Icha melakukan pereganggan otot dan pelemasan sendi secara darurat ketika dirinya sampai di rumah. Sekujur tangannya menderita pegal-pegal setelah mengetik banyak sekali tugas milik Victory. Tak ada pilihan lain yang bisa ia lakukan selain tidur lebih awal malam ini. Icha bahkan lupa bahwa ia juga memiliki tugas yang harus dikumpulkan pada esok hari. Gadis itu berbaring di ranjangnya dengan ponsel yang selalu berada disampingnya.
Dari : Victory
Cha, besok buatin sarapan!
Icha mengintip ponselnya yang bergetar, terdapat satu pesan teks dari Victory namun Icha malas untuk membalasnya.
"Hadeh..." Icha menghela napas kemudian menggeser ponsel itu agar lebih jauh dari jangkauannya.
-
"Aruna?"
"Saya, ma'am!" Jawab Icha sembari unjuk tangan.
Saat ini Icha sedang dilanda kepanikan, tugas yang seharusnya ia kumpulkan malah terabaikan gara-gara Vic. Pemuda bernama Victory itu membuatnya kelelahan sehingga tak sempat membuat tugasnya sendiri.
"Tugas kamu? Saya tidak terima jika sudah lewat jam 12 tengah malam nanti, saya anggap kamu tidak membuat tugas... kelas kita sampai disini dulu, kita bertemu lagi minggu depan... Selamat Siang!," Kata Ibu Dosen yang mengajar mata kuliah Sejarah Kebudayaan Indonesia.
"Baik, Ma'am..." jawab Icha kemudian terkikik kecil ketika dosennya sudah keluar dari dalam kelas.
"Wah! Parah sih, Cha. Kamu kenapa? Kok sampai enggak buat tugas sih?" Tanya Rere yang duduk tepat di depan Icha.
"Capek Re... dikerjain lagi sama Vic kemaren, pegel aku ngetik tugas dia," jawab Icha malas.
"Cha, mending sekarang cek feed i********: kamu deh... ada akun anonim lagi yang komen..." Ririn menunjukkan layar ponselnya, dimana postingan Icha itu terdapat hate comment dari akun tak dikenal.
[ @indhzhzhi wah cantik banget kek ondel-ondel betawi, ga cocok banget lu sama Vic ? ]
"Ya... sudahlah, dari pada mikirin akun anonim yang nge-hate comment mending aku bikin tugas aja sekarang, nanti bisa kena nilai C sama Ma'am Sofia," Ujar Icha, jelas ia mengabaikan segala hate comment itu dan memilih untuk menghapus nya saja daripada harus memusingkan hal yang tidak penting seperti itu.
Setelah berpisah dengan Rere dan Ririn, Icha pun pergi ke taman utama Elite University yang merupakan tempat biasa ia bertemu dengan Vic. Icha membawa bekal sesuai dengan permintaan Vic.
Sudah sepuluh menit berlalu namun belum ada tanda-tanda kemunculan Victory di tempat itu. Akhirnya Icha memutuskan untuk menelepon pemuda itu.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif..."
Icha menghela napas lelah. "Wah... tau gini aku enggak datang kesini..."
Gadis itu bangkit dari duduknya kemudian menyapu celananya yang tampak berdebu, ia tampak sedang bersiap untuk pergi sebelum akhirnya mendengar percakapan dari beberapa orang yang lewat.
"Monica Livia yang ini kan? Kudengar dia pindahan dari Singapore Management University," pertanyaan gadis berambut pendek membuka pembahasan sambil menunjukkan foto seorang gadis dari layar ponselnya.
Gadis berambut sebahu mengangguk. "Pasti dia pindah ke Indo buat ngejar Vic lagi deh..."
"Pastinya sih, gue juga yakin kalo sekarang Vic lagi sama dia..." jawab gadis berambut pendek.
Dilihat-lihat dari pakaian kedua gadis yang sedang mengobrol itu, Icha langsung dapat mengetahui bahwa mereka berdua berada di jurusan yang sama dengan Vic. Pada pakaian mereka terdapat pin khusus fakultas teknik yang sering dipakai oleh Daniel dan Vic.
Icha jadi bertanya-tanya setelah mendengar pembicaraan dua orang gadis yang lewat tadi. "Monica? Monica? Hmmm... apa cewek yang kemarin? Monic?"
"BAAAAA!!!"
"Anjrit! Anjrit! Kodok!" jerit Icha, ia sampai terlonjak dari tempat duduknya. "Ya Allah... Vic kenapa siiiiiiih?" Omel Icha ketika mengetahui siapa dalang dari situasi ini.
Yang menjadi tersangka utama pun hanya terbahak melihat Icha yang kaget setengah mati. "Sorry! Sorry! Hahaha... soalnya kamu lucu banget kalo lagi kaget..." jawab Vic sambil terbahak.
"Nih... bekal kamu. Aku mau pulang aja, cape banget berada di sekitar kamu..." Icha meraih tas miliknya, ia hendak benar-benar pergi.
Melihat hal itu, Vic bergegas menghalangi jalan Icha. "Mau kemana? Pulang? Enggak! Tugas kamu masih banyak, Neng..."
Icha memutar bola matanya kesal. "Booodddooooo..."
Icha mendorong Vic ke samping untuk melewati pemuda itu namun yang terjadi Vic malah oleng dan menabrak seseorang yang lewat.
"Aduh! Maaf..." Ujar Vic tanpa melihat siapa orang yang ia tabrak.
Vic menyapu celana jeans miliknya yang berdebu akibat kelakuan jahilnya sendiri yang suka masuk di antara semak-semak untuk mengagetkan Icha.
"Iya... enggak apa-apa... loh? Vic?" ternyata seorang wanita, Vic pun menoleh dan menemukan orang yang ia kenal.
Kedua alis Vic terlihat mengernyit. "Monica... kamu ngapain disini?"
Gadis itu memainkan rambutnya. "Aku kan pengen ketemu tunangan aku..."
Vic rasanya mau muntah saat ini juga. Ayolah... Vic memang tau bahwa Keluarga Monica hanya mengincar harta. Sehingga Vic tidak mau berlama-lama dengan Monica. Vic juga lah yang membatalkan pertunangan mereka dengan alasan tidak cocok satu sama lain.
“Tunangan apanya? jangan halu deh Mon… aku pergi dulu,” Vic bergegas mengejar Icha.
Gadis bernama monic itu pun jadi kesal sendiri, “Sial! Aku akan berusaha biar kamu kembali lagi sama aku,” gumam Monic.
-
Icha membawa lagi kotak bekal untuk Vic, padahal kali ini ia sudah susah payah membuatnya, sampai di akhiri dengan lemah, letih, lesu, dan lunglai. Langkah kakinya pun terhenti di halte bus yang tidak jauh dari taman utama tadi. Gadis itu memilih untuk duduk disana, sekalian merasakan hembusan angin dan juga butiran gerimis.
Awan mendung mulai mengumpul di atas langit ibu kota, Icha yakin sebentar lagi pasti akan turun hujan. Sepuluh menit kemudian hujan pun turun dengan derasnya, Icha yang merasa kesepian itu pun tidak berani menelepon ayahnya.
“Harusnya tadi aku tunggu di kelas dulu, dari pada disini panas, angin, hujan, debu,” kata Icha pada dirinya sendiri.
Gadis itu mulai merasa kedinginan karena atap halte bus yang ternyata sudah bocor. Ia hendak bergeser untuk menghindari air dari atap yang bocor tapi tiba-tiba saja ia melihat payung berwarna kuning di atas kepalanya. Icha dengan sigap menoleh ke arah si pemegang payung.
Vic mengenakan masker berwarna hitam untuk menutupi area bibir dan hidungnya. Namun hanya melalui matanya saja Icha sudah bisa mengenali pemuda itu.
Vic menatap Icha dengan tatapan membunuh. “Mana bekal aku?!” Tanya Vic dengan nada merajuk.
Icha memberikan tas bekal makanan yang berada di sebelah tempat Icha duduk. Ada rasa iba yang muncul. Tak lama kemudian hujan pun berhenti, Icha bersiap-siap lagi untuk pulang ke rumah.
Vic mengantarkan Icha pulang ke rumah. Gadis itu beralasan bahwa ia harus ikut mempersiapkan pernikahan ayahnya, sehingga Vic pun mengiyakan permintaan Icha tersebut. Ketika Icha sampai ke kamarnya ia mengecek ponselnya yang ternyata terdapat pesan dari Vic.
Dari : Victory
Aku tunggu ya undangan punyaku
Ke : Victory
Hadeh, bukan aku yang nikah. Kamu undang diri sendiri aja deh ya… bye
Icha harus ikut Dinandra esok hari, ada banyak jadwal yang Dinandra atur untuk persiapan pernikahannya dengan ayahnya Icha. Icha akhirnya memutuskan untuk cepat tidur.
-
Esoknya Icha tampak lebih segar dan bugar, untuk hari ini ia tidak khawatir akan dikerjai oleh Vic lagi. Gadis itu pun bersiap-siap untuk pergi dengan Dinandra ke toko gaun, dan juga pergi mengecek gedung tempat acara pernikahan akan dilangsungkan.
Sepuluh menit berlalu akhirnya Dinandra pun tiba untuk menjemput Icha. Jelas sekali Icha melihat Daniel yang akan menyetir perjalanan mereka hari ini. Itu berarti Icha akan seharian bersama dengan Daniel. Gadis itu berusaha bersikap biasa.
“Cha… Ayo!” Seru Dinandra.
Icha pun menyambut ajakan calon mamanya itu dengan senyuman manis. Gadis itu bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Dinandra.
“Hai, Cha…,” sapa Daniel pada Icha.
Icha hanya bisa tersenyum tipis. “Hai, Niel…” setelahnya Icha langsung memfokuskan dirinya pada Dinandra yang sedang melihat-lihat dekorasi altar pernikahan di sebuah akun i********:.
Icha bukannya tidak ingin akrab dengan Daniel, hanya saja gadis itu masih merasa canggung.