Malam harinya , Denis berdiskusi dengan daddy.
"Apa tidak ada jalan keluar dad selain cara itu?" ucap Denis.
"Perusahaan kita dalam posisi genting , tidak ada yang berani menjamin. Mereka takut, kita tidak bisa melunasi pengajuan hutang jika posisi kita seperti ini." Ucap Miko yang mulai melancarkan misi.
"Kenapa mesti dengan aku menikahi putrinya , aku sama sekali tidak mengenalnya."
"Itu satu-satunya cara Denis. Hanya perusahaan Arlanda yang berani meminjamkan dana untuk kita , dengan syarat menikahi putrinya."
"Coba nanti aku pikirkan cara lain dad, aku permisi."
Denis beranjak dari duduknya , ia memilih memasuki kamarnya.
Sampai di kamar , Denis menuju ke arah balkon. Ia duduk bersila.
Diraihnya sebuah kotak berwarna merah, mengambil korek gas disampingnya.
Denis mulai menghisap rokok yang kini sudah berada dimulutnya , perasaannya mulai sedikit tenang. Pikirannya melayang, memikirkan seseorang yang jauh di sana.
Jika ia memilih jalan yang disebutkan oleh daddy tadi , itu artinya ia harus siap merelakan Diva kekasihnya.
Banyak pertimbangan yang matang, memilih mana yang dirasa paling benar.
Mami masuk ke dalam kamar Denis , menuju ke arah balkon saat tidak mendapati pemuda itu diatas ranjang.
"Mam," ucap Denis yang menyadari kehadiran mami.
Mami mendekat ke arah Denis , berdiri diambang pintu. Menatap ke arah Denis yang sedang kembali menghisap rokoknya disertai asap yang mengepul.
"Hanya sesekali Mam, bukan pecandu rokok." Ucap Denis seakan mengerti tatapan mami yang penuh tanya.
Mami menghela napas, mungkin putranya sedikit tertekan.
Denis mematikan rokoknya, membuangnya ke asbak. Ia melangkah ke arah mami yang duduk di sofa kamarnya, Denis berbaring mencari posisi nyaman dengan paha mami sebagai bantalan.
"Ada yang ingin kamu ceritakan kepada Mami?" Tanya mami mengusap lembut kening Denis.
"Banyak Mam," Denis menghela napas.
"Apa Denis harus menyetujui syarat itu Mam? Menikahi gadis yang sama sekali tak kenal , sedangkan Denis sendiri sudah memiliki pilihan sendiri." Lanjut Denis.
Mami menatap wajah tampan putranya. "Menerima atau tidak , semua keputusan ada ditanganmu. Mami tidak akan pernah memaksa , namun ada yang perlu kamu ingat nak. Banyak ratusan hingga ribuan karyawan yang bergantung kepada perusahaan."
Mami sudah mengatakan kepada Daddy untuk membantu membujuk Denis untuk menyetujui rencana Daddy, tetap saja Mami tak tega. Biar Denis yang memilih jalannya.
"Haaah, andai tabunganku sudah cukup untuk menutup kerugian ini."
Denis memejamkan matanya, yang dikatakan Mami ada benarnya juga. Bahwa banyak yang bergantung hidup pada perusahaan , apa jadinya perusahaan yang sudah besar itu tiba-tiba gulung tikar . Denis tidak bisa membayangkan.
"Biar Denis pikir lagi Mam,"
Denis mencoba memejamkan matanya , dengan setumpuk masalah yang membebani pikirannya.
Mami tetap berada dikamar Denis walaupun Denis sudah terlelap dalam tidurnya , mami hanya ingin memberikan dukungan kepada putranya. Dan berharap apapun yang menjadi pilihan Denis adalah yang terbaik untuk semuanya.
*****
Semakin hari situasi perusahaan Denis semakin kacau, sahamnya melemah, para karyawan masih melancarkan aksi demonya. Ini hampir hari keempat belas setelah kejadian itu, perusahaan semakin memprihatinkan.
Denis pusing tujuh keliling, ia bingung harus memilih yang mana. Mengorbankan kisah cintanya untuk ribuan karyawan yang bergantung padanya, atau bertahan dengan kekasihnya namun mengorbankan perusahaannya.
Denis berulangkali menghela napas berat, sungguh ia tengah dilema. Keadaan semakin menghimpitnya.
"Ya Allah, Denis harus bagaimana?" Keluh Denis yang kini tengah berada di ruang kerjanya, ia hanya duduk tanpa melakukan kegiatannya yang biasanya padat.
"Andai saja aku boleh ketemu Aryo ! Sudah ku hajar muka tengilnya." Desis Denis kala mengingat pelaku yang membuat perusahaannya hampir porak poranda. Ia meluapkan kekesalannya dengan merenggut rambutnya , kepalanya serasa mau pecah.
"Masuk!" Teriak Denis ketika pintu ruang kerjanya diketuk, ia merapikan penampilannya yang sedikit mengenaskan.
"Permisi Pak, Pak Miko sudah menyiapkan supir untuk mengantarkan Bapak ke tempat Pak Arlanda." Ucap Sarah menyembul dari balik pintu, cukup miris melihat atasannya yang biasa tampan kini seakan sangat tertekan.
Denis kembali menghela napas, Denis sudah mengambil keputusan. Ia beranjak dari duduknya, berjalan ke arah Sarah.
"Baiklah, saya akan segera ke sana."
"Iya Pak."
Mobil yang dinaiki Denis sudah sampai di pelataran perusahaan Arlanda, Denis mengedarkan pandangannya karena ini kali pertama datang ke perusahaan yang sudah lama bekerja sama dengan perusahaan tersebut.
"Di sini Pak." Ucap resepsionis yang mengantar Denis sampai di depan ruangan Arlanda.
"Terima kasih."
Pintu ruangan terbuka beberapa saat setelah Denis mengetuk pintu, Arlan sendiri yang membukakannya.
"Denis, mari silakan masuk." Ucapnya.
Denis duduk di samping Daddy yang sejak tadi sudah berada di kantor itu , duduk tenang dengan beberapa berkas di hadapannya.
"Bagaimana? Apa kamu setuju? Menikah dengan putri saya, dan saya akan meminjamkan modal untuk perusahaanmu?"
Denis menatap ke arah Daddy sekilas, memantapkan hati jika ini adalah keputusan terbaik.
****
Sampai di rumah, setelah pertemuan dengan Daddy dan Denis, Arlan disambut oleh istrinya.Wajahnya berseri-seri.
"Jadi, kapan Pa?" tanya Selvi.
"Sebulan dari sekarang."
"Mama tak sabar, kita harus segera mengurus keperluannya."
"Tidak perlu, karena hanya akan ada akad nikah saja."
Mata Selvi membulat tak percaya, padahal ia sudah merencanakan pesta mewah jika Denis bersedia menikahi putrinya.
Ya, Denis memilih jalan ini. Merelakan kebahagiaannya demi kebahagiaan umat lain. Satu banding ribuan, tidak adil kan?
Namun ada syarat yang diajukan Denis, pemuda itu hanya mau dilakukan akad saja. Tanpa pesta, tanpa undangan yang berlebihan. Hanya keluarga inti saja yang tahu, diluar kalangan keluarganya jangan. Karena bagaimanapun ia butuh waktu untuk menjelaskan apalagi jika berita ini sampai kepada Diva, Denis tak ingin Diva kecewa padanya.
"Pa, tapi Mama sudah merancang semuanya. Pesta mewah, undangan buat kolega bisnis Papa."
"Ma, iya atau tidak sama sekali." Ucap Arlan.
Lelaki itu juga cukup dibuat kesal oleh Denis, syarat macam apa dengan menyembunyikan pernikahan ini. Tapi demi melancarkan perjodohan yang sudah diatur sedemikian rupa itu, Arlan lebih baik mengalah sedikit saja.
Dengan wajah cemberut Selvi mendekati Arlan yang tengah duduk di sofa,kepalanya menengadah ke atas. Cukup sulit ternyata berkompromi dengan pemuda itu, Arlan pikir semua akan begitu mudah.
Sementara di rumahnya, Denis membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Kakinya dibiarkan menjuntai, ia mengambil ponsel di dalam saku celananya.
"Halo.."
"Halo, maaf yang. Aku sedang sibuk, banyak sekali pelanggan."
"Jadi, kamu lebih mementingkan pekerjaan mu daripada aku?"
"Bukan begitu, aku tidak enak dengan teman yang lain."
"Kau lupa, kalau aku bosmu? Jika ada yang berani memarahimu, akan ku pecat dia!" ucap Denis garang.
Mendengar suara Diva menurutnya bisa mengobati kegundahan hatinya, namun gadis itu terlalu banyak alasan. Jika saja suasana hati Denis sedang seperti biasanya, mungkin ia akan merelakan Diva menutup panggilan darinya. Tapi kini Denis butuh penenang, tak peduli apapun yang dikerjakan Diva di sana. Denis hanya perlu Diva.
"Hei, kamu kenapa ketus begitu?"
"Bolehkan aku dengar suaramu, aku kangen."Lirih Denis.
"Apa kau sedang sakit dan belum minum obat?"
"Ya,aku sakit hati." Gumam Denis yang tidak tertangkap jelas oleh Diva.
"Kamu bicara apa?"
"Lupakan, maaf waktu itu aku langsung pulang ke Jakarta tanpa memberitahu mu. Perusahaan ku..."
"Iya, aku tidak masalah. Lalu bagaimana sekarang? Sudah membaik kan?"
"Sudah."
Dan aku harus merelakan kisah kita. Batin Denis.
Obrolan demi obrolan terlontar dari bibir mereka berdua, sedikit mengangkat beban pikiran Denis. Diva bisa membuat Denis tersenyum.
*****
Malam ini keluarga Arlan menyambut kedatangan keluarga Pramudya, berniat membahas hari dan tanggal putra-putri mereka.
Denis berjalan acuh di belakang Daddy yang berjalan sambil berangkulan dengan kolega bisnisnya itu, jika saja ini pembahasan pernikahan dengan Diva tentunya Denis akan sangat antusias.
Mereka kini berkumpul di ruang tamu.Yang lebih dominan dalam pertemuan ini hanya Daddy dan Arlan, yang lain hanya menyimak saja.
Tanggal dan hari pernikahan sudah disepakati, tinggal mengumpulkan berkas-berkasnya saja. Semua sesuai keinginan Denis, hanya ada akad di rumah mempelai wanita.
Setelah semuanya sepakat, keluarga Pramudya undur diri.
"Kamu yakin ini yang terbaik, sayang?" bisik mami yang duduk di jok belakang bersama Denis, Denis mengangguk pasrah.
"Iya Mam, Denis hanya butuh semangat dari Mami."
Dengan manja, pemuda itu menyandarkan kepalanya di bahu Mami. Mami mengelusnya dengan lembut.
"Mami akan selalu menyemangatimu."
"Hmm." Denis memejamkan mata, berharap semua akan baik-baik saja.
Yang perlu Denis lakukan setelah ini adalah menyembunyikan pernikahannya, itu saja. Baginya tidak akan pernah berubah, hati dan raganya cuma untuk Diva. Persetan dengan status pernikahan mereka, ini hanya untuk kepentingan bisnis saja tidak lebih dari itu.
******
Seminggu lagi akad nikah akan digelar, tidak ada persiapan khusus. Denis masih sibuk dengan perusahaannya yang kini sudah stabil seperti semula, seperti sebelum konspirasi yang Daddy-nya sendiri.
Daddy sudah mengatakan berulang-ulang kepada Denis untuk fokus ke pernikahan, namun Denis tak mengindahkannya.
Siapa juga yang akan bersemangat menantikan hari itu, sedangkan sang mempelai pria sebenarnya tidak menginginkan ini.
"Sayang, kamu tidak berisitirahat terlebih dahulu? Mami bawakan kamu makan siang." Ucap Mami yang setengah jam tadi tiba di ruangan Denis.
"Sebentar lagi Mam, masih ada yang harus Denis kerjakan."
Mami mendengus sebal, sejak kapan Denis jadi pembangkang? biasanya Denis akan menuruti apa yang Mami ucapkan, tapi tidak untuk kali ini.
Setelah perusahaannya kembali stabil, Denis mati-matian berjuang supaya perusahaan ini tidak kembali terpuruk. Dan kemungkinan akan ada pihak lain lagi yang mengambil keuntungan.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau makan makanan ini, biar Mami bawa pulang lagi." Kata Mami sedikit kesal.
Mami merapikan rantang yang sudah Mami ditata di atas meja, menyusunnya kembali menjadi satu. Mami beranjak dari duduknya, bersiap meninggalkan ruangan Denis.
Dengan cepat Denis meraih pergelangan tangan Mami yang sudah siap membuka pintu, diputarnya tubuh Mami supaya kembali ke tempat semula.
"Denis bilang hanya sebentar Mami, bukan berarti tidak mau makan makanan yang sudah Mami bawakan." Ucap Denis saat Mami sudah kembali duduk.
"Kamu terlalu banyak bekerja, sampai lupa kalau seminggu lagi kamu akan menikah." Lirih Mami.
Mami tahu ini bukan pernikahan impian Denis, namun ini termasuk upacara sakral yang tidak bisa dianggap sepele.
"Iya Denis tahu Mam," Denis membuka rantang yang Mami bawa, makanan yang Mami masak sendiri itu selalu bisa menggugah selera.
"Mami tidak makan?" kata Denis yang melihat Mami hanya memperhatikannya.
Mami menggeleng, "Tidak, Mami sudah kenyang."
"Ya sudah kalau begitu, ini boleh Denis habiskan Mam?"
"Boleh."
Mami menatap putranya, sebentar lagi putranya akan memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Secepat itu kah waktu berputar?
"Mam?"
"Mami melamun?"
"Ah, tidak." Mami memalingkan wajahnya, mengusap matanya yang berair.
Setelah Denis selesai makan, Mami pamit pulang tidak bisa meninggalkan terlalu lama bocah kecil di rumah.