RCSB 12

1695 Words
Sarapan berlangsung hikmat, semuanya menyuapkan makanan di depannya dengan lahap. Kecuali Denis, masih mengecap-ngecap rasa ayam goreng yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Rasanya... Sedikit aneh. "Bukan Mami ya yang goreng?". "Hah?". "Bukan Mami ya yang goreng ayamnya? Terlalu kering Mam." Kritik Denis. Diva menelan makanannya dengan susah payah, segitu pekanya kah dengan masakan? Bahkan ia bisa tahu kalau ini bukan Mami yang menggoreng. "Diva tadi yang bantuin Mami, sama saja kok." Denis manggut-manggut maklum, tapi juga senang bisa mencicipi masakan calon istrinya. "Karena yang goreng Diva, jadi enak deh." Pujinya . Ucapannya barusan menjadi bahan ledekan Devan "Iya deh, yang dimasakin calon bini." "Cieeehhhhh." Meja makan menjadi riuh hanya karena suara Devan dan Rama, Diva hanya diam sembari menutupi wajahnya yang merona malu. Dengan entengnya mereka meledeknya di depan Mami, tanpa memikirkan Diva yang malu setengah mati. "Sudah... Sudah, dilanjut lagi makannya." Interupsi Mami sebelum suasana tambah ramai *****. Denis memutar-mutar kunci mobil dengan jari telunjuk, menjadikannya mainan. Bukan karena kurang kerjaan, kembalinya Diva kembali ke Semarang lah yang membuatnya bermuram durja. Padahal ia sudah menyusun segudang daftar kegiatan bersama sang pujaan hatinya itu, namun semua hanyalah sebuah rencana karena adik Diva menelpon memberitahukan sang ibu tengah sakit dan Diva harus segera pulang. Dengan berat hati Denis mengiyakan, karena itu berhubungan dengan calon ibu mertuanya juga. Ibu mertua katanya? Pede sekali Denis. "Sudah berangkat ya mereka?" tanya Mami sembari meletakkan secangkir kopi panas untuk Daddy di atas meja. Denis megangguk lesu, ia ikut duduk di samping Daddy yang sedang sibuk dengan tab ditangannya mengecek laporan dari asistennya. "Sibuk terus, elus-elus saja terus!" Ketus Mami . Tadi memang Daddy hanya bekerja setengah hari sesuai janjinya, tapi sama saja kalau masih membawa pekerjaan ke rumah. Ingin sekali Mami membanting benda pipih lebar itu, gemas rasanya. Daddy melirik Mami, lalu tersenyum geli. Posesif sekali Mami, merajuknya sudah seperti Daddy jalan bareng wanita lain saja ini kan Cuma tab. Tak mau Mami tambah ngambek, segera tablet itu Daddy letakkan ke atas meja. Diseruputnya kopi buatan mami yang selalu enak. "Daddy tidak bakalan super sibuk kalau ada yang bantuin, ini apa-apa Daddy sendiri. Yah meskipun ada asisten dan orang kepercayaan, tapi Daddy masih tetep harus turun tangan." Ucap Daddy, ada curhat colongan yang tersirat di sana bahwa sebetulnya Daddy juga merasa lelah. Denis yang suasana hatinya belum membaik, berpindah tempat duduk lalu merebahkan tubuhnya. Paha Mami ia jadikan bantalan, posisi seperti inilah yang paling ia senangi. Bermanja kepada Mami. Mumpung kedua bocilnya sudah pada tidur, ini kesempatan untuknya. "Kenapa sayang ?" tanya Mami . "Capek atuh, butuh bantuan." keluh Daddy. "Bukan Daddy, tapi Denis. Mami masih ngambek sama Daddy!" Mami melengos kala Daddy menatapnya . "Giliran sama anak aja sayang-sayang, kalau sama aku mah boro-boro." Ucap Daddy mencibir. Denis terkikik geli mendengar Daddy yang cemburu pada anaknya sendiri "Sudah jangan bertengkar, nanti aja dilanjut di kamar . hehe." "Ajaran siapa nih?" Mami menyentil kening Denis . "Hehehe, sorry." Denis baru ingat rencananya yang sempat gagal dikarenakan Diva yang sudah pulang, bagaimanapun itu harus segera disampaikan kepada mami dan Daddy. "Mam, Dad." Denis bangkit dari tidurnya. "Hmm." Sahut Daddy. Lidah Denis terasa kelu, susah sekali merangkai kata. Padahal dibenaknya sangat mudah sekali menyampaikan ini "Anu Dad..." "Oh iya , Daddy hampir lupa." Potong Daddy terlebih dahulu . "Kamu kan sudah lulus kuliah? jadi Daddy harap kamu bisa mulai aktif ngurus perusahaan mulai bulan depan." "Bulan depan kan seminggu lagi Dad? Gak kecepetan?" "Daddy rasa tidak, cepat atau lambat pun kamu bakal terjun langsung ke dunia bisnis." "Oh.. Oke." Daddy segera memberikan tab nya yang berisi segudang laporan yang ada di perusahaa, Daddy ingin Denis mempelajarinya dari sekarang sebelum minggu depan turun tahta. Terlalu sibuk dengan urusan kantor, membuat Denis urung mengatakan niatnya untuk meminta restu. Daddy dan mami pun sudah masuk ke dalam kamar, karena memang ini sudah tengah malam. Denis menghela napas panjang, ternyata tak semudah ia bayangkan. Mengatakan dan langsung disetujui Mami dan Daddy. Salahnya juga yang tak langsung berterus terang. "Haaaah, besok atau lusa lah gue coba ngomong lagi." *****   Hari ini pertama kali Denis mulai aktif di kantor, sedikit banyak ia sudah mengerti tugasnya jadi Daddy hanya mengawasi dan mengarahkan sampai anaknya bisa dipercayakan memegang perusahaan ini sendiri. Denis menempati ruangan tepat di sebelah ruangan Daddy, sengaja agar memudahkan mereka untuk berdiskusi atau apapun itu. Ia juga dibantu oleh Sarah, sekretaris baru yang dipekerjakan untuknya. "Permisi pak Denis, ada yang anda butuhkan?" ucap Sarah saat memasuki ruangan Denis, tak ada yang menyuruhnya masuk itu hanya inisiatifnya sendiri kalau-kalau bosnya butuh sesuatu. Dan alasan Sarah saja untuk melihat wajah bos mudanya yang tampan. "Saya belum butuh bantuan Sarah, nanti kalau perlu sesuatu saya hubungi kamu lewat intercom." Jawab Denis tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang ia pelajari. "Baik pak." Sarah segera keluar dari ruangan. "Ganjen." Gumam Denis, ia memang sudah hapal tipe-tipe gadis seperti Sarah ini yang sengaja mengambil perhatiannya. Namun sayang, Denis tetaplah Denis. Ia tak akan tergoda dengan gadis yang secara terang-terangan tertarik padanya, ia lebih suka dengan yang susah ditaklukan . Lagi pula sekarang di hatinya hanya ada Diva seorang, mengingat Diva segera diraih ponsel yang ada di dalam saku jasnya. El Denis P Kangen.. Send... Diva Sama yange. El Denis P Sabar ya , nanti kalau libur aku ke Semarang. Diva Iya , semangat kerjanya :* El Denis P Yoyoy :* Pintu ruangan Denis kembali terbuka, Denis sengaja mengabaikannya paling juga Sarah lagi. "Hape mulu! kerja yang bener!" Cibir seseorang . Denis mendengus kesal, suka-suka dia lah kan dia bosnya. "Terus? masalah?" "Masalah, ini kan jam kerja. beri contoh yang baik buat karyawan dong, mau karyawanmu sibuk berchatting ria dijam kerja?" "Gak ada yang tahu ini, Mas juga ngapain keluyuran? kasih contoh yang baik dong buat karyawan." Denis membalikkan ucapan Adam membuat kakaknya itu tertawa . "Bisa bae lu bocah." Adam mendekat lalu mengacak rambut Denis. "Asem lu Mas, berantakan rambut gue!" dirapikannya kembali rambutnya menggunakan jari, enak saja rambut yang sudah ia tata rapi jadi berantakan. "Ngapain sih ke sini?gak ada kerjaan?" Adam duduk dengan nyaman di sofa baru ruangan itu. "Banyak, cuma gue kangen saja sama lo. Udah lama kan gak ketemu." "Sok sibuk sih, lupa sama Mami juga. Durhaka baru tahu rasa!" Adam terkekeh, durhaka satu kata keramat yang sampai saat ini masih sangat ditakuti oleh Denis membuatnya mengingat masa kecil mereka yang sering bertengkar yang akhir-akhir ini sudah jarang mereka lakukan. Meski kini Denis sudah tumbuh dewasa, ternyata ia tetap menjadi adiknya yang polos. "Mas kan udah punya tanggung jawab sendiri dek, jadi gak bisa sering-sering ngunjungin Mami juga. Tahu sendiri kan kakak iparmu sibuknya minta ampun, jadwal pemotretannya padat." Keluh Adam . "Alasan!" Satu suara menginterupsi obrolan mereka, bersamaan dengan pintu ruangan itu yang terbuka. "Mamiiiiii." Adam beranjak dari duduknya, menyambut kedatangan sang mami yang menenteng tumpukan rantang ditangannya. "Adam kangen." Ucap putra sulung Mami dengan manja, diraihnya tangan Mami lalu dicium punggung tangan Mami dengan hormat. "Ke mana saja? jarak rumah kita kayaknya tidak jauh-jauh amat, sesusah itu buat nengok Mami sama adik-adikmu?" Mami meletakkan rantang yang di bawanya ke atas meja, menata piring yang telah dibawa dari rumah untuk makan siang. "Bukan gitu Mami, Rissa sibuk.jadi sepulang kerja ya Adam ngurus Tara. Kasian kalau sama Mbak terus, mau ke rumah mami tanpa Rissa juga kayak ada yang kurang gitu." Adam berusaha membela diri. "Alasan doang tuh Mam, anak durhaka ya durhaka. Sama orangtua sendiri lupa." Denis mencoba mengompori. "Adik laknat, bukannya bantuin malah ngomporin." Kesal Adam, ia beranjak lalu kembali mengacak rambut Denis membuat si empunya uring-uringan. Adam tertawa puas melihat kekesalan Denis. "Ada yang Family gathering lupa ngajak!" Daddy muncul diambang pintu dengan wajah ditekuk, kedua tangannya terlipat di depan d**a menunjukkan bahwa beliau tengah protes. "Aduh, ada yang sensi. Sini Dad , ikut nimbrung saja." Ucap Mami mencoba mengurai kecemburuan Daddy terhadap anak-anaknya. "Kapan sampai? biasanya juga langsung ke ruangan Daddy, kok ini enggak?" Mami memutar bola matanya malas, Daddy dalam mode merajuk seperti ini memang sangat menyebalkan. "Mami juga tadi niatnya mau ke ruangan Daddy, tapi denger suara Adam mami langsung masuk sini." "OOoooh." Mami menyiapkan makan siang untuk ketiga lelakinya, memang sengaja datang ke kantor tepat saat makan siang setelah menjeput Airin yang sudah mulai sekolah hari ini. "Masak apa Mi ?" tanya Adam , sudah lama sekali ia tak merasakan enaknya masakan mami . "Biasa , apa lagi kalau bukan ayam goreng ?" Mami mengangkat salah satu rantang berisi beberapa potong ayam goreng , menunjukkannya kepada Adam . Ayam goreng never die kalau kata Adam , tidak ada bosannya sama sekali Denis dan daddy dengan menu itu padahal hampir tiap hari. Selesai membagi nasi menjadi tiga bagian , mami memberikannya kepada masing-masing orang di sana . Pertama untuk Adam , namun ia menggeleng . "Kenapa ? gak suka menunya ya ?" Adam menggeleng . "Su..a..pin " rengek Adam . Mami menggelengkan kepala , heran dengan tingkah pemuda berusia 31 tahun itu . "Sadar umur euy " celetuk Denis . "Kayak lo enggak aja , lo masih disuapin mami kan ? sekarang gantian gue dong , masa lo terus " Adam ngotot minta disuapin . Mami segera mengambil alih piring yang dipegang Adam , kali ini saja menuruti permintaan konyol putranya itu . "Kalau gitu , aku juga " "Daddy juga " Anak dan daddy itu sekarang kompak , meminta disuapin sama seperti Adam . Membuat Mami mendengus kesal , dasar bayi-bayi besar ini haus dimanja . Tanpa merasa keberatan , Mami menerima permintaan ketiganya . Bergantian suapan demi suapan masuk ke dalam mulut mereka , Mami terkekeh geli tapi rasanya bahagia berada ditengah-tengah orang yang sangat Mami cintai terlepas dari masa lalu yang sempat membuat mereka bersitegang . Jam makan siang telah usai , Daddy kembali keruagannya karena masih ada beberapa berkas yang harus ditandatangani . Denis melanjutkan mempelajari berkas yang diberikan oleh Daddy tadi , dan Adam kembali ke kantor dengan kuping panas . Ayah dari Antara Alfiano Nandastra itu mendapat bingkisan perpisahan dari mami berupa jeweran keras di telinganya , kata Mami itu hadiah untuknya setelah sekian lama tak mengunjungi Mami . Oke mulai sekarang Adam berjanji akan sering ke rumah Mami , cukup sekali merasakan pedasnya tarikan tangan mami yang hampir membuat daun telinganya copot .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD