Icha mengayunkan kakinya memasuki area fakultas Teknik. Ia melihat-lihat suasana sekitarnya yang masih sepi. Hanya ada mas-mas office boy yang berlalu lalang membersihkan lantai. Icha sendiri sebenarnya bingung, untuk apa ia merepotkan dirinya sendiri. Sepagi ini ia malah pergi ke tempat yang bukan fakultasnya sendiri.
Iya, tentu saja ini ada hubungannya dengan Vic karena ini adalah fakultas tempat Victory Kim menimba ilmu. Salah satu fakultas terkemuka dan juga disegani oleh warga Elite University di Ibu kota Jakarta yang tercinta ini. Tapi Icha pagi-pagi ke tempat ini buat apa? gadis itu melirik jam di layar ponselnya yang kini menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Gadis itu melihat-lihat interior lobby fakultas yang tampak mewah namun kelam, itu karena tempat ini di d******i oleh warna-warna gelap. Gadis itu sendiri tidak pernah masuk ke tempat ini sebelumnya, hanya sering lewat sekalian mengintip seseorang. Siapa lagi kalau bukan seseorang yang tidak lama lagi akan menjadi kakak tirinya itu, Daniel. Baru saja Icha teringat kalau Daniel juga berada di fakultas yang sama dengan Vic. Gadis itu mengedarkan pandangannya namun ia tidak menemukan sosok Daniel. Melupakan isi pikirannya tentang Daniel, Icha akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada Vic, si Partner perjanjian sesat Icha.
Ke Victory :
Lelet banget. Aku sudah nunggu dari jam 9 pagi.
Dari Victory :
Sabar. Orang sabar di sayang tuhan.
Icha mendengus membaca balasan pesan dari Vic. Gadis itu paling malas menunggu, kalau diharuskan pun Icha pasti akan pulang dalam waktu setengah jam. Apalagi saat ini Icha sudah mulai kelaparan, gadis itu hanya sarapan dengan selembar roti dan teh manis hangat sejak pagi tadi. Dan sejak tadi juga ia harus duduk di bangku taman dengan sekotak bekal makan siang yang juga bukan miliknya, meskipun lapar ia tidak bisa memakan makanan milik orang lain. Orang lain itu adalah si Victory Liandra Kim, cowok yang kemarin menandatangani dokumen perjanjian sesat bersamanya.
Alasan utama Icha pagi-pagi datang ke fakultas ini adalah Vic. Vic di tuntun menuju tempat itu karena mau mengantar bekal sarapan yang di minta oleh cowok badung itu. Di hari sebelumnya Vic mengirimi pesan pada Icha tepat pukul 00.00 atau pada tengah malam. Ia meminta gadis itu menyiapkan bekal sarapan sebagai perayaan hari perdana Icha menjadi pelayan pribadi Vic. Sangat konyol, tapi Icha hanya bisa menuruti keinginan Vic selama itu berada dalam konteks wajar. Walaupun sebenarnya ia keberatan dengan perintah itu, namun untungnya ada Bik Yati yang selalu siap memasak makanan bekal. Bik Yati sendiri heran, tumben sekali Icha meminta dibuatkan bekal untuk dibawa ke kampus.
Bukan hanya lapar, ia pun mulai merasakan kantuk karena efek cuaca pagi yang dingin dan berawan. Baru saja Icha akan menguap dan tiba-tiba di depan matanya muncul sebuah tas kresek berwarna putih, tas kresek jenis itu memang sering dipakai untuk membungkus makanan. Mata Icha sontak menoleh ke arah sosok yang memegangi tas kresek itu.
"Dasar kang ngaret!" Icha memutar bola matanya malas.
Vic hanya terkekeh lalu memberi isyarat kepada Icha untuk mengambil tas kresek itu dari tangannya.
"Apa nih?" Gadis itu akhirnya meraih tas kresek itu meskipun masih ada sedikit kecurigaan dalam hatinya.
Vic kemudian duduk berseberangan dengan Icha. "Yuk, makan..." Ajak Vic sembari mengambil kotak bekal makanan yang Icha bawa.
Icha jadi bertanya-tanya dalam hatinya.
Ini anak kenapa deh? Mencurigakan banget. Jadi kita tukeran bekal begitu?
Vic dengan lahap memakan bekal yang dibawa oleh Icha. "Enak, kamu yang buat?" tanya Vic sambil mengunyah.
Icha hanya melongo mendengar pertanyaan Vic yang begitu sok akrab sekali dengan Icha saat ini. Icha hanya heran saja, bukankah kalau jadi pelayan atau pesuruh pasti akan di bully habis-habisan oleh majikannya?
Icha benar-benar ingin curiga pada cowok songong ini, tapi melihat Vic yang tengah serius menikmati bekal makanan membuat kecurigaan Icha hilang entah kemana. Akhirnya gadis itu pun memutuskan untuk melihat isi bekal yang dibawa oleh Vic.
Vic melirik Icha. "Enggak aku kasi racun kok, jangan curigaan melulu dong jadi orang," lalu fokus kembali ke makanannya.
Icha menghela napas, bekal yang dibawa Vic berisi nasi goreng ditemani telur dadar gulung dan sosis kanzler. Bekal yang sangat normal untuk anak sekolahan, sekolah SD maksudnya. Gadis itu hampir meloloskan tawanya namun tertahan oleh tatapan Vic yang begitu tiba-tiba.
"Aku buat sendiri bekal itu, jangan di bully," Kata Vic.
Icha tertawa lepas setelahnya, "Kamu latihan masak bekal untuk adekmu?"
Vic mendengus, "Enggak punya adek," ketus Vic.
-
Hari sudah pukul empat sore, tak terasa sudah seharian ini Icha mengekori Vic yang entah apa maunya. Ia juga belum mengijinkan Icha untuk pulang. Seharian ini Icha sudah menemani Vic sarapan, makan siang, pergi ke perpustakaan, pergi ke mall mencari buku referensi untuk proposal Vic, makan cemilan dan es krim di cafe. Icha sama sekali tidak merasa lelah, hanya saja ia bosan karena Vic tidak banyak bicara hari ini. Ia tampak berbeda dengan Victory Liandra Kim yang meminta ganti rugi mobil senilai ratusan juta. Namun ada satu hal yang Icha tangkap dari seorang Vic hari ini, meskipun Vic anak orang kaya ia sama sekali tidak curang dengan pendidikannya. Cowok itu benar-benar belajar dengan tekun. Banyak pertanyaan di dalam hati Icha ketika melihat keseriusan Vic mengunjungi perpustakaan dan juga toko Gramedia demi sebuah buku referensi. Untunglah Icha tidak ada kelas hari ini, dosen yang mengajar kelas seni musik sedang ada tugas ke luar kota sehingga Icha tidak harus bolos demi menjadi pelayan Vic.
-
Hari sudah mulai gelap, Icha sudah menghabiskan dua pot ice cream dengan taburan toping oreo kesukaannya. Vic sendiri tampak menutup buku yang sudah ia baca sejak mereka duduk di dalam cafe ini, buku referensi yang ia beli di Gramedia tadi.
Vic menyodorkan kartu debit berwarna hitam miliknya kepada Icha. "Nih, bayar sana..." suruh Vic pada gadis itu.
"Hah?" Icha terlihat linglung sejenak, ia masih mencerna dengan baik apa yang baru saja ia dengar.
Icha hanya heran karena Vic menyuruhnya pergi membayar tagihan, padahal sejak tadi pagi sikap Vic sangat bersahabat.
Kenapa tiba-tiba nyuruh? Apa jangan-jangan dia baru ingat sekarang kalau aku sudah jadi pelayannya mulai hari ini?
"Cha!" Panggil Vic dengan suara yang agak keras agar gadis itu kembali ke kesadarannya.
Icha mengambil kartu debit dihadapannya itu lalu berjalan menuju ke kasir. Setelah membayar Icha pun kembali ke tempat duduknya yang berada di seberang tempat duduk Vic.
"Ayo, aku anter pulangnya," ujar Vic lalu mulai merapikan bagian bawah kemejanya yang terlipat.
Sontak Icha menoleh. "Loh, udahan?"
Mendengar pertanyaan Icha, sudut bibir Vic pun terangkat. "Hmmm, emangnya kamu kita ngapain lagi?
Senyuman jahil menghiasi wajah Vic membuat Icha salah tingkah, apalagi saat Icha berhasil menangkap maksud sebenarnya dari pertanyaan Vic itu. Tanpa sadar ia sudah memberi kesempatan pada Victory untuk menjahilinya.
"Eh, enggak gitu maksud aku. Jangan mikir yang enggak-enggak ih, Ya sudah, ayo pulang..." tukas Icha.
Gadis itu buru-buru menyimpan ponsel ke dalam tas kemudian melangkahkan kakinya hendak keluar dari cafe. Tapi belum juga beberapa langkah tiba-tiba Vic malah menahan ujung sweater yang dikenakan Icha, membuat gadis itu makin salah tingkah. Dalam hatinya, Icha berharap Vic tidak lagi menambah masalah dengan menjahilinya hari ini.
"Hey, yang mikir enggak-enggak itu siapa? Cieee yang otaknya habis traveling," Goda Vic sambil terbahak.
Ini hari pertama Icha menjadi pelayan dan Vic sudah berhasil menemukan titik kelemahan Icha. Wajah Icha sudah merah padam dibuatnya, tapi Vic malah terus menertawainya. Melihat Icha yang kini memasang wajah cemberut dengan bibir yang komat-kamit mengumpati Vic, malah membuat Vic semakin ingin menjahili gadis itu.
Icha menepis tangan Vic dari ujung sweaternya. "Jangan tarik-tarik juga sih, ketawamu tuh kayak cicak..." Ketus Icha.
"Kamu tuh yang cicak, seharian menempel ke aku terus," Balas Vic kemudian menjulurkan lidahnya untuk menggoda Icha yang memang sedang kesal. Setelahnya Vic bergegas keluar dari cafe menuju ke mobil yang di parkir di luar.
Bagaimana mau enggak menempel bambang? Kan aku harus ikutin kamu seharian ini. Icha mengomel dalam hatinya yang tengah dilanda badai emosi sambil berjalan mengekori Vic.
Rasanya Icha ingin sekali menjambak rambut Vic sekarang juga. "Dasar kekanakan!" Teriak Icha melampiaskan kekesalannya. "Siapa yang nempel sama kamu? Iiiiihhh amit-amit!"
Vic yang sudah sampai di samping mobil hanya bisa terkekeh, ia sudah berhasil mamanasi Icha. "Aku enggak denger!" Teriak Vic.
Icha menghampiri Vic lalu memutar bola matanya malas, "Hadeh, terserah!"
-
Bersambung