#9

1595 Words
Icha mengecek group w******p di ponselnya, group kelas, jurusan, dan juga fakultas yang dulunya sunyi kini mulai terasa ramai. Icha memilih untuk membisukan group-group itu. Icha tidak ingin membuka chat group atau membaca apa pun disana, dan ia pun memilih untuk mengarsipkan semua group chat itu. Icha hanya tidak mau melihat foto-foto dirinya yang tengah bersama Victory itu menjadi bahan bahasan warga kampus yang budiman. Tak lama kemudian ponsel Icha pun berdering. Gadis itu segera mengetuk opsi terima panggilan di layar ponselnya. "Ya, hallo. Ada apa?" Tanya Icha sembari merebahkan dirinya ke atas kasur empuk. Suara berat seorang pemuda terdengar dari seberang, "Cha, kamu di kamar? Turun dong." Ternyata yang menelepon adalah calon kakak tiri gantengnya, siapa lagi kalau bukan Daniel. Icha sedikit waspada tentang apa yang akan Daniel bicarakan dengannya nanti. Apalagi Daniel sudah melihat Icha bersama dengan Vic siang tadi. Icha jadi berpikir bahwa Daniel pasti akan bertanya tentang kehebohan yang melanda warga kampus yang dikarenakan oleh seorang Icha sendiri. "Hmmm, aku lagi ada tugas nih. Sorry ga bisa gabung dulu," Icha mematikan panggilan itu setelahnya kemudian meletakkan ponselnya dinatas nakas samping ranjang tidurnya. Gadis itu mulai merasa bahwa setiap masalah di dunia ini sudah berada di pundaknya, okay itu lebay. Icha menghela napas berat, ingin rasanya ia marah tapi ia sendiri tak tau harus marah kepada siapa. "Dasar orang-orang penuh drama, bisanya gibahin orang melulu..." Icha berpikir sejenak lalu mulai menghapus satu persatu pertemanan di f*******: yang dirasanya tidak penting, tak lupa Icha juga menghapus beberapa kontak teman sekelas di ponselnya . Icha melihat notifikasi baru di layar ponselnya. Ternyata bukan chat dari rere atau pun riri. Melainkan pemberitahuan promosi diskon dari aplikasi belanja online. Sudah satu jam lebih Icha berada di depan laptopnya untuk mengerjakan tugas, ia benar-benar merasa sangat malas berpikir saat ini. Tugas-tugas tidak akan selesai semudah itu dengan adanya tekanan yang datang menyerang batin Icha. Icha akhirnya memutuskan untuk pergi ke balkon kamarnya, ia butuh udara segar. Gadis itu mengambil sebatang coklat dari laci nakasnya kemudian pergi ke balkon saat itu juga. Langit tampak luas membentang dengan hiasan taburan beribu bintang yang berkelap-kelip di angkasa. Udara sejuk dengan sedikit hembusan angin membuat kepala Icha terasa lebih ringan. "Harusnya sejak tadi aku nongkrong disini, mumet mikirin tugas," Gumam Icha sembari melahap satu gigitan coklat. Ting! Ponsel Icha berdenting, segera gadis itu merogoh ponsel dari saku celananya dan menemukan chat baru dari Victory. Dari : Victory Kamu ga kedinginan? Masuk sana. Icha kaget ketika membaca chat itu. Gadis itu segera mengedarkan pandangannya ke bawah, melihat jalanan depan rumahnya dan menemukan sosok yang tengah melambai ke arahnya. Seseorang dengan topi hitam yang sedang duduk di atas kap mobilnya. "Vic? Bukannya mobil Vic berwarna putih?" gumam Icha, gadis itu bingung karena mobil yang berada di depan pagar rumahnya itu berwarna hitam tidak seperti mobil yang sering dikendarai oleh Vic. Segera Icha mencari kontak Vic dan menelepon pemuda itu. Icha dengan jelas melihat orang yang berada di depan rumahnya itu juga tengah memegangi ponselnya sesaat sebelum telepon itu terhubung dengan Icha. "Vic?" Panggil Icha kemudian menatap orang yang berada di depan pagar rumahnya itu dengan penasaran. Orang itu pun kembali melambaikan tangannya. "Hmmm, aku hanya lewat. Kebetulan aja melihat kamu lagi duduk disana, jadi aku berhenti sebentar," jelas Vic. Icha melihat orang itu menurunkan masker hitamnya, dan terpampanglah wajah Vic yang menggodanya dengan menjulurkan lidah dan memasang wajah jelek. Namun Vic adalah Victory Liandra Kim, sejelek apa pun pemuda itu mengekspresikan wajahnya ia akan tetap terlihat menawan. Icha mematikan panggilan telepon itu tiba-tiba lalu menepuk-nepuk wajahnya untuk menyadarkan dirinya sendiri, "HEY! Cha, kamu kenapa deh jadi terpesona begitu sama Vic? Astaga sadar Cha!" Gadis itu bicara pada dirinya sendiri. Sementara itu dibawah sana Vic hanya bisa terkekeh sendiri melihat gelagat Icha, "Dasar Icha, aneh." Vic melambai sekali lagi ke arah Icha, kemudian memberi kode kalau ia akan segera pergi yang disambut dengan lambaian tangan juga dari Icha. Setelahnya pemuda itu pun masuk ke dalam mobilnya dan segera melaju meninggalkan area kompleks rumah Icha. Gadis itu dapat melihat dari kejauhan sorot lampu mobil Vic yang semakin menjauh dan menghilang di persimpangan jalan. Gadis itu menghela napas, sebagai pesuruh ia termasuk beruntung karena tuannya tidak galak dan suka semena-mena. Icha malah merasa mulai nyaman dan terbiasa berada di sekitar Vic. Meskipun ada waktunya juga Vic menjadi orang yang menyebalkan hingga membuat urat-urat di kepala Icha seakan ingin putus saat itu juga. Tak lama kemudian Icha melihat Mama Dina dan Daniel berada di bawah, sepertinya mereka sudah mau pulang. Daniel sudah masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin, sementara Mama Dina masih mengobrol dengan Papanya. Mama Dina yang tak sengaja melihat Icha di balkon itu pun menyapanya. "Hey, sayang! Mama pulang dulu, ya? Kamu yang rajin ya buat tugasnya..." Ucap Dinandra lalu melambaikan tangan ke arah Icha. Icha pun melambaikan tangannya. "Besok datang lagi, Mah!" Mata Icha beradu dengan mata Daniel setelahnya, tak ada kata-kata. Daniel seperti ingin mengucapkan sesuatu namun Icha tidak menghiraukannya dan beranjak masuk ke dalam kamar. Icha tidak marah pada Daniel, hanya saja ia tidak tau harus mengatakan apa terkait pertanyaan Daniel. Tidak mungkin Icha menjawab jika ia memiliki perasaan pada Daniel dalam posisi orang tuanya seperti ini. Ponsel Icha berdenting lagi, gadis itu mengecek ponselnya dengan malas. Dari : Victory Cha, boleh deep talk ngga? "Lah! Apa sih deep talk... jangan gila kamu monyong ih!" Umpat Icha. Ke : Victory Males, ga ada bahasan. Sana VCS aja sama cewe kamu. Dari Victory : Cewek? Ga ada, mending kamu aja. Ke Victory : Boooodooooooo... Lagi-lagi Icha dibuat kesal oleh ulah Victory. Tapi beruntunglah, gara-gara ulah Vic itu Icha jadi melupakan masalah perang dinginnya dengan Daniel. Tugas Icha pun dapat selesai karena ia tidak memikirkan apa pun lagi tentang banyak hal, yang Icha tau ia hanya kesal pada Vic. - Besoknya Icha pergi ke kampus seperti hari-hari biasanya. Langkah kaki Icha terhenti ketika melihat Daniel yang tengah berdiri di depan pintu gerbang fakultasnya. Terdengar bisik-bisik mahasiswi yang melintas di samping Icha. "Itu Daniel kan? Anak teknik. Ngapain ya disini?" Icha pun pergi menghampiri Daniel. "Ngapain?" tanya Icha. Daniel pun membenarkan posisinya. "Nunggu kamu, kita harus ngomong," Daniel menarik tangan Icha, membawa gadis itu ke bangku taman fakultas kesenian. Ada sedikit rasa nyeri di pergelangan tangan Icha, gadis itu pun meringis. Daniel yang sadar akan hal itu pun jadi merasa bersalah. Nilai minus lagi untuk Daniel dimata Icha. "Tangan kamu sakit? Maaf..." ucap Daniel ketika melihat Icha memegangi area pergelangan tangannya, beranjak mengecek tangan Icha namun ditepis oleh gadis itu. "Enggak apa-apa, ngomong aja." Icha bersikap dingin, gadis itu mengambil duduk di bangku taman setelahnya. "Cha, aku mau kamu jujur. Sejak kapan kamu punya perasaan sama aku?" Tanya Daniel. Bagai di sambar petir Icha tersentak dari duduknya. "Maksud kamu?" "Aku udah tau, Cha. Jadi aku tanya sekarang, sejak kapan kamu suka sama aku?" Daniel bertanya lagi, berusaha meyakinkan Icha bahwa ia memang sudah mengetahui apa yang sudah Icha sembunyikan. "Enggak, aku ga suka sama kamu. Aku ga punya perasaan sama kamu!" Icha bersikeras. Sebenarnya gadis itu tidak mau lagi membahas hal ini. Sesuatu yang harus Icha kubur dalam-dalam demi kelangsungan hubungan Papanya dengan Mama Dina. "Cha, minggu depan papa kamu sama mama aku udah mau married, dan aku enggak mau kita berantem kayak gini." Jelas Daniel. "Berantem? Siapa yang berantem sama kamu? Aku biasa aja tuh. Udah lah aku malas..." Icha hendak pergi namun kembali di tahan oleh Daniel. "Tunggu! Ini apa cha?" Daniel menunjukkan buku harian yang tampak tak asing di mata Icha. Mata Icha membulat, jelas sekali gadis itu panik. Icha bergegas mau merampas buku itu dari tangan Daniel, namun pemuda itu terlalu tinggi sehingga Icha tak berhasil mendapatkannya. "Kembaliin..." Kata Icha dengan nada bicaranya yang terdengar kesal. Daniel menunjukkan buku itu. "Ini buku harian kamu kan? Aku nemuin ini di depan pintu kamar kamu kemarin," jelas Daniel. Icha menghela napas kasar, ia benar-benar tidak sadar buku itu terjatuh ketika ia bergegas ke kampus dengan banyak tumpukan tugas ditangannya. “Mau gimana lagi, pasti kamu juga udah baca kan?” Icha terkekeh setelahnya. “Memang bener, aku punya perasaan sama kamu Dan… tapi kamu enggak usah mikirin itu, aku udah mulai menata hati aku sekarang,” lanjut Icha lagi. “Kita omongin ini sama mama papa kita!” tukas Daniel lalu menarik lengan Icha lagi. “Aw! Sakit banget! Lepasin!” Icha berhasil menepis tangan Daniel. “Enggak! Aku nggak mau Mama Dina sama Papa gagal nikah gara-gara hal ini…” Bentak Icha dengan wajahnya yang mulai memerah. Icha menyibak rambutnya, berusaha tetap tenang dan mengatur napasnya yang memburu. “Cukup. Aku pikir sudah nggak ada lagi yang harus kita bicarain sekarang.” Icha menyambar buku harian miliknya dari tangan Daniel. Lalu merobek isinya, selanjutnya memasukkan kertas-kertas itu ke dalam tas miliknya. “Aku pikir aku sudah salah, ternyata aku ga menaruh perasaan yang begitu spesial terhadap kamu Dan… yang selama ini aku rasakan ternyata hanya cinta monyel.” “Cha, aku juga suka sama kamu…” Daniel maju satu langkah, namun gadis itu mundur. Icha tersenyum sinis, “Gak bisa lagi sekarang, aku juga sudah menyukai orang lain.” Icha menatap mata Daniel yang memelas, Daniel sendiri tak menyangka bahwa keadaan akan jadi serumit ini di antara dia dan juga Icha. Mengetahui bahwa selama ini Icha menyukai dirinya namun dirinya malah melanglang buana ke hati gadis-gadis lain. Suatu penyesalan yang akan membekas dalam hari Aeros Daniel Kang. “Maaf Dan, aku akan berusaha menjadikanmu kakak di dalam keluarga kita nanti… aku harus pergi sekarang,” pamit Icha lalu meninggalkan pemuda itu, mematung sendiri dalam keheningan taman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD