#7

1344 Words
Ke : Daniel Anteksip Enggak, aku ga ada perasaan sama kamu. Icha akhirnya membalas chat itu setengah jam kemudian. Setelah perutnya kenyang terisi dan hatinya cukup yakin untuk membalas chat itu. Sebenarnya Icha bingung, bagaimana ia harus membalas pertanyaan Daniel. Icha pun tidak bisa membohongi dirinya sendiri, memang benar ia punya perasaan pada Daniel. Tapi... entah kenapa untuk mengakuinya saja Icha sudah tidak mampu. Perasaannya seperti sebuah dosa yang lebih baik tidak ia lanjutkan. Dari : Daniel Anteksip Sepertinya kita harus bicara. Icha memilih untuk mengabaikan Daniel. Icha cukup melihat isinya dari layar ponsel tanpa harus membuka chat itu. Icha merasa hubungannya dengan Daniel akan menjadi rumit mulai saat ini. Icha khawatir jika ia terus menyimpan perasaan pada Daniel maka ia akan sulit untuk menerima Daniel sebagai kakak. Iya, kakak tirinya. Jam menunjukkan pukul dua puluh tiga lewat seperempat. Icha masih terjaga saat ini, ia memilih memainkan ponselnya, melihat-lihat apa ada benda yang menarik hatinya di online shop. Sebelum akhirnya seseorang mengganggunya lagi. Ponsel Icha berdering, ada nama Victory di layar ponselnya saat ini. "Vic? Ngapain nelpon malem-malem gini?" Kesal Icha. Icha menekan tombol hijau setelahnya, ia harus menerima panggilan telepon itu berdasarkan isi perjanjian dalam dokumen. Point 2. Kapanpun, dimanapun, pihak kedua harus menerima telepon atau panggilan dari pihak pertama. "Hallo? Ada apa?" Icha membuka percakapan. "Emmm, kamu enggak tidur?" Tanya Vic. Icha berpikir sejenak, "Belum sih, kenapa memangnya?" "Bukan apa-apa, hanya mau mastiin kamu inget apa yang sudah aku suruh." Terdengar suara Vic tertawa tipis setelahnya. Icha mau murka rasanya, "Aku inget kok, ya sudah aku mau tidur." Vic masih tertawa di seberang sana, "Oke kalo gitu, bye!" Dan panggilan telepon itu selesai begitu saja, meninggalkan Icha yang kini berusaha menenangkan dirinya dari kekesalan terhadap pemuda bernama Victory. "Apa-apaan sih? Enggak jelas banget! Bisa tua aku kalo marah-marah melulu. Dasar Vic aneh!" Kesal Icha sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Tanpa Icha sadari di bawah sana, tepat di depan gerbang rumah Icha. Seseorang tengah memperhatikan bayangan Icha yang memantul di tirai jendela kamar gadis itu. Tampak jelas sekali dari bawah sana, seluk beluk bayangan seorang gadis yang tengah mengacak-acak rambutnya sambil mondar-mandir dalam kamar itu. Orang itu menggunakan pakaian serba hitam, topi berwarna hitam, dan juga masker hitam untuk menutupi wajahnya. "Gadis yang ceroboh sekali, harusnya ia tidak menggunakan lampu tidur dalam posisi itu." Ujar pria tersebut. Tak lama kemudian orang itu masuk ke dalam mobil berwarna hitam dan pergi dari tempat itu dengan cepat. Siapa orang itu? - Icha bangun kesiangan, ia sampai lupa kalau hari ini ada jadwal kelas seni budaya daerah. Gadis itu menuruni tangga dengan cepat lalu menghampiri ayahnya yang tengah menyeruput kopi. "Selamat pagi, Pah!" Sapa Icha lalu mencomot roti bakar coklat keju kesukaannya dari atas piring lalu bergegas mau pergi. Pram yang sejak kemarin tidak melihat putri semata wayangnya itu pun menghentikan langkah Icha, "Eeeetttt, tunggu dulu. Kemarin kemana? Kok enggak keliatan?" Icha tergagap dibuatnya, "Ah i-itu, kemaren maen sama temen, Pah. Terus pulangnya mampir dulu ke gramed hehe." "Oke, ya sudah, hati-hati di jalan." Pram pun melepas putrinya pergi, "Hey! Jangan lari-lari!" Kata Pram memperingati. "Iya, Pah! Icha udah telat, ada kelas! I Love You, Pah!" Teriak Icha sambil berlarian menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Pak Narto. Pram hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan putrinya, setiap hari memang selalu begitu. Sungguh sebuah keajaiban ketika Icha tidak bangun kesiangan, seperti hari libur beberapa hari yang lalu. Tapi setelahnya Icha akan tidur lagi seharian seperti kebo, jadi Icha bangun cepat atau kesiangan pun seperti tidak ada gunanya juga. - Icha segera menelepon Vic ketika ia sampai di dalam kelas, untungnya ia tidak terlambat karena Ibu Dosen menunda kelasnya menjadi jam sembilan. "Hallo, Vic. Hari ini cerah, aku akan kirimkan style outfit yang cocok untuk hari ini lewat chat." Jelas Icha dengan cepat. Gadis itu cukup menjaga agar tidak ada yang mendengar sambil mengedarkan matanya kekiri dan kenanan, memindai seluruh ruang kelas yang mulai terisi dengan orang-orang yang akan mengikuti kelas Seni Budaya Daerah. "Hmmm, baiklah." Jawab Vic lesu, terdengar sekali suara orang yang baru bangun tidur. Icha mematikan panggilan telepon itu lalu mencari outfit yang lumayan keren di i********:, ia hanya tinggal menangkap layar lalu mengirimkannya ke w******p Vic. "Kenapa seorang cicak begitu peduli dengan penampilannya? hadeh." Icha menghela napas lelah. "Siapa? cicak siapa?" Tanya Rere yang tiba-tiba sudah berada di samping tempat duduk Icha. "Aaaakh! Re! Kamu ngagetin banget loh!" Teriak Icha tiba-tiba. Ririn pun tiba-tiba datang dan duduk di bangku depan, tepat di depan Icha dan Rere. Gadis itu memutar bangkunya agar menghadap ke arah dua orang sahabatnya itu. Belum lama mereka saling bertatapan tiba-tiba ponsel mereka pun berdenting pada saat yang bersamaan, begitu juga dengan ponsel warga kelas yang lainnya. "Oh! Ada apa nih?" "Hah! Beneran kah?" "Apakah cewek yang itu?" "Dia mirip, mungkin itu benar dia." "Ternyata anak kelas kita loch!" "Takut banget loch!" "Ih, iri banget loch!" Suara bisik-bisik dalam kelas dan juga komentar-komentar dari dalam grup chat kampus, fakultas dan jurusan mulai ramai. Icha tidak memperdulikan, gadis itu berpikir mungkin ada info terbaru tentang kebijakan universitas. Rere iseng membuka chat grup dan menemukan sesuatu yang tampak tak asing di matanya. "CHA!!!! Cha-Icha! Liat nih liaaatttt!" Rere menunjukkan ponselnya dengan ekspresi panik. "Apa?" Icha cepat-cepat melihat ponsel Rere, "WHAT!!!" Icha sontak berdiri dari duduknya. "Astaga Cha! pemes kamu, Cha!" Ririn ternganga sambil menscroll layar ponselnya, kemudian disambut geplakan hangat dari Rere. "Cha, kamu berhutang penjelasan deh. Sebenarnya ada apa ini? Kamu pacaran sama Victory?" Rere menodong Icha dengan pertanyaan. Icha mengedarkan pandangannya, semua mata warga kelas tertuju padanya. Sungguh sangat tidak nyaman. Icha menatap mata kedua sahabatnya itu bergantian. "Aku akan jelasin tapi enggak disini, terlalu banyak mata dan telinga," tukas Icha. Mereka bertiga pun sepakat pergi ke atas gedung fakultas kesenian. Tempat dimana tidak ada orang yang memperhatikan gerak-gerik Icha. Sepanjang perjalanan Icha harus menutupi kepalanya dengan hoodie milik Ririn. Seharusnya tidak se-ekstrim itu tapi Icha terlalu tidak nyaman menunjukkan muka di saat seperti ini. Ketiga gadis muda itu kini tengah duduk di atas rongsokan kayu sisa bahan bangunan. Icha membuka ponselnya untuk mengecek grup kelas, disana banyak tersebar foto-foto Icha bersama dengan Vic. Foto-foto itu jelas diambil kemarin, ketika Icha dan Vic bersama. Foto-foto itu tak jadi masalah. Tidak ada yang aneh, hanya komentar warga kampus saja yang begitu pedas menanggapi hal itu. "Beraninya dia deketin pangeran kampus!" "Nggak cocok, ceweknya nggak elegan sama sekali.” “Paling juga cuma jadi mainan satu minggu.” “Aku cemburu, mereka terlihat bagus ketika bersama” “Apanya? Ceweknya jelek.” “Ini Aruna kan? Cewe jurusan seni?” “Aruna siapa?” “Aruna Yeorisha, iya anak yang suka pakai kaus oblong dengan sepatu boots hitam.” “Sepertinya tidak buruk.” “Lebih cocok bersama Monic.” “Ini Icha, cewek itu sekelas denganku.” “Kupikir Monic pasti akan kebakaran jenggot melihat ini haha.” “Vic itu enggak pernah serius sama cewek, paling ga lama lagi ditinggal.” Icha lelah membaca komentar-komentar itu, ada yang mendukung dan ada juga yang menghujat, ada juga yang menjelekkan Vic. Icha menghela napas lalu membuka galeri ponselnya. “Rin, Re, bukannya aku nyembunyiin ini dari kalian. Tapi enggak lama ini aku sudah membuat Vic menabrakkan mobilnya, dan kerusakan mobilnya butuh biaya yang lumayan. Untuk itulah, aku bersedia menjadi pesuruhnya sampai aku bisa melunasi biaya perbaikan mobilnya.” Jelas Icha kemudian menyodorkan ponselnya kepada kedua sahabatnya itu. Rere meraih ponsel Icha dan melihat foto dokumen perjanjian hitam di atas putih yang ditandatangani oleh Icha dan Vic. Ririn menepuk pundak Icha. “Cha, kita nggak tau kamu dapet masalah kayak gini.” Rere memeluk Icha, “Maaf, Cha. Kita siap kok bantuin kamu buat melunasi biayanya.” Icha hanya menggeleng. “Enggak, kalian gak perlu lakuin itu, guys… tenang aja,” Jawab Icha meyakinkan. “Sekarang, aku cuma harus kuat hadapin konsekuensinya aja, aku sama sekali enggak tau kalo Vic itu… Pangeran kampus haha. Sampe rame banget gini loh,” Icha tertawa lepas setelahnya. “Tenang aja, Cha. Kita berdua selalu ada buat kamu,” Kata Rere. Rere dan Ririn memeluk Icha setelahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD