#10

1390 Words
Srak! Srak! Srak! Bunyi kertas-kertas yang tengah Icha sobek menarik perhatian Bik Yati. Icha memasukkan kertas-kertas itu ke dalam tong sampah, menyiraminya dengan minyak tanah yang ia ambil dari dapur, selanjutnya Icha memasang korek api kayu dan dilemparkannya ke dalam tong itu. Kobaran api melalap habis sobekan kertas dari buku harian Icha. Layaknya perasaan Icha saat ini, gadis itu menginginkan hal yang sama. Ia ingin perasaannya pun dapat habis tak bersisa. Gadis itu beranjak meninggalkan tong sampah yang masih berkobar. "Eh... eh... Non! Astaga Non! Kok main api? Kalo kebarakan nanti gimana?" jerit Bik Yati sembari memeriksa area sekitar tong sampah. Icha berbalik lalu tersenyum ke arah Bik Yati. "Enggak apa-apa, Bik. Kalo Bibik takut nanti bakal kenapa-kenapa, ya... Bibik tungguin aja sampai apinya padam. Icha mau ke kamar dulu ya... bye!" Jawab Icha, lalu masuk ke dalam rumah. Dasar Icha, sama orang tua malah jahil. Namun begitulah sifatnya ketika sedang memikirkan sesuatu yang lumayan serius. Saat ini gadis itu memang sudah berniat untuk menyudahi perasaannya pada Daniel, mau bagaimana lagi? - "Cha, Sini! Lihat nih gaun bridesmaid-nya, bagus nggak?" Icha menoleh yang ternyata Dinandra sedang duduk di ruang keluarga. Tidak ada papanya disana, Icha pun pergi menghampiri Dinandra. "Loh, Mama sendirian? Papah mana?" Tanya Icha. Dinandra menoleh kekiri dan kekanan, "Loh, tadi ada kok. Mungkin pergi ke depan, lagi ngobrol sama klien." Dinandra menuntun tangan Icha agar duduk di sampingnya. "Cha, yang warna ini bagus. Gimana? Cocok banget loh sama kulit kamu..." "Wah yang ini warnanya masih jarang banget dipake mah, yang ini aja..." sanggah Icha. Mata Dinandra membulat dan berbinar, warna gaun yang ditunjuk Icha memang terlihat mewah dan masih jarang digunakan, "Wah! Bagus banget, Cha. Ya sudah, mama ikut kamu aja..." Bertemu dan berinteraksi dengan Dinandra membuat mood Icha jadi good hari ini. Sebenarnya inilah yang selama ini Icha cari, memiliki seorang ibu untuk diajak berdiskusi, bercanda, curhat, belanja, sampai berdebat pun, Icha sangat menginginkan itu semua. "Allah memang maha baik, Allah tau saat yang tepat untuk aku memiliki seorang ibu. Meskipun hanya ibu sambung, tapi Mama Dina menyayangiku seperti anak kandungnya. Mama tenang aja di surga, sekarang ada Mama Dina yang bantuin mama menjaga aku," Gumam Icha dalam hati dengan senyum merekah di bibirnya. Di sisi lain Pram melihat anak gadis semata wayangnya itu sudah mulai akrab dengan Dinandra, calon istrinya. Ada haru yang tidak bisa Pram ungkapkan, ia sangat senang melihat senyuman di wajah Icha saat bersama dengan Dinandra. Senyuman gadis muda yang tidak sempat Icha tunjukkan kepada ibu kandungnya yang telah tiada sejak Icha masih kecil. - Pagi hari yang begitu cerah telah membawa kaki Icha memasuki area kampus lebih awal dari biasanya. Ada rasa heran dalam hatinya karena semalam ia bisa tidur dengan begitu nyenyaknya, dan ia juga tidak bangun kesiangan. Begitu kuatkah efek Dinandra bagi Icha? Sehingga berhasil membuat Icha terlelap setelah lelah mengobrol seru dengan calon ibu sambungnya itu. Icha mengedarkan pandangannya, keadaan kampusnya yang tampak sunyi senyap membuat gadis itu tersadar bahwa hari ini ia tidak ada kelas. Rere dan Ririn pun pasti tidak datang hari ini karena mereka sekelas. Icha memegangi kepalanya ketika ia menyadari kekhilafannya. Tak lama kemudian notifikasi dari ponsel Icha membuat bunyi dentingan. Gadis itu bergegas mengecek ponselnya dan benar saja, itu pesan teks dari Victory. Dari : Victory Cha kemarin aku nyari kamu ga ada. Kamu ga ke kampus? Ke : Victory Aku ke kampus, cuma ga enak badan jadi cepet pulang. Kenapa? Dari : Victory Nanya doang, kan kamu pelayan aku sekarang. Kemarin aku mau minta kamu beliin McD, nomer kamu ga aktif. Ke : Victory Oh, ya udah, maaf. Icha menghela napas kemudian menghembuskannya dengan kasar. Kepalanya mulai berdenyut ketika memikirkan hal menyangkut Victory. Pemuda yang sangat tidak masuk akal, baik isi pikirannya, tutur katanya, sikapnya, semuanya serba tidak masuk akal, kecuali wajah tampannya. Victory memang sangat jelas dan nyata ketampanannya. Semua orang pasti akan beranggapan sama. Meskipun ada sebagian orang yang mengatakan bahwa pemuda itu blasteran surga, tapi sikapnya yang tidak jelas itu pasti belum mereka ketahui. Namun Icha juga tidak begitu kesulitan ketika berhadapan langsung dengan Vic. Pemuda itu tidak begitu merepotkan, hanya saja sikapnya bisa berubah sangat menyebalkan hingga bisa membuat Icha sakit kepala, seperti saat ini. "Eng... Ing... Eng..." "GYAAA!" Teriak Icha tiba-tiba, gadis itu sampai tersentak dari tempat duduknya. Icha dikagetkan oleh suara receh dari sosok makhluk bertubuh tinggi yang baru saja keluar dari semak-semak. "Hih! Apa sih?!" marah Icha masih dengan posisi berdiri. "Ngagetin aja!" Makhluk bertubuh tinggi itu pun hanya bisa terbahak melihat Icha yang berhasil dijahili olehnya. "Maaf... maaf... kamu kelihatan terlalu serius sih, kan naluri ingin ngerjain kamu jadi menggebu-gebu..." Siapa lagi kalau bukan Victory, si pemuda tampan namun terbentuk dengan sel jahil di sekujur tubuhnya. "Hadeh... sejak kapan kamu disini?" tanya Icha kemudian. Victory memegangi dagunya sendiri dan tampak berpikir. "Sudah dari setengah jam yang lalu sih..." Icha memutar bola matanya malas, "Hey, kamu ngapain di fakultas orang, huh? Sepagi ini loh..." Victory mulai kelabakan dengan serbuan pertanyan Icha, ia terlihat bingung untuk mengutarakan alasannya sendiri dengan suaranya yang tergagap, membuat Icha semakin menaruh kecurigaan pada Victory. "Ehm— itu— sebenarnya a-aku tadi... cuma lewat! Hehe... cuma lewat. Terus aku mampir deh... iya begitu." Vic berusaha meyakinkan Icha dengan kata-katanya itu. Icha merasa aneh sendiri, ia mulai berpikir alasan Vic itu sangat tidak masuk akal. Apalagi Fakultas Teknik berada di jalur yang tidak searah dengan fakultas Icha. "Kamu kesini nyari aku?" tanya Icha tiba-tiba. Vic mengangguk penuh keyakinan, "Iya, aku nyari kamu. Aku perlu kamu bantuin aku ngerjain tugas" Dahi Icha mengernyit. "Cuma itu? Kamu kesini enggak ada maksud lain kan?" Victory mengangguk. "Bener, ga ada kok!" Icha akhirnya mengakhiri kecurigaannya pada Vic saat itu juga. Berpikir bahwa Vic memang hanya datang untuk mengerjainya dan juga memberikan tugas padanya sebagai pesuruh. "Ingat loh, pada dokumen perjanjian point ketiga. Kita enggak boleh terlibat perasaan satu sama lain," tegas Icha. "Hah? Maksud kamu? Aku suka sama kamu begitu? Haha... aku ga suka sama cewek tepos." Jawab Vic dengan percaya diri. Icha jadi menyesal sendiri karena menegaskan hal itu kepada Vic, kepalanya jadi berdenyut karena kesal ditertawai oleh Vic. Icha meninju bahu Vic dengan keras. "Ya sudah, ayo jalan!" "Aduh! maaf... ampun..." Vic mengaduh, ia tak menyangka gadis seperti Icha pukulannya bisa se sakit itu. - Sepasang anak muda yang bukan pasangan itu pun sampai di perpustakaan umum terbesar di ibu kota, tempatnya bernama The Librarious. Perpustakaan itu merupakan yang terbaik, terbesar, terlengkap, dan terupdate yang ada di Indonesia dan juga merupakan tempat para siswa dan juga mahasiswa menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas ataupun skripsi. Selain itu orang-orang juga bisa membaca sambil minum kopi di tempat ini karena terdapat cafe khusus di dalamnya yang terpisah dari area rak-rak buku. Tapi tidak semudah itu juga, jika pengunjung tanpa sengaja merusak buku karena tersiram kopi di cafe, maka pengunjung tersebut akan dikenakan biaya ganti rugi dengan melihat harga dan kelangkaan buku yang telah dirusak. Disinilah Icha dan Vic, di salah satu meja yang diperuntukan untuk dua orang. Icha mengetikkan apa saja yang akan Vic bacakan dari buku referensi. Icha menjadi tukang ketik untuk saat ini. Tidak ada keanehan yang terjadi, mereka terlihat sangat alami dan tidak ada unsur pemaksaan sama sekali. "Vic, ini sudah halaman ke dua puluh empat bisakah kita berhenti ketika selesai halaman dua puluh lima?" tanya Icha. Vic mengangguk. "Ok, habis ini kita pergi makan malem." Tak lama kemudian halaman dua puluh lima pun selesai. Icha merapikan buku-buku dan juga laptop milik Vic. Lima menit kemudian mereka berdua sudah siap beranjak dari tempat itu. Icha benar-benar lelah, rasanya kedua tangannya pegal karena mengetik berjam-jam. "Hei! Vic! Kamu disini juga?" tanya seseorang yang tiba-tiba datang entah dari mana. Icha menoleh ke arah Vic, di sebelah pemuda itu tampak sosok gadis cantik berambut panjang bergelombang dengan pakaian feminin nan elegan. Icha sama sekali tidak mengenal gadis itu. "Monic? oh ya kenalin ini Icha,” kata Vic. Gadis bernama Monic itu pun menoleh ke arah Icha, ia tersenyum lalu menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Kenalin, aku Monic." Icha pun menjabat tangan Monic. "Icha..." "Oh iya Mon, kita udah mau pergi nih. Kapan-kapan aja kita ngobrol ya... bye!" Vic segera menarik pergelangan tangan Icha lalu berjalan meninggalkan Monic. "Bye..." ucap Icha kepada Monic ketika dirinya pasrah dibawa oleh Vic. "Loh... Vic... bye..." Monic tak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa melihat punggung Vic yang menghilang di balik pintu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD