”Kakek, apa nanti tidak akan membuat para tamu heboh?. Putri kerajaan Kami Fei Ying, tiba-tiba muncul di tengah perjamuan sambil menenteng kepala.”
________
Qin Guyin melirik cucuk tertuanya dengan dingin, kemudian tersenyum tipis,"Kamu menunggu momen itu? Aku juga."
*
Para perwakilan kerajaan Luwei Zhing dan Dongliar An sudah tiba di Ibu kota Kami Fei Ying. Saat memasuki gerbang pintu masuk ibu kota, para perwakilan itu disambut langsung oleh Qin Wujing.
Setelah berbasa-basi, Qin Wujing segera membawa para perwakilan itu ke Istana. Qin Guyin dan para cucuknya yang lain sudah duduk di bangku mereka masing-masing.
Saat perwakilan kerajaan Luwei Zhing dan Dongliar An tiba, Qin Guyin tetap memasang wajah tanpa ekspresi dan tatapan dinginnya yang menusuk. Qin Wujing yang sudah terbiasa dengan sifat kakeknya hanya tersenyum tipis. Menurutnya, Qin Guyin memiliki sifat yang sangat dingin dan angkuh, kakeknya itu bersifat seolah dia tidak membutuhkan bantuan orang lain. Namun, walaupun begitu, Qin Wujing tahu, bahwa jauh di dalam hati kakeknya, pria itu peduli kepada seluruh rakyat, terutama keluarganya.
"Di mana Qin Yun Fei?" Tanya pria dengan paras tampan, auranya menandakan bahwa dia bukan dari keluarga sembarangan.
Qin Wujing yang mendengar pertanyaan pria itu menjawab santai,"Dia sedang sibuk, tidak bisa diganggu. Feiye, siapa di sebelahmu?"
Qin Feiye tersenyum tipis,"Dia adalah adik ketigaku, Xiao Jiang Li."
Qin Wujing yang mendengar ini mengangguk mengerti, kemudian dia melemparkan senyum ke arah Xiao Jiang Li.
Qin Wujing dan Xiao Feiye adalah teman dekat, bahkan mereka tidak ragu atau takut untuk menyebut nama mereka langsung di tempat umum. Xiao Feiye adalah anak tertua kaisar Luwei Zhing.
Saat perjamuan tengah berjalan damai, tiba-tiba terdengar pengumuman dari arah pintu masuk.
"Yang mulia Putri Qin Yun Fei datang!"
Segera seluruh pasang mata melirik ke arah pintu. Qin Yun Fei masuk dengan baju penuh bercak darah dan mantel yang robek, tangan kanannya menenteng pedang yang berlumuran darah, serta tangan kirinya menenteng kepala manusia!.
Qin Yun Fei berjalan mendekat ke arah Qin Guyin tanpa peduli seluruh tatapan mata yang kini tengah melekat di tubuhnya, dia segera meletakkan kepala manusia itu di meja kakeknya, setelah itu dia baru berjalan mundur kembali dan berlutut.
"Misi dan tes sudah selesai, Yang mulia!"
Qin Wujing yang melihat ini tertawa keras, Qin Yun Fei segera melirik kakaknya sekilas kemudian kembali menatap Qin Guyin.
"Yun Fei," Qin Guyin menyebut nama Qin Yun Fei dengan nada dinginnya.
"Ya?" Jawab Qin Yun Fei singkat.
"Kamu membawa kepala manusia kemari? Apa kamu tidak melihat saat ini aku sedang menjamu tamu?" Jawab Qin Guyin, sorot mata dinginnya menatap wajah Qin Yun Fei.
Qin Yun Fei terdiam sebentar, kemudian menjawab,"Aku tahu, tetapi, apa aku terlihat seperti putri yang menaati peraturan?" Mata Qin Yun Fei membalas tatapan Qin Guyin.
Qin Guyin tersenyum tipis, kemudian tertawa, hal ini membuat beberapa orang terkejut.
"Fei'er, ini untukmu" Kemudian Qin Guyin melemparkan plakat yang menandakan identitas barunya, yaitu kepala penjaga ibu kota.
Qin Yun Fei yang merasa jabatan ini terlalu rendah segera protes, namun sebelum membuka mulutnya, dia melemparkan kembali plakat itu ke kakeknya,"Aku ingin yang lebih tinggi. Kakek, aku menjalani tes dengan kesulitan luar biasa, hanya ini imbalanku?"
Qin Guyin menaikkan alis kirinya,"Ya, lalu? Apa yang kamu inginkan?"
Qin Yun Fei memasang wajah kesal dan kecewa, kemudian dia menjawab,"Aku ingin seperti Gege! Aku ingin memimpin pasukan berperang!"
"Tidak!" Jawab Qin Guyin langsung sambil menggebrak meja.
Qin Yun Fei mengepalkan tangannya,"Bisa kakek jelaskan, apa alasannya?"
Qin Guyin menatap Qin Yun Fei dingin, Qin Wujing yang melihat keadaan menjadi di luar dugaan segera maju dan menempatkan tangannya di bahu kiri Qin Yun Fei,"Meimei."
Qin Yun Fei segera menoleh dan melihat Qin Wujing menggeleng pelan sembari memasang wajah serius.
Qin Yun Fei semakin mempererat kepalan tangannya, kemudian kembali menatap Qin Guyin. Bola matanya berubah menjadi biru,"Kakek masih terbayang masa lalu dan terikat dengan hal itu. Pengecut," Kemudian dia berbalik dan pergi tanpa pamit.
Qin Wujing yang mendengar kalimat akhir yang diucapkan adiknya segera membentak,"Yun Fei!" Bola mata pria itu berubah menjadi ungu dan menahan pergelangan tangan Qin Yun Fei kencang.
Qin Yun Fei menepis kasar tangan Qin Wujing, kemudian melanjutkan langkah perginya yang sempat terhenti.
Saat Qin Wujing hendak mengejar Qin Yun Fei, Qin Guyin segera berkata,"Wujing, biarkan."
Qin Wujing menatap kakeknya, kemudian mengangguk ringan dan kembali berjalan duduk di kursinya.
Sementara itu Qin Yun Fei sudah berjalan keluar dengan mata yang berkaca-kaca serta hati yang kecewa.
"Xian!" Qin Yun Fei memanggil salah satu asisten pribadinya.
"Saya, Yang mulia."
Qin Yun Fei menarik napas sebentar kemudian menjawab,"Tutup gerbang Istanaku, aku tidak mau menemui tamu dari luar atau pun dalam Istana."
Xian mengangguk cepat,"Ya, dimengerti!"
Setelah kepergian Qin Yun Fei, Qin Wujing segera berjalan mendekat ke arah kakeknya dan berkata,"Kek, apa kakek serius dengan itu? Qin Yun Fei bahkan hampir mengorbankan nyawanya demi keberhasilan misi yang anda berikan!"
Qin Guyin menatap Qin Wujing tajam,"Wujing, katakan padaku! Apa aku harus melihat jasad cucukku yang bisa saja mati di Medan perang seperti nenekmu?!"
"Itu nenek, kek! Jangan terikat dan terpaku dengan masa lalu! Anda harus memberikan apa yang seharusnya Qin Yun Fei dapatkan!" Balas Qin Wujing langsung, raut wajahnya tampak marah dan kecewa dengan Qin Guyin. Setelah itu, Qin Wujing segera berbalik dan berjalan keluar tanpa memberi hormat. Dia meninggalkan ruangan yang masih terdapat para tamu dan pergi begitu saja tanpa peduli.
*
"Fei'er."
Qin Yun Fei menoleh ke belakang saat mendengar seseorang memanggil namanya, kedua alisnya bertaut kesal. Bukankah tadi dia sudah memerintahkan Xian untuk menjaga pintu masuk istananya?.
Saat melihat ternyata orang yang memanggil namanya itu adalah Qin Wujing, Qin Yun Fei segera mengerti mengapa Xian gagal menahan pria itu.
"Aku sedang tidak menerima tamu, kakak. Jadi, tolong segera pergi," Kata Qin Yun Fei dengan nada dingin.
"Ah...hatiku sakit," Canda Qin Wujing, pria itu berusaha membuat adiknya tersenyum.
Qin Yun Fei tersenyum tipis tanpa sadar karena kelakuan kakaknya, kemudian berkata,"Jika kamu berniat untuk menghiburku, lebih baik tidak usah! Perasaanku sudah sangat buruk! Aku bertarung dengan ratusan manusia di sana. Aku kira, aku akan mendapatkan imbalan yang setimpal, ternyata-" Belum selesai Qin Yun Fei melengkapi ucapannya, Qin Wujing sudah memotong,"Yun Fei, kamu seharusnya mengerti tentang perasaan dan maksud kakekmu."
Qin Yun Fei mengerutkan keningnya, ada secercah nada kecewa dan marah,"Dan seharusnya kakek tidak termakan, lalu terjebak masa lalu."
"Qin Yun Fei, kamu-" Sekarang giliran ucapan Qin Wujing yang Qin Yun Fei potong,"Cukup! Apa kakak kemari hanya untuk mengajakku berdebat?"
Qin Wujing mengerutkan keningnya,"Siapa yang mau mengajak kamu berdebat? Aku kemari hanya ingin-" Qin Yun Fei memotong lagi. "Keluar! Aku tidak mau berdebat denganmu! Kakak, aku paham maksud dan perasaan kakek. Aku juga ingat bagaimana nenek meninggal di Medan perang, aku juga ingat bagaimana kedua orang tua kita mati di Medan perang demi ketenangan Kami Fei Ying! Aku ingin menjadi kuat! Aku ingin menjadi seorang pemimpin di kamp militer! Aku ingin melindungi keluargaku! Bahkan jika aku harus mati seperti nenek, itu tidak masalah! Justru itu, justru cara itu aku ingin diriku mati! Aku ingin mati untuk keluarga dan ketenangan kerajaan kita!"
Qin Wujing menatap Qin Yun Fei dingin, lalu bola matanya berubah menjadi ungu,"Lalu bagaimana denganku? Aku juga ingin melindungi keluarga dan kerajaan kita. Aku tidak ingin melihatmu terluka sama seperti kamu tidak ingin melihat aku atau keluargamu yang lain terluka. Aku tidak ingin melihatmu tersiksa seperti kamu tidak ingin melihat keluargamu tersiksa. Kamu mempunyai keluarga yang ingin dilindungi, begitu juga aku. Kamu, kamu adalah adikku. Kamu adalah tanggung jawabku. Kamu adalah segalanya untukku. Fei'er, kakak tidak melarangmu untuk melakukan apa pun, kecuali berkorban di Medan perang. Jika ada yang berkorban, maka itu harus aku, bukan kamu," Kemudian Qin Wujing pergi meninggalkan Qin Yun Fei yang masih terdiam. Mata Qin Yun Fei menatap kepergian Qin Wujing dengan sendu.
Qin Yun Fei mengepalkan tangannya kencang, kemudian dia benturkan ke atas meja!.
Krak! brak!
Meja dengan kualitas kayu terbaik itu terbelah menjadi dua. Bola mata Qin Yun Fei berubah menjadi biru, rahangnya mengeras, matanya berkaca-kaca.
"Jika tidak ada perang itu, maka semua ini tidak akan terjadi! Para adikku yang masih kecil akan mendapatkan kasih sayang orang tua yang cukup! Tidak akan ada trauma besar yang menimpa para adik-adikku! Dan aku, tidak mungkin seperti ini. Aku seperti ini karena ditekan keadaan dan masa lalu!" Kemudian mata Qin Yun Fei melirik tajam ke arah jendela yang terbuka, lirikan matanya mengarah ke atas langit. Setelah itu, dia kembali berbicara,"Katakan, dewa! Apa keluargaku harus seperti ini? Jika kamu ingin membuatku menderita, maka berikan penderitaan itu hanya untukku! Jangan kau sentuh adik-adikku!"