Bayi yang dijadikan Sandra.

1311 Words
Satu setengah jam telah berlalu dari saat dirinya masuk ke dalam kamar tadi, ia pun memutuskan keluar tentu dengan menggunakan baju yang lebih pantas dari biasanya. dia menggunakan dress selutut tanpa lengan berwarna hijau daun dan berbahan satin, tubuhnya yang ramping dan semampai tentu membuat gaun tersebut melekat anggun di tubuhnya. Kesan mewah langsung terpancar saat seorang melihatnya walaupun dengan sekali pandang. ia melangkah dengan anggun menuju ke ruang tengah. saat dia hendak melangkah di depan kamarnya masih terdapat barang-barang yang tadi dikeluarkannya dari dalam kamar. Dengan suara sangat lantang Kia memanggil gundik dari suaminya. "Tria....!" teriaknya memenuhi seluruh ruangan. semua orang yang tengah bersantai di ruang keluarga tersentak kaget karena teriakan tersebut. "Istrimu itu kenapa sih Mas...? teriak-teriak kaya di hutan saja, emang dia kira dirinya itu Tarzan apa...?"protes Tria. "lagian kenapa sih dia memanggilku seperti itu...? mau apa dia...?" Tanpa berniat untuk menjawab panggilan dari kakak madunya, Tria lebih memilih duduk diam dan menimang bayinya. ia merasa panggilan dari KIA sangat Tak penting. Merasa tak ada sahutan dari panggilannya, Kia pun memutuskan untuk mendatangi semua orang yang terdengar ramai di ruang keluarga. Melihat dengan mata kepalanya sendiri jika istri dari suaminya itu duduk dengan santai bahkan Tengah menggendong bayi, Kia menjadi geram, namun dia tidak ingin menggunakan emosinya tersebut untuk memberikan pelajaran. Sedetik kemudian Kia tersenyum, ia merasa memiliki cara untuk membalas cueknya sang adik madu. "Itu anakmu ya Tria...? kata Bang Gani itu juga anakku...! bolehkah aku menggendongnya...?" mendengar ucapan Kia yang sangat lembut, membuat semua orang kaget dibuatnya. tak terkecuali Ibu mertuanya. Dengan tersenyum mengejek bu Imah membalas pertanyaan dari menantunya. "Kenapa...? kamu ingin memilikinya...? tentu saja iya, itu pasti karena kamu belum pernah merasakan menjadi ibu... karena apa...? karena kamu mandul...!" kata ibu Imah sangat menyakitkan hati Kia. Namun bukan itu fokusnya. Tak diperdulikannya ucapan sang mertua, toh baginya Bukan pertama kali ini Ibu mertuanya itu mengatakan hal demikian. "Bolehkah aku menggendongnya...? bolehkah aku menggendong putraku...?" kata Kia meminta izin. Tria memandang ke arah suaminya, seolah meminta persetujuan dengan permintaan Kakak madunya barusan. Gani pun mengangguk tanda setuju. "Ini mbak, lihatlah betapa tampannya putraku...! benar kata Bang Gani jika ini adalah putra kita...! mbak Kia bisa menganggapnya sebagai putra mbak Kia...!"kata Tria dengan sangat lembut kemudian menyerahkan putranya kepada kakak madunya. Kia menimang lembut bayi yang ada di gendongannya, melihat itu baik Gani maupun keluarganya tersenyum miring merasa ada satu senjata lagi untuk menekan seorang Kia. Namun yang selanjutnya terjadi membuat semuanya tak percaya apa yang mereka pikirkan pupus begitu saja. "Bayimu sudah aman di tanganku, sekarang tugasmu adalah membersihkan semua barang-barangmu dan anak haram ini yang ada di depan kamarku...!" kata Kia dengan dingin. "Maksudnya apa Mbak...? kenapa kamu mengatakan bahwa putra kita itu anak haram...? kemarikan putraku, wanita berhati busuk sepertimu tak layak untuk menggendongnya apalagi mengakuinya sebagai anakmu...!" Kata Tria geram dan hendak mengambil paksa anaknya dari gendongan Kia. "Tak usah drama, bersihkan sekarang juga atau kubanting anak ini ke lantai...!" kata Kia mengancam. Tria benar-benar tak percaya dengan apa yang didengarnya, ia sungguh tak menyangka jika Kakak madunya bisa sekejam itu. "Satu kali yang perlu kamu renungkan dan pikirkan dalam-dalam, apa sebutan untuk anak yang terlahir di luar pernikahan...? apa sebutannya...? cepat kerjakan atau apa yang aku katakan tadi aku lakukan sekarang juga...!" ancam Kia sekali lagi. "Aku mohon jangan lakukan itu mbak, tolong...! aku yakin mbak Kia tidak sejahat itu...! mbak Kia yang kukenal adalah orang yang penuh kasih dan lemah lembut...!" ucapan Tria terpotong dengan apa diucapkan oleh Kia. "Kia yang bodoh sudah mati...!" setelah mengatakan itu dia melakukan gerakan yang seolah hendak membanting bayi yang ada di gendongannya. Melihat pemandangan tersebut jantung semua orang yang ada di ruangan itu terpompa dengan sangat cepat, nafas seolah terhenti dengan seketika melihat apa yang hendak dilakukan oleh Kia. "Baik... baik, aku akan lakukan apa yang kamu perintahkan untukku, tapi aku mohon, tolong jangan apa-apakan bayiku...!" kata Tria yang kemudian segera bergegas menuju ke atas untuk membereskan barang-barang miliknya dan juga putranya. Sementara di ruangan keluarga tadi, Kia masih saja menimang lembut bayi yang ada di gendongannya. sementara bu Imah mengucapkan sumpah serapah yang sama sekali tak didengarkan oleh Kia. "Ibu tak capek nyerocos seperti itu, telingaku saja yang mendengarnya sakit...!" ucapan dari Kia semakin membuat Ibu mertuanya naik pitam. Bu Imah berdiri dan hendak menghampiri Kia, namun tanpa diduga dia malah mengulurkan salah satu kakinya dan itu menyebabkan bu Imah tersandung kemudian jatuh tersungkur. "Ibu...!" ucap semua orang yang ada di situ. bergegas Gani langsung menghampiri ibunya kemudian membantu sang ibu untuk duduk. "Sakit ini Gani, kamu harus memberikan pelajaran yang pantas untuk istri mandulmu yang tak tahu diri ini...!" kata bu Imah. Dengan tatapan membunuh, Gani menatap ke arah wanita yang masih berstatus istrinya tersebut, namun sama sekali tak diperdulikan oleh Kia. dia bahkan memutar bola matanya malas menanggapi sikap suaminya tersebut. "Kamu semakin kurang ajar ya Kia, rupanya yang aku lakukan kepadamu saat itu tak membuatmu jera juga, apa perlu aku mengulangnya kembali...?" kata Gani yang lupa dengan apa yang terjadi satu setengah jam yang lalu antara dirinya dan juga Kia. Saat Gani mendekat Kia sudah mempersiapkan siasatnya. Dia akan menggunakan bayi itu lagi untuk memukul mundur suaminya tersebut. "Lakukan saja, tapi sebelum itu, kamu akan melihat bayi ini meregang nyawa...!" kata Kia dengan meletakkan ibu jari dan telunjuknya ke arah leher mungil bayi yang tengah terlelap tersebut. "Kamu akan masuk penjara jika melakukannya...!" "Dan aku tidak pernah takut...! Aku punya uang, aku bisa membungkam dan membeli hukum dengan uangku itu...!" kata Kia dengan pongahnya memotong ucapan suaminya yang belum selesai. "Dasar wanita sinting, pantas saja Tuhan tidak bersedia memberikanmu keturunan, tingkahmu saja seperti iblis...!" Bu Imah mengumpat perlakuan menantunya. Dari arah tangga, Tria pun tak kalah histeris melihat pemandangan yang ada di hadapannya. pemandangan yang membuat dirinya melemas seketika. "Tolong jangan lakukan itu Mbak, aku mohon, jangan sakiti putraku...! dia tak tahu apa-apa dan tak punya salah apa-apa...!" Mohon Tria dengan lirih. Dengan tersenyum miring Kia menatap puas ke arah wanita yang menghancurkan rumah tangganya tersebut. "Menurutlah... jadilah anak kucing yang manis dan penurut, lakukan semua tugasmu di rumah ini dengan baik, maka anakmu aman bersamaku...!" Kata Kia dengan senyum kemenangan. "Mulai sekarang, semua tugas yang ada di rumah ini menjadi tanggung jawabmu, membersihkan rumah menyapu mengepel mencuci baju dan menyediakan makanan adalah tugasmu...!" lanjutan dari perkataan Kia membuat Tria tersentak kaget dan tak percaya. "Appaaaa....? bagaimana bisa Mbak...? Aku punya bayi kecil, tak mungkin aku melakukan semua itu...!" protes Tria. "Aku yang akan mengambil alih menjaga putramu... kamu cukup fokus dan menurut dengan apa yang Aku perintahkan kepadamu, maka bayimu akan baik-baik saja, dan kalau tidak...!" Kia berkata dengan mempraktikkan gerakan membunuh. "Jangan keterlaluan kamu Kia, menggunakan anak kecil untuk mengancam adik madumu...!" Kata Gani dengan geram. Saat Gani hendak menghampiri Kia, ternyata gerakan Kia jauh lebih cepat, ia berlari keluar dari rumahnya dengan menggendong bayi tersebut kemudian memasuki mobil dan meletakkan bayi itu di sana. ia duduk di samping kemudi dengan tenang kemudian menutup pintunya dan membuka sedikit kaca jendelanya. "Lakukan apa yang aku katakan, atau kamu tak akan pernah lagi bisa melihat putra mu...! dan untuk ibu mertuaku tercinta, kalau Ibu Tak Tega dengan menantu haram mu itu, kamu boleh membantunya...! jangan lupakan juga Mbak ila, kalau dia sama sekali tak berguna di rumahku, suruh dia untuk angkat kaki saja dari sini...! rumahku bukan penampungan orang-orang duafa seperti dia...!"setelah mengatakan itu Kia pun langsung pergi meninggalkan rumahnya menggunakan mobil miliknya. Tujuan Kia kali ini adalah ke rumah orang tuanya, ia ingin berbagi kisah kepada kedua orang tuanya dan merencanakan hal apa yang harus ia lakukan berikutnya. Di dalam hati dia sama sekali tidak ada niatan untuk menghabisi bayi yang ada di tangannya, Namun hanya untuk memberikan pelajaran saja kepada kedua orang tua bayi tersebut. Sementara di rumah Kia, terjadi keributan antara gani dan juga Tria. "Tolong selamatkan anakku Mas, tolong ambil dia dari perempuan gila itu...!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD