#8

1162 Words
Icha sibuk mengetikkan chat yang akan dikirimkannya pada Victory. Namun ketika sudah di ketik dan siap dikirim ia malah menghapusnya lagi, begitu terus sampai tiga kali. Ia hanya kurang yakin sampai akhirnya ia pun memencet tombol send. Ke : Victory Vic hari ini boleh bolos ketemu nggak? Ga enak, kampus lagi rame gara-gara foto kita kemaren. Setelahnya gadis itu pun menunggu balasan chat itu dengan harap-harap cemas. Ia mengalihkan perasaan was-was itu dengan menyeruput teh kotak yang ia pesan beberapa menit yang lalu. Icha memang sedang sendirian. Rere dan Ririn sedang ikut latihan dengan klub mereka masing-masing untuk keperluan stand festival kampus. Rere dengan klub renang dan Ririn dengan klub volley. Sementara Icha sendiri masuk ke klub lukis, klub itu memang tidak banyak latihan karena masing-masing dari anggotanya memang sudah lumayan profesional dalam bidang ini. Sepuluh menit kemudian ponsel Icha pun berdenting. Gadis itu pun segera mengecek layar ponselnya. Dari : Victory Maaf kalo ini buat kamu gak nyaman, tapi kamu gak bisa bolos. Aku jemput kamu sekarang, aku udah di depan fakultas kamu. Icha menarik napasnya yang terasa berat ketika membaca pesan itu. Sesaat kemudian ia menoleh ke arah datangnya suara-suara yang begitu mengusik telinga. Tampak beberapa kelompok mahasiswi dari fakultasnya tengah berkumpul dan menghalangi jarak pandang Icha. Gadis itu duduk sambil merapikan buku dan ponsel ke dalam totebag miliknya, selanjutnya ia merapikan tali sepatu boots yang dikenakannya. Dalam pikirannya ia harus segera pergi ke depan jalanan untuk menunggu Vic, namun yang terjadi malah diluar dugaan Icha. Sepasang sepatu berwarna putih kini berada tepat di depan mata Icha yang tengah mengikat tali sepatunya. Gadis itu teringat dengan outfit yang dikirimkannya pada Vic pagi tadi lalu segera menoleh ke atas. Cahaya matahari menyilaukan mata Icha, tak jelas untuk melihat sosok pemuda yang berdiri tepat di depan Icha saat ini. Icha menghalau cahaya matahari dengan satu tangannya kemudian dan mendapati sosok Vic yang tersenyum menatapnya. "Gimana, Cha? Tampilan aku keren gak?" Tanya Vic kemudian. "Uhuk! Apa-apaan sih. Jangan narsis deh, ih..." Icha berakting seakan mau muntah saat itu juga. Penyakit narsis Vic memang suka kambuh di saat yang tepat. Icha mengedarkan pandangannya, ia melihat banyak pasang mata yang memperhatikan mereka berdua, "Vic, ada yang mau aku omongin." Sambung Icha dengan tatapan serius. "Ya sudah, ayo!" Seru Vic. Segera Vic menggenggam tangan Icha dan menarik gadis itu pergi, mereka berlarian melewati banyak pasang mata untuk menuju ke mobil Vic yang berada di depan gedung fakultas Icha. Sesampainya mereka di depan pintu mobil, Vic dengan sigap hendak membukakan pintu. Gadis itu pun hendak masuk ke dalam mobil namun tiba-tiba saja lengannya di tahan oleh seseorang. "Cha!" Panggil seseorang yang kini berada tepat di belakang Icha. Suara yang tampak familiar di telinga Icha membuat gadis menoleh ke belakang. "Daniel? A-ada apa?" Heran gadis itu, langkahnya pun terhenti. "Cha, mau kemana?" Tanya Daniel, "Yuk, pulang bareng aku,” ajak Daniel setelahnya. Daniel berusaha membuat kontak dengan mata Icha, tatapan memohon seakan-akan mengatakan kepada Icha untuk tidak pergi bersama pemuda bernama Victory itu. Vic sendiri saat ini juga sedang menatap kedua orang di hadapannya itu secara bergantian. "Ta-tapi, aku harus pergi sama Vic,” jelas Icha. Daniel berusaha menahan Icha, "Bukannya kemarin kamu yang bilang kalau kita harus ngomong? nah sekarang aku udah disini,” jawab Daniel. "Ehem!" Vic berdehem setelahnya, membuat Icha tersadar dari pekatnya tatapan mata Daniel yang seakan menahannya untuk pergi. Vic maju lalu melepaskan tangan Daniel dari lengan Icha. "Maaf, tapi aku dan Icha sudah ada janji sejak kemarin siang,” tukas Vic sambil menarik Icha ke belakang tubuhnya. “Oke. Cha, kita bicara lain kali,” jawab Daniel singkat, setelahnya pemuda itu pergi dan menghilang di antara para mahasiswa yang berlalu lalang. Icha menghela napas panjang, situasi barusan terasa sangat tidak biasa bagi Icha. Daniel yang muncul tiba-tiba sudah berhasil mengacaukan detak jantung gadis itu. Akhirnya Icha dan Vic pun berada di dalam mobil, Vic memperhatikan gerak-gerik Icha yang berubah sejak pertemuan dengan pemuda bernama Daniel tadi. “Cha, tadi itu siapa? Pacar kamu?,” tanya Vic ketika mobil itu mulai beranjak. Icha mendengus malas. “Bukan kok, kenapa memangnya?” Vic tersenyum tipis. “Bukan apa-apa, kita pergi main ke timezone, mau?” Tanya Vic dengan matanya yang berbinar. Icha menghela napas lagi. “Ya sudah, terserah. Aku kan hanya bisa ngikut aja,” ketus Icha. Keduanya pun menghabiskan waktu dengan bermain, Icha yang tengah kesal tampak sedang mengatur moodnya dengan membeli jajanan dengan segelas cola. Icha tidak mau bermain permainan ini sebenarnya, karena ia hanya harus ikut dengan Vic berdasarkan perjanjian mereka. Gadis itu tampak membeli banyak cemilan lalu mengambil duduk di salah satu bangku yang kosong, ia mulai memilah-milah snack miliknya dan juga milik Victory. Yang Icha lakukan setelahnya hanyalah menonton Vic menghabiskan saldo di dalam kartu timezone-nya, sampai akhirnya saldo dalam kartu itu pun benar-benar kandas di tangan Vic. Vic kembali menarik tangan Icha, kali ini mereka ke bioskop XXI untuk menonton film spyderman terbaru. “Vic, tanganku bisa lepas lama-lama.” Protes Icha, berharap Vic segera melepaskan tangannya, namun sama saja. Icha tetap tak bisa melepas tangan Vic. Icha hanya bisa pasrah digiring Vic kemana saja. Ia bahkan merasa bahwa ia sama saja dengan anjing peliharaan Vic. Meskipun Icha tidak tau apakah Vic memiliki anjing atau tidak dirumahnya. Di dalam bioskop mereka duduk bersebelahan. Icha akhirnya memberanikan diri untuk mengajak Vic mengobrol meskipun hanya bisa bisik-bisik, takut orang lain terganggu. “Vic?” Panggil Icha. Vic menoleh. “Hm? Ada apa?” Icha menatap mata Vic lalu membuka chat group di ponselnya. “Lihat deh, aku sama kamu sekarang jadi populer di kampus.” Vic membaca setiap pujian dan hinaan yang berada disana, sungguh Vic tidak mengetahui hal ini. Vic yang sama sekali tidak masuk ke dalam grup chat kampus, baik grup kelas maupun grup fakultas itu pun hanya bisa menatap Icha lalu menghela napas. “Maaf, Cha… aku gak waspada, kita memang enggak bisa menang melawan netizen, tapi kita harus hidup seperti apa yang kita inginkan,” Icha menepuk-nepuk bahu Vic setelahnya, untuk pertama kali Icha setuju dengan apa yang pemuda itu katakan. Bukankah sangat melelahkan jika kita hidup dengan terus menghindari orang-orang? Khawatir dengan penilaian orang? - Kali ini Icha pulang ke rumah pukul lima sore, gadis itu yang meminta kepada Vic untuk mengurangi jam kerjanya. Vic pun meloloskannya, itu karena Icha yang takut pulang kemalaman dan apalagi sekarang sedang musim penghujan. Pasti akan ada becek dimana-mana, dan juga tingkat kejahatan di ibu kota yang tercinta ini semakin menjadi-jadi. “Cha, masuk deh cepetan, harus lari-lari, nanti keburu hujan,” ujar Vic ketika melihat tetes-tetes air mulai berjatuhan dari langit. Icha pun hendak turun dari mobil Vic, ia sudah merapikan tas dan juga carger ponsel agar tidak tertinggal di mobil. Setelahnya Icha pun masuk melewati pintu gerbang yang ternyata sudah di bukakan oleh Pak Narto. “Non, itu pacarnya, ya?” Tanya Pak Narto ketika melihat sosok Vic yang tampak sedang memperhatikan Icha. Icha terbatuk. “Uhuk! Bukan begitu. Kita hanya teman kok paaaaak!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD