Pukul 17.00 Denis dan daddy pulang dari kantor , wajah sumringah daddy terpancar jelas sore ini pasalnya aktifnya Denis di kantor sangat meringankan beban daddy selama ini .
Berbeda dengan daddy yang berwajah berseri-seri , lain halnya dengan Denis . Banyak yang harus ia mengerti , dan banyak juga yang harus ia pelajari membuat kepalanya terasa penuh .
"Hei , tegang amat ?" daddy menolehkan kepalanya , menatap Denis yang berjalan beriringan dengannya memasuki pelataran rumah .
Tampangnya terlihat acak-acakan , berbeda dengan saat berangkat tadi pagi. Jas sudah ia sampirkan pada bahunya , dasi sudah tidak terpasang dengan benar . Wajahnya terlihat lusuh .
"Capek "
"Tenang , baru sehari .Nanti juga terbiasa " hibur daddy .
"Iya dad " ucap Denis lirih , ia merasa sangat lelah hari ini .
Mami yang sudah cantik menyambut kedatangan mereka , diikuti Adrian dan Airin di belakang.
"Daad , maaaas " teriak Airin dan Adrian, kaki-kaki kecil mereka menghampiri keduanya .
Sambutan kedua adiknya sedikit membuang rasa lelah Denis , Airin dan Adrian bergantian mencium tangannya .
"Mas mau mandi dulu ya ? adek sama mami dulu , oke ?"
"Ke masss" ucap Adrian yang kini berusia 2 tahun .
"Daddy capek gak?" Tanya mami , tas dan jas Daddy sudah berpindah ke tangan mami .
"Alhamdulillah enggak , berkat bantuan Denis . Semoga dia cepat memahami , biar bisa Daddy pantau dari rumah. Daaaan , biar bisa buatin mereka bertiga adek lagi " bisik Daddy di telinga mami .
Sebuah cubitan bersarang diperut daddy , rasanya sampai ke jantung hati daddy. Sakiiiiiiit , sama seperti yang Adam rasakan tadi .
Seusai makan malam , Denis hendak kembali ke kamarnya hari ini ia butuh istirahat banyak . Tubuhnya terasa penat , namun daddy menghentikan langkahnya . Memberitahu jika besok ada meeting , dan ia harus dan wajib mengikuti meeting ini.
Pukul 00.00 baru selesai membahas tentang pertemuan besok , Denis sudah berulangkali menguap merasakan kantuk yang ia tahan sejak tadi . Akhirnya daddy memperbolehkannya istirahat .
"Secapek ini , kenapa daddy tahan-tahan aja yah .huuaaah " gumam Denis , ia segera memejamkan matanya .
******
Rasa gugup dan tegang yang Denis rasakan sebelum masuk ke ruangan meeting telah sirna , pengalaman pertamanya mempresentasikan inovasi nya di depan para investor cukup memuaskan .
Tepukan tangan para hadirin membuat Denis merasa lega . Daddy bangkit dari duduknya menepuk pundak putra sulungnya , sama halnya dengan peserta meeting lain daddy sangat puas dengan hasil Denis .
"Daddy bangga nak ." Kata daddy .
"Makasih dad." Balas Denis , ia tak menyangka akan disambut baik oleh para investor . Dengan begitu membuka kesempatan perusahaan miliknya mendapat modal yang besar , yang akan semakin memajukan perusahaan itu .
Denis kembali ke ruangannya ,melanjutkan agendanya hari ini yang tak terlalu padat .
"Pak Miko," panggil Mila skretaris daddy saat daddy akan kembali ke ruangan.
"Ada apa Mil?"
"Anda sekeluarga dapat undangan makan malam dari pak Arlan." kata Mila sembari menyebutkan nama tempat di mana mereka mengundang keluarga Pramudya .
Dahi daddy mengkerut , sudah lama juga tak bersua dengan sahabat lamanya dalam suasana kekelurgaan . Karena biasanya hanya bertemu hanya untuk urusan bisnis , maupun urusan penting lainnya . Terhitung sejak kembali rujuk dengan mami 6 tahun lalu.
"Baiklah , sampaikan pada skretaris pak Arlan kami menerima undangannya . Saya permisi "Ucap daddy .
"B-baik pak." Mila tergagap, masih saja ia tak bisa menolak pesona pria berumur setengah abad yang menjadi bosnya itu .
"Hiiiih , gemas .Andai saja ... Ah , jangan banyak berkhayal Mila . Pak Miko sudah punya istri yang amat sempurna , tapi kalau sama pak Denis masih bisa kali ya ?" Mila berulang kali mengetuk dahinya , menyadarkan pikirannya agar tak semakin ngawur .
******
Denis selesai memasukkan pakaiannya ke dalam koper, rencananya akhir pekan nanti akan ke Semarang menemui pujaan hatinya sebagai ritual melepas rindu yang selama ini ia pendam .
Sesekali ia tersenyum, membayangkan wajah manis kekasihnya.
Suara ketukan dari pintu kamarnya, segera ia melangkah membukakan pintu .
"Makan malam yuk, sudah ditunggu Daddy." Ucap Mami saat Denis membuka pintu .
"Baiklah,"
Setelah menutup pintu, Denis dan Mami berjalan beriringan menuju ruang makan.
Di sana sudah ada Daddy, Airin, dan Adrian menunggu kedatangan Denis serta mami.
"Mas...Mas.." Adrian menepukkan kedua tangannya saat melihat kakak pertamanya berjalan kearahnya .
"Apa ? Hmmm..?" Denis mencubit pipi gembul adiknya yang menginjak usia dua tahun itu, diangkatnya sang adik dari baby chair kepangkuannya.
"Aem..Aem,"
"Iya kita maem , ini sudah lengkap ." Ucap Denis.
"Permisi Mas, biar Mas Adrian sama saya." Ujar Mbak yang biasa mengasuh Adrian dan Airin.
"Mbak sudah makan malam?" Tanya Mami.
"Sudah Bu."
"Oke, nanti kita main lagi ya jagoannya Mas." Ucap Denis seraya memberikan Adrian ke gendongan pengasuhnya.
Makan malam berlangsung nikmat sebelumnya, hingga saat sebuah kalimat keluar dari mulut daddy membuat Denis tersedak saat hendak menelan suapan terakhirnya.
Mami dengan sigap menyodorkan segelas air untuk putranya, sambil menepuk punggung Denis yang duduk disampingnya.
"Pelan-pelan."
"Daaad, aku sudah punya rencana di akhir pekan.Mana mungkin harus aku batalkan." Ucap Denis dengan nada memelas.
"Pak Arlan mengundang kita sekeluarga, tak enak kalau ada salah satu yang tidak hadir."
"Tapi Dad, aku sudah berjanji sama Devan dan Rama akan ke Semarang,"
"Masih bisa ditunda lain hari." Ucap Daddy dingin.
"Dad.."
"Sekali saja sayang, ke Semarang nya kan masih bisa lain waktu. Mami pastikan kamu dapet cuti lagi nanti, mau ya ?" Bujuk Mami , Mami mengusap punggung tangan Denis. Mengambil alih tugas Daddy yang sangat payah mengambil hati Denis.
Tak ada alasan apapun untuk menolak ucapan Mami, karena baginya Mami adalah segalanya. Terpaksa ia harus menuruti keinginan Daddy.
"Baiklah," ucap Denis seraya meninggalkan ruang makan, ia merasa kecewa.
"Mas..mas..gendong."Kata Airin ,menyusul kakaknya yang jalan terlebih dahulu.
"Adu..duh..berat,"
"Iya lah Mas ,aku kan sudah besal."
Airin melingkarkan tangannya ke leher Denis,dan mulai Merceloteh tentang kegiatannya saat masuk sekolah pertama.
Ocehan polos yang keluar dari bibir mungil Airin sedikit melebur rasa kesal yang ada di dalam hati Denis, Airin memang selalu bisa membuat suasana hati Denis membaik.
"Sudah turun ya, Mas mau tidur capek. Kamu tidur ya, Mbak sudah di dalam tuh,"
"Iya ,selamat malam Mas."
"Malam sayang."
Denis menunduk, mengecup kedua pipi adiknya dan masuk ke dalam kamar.
Setelah mengunci pintu kamar, Denis merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Diraihnya ponsel, Denis mengetikkan pesan kepada Diva.
Ia menghembuskan napas panjang, tahu jika Diva pasti kecewa karena tidak dapat berjumpa akhir pekan nanti. Namun Diva meyakinkan Denis jika mereka masih bisa bertemu dilain waktu.
******
"Sayang ,ayo.Kenapa masih santai-santai? Kita sudah mau berangkat." Kata Mami.
Malam ini jadwal makan malam bersama keluarga Arlanda,namun Denis masih saja duduk-duduk tanpa minat sama sekali.
"Bisa cancel tidak, Mam?"
"Tidak." Mami menggeleng cepat.
"Mubazir tiket yang sudah Denis beli, kata Mami me-mubazirkan sesuatu itu tidak baik?" Denis mencoba bernegosiasi dengan maminya, masih ada sendikit waktu untuk ia pergi ke bandara.
"Biasanya kan bisa dire-schedule?"
"Ini beli langsung ke bandara Mam, minta Pak Dadang beliin." Denis tetap ngotot mencari alasan.
Tring..
Sebuah notifikasi dari m-banking masuk ke ponsel Denis, ia sempat terlongo melihat nominalnya. Sepuluh kali lipat dari harga tiket yang telah Denis beli.
"Daddy rasa itu cukup untuk pulang-pergi ke Semarang,"
Denis menatap sengit ke arah daddy, hancur sudah harapannya.
"Kamu boleh ke Semarang kapan pun, asal jangan malam ini." Ucap Daddy final.
"Okeh, aku pegang kata-kata Daddy."
"Sudah.. Mami rasa keluarga Arlanda sudah menunggu kedatangan kita, yuk berangkat." Mami mencoba mencairkan ketegangan yang sangat kentara antara bapak dan anak itu.
Dengan langkah berat, Denis mengikuti kedua orangtuanya.
"Mas.." Jemari kecil milik Airin menggenggam erat jemari Denis, gadis itu tersenyum sembari mendongakkan kepalanya menatap wajah Denis.
"Hmmm?"
"Yang sabal yaa.." kekeh Airin. Meskipun belum paham masalah kakak dan orang tuanya, ia berusaha menenangkan hati Denis.
"Makasih adiknya mas yang paling cantiiiiiik."
Kedatangan keluarga Pramudya disambut dengan hangat oleh keluarga Arlanda, hanya pak Arlan dan istrinya saja tak nampak kedua putrinya.
"Selamat malam." Sambut Pak Arlan ramah,menjabat tangan Daddy dan sedikit pelukan singkat.
"Malam, sudah lama sekali rasanya kita tidak merasakan suasana kekeluargaan seperti ini,"
"Iya, maklum pak Miko orang sibuk. Mana sempat meluangkan waktu hanya untuk makan malam,bukan begitu Bu Miko?" Pak Arlan melirik Mami sekilas.
"Ah..eh.. iya pak."
"Malam Bu Felicia,senang bertemu dengan anda. Anaknya ganteng dan cantik ya Bu."
"Malam Bu Selvi, terima kasih. Salim dulu sayang sama Tante Selvi,"
Airin menjabat tangan Bu Selvi, kemudian mencium punggung tangannya. Bergantian dengan Denis.
"Mari silahkan duduk."
Perbincangan demi perbincangan terlontar dari kedua kepala keluarga, mami dan bu Selvi hanya sesekali menimpali. Denis memilih diam saja ,baru ia akan menyahut jika masalah pekerjaan.
"Maaf mama, aku terlambat." Cicit seorang gadis.
"Tidak apa sayang, kenalin Bu. Ini anak kedua kami Arsyla , baru pulang dari Jogja." Mami dan Syla saling berjabat tangan.
Denis bersikap tak acuh, memilih sibuk mendengar celotehan polos yang terlontar dari mulut Airin.
Bu Selvi berulang kali melirik ke arah Denis, ia berharap ada sedikit ketertarikan Denis kepada putrinya. Siapa coba yang tidak menginginkan Denis sebagai menantunya ?
Sedikit banyak Bu Selvi sudah mengenal Denis lewat cerita pak Arlanda, ditambah dengan bertemu langsung dengan Denis yang memang memiliki wajah memikat diawal pertemuan. Ia berharap bisa berbesan dengan keluarga Pramudya.
Cukup lama pertemuan kedua keluarga ini, Denis sudah merasa jenuh namun tak ada yang bisa ia lakukan kecuali mendengarkan dua teman lama itu terus berbincang seperti tak akan ada lagi hari esok.
"Mam, Aiyin ngantuk." Ucap Airin.
"Iya, sebentar lagi kita pulang dek." Mami mendekap tubuh Airin yang ada di pangkuannya.
"Pak Arlan, Bu Selvi. Kami sekeluarga pamit, terima kasih atas jamuan makan malamnya."
"Terimakasih pak Miko dan keluarga bersedia memenuhi undangan kami,"
Daddy ,Mami , Denis beserta Airin undur diri. Airin sudah tertidur di dalam dekapan Denis, menjadikan pundak sang kakak sebagai bantalnya.
"Sepertinya kita harus mengundang mereka makan malam di tempat kita, supaya hubungan baik kita lebih erat" ucap daddy.
"Hmm.. Terserah Daddy saja." Jawab Mami sembari mengambil alih putrinya.