Hari pernikahan ayahnya dan Dinandra akan segera dilangsungkan tiga hari lagi. Icha sangat bersemangat memilihkan gaun untuk Dinandra, begitu juga dengan Dinandra yang sama antusiasnya memilihkan gaun untuk gadis yang akan segera menjadi putrinya itu.
Mimpi Dinandra akhirnya terwujud untuk pergi shopping dan jalan-jalan dengan anak gadisnya. Selama menjadi ibu rumah tangga Dinandra tidak bisa mengajak Daniel pergi belanja bahan makanan, pakaian dan juga make up. Daniel sangat payah dalam hal itu. Terkadang Daniel malah memilih tinggal di dalam mobil sembari menunggu mamanya berbelanja, tidak bisa diandalkan sama sekali. Beruntunglah sekarang ada Icha yang akan menemaninya, namun entah kenapa hari ini Daniel tidak menunggu di mobil namun terus mengekori Icha dan Dinandra masuk keluar butik dan mall sedari tadi.
"Kamu enggak cape sayang? Di mobil aja deh... kan sekarang ada Icha yang nemenin mama," kata Dinandra ketika melihat Daniel yang seakan bosan tapi terus saja mengekor di belakang.
Daniel menggelengkan kepalanya. "Enggak kok ma... cuma pengen ikut liat-liat juga, siapa tau ada yang bagus buat di beli," jawab Daniel.
Daniel merasa seperti sedang di usir oleh mamanya sendiri, ia pun mencibir tanpa suara yang tak sengaja disaksikan oleh Icha.
"Ma... Daniel ngambek tuh, katanya gini... nyenyenye..." Icha terbahak setelahnya diikuti oleh gelak tawa Dinandra.
"Emang kayak gitu dia, nanti jangan panggil dia kakak. Kelakuannya pasti bakal buat kamu kesel..." Dinandra seakan tidak punya anak laki-laki, sedari tadi ia hanya selalu memihak Icha.
Daniel memasang wajah cemberut ketika mendengar ucapan Dinandra. "Maaaa... anakmu itu aku..." rengek Daniel.
Icha menjulurkan lidahnya ke arah Daniel. "Boooodddoooo... yuk mah, sekarang Mama Dina tuh mamanya aku..."
Dinandra pun hanya terbahak melihat kelakuan Icha yang sengaja memanas-manasi Daniel. Icha menggandeng tangan Dinandra sangat erat, memberi kode kepada Daniel kalau Dinandra itu sekarang adalah miliknya.
Daniel menghela napas lelah, ia mulai berpikir bahwa lebih baik jika tadi ia tinggal di mobil saja sambil bermain game mobile legend. Mengikuti kedua wanita ini hanya akan membuatnya dirinya merasa terabaikan.
Setelah selesai dengan semua persiapan pernikahan akhirnya Dinandra memutuskan untuk mengakhiri perjalanan mereka hari ini. Waktu sudah menunjukkan pukul dua puluh, kini Icha berpindah duduk di seat depan bersama dengan Daniel, sementara Dinandra duduk di seat belakang sembari menelepon Pram, ayahnya Icha.
"Mas... kita udah selesai nih, sekarang kita udah di jalan pulang mau nganterin Icha juga," kata Dinandra melaporkan akhir perjalanan mereka hari ini.
"Oh iya... undangan juga sudah jalan mulai hari ini, dianterin sama kurir... bilang sama Daniel nyetirnya jangan ngebut, hati-hati di jalan ya?" terdengar suara Pram dari seberang sana.
"Oke, mas... see you," jawab Dinandra lalu mematikan sambungan telepon itu.
Dinandra memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan menyadari jika Daniel sedang terkikik. "Niel... kamu ketawain mama?" tanya Dinandra.
"Hah? Enggak ma... tumben gak muachh...muachh..." kilah Daniel lalu terbahak.
Dinandra malu bukan kepalang. "Dasar anak durhaka! Mama sendiri di bully... liat nih Cha... Cha...?" Dinandra heran karena tak ada lagi gelak tawa Icha.
"Niel... Icha tidur?" Tanya Dinandra.
Daniel mengangguk. "Iya ma, kayaknya kecapean."
Dinandra mengambil selimut khusus yang sering Dinandra pakai ketika ia tidur di mobil. Selimut itu ia pakaikan kepada Icha lalu mengecup dahi Icha lembut.
"Niel... sekarang kamu punya adek perempuan, mama harap kamu enggak merasa tersisih karena kamu anak laki-laki mama, tolong bantu Om Pram jagain Icha juga, ya?" Ucap Dinandra.
Daniel dengan rasa berat hati yang menggebu-gebu itu pun akhirnya mengangguk. Ia menampilkan senyum kepada mamanya, sebagai pertanda setuju dengan nasihat sang mama.
Cha... andai mama aku sama papa kamu tau kalau kita...
Daniel hanya bisa bergumam dalam hati, ia sadar perasaan yang pernah singgah di hati mereka saat ini tidak lebih spesial dari pada perasaan ayah dan ibu mereka. Nasi belum menjadi bubur, tidak apa-apa.
Mereka pun sampai di depan rumahnya Icha. Daniel baru saja turun dari mobil lalu bergegas membopong Icha masuk ke kamar
“Den? Non Icha kenapa?” tanya Bik Yati ketika melihat Icha dalam gendongan Daniel.
“Gak apa-apa kok Bi… Icha hanya kelelahan, jadi dia ketiduran dalam mobil,” jawab Daniel
Daniel berhasil merebahkan tubuh Icha di ranjang. Sebelum turun ke ruang keluarga, Daniel masih duduk di samping ranjang Icha. Pemuda itu menyibak rambut yang menghalangi wajah manis Icha yang sedang tidur, namun gadis itu pun sama sekali tidak terbangun.
Ingin rasanya Daniel mengecup dahi Icha, tapi ia mengurungkannya. Mata Daniel mulai berkaca-kaca, ada rasa penyesalan dalam hati Daniel karena telah melewatkan Icha dalam hidupnya.
-
Daniel dan Dinandra sudah pulang dua puluh menit yang lalu, kini hanya tersisa pram yang datang ke kamar Icha untuk mengecek apakah Icha terbangun atau tidak. Pram memperbaiki selimut yang dipakai oleh Icha, merapikan anak rambut Icha, kemudian mengecup manis dahi anak gadisnya itu.
Melihat wajah Icha yang terlelap. Pram jadi teringat dengan Raisha, ibunya Icha. Icha sangat mirip dengan ibunya. Seperti pinang di belah dua.
Pram teringat akan kata-kata Icha saat gadis itu mengetahui ayahnya akan menikah lagi.
Pah, janji ya… walaupun Mama Dinan sudah pindah ke rumah ini papa enggak boleh sembunyiin foto-foto mama.
“Maaf…. Maafkan papa, nak… papa janji tidak akan pindahin foto-foto mama kamu,” Gumam Pram sambil membelai kepala Icha.
-
Pukul dua puluh empat lewat dua menit Icha terbangun dari tidurnya. Awalnya gadis itu sempat kebingungan karena setau Icha ia tertidur di dalam mobil Dinandra, dan yang didapati oleh Icha sekarang ia malah sudah berbaring di ranjang kamarnya sendiri. Icha jadi memikirkan banyak kemungkinan dari kejadian ini, namun rasa kantuknya menghalangi. Gadis itu memutuskan untuk tidur kembali.
Tuk!
Tuk!
Icha terusik oleh suara-suara yang berasal dari kaca jendela balkon, suara itu terdengar seperti kaca yang dilempari dengan batu kerikil. Selanjutnya ia merasakan kalau ponselnya bergetar, pertanda ada panggilan telepon masuk.
“Hallo… selamat malam,” Sapa Icha.
Terdengar suara dari seberang. “Buka jendelanya deh, Cha… aku di depan nih…” suara itu sudah seperti suara rengekan tapi sayangnya berganti nama menjadi rengekan kaum adam. Siapa lagi kalau bukan Victory.
Icha mematikan panggilan telepon itu lalu bergegas menuju jendela, gadis itu membuka jendela dengan penuh hati-hati agar tidak menimbulkan suara gaduh. Icha tidak bisa membuat suara-suara gaduh karena kamarnya berada tepat di atas kamar ayahnya.
Icha mengedarkan pandangannya di depan pagar halaman rumahnya. Icha menemukan sebuah mobil berwarna putih terparkir di seberang jalan, tapi gadis itu tidak menemukan sosok pemuda yang ia cari.
Vic keluar dari persembunyiannya yang terhalang pagar rumah Icha, lalu menunjukkan bentuk love sign menggunakan kedua tangannya. Icha menjadi salah tingkah dengan keanehan yang Victory tunjukkan itu. Gadis itu dengan cepat mengetikkan sebuah pesan pada Victory.
Ke : Victory
Apaapaan siiii… pulang sana
Icha mengusir Vic dengan terang-terangan, Vic sendiri seperti merasa kalau ada yang salah dengan sikapnya tadi dan baru teringat bahwa ia malah mengirimkan kode love kepada Icha.
“Ya ampun! Aku kenapa sih? Astaga… Vic g****k banget… jadi malu-maluin,” gumam Vic setelah menyadari tingkah konyolnya.
Dari : Victory
Maaf, enggak gitu… Soalnya buat love sign hal yang tiba-tiba muncul aja gitu di kepala aku, kayak orang-orang di tv-tv, nonton gak? Di drakor gitu gampang banget bikinnya hehe.
Ke : Victory
Ooooh gitu… jangan gitu sih Vic. Aku bisa salah paham nih, dasar bocah minta di gaplok
Dari : Victory
Pelayan macam apa yang kasar ke tuannya begini?
Icha tidak membalas pesan Vic, ia terlalu malas meladeni sikap aneh Vic. Pemuda itu hanya bisa tertawa di bawah sana, kemudian memberi kode bahwa ia akan segera pergi. Icha pun membalas kode itu dengan lambaian tangan lebih seperti sedang mengusir ayam.
Setelah kepergian Vic, gadis itu kembali ke dalam kamarnya dan meletakkan ponsel di atas nakas. Icha naik ke atas ranjangnya yang hangat, udara yang begitu dingin membuat Icha mengambil banyak selimut untuk di pakai olehnya malam ini.
Ting!
Dari : Daniel_Anteksip
Cha… sudah tidur? Cha aku cuma mau bilang.
I love You… Cha.