Keributan

1299 Words
"Kia...!" kata Rora kaget melihat putrinya membawa seorang bayi di gendongan. "Iya Mah...! ini Kia, kenapa Mama terlihat kaget seperti itu...? mama lihat apa pada diri kia...?"tanya Kia santai padahal sebenarnya dia tahu apa yang membuat ibunya itu kaget. "Bayi siapa kamu bawa...? jangan katakan kalau itu adalah anak haram suamimu dengan istri barunya...!" kata Rora menyipitkan matanya. "Menurut mama...?"tanya Kia malah menggoda sang Mama. "Dasar anak nakal, ditanya mamanya baik-baik Kok balik bertanya ...!"kata Rora dengan menjewer telinga Kia. "Ampun Ma ampun Ma ampun...!"Kia pura-pura meringis dengan apa yang dilakukan oleh mamanya padahal tak terasa sama sekali. Kia pun Tak ingin berbasa-basi lagi, menceritakan jika anak yang ada digendongannya adalah anak suaminya, dan ia berniat menjadikan anak tersebut sebagai sandra untuk membalas semua perlakuan semua orang yang ada di rumahnya, terutama kepada madunya. Jika selama ini dirinya lah yang dijadikan Babu, namun tidak untuk sekarang, merekalah yang akan dijadikan babu oleh Kia sendiri. "Hati-hati nak, jangan sampai apa yang kamu lakukan akan merugikanmu sendiri, maksud Mama bila sampai melibatkan yang berwajib, dan bonusnya adalah hotel prodeo...!" kata Rora mengingatkan sang putri "Lihat saja kalau sampai mereka berani melakukan itu, aku akan melakukan tuntutan balik atas apa yang telah laki-laki itu lakukan kepadaku...!" kata Kia dengan kilatan marah di matanya. "Jejak rekam medis masih tersimpan, itu cukup untuk menjadikan bukti dan menjebloskan dia ke penjara...!" lanjutnya "Lagi pula aku punya rencana yang lebih jitu dari ini, terutama untuk pelakor itu, dia akan merasakan tersiksa setiap harinya, karena hanya bisa melihat putranya ini tanpa bisa menyentuh ataupun menimangnya kembali...!" dengan senyum tersungging di bibirnya dia menjelaskan apa yang akan dilakukannya. "Putri Mama ternyata kejam juga...!" kata Rora. "Selama ini aku sudah menjadi malaikat Mah, namun kali ini biarkan aku dengan iblis yang telah terbangun di dalam sini...! supaya mereka tahu tak selamanya semut diinjak itu akan diam...!" jawabnya. Ia berencana 2 hari kedepan tidak akan pulang ke rumah, ia bermaksud untuk membiasakan bayi mungil tak berdosa itu dengan botol s**u, karena Kia berencana akan benar-benar memisahkan antara Ibu dan anak itu. Tak lupa dia pun segera menghubungi yayasan jasa layanan baby sitter, untuk memesan satu pengasuh untuk anak tersebut. *** Dua hari kemudian, seluruh anggota keluarga di rumah milik Tria merasa kebingungan dan takut karena dia tak pulang-pulang, bukan keadaan Kia yang mereka takutkan melainkan keadaan bayi mungil yang ada di tangan Kia. "Istri gila mu itu ke mana sih Mas...? ke mana dia membawa putraku...? putraku Mas putraku...!" umpat Tria dengan berlinang air mata saat menyebutkan kata putraku. "Sabarlah dek, yakinlah Bimo akan baik-baik saja...! Kia itu bukan wanita yang kejam, percaya deh sama Mas...!" jawab Gani mencoba menenangkan. Di tengah perbincangan mereka, mereka mendengar ada mobil yang masuk ke halaman rumah. keduanya segera bangkit kemudian menyongsong ke arah pintu. Tria sangat berharap jika yang datang adalah Kia dengan membawa anak laki-laki nya. Mata Tria berkaca-kaca saat melihat anak kecil dalam gendongan Kia, dia benar-benar merindukan anak yang pernah di lahirkannya tersebut. Saat Tria hendak mengambil Bimo dalam gendongan Kia, dengan gerakan cepat Kia menepis tangannya. dan berkata. "Mulai sekarang, kamu tak perlu repot-repot lagi untuk menggendongnya ataupun menyusuinya, pengasuhan Anak ini sepenuhnya aku yang akan menghandlenya...!" kata Kia dengan tegas. "Maksud kamu apa Mbak...? tak bisa seperti itu dong, Bimo masih membutuhkanku karena dia masih minum Asi...!" protes Tria. "Kamu lihat itu...?" jawab Kia dengan menunjuk barang-barang yang baru saja dikeluarkan dari mobil beserta dengan seorang perempuan berpenampilan seperti baby sitter. "s**u formula...?" gumam Tria. Sejenak Tria berpikir, kenapa Kia mau-maunya memfasilitasi anaknya dengan segala kebutuhannya. Namun sedetik kemudian Tria menyunggingkan senyumnya, karena dengan tindakan Kia itu tentu saja membantunya untuk sedikit lebih bebas tanpa terbebani oleh anak. Namun hal yang tak di sadari oleh Tria adalah dia akan tersiksa dengan diambilnya kuasa atas Bimo itu akan mengikatnya di dalam rumah tersebut. "Maksud mbak Kia...? apakah Mbak Kia akan menggantikan ASI dengan s**u formula itu...?" tanya Tria memastikan. "Betuuuuullll...! dan kamu harus menggantinya dengan tenaga mu membersihkan rumah ini dan juga melayaniku sebagai majikanmu...!" Jawab Kia datar. "Kia....! jangan keterlaluan kamu...! posisimu sama Tria sekarang itu sama, sama-sama istri dari Gani...! kamu tidak bisa seenaknya menjadikan Tria sebagai babu di rumah ini...!" kata ibu Imah tak terima jika menantu kesayangannya diperlakukan demikian oleh menantu yang tak disukainya. "Kenapa tidak bisa...? aku yang menanggung hidup kalian juga memberikan tempat bernaung untuk kalian semua bisa kalian perlakukan seperti itu, kenapa dia tak bisa...? oh ya jangan samakan aku dengan dia, dia hanya seorang pelakor, sementara Aku adalah istri sah...! istri sah ingat itu...!" jawab Kia dengan santai dan menekan kata istri sah di akhir kalimatnya. "Tapi aku bekerja mbak Kia, aku tidak bisa jika harus mengerjakan dua pekerjaan sekaligus, tentu itu sangat melelahkan sekali...!" jawab Tria memohon pengertian dengan wajah memelas. "Memangnya berapa gajimu? UMR bukan...? keluar saja dari pekerjaanmu itu, di sini pun aku menggajimu UMR, bonusnya kamu bisa melihat anakmu setiap hari, meskipun kamu tidak bisa menyentuhnya...!" Kata Kia enteng. "Keterlaluan...!" kata Bu Imah geram melihat tingkah dari menantu sahnya. dia pun maju hendak memberikan pelajaran dengan mengangkat tangannya ke arah menantunya tersebut. "Apa Bu...? apa yang ingin Ibu lakukan...?" belum sempat tangan itu menyentuh pipi Kia, Kia sudah menahannya dengan tangan satunya yang tidak memegang Bimo. "Jangan pernah sekalipun Ibu berani menyentuhku meskipun itu cuma satu inci. kalau itu nekad ibu lakukan, jangan salahkan aku jika tangan ibu akan patah dan tak berfungsi lagi...!" ancam Kia dengan mata mendelik tajam ke arah Ibu mertuanya. Setelah mengatakan itu, tangan Ibu mertuanya pun dihempaskan dengan sangat kasar hingga membuat Ibu mertuanya itu terhuyung ke belakang. Tak terima diperlakukan seperti itu, ibu Imah maju kembali dan langsung menarik rambut Kia. Kia yang tengah tidak siap pun tak bisa mengelak, karena posisinya sedang menyerahkan bayi tersebut kepada Baby sister. Kia mendongak kebelakang mengikuti arah tangan Ibu mertuanya menarik rambut tersebut. namun Berikutnya membuat semua orang yang ada di sana tercengang tak percaya. Kia dengan sangat tega menarik dan memelintir tangan Ibu mertuanya tersebut sehingga berbunyi seperti ranting patah. Ibu Imah menjerit kesakitan dan refleks melepaskan tangan yang tadi menarik rambut menantunya. Gani yang menyaksikan itu langsung menghampiri ibunya bermaksud untuk menolongnya. "Kia sudah... tolong hentikan...! kenapa kamu jadi berubah seperti ini...? mana Kia ku yang dulu lembut...? mana Kia ku Yang dulu selalu hormat kepada suami dan juga mertuanya...?"perkataan dari Gani terhenti dengan apa yang diucapkan oleh Kia istrinya. "Kia yang itu sudah mati...!" jawab Kia dengan membenarkan rambutnya yang berantakan. "Sus... bawa Bimo ke atas...! di kamar utama...!" kata KIA memerintahkan. suster tersebut untuk membawa bayi tersebut. "Dan Kamu Ibu tua, jangan mengira kalau yang aku katakan tadi adalah bualan saja, kali ini kamu masih beruntung aku belum melaksanakan apa yang aku ucapkan, kalau mau mencoba lagi dengan senang hati aku akan mematahkan tanganmu itu...!" kata KIA menunjuk ke arah Bu Imah. Semua orang yang ada di sana tak terkecuali Gani kembali di buat tercengang, semuanya diliputi rasa takut oleh keganasan yang di tunjukkan oleh seorang Kia. perempuan yang selama ini habis-habisan mereka tindas. Di tengah keributan yang ada, Yaya datang dengan gaya sok Imutnya. "Wiiiihhhh... reuni nih...! eh ada si babu...!" kata Yaya dengan menyapa Kia seperti biasanya dulu. "Eh mbak, buatin jus jeruk dong, haus nih...!" perintah Yaya kepada Kia seperti biasanya dulu. Jika biasanya Kia akan langsung menjalankan apa yang di inginkan oleh adik iparnya tersebut, namun tidak untuk kali ini. Kia hanya diam mematung dan tak memperdulikan apa yang diucapkan oleh adik iparnya tersebut. "Eh... budek ya...?" belum sempat kata-katanya berlanjut sebuah tamparan sudah mendarat cantik di pipi mulus anak gadis tersebut. Bahkan di pipinya kini sudah tercetak 5 jari milik Kia. "Punya tangan kan...? bikin sendiri...!" kata Kia kemudian berlalu menuju kamar atas tempat dirinya beristirahat. "Dan kamu ulat Bulu, kerjakan semua tugasmu Dengan benar, atau kamu tidak akan pernah bisa menyentuh anakmu sama sekali...!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD