"Pastikan tidak ada yang kurang." Ucap Selvi sembari meneliti apa saja keperluan pernikahan putrinya.
Rumah besar miliknya ini terasa ramai. Maklum ini adalah pernikahan pertama untuk putri bungsu Selvi, sedangkan putri sulungnya masih mengenyam pendidikan di Singapura.
"Assalamualaikum." Ucap seseorang dari arah luar.
"Wa'alaikumsalam."
"Biar aku saja yang menemuinya Ma," kata Syla.
Seorang pemuda bertubuh jangkung yang menjulang, kini tepat berada di pintu masuk. Pemuda tadi menatap Syla sendu, seolah tersirat berjuta rindu dari sorot matanya.
"Kapan pulang Kak?" tanya Syla ketika sampai di hadapan pemuda itu.
"Aku baru saja sampai, aku langsung ke sini."
"Ayo, silahkan duduk."
Syla meminta asisten rumah tangganya membuatkan minum untuk si tamu, lalu ia duduk di sampingnya.
"Siapa yang datang Syla?" tanya Selvi.
"Kak Alvin, Ma."
Selvi duduk berseberangan dengan Syla dan pemuda yang bernama Rama, yang sejak tadi mencuri-curi pandang ke arah gadis di sebelahnya.
"Kebetulan sekali kamu pulang Alvin."
"Iya Tante.."
"Bisa bantu-bantu dinikahan Syla dong," ucap Selvi semangat.
"Ni..kah?!" tanya Alvin terkejut.
"Iya, sebentar lagi sepupumu akan menikah."
Alvin tak mampu lagi mencerna kata-kata Selvi yang terus menjejalinya pertanyaan seputar kuliahnya di Jogja dan tak lama Selvi pamit kembali mengurus keperluan acara Minggu depan, Alvin sibuk meredam rasa kecewanya.
Syla, sepupu terkasihnya akan segera menikah. Tanpa memberitahunya. setahu Rama, Syla tidak sedang dekat dengan siapapun. Terhitung sejak kuliah bersamanya di Jogja.
Selvi juga memasrahkan Syla kepada Alvin, untuk menjaga gadis itu. Hingga perasaan itu tumbuh untuk sepupunya sendiri.
Kehadiran Alvin ke rumah ini selain untuk melepas rindu, sebenarnya juga ingin mengatakan rasa yang selama ini ia pendam sendiri, namun sepertinya Alvin harus membatalkan niatnya. Ia sudah terlambat.
"Apa yang dikatakan Tante Selvi benar, Syl?" tanya Alvin memastikan.
Syla sejak tadi menunduk, entah kenapa jika membahas pernikahan hatinya merasa perih.
"Iya kak." Lirih Syla.
"Dengan siapa?"
Syla terdiam, ia sendiri tak ingat siapa nama calon suaminya. Bertemu saja baru dua kali.
"Haaah, aku terlambat Syl. Andai aku datang lebih dulu." Ucap Alvin penuh penyesalan.
"Terlambat untuk apa Kak?" tanya Syla, tak paham maksud Alvin.
"Sudah lupakan saja, semoga kau bahagia dengan suamimu." Alvin mengusap pelan puncak kepala Syla.
Bahagia? Satu kata yang Syla sendiri tak meyakininya.
"Kak,"
"Ya?"
"Aku kangen, sudah lama kita tidak bertemu."
Ya, mereka sudah tidak bertemu sejak Syla lulus kuliah dan Alvin melanjutkan skripsi nya untuk gelar S2nya. Sejak itu mereka berpisah, dan Alvin mengebut skripsi agar cepat kelar dan kembali ke Jakarta menyusul Syla.
"Aku juga kangen kamu,"
Alvin mendekap tubuh Syla, bukan sebagai seorang lelaki dan perempuan namun sebagai sepasang sepupu. Hubungan yang semestinya, tidak lebih dari itu.
Di dalam dekapan Alvin, Syla merasa tenang. Alvin adalah sosok yang selalu mengayominya.
Pelukan mereka terlepas, Syla merasa kehilangan.
"Ah..Kalau begitu, aku pamit pulang. Nanti aku akan kesini lagi Syl."
Syla mengantarkan Alvin, menatap pemuda itu sampai tak terlihat lagi. Ada rasa sesak dihati Syla.
*****
Malam harinya, Alvin kembali datang ke rumah Syla. Bertepatan dengan Syla yang akan fitting kebaya yang akan digunakan saat akad.
"Mau aku antar?"
"Tentu saja Alvin, kebetulan calon suami Syla sangat sibuk." Selvi yang menjawab.
Syla dan Alvin masuk ke dalam mobil Rama, mobil itu melesat menuju ke sebuah butik.
Syla mencoba salah satu kebaya saat sudah sampai di butik pilihan Mami Felicia, seorang pekerja dibutik itu membantunya.
"Bagus tidak?" tanya Syla kepada Alvin saat keluar dari fitting room.
Alvin mengamati gadis di depannya, cukup cantik. Namun mengenaskan. Calon suami macam apa yang membiarkan calon istrinya fitting baju pernikahan sendirian.
"Bagus, sangat pas ditubuhmu." Pendapat Alvin.
Pelayan dibutik itu membawa setelan jas berwarna hitam, juga tak lupa kemeja putih.
"Maaf, apa anda mempelai prianya?" katanya.
Tentu saja sang pelayan akan menanyakan itu, karena biasanya calon pengantin akan datang bersama pasangannya.
"Iya, saya." Jawab Alvin mantap.
Dasar pria bodoh! Batin Alvin, ia masuk ke dalam fitting room.
"Jadi penasaran bagaimana wajah pria itu." Gerutu Alvin setelah jas itu terpasang pas ditubuhnya, ternyata ukuran mereka sama.
Setelah mengambil jas dan kebaya, Alvin mengantar Syla pulang. Ia tidak ingin lama-lama bersama Syla, mengingat baru saja gadis itu mematahkan hatinya. Ralat , hatinya patah sendiri karena Syla tidak tahu perasaan Alvin. Dasar , Alvin sepertinya sama bodohnya dengan Denis. Memendam perasaan begitu lama tanpa berani mengungkapkan, kini ia kecolongan start.
******
Besok adalah hari pernikahan Syla dan Denis, semua orang sibuk mencari keberadaan Denis. Sejak semalam tak nampak batang hidungnya, menghilang bak ditelan alam.
Yang paling khawatir adalah Daddy, khawatir bila Denis membatalkan pernikahan yang sudah disepakati. Daddy meminta Mami untuk terus menghubungi anak itu, bahkan mungkin sudah ratusan kali namun tidak ada jawaban.
Sampai akhirnya Denis sendiri yang menghubungi Mami, setelah melihat 150 kali panggilan tak terjawab dan 35 pesan belum dibaca.
"Assalamualaikum Mam,"
"Heh! Bocah tengil. Kemana kamu?" Denis menjauhkan ponselnya saat yang bicara bukan Mami, tapi Adam yang sudah bersungut-sungut.
"Sensi amat bang," cibir Denis.
"Kamu kemana saja! Pergi tidak bilang orang rumah!"
"Sabar kali Mas, aku kan bisa jelasin."
"Kamu tidak berniat kabur kan? ayolah, jangan jadi pecundang bocah nakal!"
"Enak saja kau bilang aku pecundang, siapa juga yang kabur! Aku sedang mengurus pabrik baru yang perusahaan beli!"
"Alasan, buruan pulang!"
"Iya, bawel banget kayak emak-emak."
Denis menutup panggilannya dengan sepihak, ia ingin tenang sehari saja. Jujur saja hatinya saat ini diliputi kekalutan, Denis sengaja ke Semarang untuk melihat Diva. Mungkin sebagai perpisahan?
Oh tidak, tidak. Denis belum mampu untuk mengatakan kepada Diva, ia butuh waktu yang tepat untuk itu semua. Ayolah, hubungan mereka bahkan sudah terjalin saat mereka masih dibangku sekolah. Siapa yang rela jika diakhiri dengan cara seperti ini.Biar nanti Denis mencari waktu yang pas.
"Letakkan, aku saja yang mengantarkannya ke pelanggan." Kata Denis saat Diva akan mengangkat nampan yang penuh pesanan.
"Tapi.."
"Biar aku saja," senyum manis tersungging untuk Diva, kemudian Denis berlalu ke meja pelanggan.
Setelah ini, Denis ingin menikmati masa-masa lajangnya bersama Diva yang mungkin kelak tak bisa ia nikmati.
****
Senja di taman kota sangatlah terasa menenangkan, cahaya yang redup membuat siapa saja betah untuk bermain di tempat itu.
Di sinilah dua insan tengah duduk bersisian, menghabiskan milkshake yang ada di tangan.
"Sepertinya aku harus tambahkan menu baru di cafe," kata Denis.
Sudah lama ia tidak berkutat di cafe karena kesibukannya mengurus perusahaan, untung saja orang-orang kepercayaannya bisa mengurus cafe hingga dapat berdiri sampai saat ini dengan omset yang memuaskan.
"Rasa apa?" kening Diva mengkerut, mana mungkin Denis dengan segudang kesibukannya sempat memikirkan hal itu.
"Rasa yang tertinggal." Denis tertawa dengan nada sumbang.
"Jangan mengada-ada," Diva memukul pelan lengan Denis.
"Tidak, tidak. Aku hanya bercanda."
Diva tersenyum melihat pria disampingnya, pandangannya beralih ke arah cincin yang tersemat di jari manisnya. Cincin pemberian Denis yang selalu ia pakai.
"Denis.."
"Iya,kenapa sayang?" tanya Denis menatap Diva yang tengah menatapnya juga.
"Aku..."
Belum selesai Diva berbicara, dering ponsel Denis terlebih dulu memotongnya.
"Assalamualaikum," kata Denis menerima panggilan yang ternyata dari Adam.
"Wa'alaikumsalam, bocah sableng kau mau pulang kapan? atau kau memang benar-benar kabur!" Semprot Adam diseberang sana.
"Aku sudah bilang tidak bakal kabur Mas!" balas Denis kesal atas tuduhan kakaknya.
"Jangan main-main Denis, kamu sendiri yang sudah setuju. Kenapa kamu tidak minta bantuan ku kemarin?"
"Ku pikir aku bisa mengambil tindakan untuk perusahaan ku Mas, dan tidak mau terlalu bergantung dengan orang lain termasuk kakakku sendiri."
"Oke oke lah, Mas mengerti. Kamu segera pulang, Mami dan Daddy mencarimu."
"Bilang saja kau merindukanku, pakai Mami dan Daddy sebagai alasan." Cibir Denis, ia senang memancing emosi Adam.
"Mana ada!" Sergah Adam dengan nada tinggi.
Benarkan, baru dipancing sedikit sudah emosi.
"Jangan ngeles! sampaikan kepada Mami, aku akan pulang setengah jam sebelum acara dimulai."
"Terserah kau saja lah, assalamualaikum."
Denis memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, ditatapnya Diva disampingnya yang berwajah muram tak seperti tadi.
"Kamu akan pulang ke Jakarta?" ucap Diva sendu.
Baru sebentar menghabiskan waktu dengan orang terkasihnya, tak rela rasanya.
Denis mengusap mengusap puncak kepala Diva. "Aku akan sering ke sini,tunggu aku ya."
"Hmmm." Diva mengangguk, ada sedikit kecemasan dihatinya.
"Aku antar kamu pulang,"
Denis mengantar Diva pulang, langsung pamit setelah mereka sampai di depan rumah Diva.
Besok Denis harus sudah sampai di Jakarta, jika tidak mungkin saja ia akan digantung hidup-hidup oleh sang kakak.
Malam ini Denis segera bersiap, memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
"Baru juga di Semarang, sudah harus balik lagi ke Jakarta." Gerutu Denis.
****
Esok paginya, Denis sudah sampai di Jakarta. Adam yang menjemputnya, memastikan adiknya benar-benar pulang.
"Punya nyali juga kamu." Cibir Adam.
"Astaga, maunya apa sih? Aku pulang salah, tidak pulang apalagi." Desis Denis.
"Bercanda, gitu aja marah."
Adam yang mengendarai mobil menuju rumah Mami, tentu saja ia mengawasi Denis agar tidak kabur.
"Sudah seperti tahanan saja aku." Gerutu Denis.
Sampai di rumah, Mami bernapas lega karena calon mempelai laki-laki sudah ada di depannya.
"Sayang." Mami memeluk Denis.
"Tumben Mam?"
"Biasanya juga seperti ini kan?"
"Mami kangen aku? Atau takut aku tidak pulang?"
Mami sedikit berjinjit dan menjewer telinga Denis. Memang kadang Denis ini suka asal sekali kalau berbicara.
"Siapkan dirimu Nak, sebentar lagi kamu akan jadi seorang suami. Mami ingin kamu menjadi imam yang baik untuk keluargamu kelak." Pinta Mami, Mami mengusap matanya yang basah.
Denis mengangguk saja, menuruti perkataan Mami nya. Meski ia sendiri merasa ragu.