Waktu berjalan begitu cepat , sudah enam bulan berlalu. Denis harus memikirkan waktu yang tepat untuk berlibur, memastikan perusahaannya aman untuk ditinggal cuti selama tiga bulan. Sebagai ganti rugi liburannya yang tertunda.
Daddy serta Merta menyetujui ajuan cuti yang Denis ajukan, karena dalam kurun waktu setengah tahun ini omset perusahaan sangat meningkat signifikan. Bisa dibilang ini pencapaian terbaik yang dicapai oleh perusahaan, semua berkat kerja keras Denis.
Tak sedikit yang memuji kemampuan Denis , namun banyak juga yang merasa iri atas kesuksesan yang pemuda itu raih . Denis tak pernah ambil pusing, suka dan tidak suka bukanlah hal asing dalam bisnis.
Sudah dua bulan masa cuti yang dihabiskan Denis, tinggal sebulan lagi.
Ia sangat menikmati liburan, menghabiskan waktu dengan Diva di cafe nya, bertemu dengan teman-teman lamanya ,merupakan hal simpel namun sangat berkesan baginya.
Jujur kalau bisa memilih, Denis lebih senang tinggal di tanah kelahirannya. Tidak merasakan cengkeraman dasi yang terasa mencekik lehernya, juga intrik yang sering ia temukan di dunia bisnis yang sedang digeluti.
Pagi ini Denis masih bersantai di atas kasurnya yang empuk . Satu hal yang sama sekali tak pernah bisa ia lakukan jika di Jakarta , Denis harus selalu disiplin waktu.
Direntangkannya otot-otot tubuhnya yang terasa kaku , setelah dirasa sudah enak , ia beranjak dari tempat tidur karena sejak tadi Putri - sang asisten rumah tangga sudah berulangkali memanggil namanya untuk sarapan .
Denis menatap Putri yang sedang menonton sebuah berita di televisi, gadis itu terlihat sangat serius hingga tak menyadari Denis telah berdiri di sampingnya.
"Astaghfirullah," Ucap Putri kaget.
"Nonton apa kamu?"
"Anu, anu Mas Denis.."
"Apa? Kenapa kamu jadi gagap begini?"
"Kantor , kantor Mas Denis tengah didemo. Baru saja beritanya tayang,"
Denis mengerutkan keningnya , Demo ? Ada masalah apa pada perusahaannya ?
Denis mencoba mengganti tayangan berita yang sudah berganti , mencari stasiun Televisi lain , siapa tahu ia menemukan titik terang.
"Seluruh karyawan Pramudya's Manufacturing melakukan demonstrasi , pasalnya mereka menanyakan nasib mereka karena perusahaan ini terindikasi akan segera gulung tikar akibat kasus korupsi yang menyeret nama manager keuangan. Kerugian yang ditafsir mencapai dua puluh triliun rupiah itu mengancam ......"
Bzzztttt...
Denis mematikan televisi , ia geram . Bahkan masalah segenting ini sama sekali tak ada yang memberitahunya.
Kasus korupsi manager keuangan? Aryo ?
Orang kepercayaan Daddy bisa Setega itu ?
Denis segera memesan tiket kembali ke Jakarta saat ini juga , ia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya.
"Siaaaal !" Umpat Denis kesal , selalu saja ada yang mengganggu waktunya di Semarang.
Tak lupa Denis mengirimkan pesan kepada Diva , jika ia akan bertolak ke Jakarta hari ini.
*****
Di Jakarta , daddy sedang membujuk Mami supaya Denis bersedia menerima perjodohan yang telah daddy rencanakan.
Bagi daddy , perjodohan ini sangatlah menguntungkan untuk masa depan putranya.
"Ayolah Mam, kali ini saja bantu Daddy." Ucap Daddy.
Mami yang tengah duduk dipinggiran ranjang dengan Adrian yang menyusu dipangkuannya , hanya memutar bola matanya malas.
Terjadi pergolakan dihati Mami, ini masalah masa depan anaknya. Mami tidak ingin ini menjadi beban bagi Denis.
"Mas, apa tidak ada cara lain selain perjodohan? Ku rasa hubungan bisnis saja sudah cukup."
Mami berusaha bernegosiasi .
"Tidak, ku rasa ini pilihan yang tepat Mam. Kehidupan Denis akan terjamin." Daddy berlutut di depan mami , diusap surai tebal milik Adrian.
Mami menghela napas berat, baginya terasa rumit karena menyangkut masa depan Denis.
Mami khawatir Denis tidak bahagia dengan perjodohan ini, yang mami tahu anak itu sudah memiliki pilihan sendiri.
"Tolong Sayang, aku sudah melangkah sejauh ini. Mengorbankan Aryo sebagai kambing hitam , mengajak demo besar-besaran di perusahaan. Tinggal satu langkah lagi." Ucap Daddy memelas.
"Baiklah, untuk kali ini saja. Aku tak akan memaksa jika Denis tidak bersedia." Ucap Mami akhirnya.
Daddy bangkit dari berlututnya , dikecup lembut kening Mami. Tak ketinggalan untuk Adrian yang mulai terlelap.
Tok...tok...tok..
Daddy berjalan ke arah pintu , saat seseorang mengetuknya dari luar.
"Permisi tuan , ada tuan dan nyonya besar." Ucap salah satu asisten rumah tangga.
"Baik, aku akan segera menemui mereka."
"Ada Papa dan Mama , aku ke bawah dulu." Ucap Daddy kepada Mami.
Ini salah satu masalah yang akan datang , tapi Daddy sudah mensiasatinya.
"Siang Pa,Ma." Sapa Daddy kepada pria dan wanita di depannya.
"Ada masalah apa dikantormu Miko?" Tanya Surya , papa Miko.
"Hanya masalah kecil Pa,"
"Masalah kecil apa maksudmu? Ini sudah genting Miko , kau hampir bangkrut. Lihat karyawanmu sedang demo , kau malah enak-enakan di rumah." Ucap Surya mulai terpancing emosi dengan sikap santai anaknya.
Maya yang berada di samping Surya ,mencoba menenangkan suaminya . Takut jika tekanan darah Surya naik.
"Pa , ini tak separah yang papa pikirkan. Miko yang membuat rencana ini , ini hanya rekayasa Pa."
"Rekayasa macam apa ini?" Ucap Surya.
Mami terlihat menuruni anak tangga setelah menidurkan Adrian , mami bergabung diantara mereka.
"Ini semua ku lakukan untuk menjodohkan anakku dengan anak rekan bisnis ku pa."
"Jangan konyol Miko!"
"Sabar pa , sabar." Ucap Maya mengusap punggung suaminya.
Langkah tergesa terdengar memasuki ruang tamu , Denis datang dengan menyeret asal kopernya.
Ia menyempatkan pulang ke rumah untuk mengganti baju formal sebelum ke kantor , Denis akan melihat secara langsung kegaduhan yang terjadi di perusahaan.
"Oma ,Opa." Sapa Denis.
Pemuda itu mencoba tersenyum , meski terlihat jelas kecemasan di wajahnya .
Denis pamit setelah mencium punggung tangan Daddy dan Mami serta Oma dan Opanya.
"Papa tak habis pikir dengan jalan pikiranmu Miko , kau terlalu memaksakan kehendak." Ucap Surya akhirnya.
*****
Di kediaman Arlanda.
"Ma ,. Kenapa mesti Syla yang jadi pilihan terakhir setelah kak Indri?" Syla mengusap matanya yang basah.
Selalu saja seperti ini , Syla selalu menjadi korban jika Indri menolak apa yang jadi kemauan orangtuanya.
"Syla ,ini tak akan merugikanmu. Lihat saja , Denis pemuda yang tampan , pintar . Mama rasa dia sangat pantas untukmu."
"Tapi Ma , aku tidak mau menikah dengan lelaki yang bahkan aku tak mengenalnya."
"Kamu tidak akan menikah hari ini juga Syl, kalian berdua mempunyai waktu yang cukup untuk mengenal satu sama lain."
"Ma.. tidak ada cara lain selain menikah dengannya?"
"Tidak , keputusan ini sudah final." Ucap Arlan yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar putrinya.
Syla hendak menangis , tapi dia sadar . Menangis pun tidak akan merubah apapun keputusan papanya.
"Syla , Mama yakin semua akan baik-baik saja."
"Jadilah anak yang penurut," Arlanda menepuk puncak kepala Syla pelan.
"Bersiaplah Ma , akan ada pertemuan dengan Miko setelah ini."
Sepasang suami istri itu meninggal kamar Syla. Syla hanya bisa meratapi nasibnya.
*****
Semua karyawan Pramudya manufacturing berada di pelataran perusahaan , terlihat juga beberapa wartawan yang tengah meliput.
"Enak ya kalau tiap hari seperti ini , disuruh demo dan tetap dibayar." Celoteh salah satu karyawan.
"Jaga bicaramu, jangan sampai ketahuan." Bisik temannya.
"Stttt. Pak Denis datang, ayo lancarkan misi."
Teriakan demi teriakan terdengar saat mobil Denis sampai di depan lobi, kedatangannya mengalihkan perhatian para wartawan.
Pencari berita itu berjubel untuk mewawancarai sang direktur utama ,dengan sigap keamanan mengamankan Denis hingga pemuda itu bisa masuk ke dalam perusahaan.
Pertama Denis masuk ke divisi keuangan ,mengingat siapa yang melakukan korupsi membuat emosi Denis meningkat.
Aryo, teman Daddy sejak SMA yang telah Denis anggap seperti paman sendiri tega membelot.
Ingin rasanya Denis menonjok muka lelaki sok polos itu.
"Saya minta laporan keuangan dua bulan terakhir," ucap Denis kepada staf yang berada di sana.
"Ba-baik pak , se-sebentar saya siapkan."
Sang staf memberikan print out laporan keuangan kepada Denis, disana memang tercetak aliran dana yang mencurigakan.
Denis meremas kertas itu dengan kuat , merasa geram karena tidak ada yang melaporkan kepadanya.
Denis beranjak ke ruangannya , ada Sarah yang tengah sibuk dengan tatanan rambutnya di depan ruangan direktur utama.
"Si-siang pak."
"Apa yang terjadi selama saya cuti Sarah?"
Sarah menunduk dalam , dia bingung akan menjawab apa.
"Kau bisu Sarah?"
Sarah menggigit bibirnya, merasa ngeri dengan aura suram atasannya.
"Maaf pak.."
Merasa tidak akan mendapat jawaban dari Sarah , Denis memilih masuk ke dalam ruangannya.
Denis duduk di kursi kerjanya , memijit kepalanya. Ia tidak boleh menyelesaikan masalah ini dengan emosi.
*****
"Mas Aryo , apa kamu tidak memikirkan dampak dari ulahmu mas ?"
Sera mondar-mandir di depan suaminya , dia merasa kesal dengan apa yang telah dilakukan suaminya.
Sera memijit pelipisnya , kepalanya terasa pusing.
Pusing memikirkan nama baik suaminya , juga hubungan keluarganya dengan keluarga Pramudya.
"Tenanglah Sera."
"Bagaimana aku bisa tenang Mas, kamu harusnya berpikir dampak dari rencana tak masuk akal sahabat terbaikmu itu. Kamu merusak semuanya mas , Denis pasti akan membencimu. Aku tidak punya muka lagi untuk bertemu keluarga mereka."
"Miko sudah mengatur semuanya , semua akan baik-baik saja."
"Baik-baik saja gundulmu , nama baikmu jadi taruhannya mas. Kau tak memikirkan anak-anak kita? Diluar sana , pasti mengolok-olok mereka mas. Bapaknya tukang korupsi. Ini tidak baik untuk mental anak kita mas, kamu seharusnya jangan menerima rencana busuk ini. Haaah , entahlah apa yang ada dipikiranmu."
"Sayang , tenanglah . Setelah masalah ini selesai , kita akan pindah. Miko dan Arlan yang akan menjamin. Aku akan dipindah tugaskan ke cabang perusahaan Arlan di Singapura. Kita tata kembali hidup kita di sana." Ucap Aryo menenangkan istrinya.
Beberapa orang berseragam polisi mendatangi kediaman Aryo , sang asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuk mereka.
Sesuai instruksi Miko, ini akan seperti kasus korupsi sungguhan agar Denis tidak curiga.
"Selamat siang ,kami akan menjemput pak Aryo untuk ikut kami ke kantor. " Ucap salah satu polisi itu , sambil menyerahkan surat tugas penangkapan.
Meskipun cuma pura-pura , tetap saja membuat hati Aryo bergetar. Baru pertama kali ia berurusan dengan polisi.
Sera hanya menatap dingin kepada suaminya , ia sebal terhadap Aryo.
Tak tahan rasanya jika nanti diluaran sana banyak yang mencemooh keluarganya ,padahal ini hanya rekayasa.
Sera ingin lepas tangan ,tapi ini menyangkut suaminya dan juga anak-anaknya.