . Sebelumnya Mami menatap wajah polos putra bungsunya yang kini berusia enam bulan yang sudah tertidur. Like father like son .Batinnya . Karena memang wajah Adrian ini menuruni paras Daddy, sama sekali Mami tak kebagian. Diusapnya pipi Adrian dengan lembut. "Kakak kamu sedang galau, Mami jadi kepikiran kalau kamu gede besok. Bakalan seperti apa ya? Kayak Mas mu apa lebih parah?" Mami terkikik sendiri membayangkannya. "Sweet dream sayang, semoga Mami dan Daddy bisa mendampingi mu hingga kau dewasa kelak." Mami mengecup pipi Adrian, lalu menyusul Daddy ke alam mimpi . **** Sudah beberapa hari ini Denis tidak mengangkat telpon atau membalas pesan yang Diva kirimkan, gadis itu yakin jika kekasihnya marah kepadanya. Diva Yange sorry ... Diva Yange , sorry.... Sudah puluhan kali ia mengirim pesan seperti itu, tak satupun mendapat balasan. Ia akui memang salah karena tidak membalas ungkapan kerinduan dari sang kekasih, bukan maksudnya dengan sengaja mengabaikan pesan itu. Kesibukan membuatnya sangat lelah, dan tak sengaja belum sempat membalas pesan itu. Sudah beberapa jam ia pandangi benda pipih yang berada di depannya, berharap ada secercah harapan datang dari Denis. "Assalamualaikum." Suara seorang lelaki dari luar rumahnya, tepat di depan toko. Diva sengaja mengabaikan suara itu, paling-paling tetangga yang ingin membeli sesuatu. Biar ibunya saja yang melayani, ia sedang malas. "Assalamualaikum." Sudah beberapa kali orang itu mengucapkan salam, namun sepertinya belum ada tanda-tanda ibu menyambutnya. Dengan terpaksa Diva yang akan melayani pembeli itu, menyebalkan. Ia mengedarkan pandangannya, ternyata rumah saat ini sedang tak ada orang kecuali dirinya. "Pada ke mana sih!" gerutu Diva. "Maaf Mas, kalau mau beli rokok nanti saja. Belum kulak. " Ucap Diva sinis tanpa memandang wajah lawan bicaranya, padahal ia belum tahu maksud apa orang itu datang kemari. Orang itu terkekeh, namun tak beranjak dari tempatnya setelah mendengan pengusiran Diva tadi. "Bukan mau beli rokok, karena saya bukan perokok." Diva mengalihkan pandangannya, menatap seseorang yang sudah menganggu hari nya. Orang itu tersenyum. "Yange?" "E'em." "Nyebeliiiiiiiin!" teriak Diva, ia memukul lengan Denis. Lelaki itu menepati janjinya yang dikatakan kepada Diva melalui pesan, Diva kira Denis marah hingga "menghilang" selama beberapa hari. "Kangen Iyah?" goda Denis . "Sorry, sengaja gak bales pesan. Biar kamu kangen." Sambung Denis, wajah Diva memerah. Jadi? Denis sengaja? Ya memang benar sih, dengan tidak membalas satu pesan pun yang dikirim membuat Diva kangen setengah mati kepadanya. Pintar juga Denis. "Nyebeliin, ngambek nih." "Harusnya aku dong yang ngambek, orang kamu yang mulai duluan." Denis menyolek hidung bangir milik Diva. "Maaf, aku kecapean soalnya." Kata Diva jujur . "Selalu begitu, makanya kalau aku bilang nurut dong. Istirahat nya yang bener, diforsir sih." "Maaf deh, masuk yukk." "Ibu ada?" "Enggak." "Di sini saja deh." Ucap Denis . Ia duduk di bangku kayu yang ada di teras rumah, lebih baik mereka di sini daripada harus di dalam rumah hanya berdua. "Minum apa?" "Gak usah repot, kayak siapa aja." "Kan tamu dari jauh." "Iya,jauh. Tapi dekat di hati.hahaha." Gombal Denis. Mereka tertawa bersama. Dua bulan tidak bertemu, rasanya seperti setahun. Mereka memanfaatkan waktu untuk saling melepas rindu, saling memandang wajah satu sama lain. "Kangen yange." Rengek Denis. "Sama, kamu sih jauh." Wajah Diva berubah murung. "Sabar, gak bakal lama lagi kok." Ucap Denis. Ada maksud tertentu dalam ucapannya ini. Dua jam lamanya mereka berada di depan rumah Diva, belum ada tanda-tanda ibunya akan pulang. Denis segera pamit, tidak baik jika lama-lama hanya berdua. Ia takut hilaf, mengingat rindunya yang menggebu. Diva sedikit kecewa saat Denis akan pulang, masih kangen. Namun terobati setelah Denis mengatakan akan mengajaknya kencan nanti malam. Saat-saat yang menyenangkan baginya untuk menghabiskan waktu dengan lelaki itu. ***** Baru setengah hari memijakkan kakinya di semarang, Denis sudah diteror oleh Mami . Notifikasi di ponsel utamanya membludak. "Halo,Mam." Bukan suara maminya, tapi suara Airin yang terdengar. "Mas eniiiiisss." "Iya sayang, Adek Mas Denis." "Anen." "Iya Mas juga, dua minggu lagi Mas pulang yaa." "Huaaaaaaa." Airin  menangis kencang. Baru juga sehari, bocah itu sudah rewel. "Aduh, nangis. Sudah dulu ya Mas , Adekmu kangen banget sama kamu soulmate berantemnya. Hati-hati di sana ya Mas , jaga diri." Pesan Mami mewanti-wanti putranya. "Baik Mam." Denis melempar ponselnya ke atas kasur, selama di Semarang ia akan tinggal di rumahnya. Rumah warisan Daddy, sedangkan rumah Mami dikontrakkan. Sengaja ia tidak menjual rumah ini, karena satu-satunya alasan ia bisa sering ke Semarang ya kangen rumah ini. Meskipun ada hal lainnya lagi. Hubungannya dengan Diva memang ia rahasiakan kepada kedua orang tuanya, sebagai kejutan katanya. Ia yakin tak salah memilih Diva. Gadis pujaan hatinya. Tok...tok...tok... "Den, makan siang udah siap." Suara Putri dari luar kamar Denis, anak dari Bi Parni yang menggantikan menjaga kediaman tuannya, beliau sudah mengundurkan diri sejak lama karena ingin menikmati masa tua di desa bersama suaminya. Jadilah kini anak bungsunya yang menggantikan, beserta anak sulungnya -Ahmad. "Iya Put, sebentar." Ucap Denis, ia segera membuka kopernya. Mencari baju ganti. Setelah selesai, ia menuju meja makan. Putri memang pandai memasak, sebelas dua belas sama masakan bisa Parni. Tidak sulit bagi Denis untuk menyukai masakan Putri. "Makan di sini sekalian Put," tawar Denis. Ia tak suka makan sendirian di rumah Mami selalu ramai dengan adik-adik yang menemani makan dan selalu minta disuapin. Dengan sungkan Putri menuruti majikannya, ia ikut makan bersama Denis di meja yang sama dengan makanan yang sama pula mereka makan dalam hening.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD