#6

1261 Words
Mobil Vic berhenti tepat di depan gerbang rumah Icha, Vic hendak turun dari mobilnya saat ini tapi tangannya tiba-tiba ditahan oleh gadis itu. Icha menggelengkan kepalanya dengan sorot mata penuh permohonan, itu adalah sebuah kode. "Enggak usah dianter deh, Vic. Biar aku masuk sendiri," Pinta gadis itu, kemudian beralih membuka seat belt yang dikenakannya. Vic menurut, ia tidak jadi membuka gagang pintu mobil lalu menatap Icha dengan ekspresi wajah penuh tanda tanya. "Kenapa memangnya?" Icha menghela napas. "Ya, janganlah. Ini sudah malam. Nanti enggak enak sama para tetangga yang melihat, aku belum mau jadi bahan gosip ibu-ibu komplek," Icha beralasan. Vic pun manggut-manggut meskipun ia tidak mengerti dengan benar maksud perkataan Icha. Vic memegangi dagunya kemudian berpikir sejenak. Tetangganya Icha kepoan semua memang ya? Gumam Vic dalam hatinya. Sebenarnya bukan itu alasannya, Icha belum ingin ayahnya jadi heboh hanya karena seorang cowok mengantarnya pulang malam-malam begini. Icha sudah menutup pintu mobil dari luar tapi tiba-tiba Vic menurunkan kaca mobilnya, Icha pun sontak menoleh ke arahnya. "Besok bawakan aku bekal lagi, sama tolong pilihin outfit yang bagus buat cuaca besok," Bahkan gaya bicara Victory sudah seperti seorang CEO yang sedang memerintah sekertaris pribadinya untuk jadwal penting di esok hari. Icha hanya bisa melongo mendengarnya. Bagaimana bisa Icha memilihkan outfit sesuai cuaca? Bagaimana jika besok hujan? Apakah Icha harus memilihkan baju hujan untuk dipakai ke kampus? Bagaimana jika cuaca terik? Apakah harus pakai celana pendek saja seperti bule di pinggir pantai? Isi kepala seorang Victory benar-benar tidak mudah diterima oleh akal sehat Icha. Ia bahkan masih sulit percaya, bagaimana bisa ia mau-mau saja terlibat dengan seorang cowo narsis bernama Victory. Cu-cuaca? apa-apaan sih! Geram Icha. "Kok bengong?" Tanya Vic sambil mengetuk pelan kaca pintu mobilnya. Teguran Vic berhasil membawa Icha kembali ke kesadarannya. "Ah! Iya, oke. Ka-kalau begitu sekarang aku masuk ya, sampai besok..." Icha melambaikan tangannya lalu berbalik dengan cepat dan bergegas menuju ke rumah. Mobil Vic pun berlalu sesaat kemudian, ketika sosok gadis itu menghilang dibalik pintu gerbang rumah. - Waktu sudah menunjukkan pukul dua puluh satu lewat tiga puluh menit, Icha memijakkan kedua kakinya dengan posisi berjinjit ketika ia akan melewati pintu depan rumahnya. "Ehem!" Suara deheman seseorang yang terdengar asing membuat Icha tersontak dan berubah ke mode waspada. Kondisi teras rumahnya yang gelap membuat Icha agak takut sebenarnya, gadis itu malah memikirkan Bik Yati yang mungkin lupa menyalakan lampu teras. "Siapa?!", Icha berada dalam posisi kuda-kuda, ia siap menangkis apa pun yang datang menyerangnya. Samar-samar Icha mencium bau rokok. Gadis itu mengedarkan pandangannya sebelum akhirnya beradu pandang dengan sepasang mata yang familiar. Seorang cowok tengah bersandar di salah satu tiang teras rumahnya, dengan satu kaki di tekuk santai dan rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Cowok itu menatap Icha dengan tatapan yang tidak biasa. Tampak seperti tatapan orang yang sedang menaruh curiga. "Daniel? Hadeh... ngagetin aja." Icha kembali ke posisi normalnya, mengayunkan tas miliknya ke atas hingga tas itu mendarat anggun di atas bahunya. Wow ada apa dengan sikap Icha? Kenapa Icha bisa sesantai itu di hadapan cowok ini? Bukannya kemarin ia habis dibuat patah hati oleh seorang pemuda bernama Aeros Daniel Kang? Tapi secepat itukah Icha berganti rasa? Perasaannya selama bertahun-tahun. Daniel menyesap kembali rokok di tangannya. "Tumben pulangnya malem, dari mana?" Tanya Daniel dengan intonasi datar. Icha tampak kaget mendengar pertanyaan itu, tapi setelahnya gadis itu malah melempar senyum kepada Daniel. "Habis jalan sama temen, kamu sendiri? Mama Dina mana?" Icha mengalihkan pembahasan. Daniel menghembuskan asap rokoknya ke udara, lalu mematikan sisa rokoknya di atas asbak yang berada tak jauh dari tempatnya berpijak saat ini. "Ada tuh di dalem sama Om Pram, lagi milih-milih gedung buat acara nanti." Jawab Daniel. Icha manggut-manggut dengan bibirnya yang membentuk bulatan namun tanpa suara. "Kalo gitu aku masuk dulu..." "Tunggu..." Daniel berdiri hendak menahan gadis itu, namun Icha langsung menoleh sehingga gerakannya pun terhenti. "Ada apa?" Tanya Icha cepat. Daniel tampak berpikir, matanya enggan menatap mata Icha namun seperti ada yang ingin ia bicarakan. "Ehm... soal waktu itu. Sebenarnya kamu mau ngomong apa?" Akhirnya Daniel pun meloloskan pertanyaan dari bibirnya lalu memberanikan diri menatap mata Icha. Icha kaget mendengar pertanyaan Daniel, gadis itu mundur selangkah dengan pupil matanya yang tampak tak tenang. Ia jadi tak bisa berpikir tentang jawaban yang akan ia katakan kepada Daniel saat ini. Sementara Daniel terlihat tak sabar menunggu kata-kata dari bibir Icha yang kini menganga tak jelas. "Oh... itu, hehe bukan apa-apa kok. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu tentang campuran bahan bangunan yang cocok untuk membuat kerajinan pot beton! Iya, itu aja kok... hehe aku masuk dulu ya, badanku udah gatel-gatel seharian di jalan... bye!" Jelas Icha dengan terburu-buru, setelahnya gadis itu langsung kabur begitu saja dari hadapan Daniel. Jantung Icha serasa mau keluar dari tempatnya, bunyi degupannya saja dapat Icha dengar dengan sangat jelas. Icha melihat Papa dan Mamanya Daniel sedang berada di ruang keluarga, posisi mereka membelakangi Icha sehingga gadis itu dengan mudahnya dapat menyelinap naik ke atas. - Sementara itu di teras rumah Icha, Daniel masih berada disana. Cowok itu duduk di salah satu kursi teras sambil memandangi layar ponselnya. Ia membaca kembali chat yang Icha kirimkan padanya beberapa hari yang lalu. …untuk kamu enggak. Kalimat terakhir chat yang dikirim Icha padanya. Muncul banyak pertanyaan dalam benak Daniel, Kenapa Icha hanya menerima mama menikah dengan papanya Icha? Sementara Icha tidak mau menerima aku? Apa Icha nggak mau menerima aku sebagai kakaknya? Tapi kenapa? Apa alasan Icha sebenarnya? “Sikap Icha jadi aneh, tadi juga begitu… sepertinya ada yang dia sembunyikan. Tapi apa?” Daniel bicara pada dirinya sendiri. Daniel tenggelam dalam lamunan sebelum akhirnya ia dikagetkan oleh kedatangan Pak Narto yang membawa dua gelas kopi s**u. “Den Daniel… minum kopinya, Den.” Pak Narto menyodorkan segelas kopi untuk Daniel. “Ah, iyo pak, makasih yo pak.” Daniel pun meraih gelas itu dan meminunnya. Pak Narto tertawa melihat tingkah laku Daniel, meskipun akan menjadi majikan tapi Daniel sangat sopan dan hormat dengan orang yang lebih tua. “Jangan sungkan sama bapak ya, Den.” Ujar Pak Narto sambil menepuk-nepuk bahu Daniel. Daniel tampak manggut-manggut dan tersenyum sembari menyeruput kopi s**u hangatnya. - Icha berbaring di ranjangnya dengan perut keroncongan yang sudah mulai berbunyi minta di isi. Gadis itu jadi tidak tenang sendiri dan akhirnya memutuskan untuk turun ke dapur. Icha mengintip ruang keluarga, ayahnya dan Mama Dina sudah tidak berada di sana. Gadis itu pun langsung menuju ke dapur. Sesampainya di dapur, Icha mendapati banyak makanan cepat saji di dalam kulkas. “Wah! Tinggal masukin di microwave!” Girang gadis itu. Icha mengambil ayam goreng, sandwich, ramyeon pedas dalam cup dan juga cola dingin. Gadis itu memasukkan ayam goreng dan sandwich ke dalam microwave kemudian menyeduh ramyeon pedas. “Neng?” Panggil Bik Yati ketika mendapati Icha di dapur. “Eh! Bik Yati… Bik, Mama Dina udah pulang?” Tanya Icha penasaran. Bik Yati mengangguk, “Iya, Non. Lima belas menit yang lalu.” Icha mengangguk-angguk, “Terus Papa dimana?” Tanya Icha lagi. Bik Yati menunjuk ke arah kamar, “Tuan udah masuk ke kamar, mungkin tuan lagi banyak kerjaan.” Icha mengangguk lagi, “Bik, temenin Icha makan, ya?” Bik Yati pun mengangguk sembari tersenyum, ia menyelipkan rambut Icha ke telinga. Ting! Ponsel Icha berdenting, pertanda ada chat baru di w******p Icha. Gadis itu pun bergegas membuka chat itu tanpa melihat dari siapa. Dari : Daniel Anteksip Cha, kamu gak mungkin punya perasaan sama aku kan? Astaga! Sementara itu Daniel yang baru saja mengirim pesan kepada Icha melihat tanda centang dua yang kini menjadi warna biru. - To be continued •
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD