"Udah lama nunggunya?" tanya Icha ketika dirinya sampai ke ruang tamu, tempat dimana Vic sedang menunggu dirinya.
Vic menoleh ke arah datangnya suara, ia membawa pandangannya dari bawah hingga ke atas dan mendapati Icha yang tersenyum friendly. Gadis itu mengenakan baju dress selutut berwana putih, yang dipadu-padankan dengan jaket jeans. Alas kaki sederhana namun elegan dengan tali yang melilit hingga ke betis menambah kesan girly yang menguar dari sosok gadis itu.
"Tumben kayak cewek..." ucap Vic tanpa beban.
Icha memutar bola matanya malas. “Jangan mulai deh, ya sudah aku ganti baju lagi nih..."
"Eeeeh... ga usah, itu aja... kalo ganti jadi makin lama berangkatnya," jawab Vic.
"Ga ada beban emang ye, hidup kamu... ngomongnya suka seenak udel," Icha makin kesal dibuatnya.
Tapi coba pikirkan lagi, kapan Vic tidak membuat Icha kesal? Harusnya Icha jangan cepat kesal pada Vic karena sudah pasti Vic akan selalu membuat Icha kesal setiap harinya. Tapi namanya juga orang lagi kesal kan, tetap saja akan kesal.
"Ya udah, ayo jalan keburu sore..." ajak Vic.
Icha melengos, hatinya sedang gondok karena Vic. Ehm… memang selalu dibuat gondok sih. “Ini masih jam sebelas nyuk... hadeh."
Tak lupa Icha pamit ke Bik Yati ketika akan berangkat, "Bik... Icha pergi dulu, jangan lupa bilangin papa sama mama, Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam, Non..." jawab Bik Yati yang sedang menyapu halaman depan.
Di sisi lain rumah itu, Daniel ternyata diam-diam sedang memperhatikan keduanya. Tidak ada keanehan yang Daniel lihat, Icha terlihat sangat murni hanya menganggap Vic sebagai teman, bahkan mereka saling menghujat satu sama lain di depan wajah masing-masing. Membuktikan bahwa mereka berdua belum ada hubungan apa-apa, mereka hanyalah dua orang teman yang sedang bersama... tapi Daniel sedikit kurang yakin dengan gelagat Vic. Cara Vic melihat Icha dan cara Vic mengatai Icha nampak ada perbedaan, meskipun itu sangat tipis, setipis benang. Tapi mata seorang laki-laki cukup jeli untuk menilai sesamanya.
Sepeninggal Icha dan Vic, Daniel pun ikut bersama Dinandra dan Pram ke rumah Randy, ayahnya Vic.
***
"Jadi bagaimana kelanjutannya, Ran?" tanya Pram setelah mereka duduk di sofa ruang tamu Randy.
"Seperti yang kita bicarain di telepon tadi... kita harus beri klarifikasi dulu mengenai dua orang mahasiswa yang sudah jadi terduga saat ini... kita akan adakan jumpa pers karena berita ini sudah menyebar terlalu jauh," jawab Randy.
"Foto Icha dan Daniel sudah tersebar, ada juga Video dimana Icha, Daniel, dan Vic terlibat di dalamnya... kita akan gunakan video dan foto itu untuk menuntut balik semua artikel yang terkait dengan pemberitaan ini," lanjut Randy.
"Oh ya... Video itu kelihatannya diambil dari area kampus. Kita akan pakai video itu juga untuk menjelaskan bahwa Daniel tidak memperbolehkan Icha pergi dengan Vic karena ada dendam pribadi antara Daniel dengan Vic, kita balas drama dengan drama. Dari penjelasan kita tersebut pasti akan ada pertanyaan-pertanyaan lanjutan... dan kita akan menjawab itu satu persatu. Bagaimana Niel... kamu siap?" jelas Pram lalu menoleh ke arah Daniel.
Daniel mengangguk, "Siap, Om...."
"Baiklah... kita akan melangsungkan jumpa pers besok, pukul 09.00 dan akan ditayangkan juga secara live." ujar Randy.
Selena dan Dinandra tampak mengangguk menyetujui, kini mereka sudah siap mendamprat semua artikel pemberitaan itu. Setelah pembicaraan itu Randy bergegas menelepon sekertarisnya dan meminta untuk mengatur semua keperluan besok, tidak lupa ia juga meminta untuk menyimpan semua bukti pencemaran nama baik untuk laporan tuntutan.
Pram, Dinandra, Selena, dan Randy bisa bernapas lega setelahnya. Kini Daniel yang harus bepikir keras, ia harus mulai menyusun apa saja yang akan ia katakan pada jumpa pers nanti. Disisi lain hati Daniel terasa berat ketika ia mencari-cari hal yang akan menjadi alasan ketika berada di depan media nanti.
“Apakah aku harus bilang kalau… penyebabnya adalah Icha? Kan itu sangat tidak mungkin… jadi apa?” Daniel mengusak rambutnya dengan kasar.
-
Suara panggilan telepon mengusik tidur Icha, gadis itu masih dalam perjalanan panjang menuju pantai bersama dengan Vic. Icha mengerjapkan matanya, hembusan angin menerpa kulit wajahnya yang terasa dingin, menerbangkan rambutnya yang tergerai. Gadis itu mengambil ponsel dari dalam tas miliknya, panggilan tak terjawab dari Rere tampak di layar ponselnya. Icha bergegas menelepon balik ke nomor Rere.
"Re... ada apa?" tanya Icha.
"Cha, kamu baik-baik aja kan? aku kerumah kamu ya?"
"Baik kok Re... tenang aja. Aku lagi ga dirumah, Re... mungkin malem," jawab Icha.
"Okay... kalo gitu maleman baru aku kesana sama Ririn."
"Okay baby... muach!"
Panggilan telepon itu selesai, Icha memasukkan kembali ponsel ke dalam tasnya lalu menoleh ke arah Vic yang menatapnya heran.
"Ada apa lagi? Kayaknya kamu tuh selalu aja negeledekin aku terus... hoby ya? Apa kebiasaan dari orok?" omel Icha.
Vic terbahak. "Aneh... lucu aja, gini deh… kenapa kalau cewe tuh suka muaaach muaaach sama temennya juga yang cewe?” lanjut Vic.
Icha memutar bola matanya kesal. "Ya kamu liat dong kita tuh cewek, yang aneh itu kalo kamu sama temen cowok kamu yang muaachh muacchh... hih jijay!"
Vic memonyongkan bibirnya kekiri dan kekanan, menirukan gaya bibir Icha yang sedang mengomel. "Nyenyenyenye ngomel mulu kayak radio rusak..."
Icha mengepalkan tangannya, ia terlalu gemas pada Vic sampai rasa-rasanya Icha ingin meremas leher pria muda itu sekarang juga. "Kamu tuh ya... Uuugh! Coba aja kalo kamu enggak lagi nyetir, aku juga bakal geplak kepala kamu pakai sendal... untung aja aku masih pengen selamat sampai ke pantai... huh!"
Vic menjulurkan lidahnya untuk meledek Icha. "Nyenyenyenye... marah-marah melulu, pantesan mulai keriput kayak nenek-nenek..."
Icha berusaha sabar, ia memasang earphone di telingannya, lalu menghembuskan napas berat saking kesalnya pada ulah Vic yang dianggapnya kekanankan itu.
Tiga puluh menit kemudian akhirnya Icha dan Vic sampai ke area Pantai Ancol. Icha yang masih tertidur itu pun dibiarkan oleh Vic. Pria muda itu sendiri pergi membeli es krim yang standnya berada tidak jauh dari area parkiran. Cuaca cerah dengan angin yang berhembus, area parkiran mobil yang sejuk karena rindang oleh pepohonan membuat Icha terlelap begitu nyaman di dalam mobil Vic.
Bukan Victory namanya kalo tidak jahil, pria muda itu jelas membeli es krim bukan hanya untuk dimakan olehnya, tapi untuk menjahili Icha yang sedang terlelap. Tetes demi tetes es krim yang mulai mencair itu pun meleleh dan jatuh ke pipi Icha. Victory yang tengah melancarkan aksi jahilnya itu pun sudah siap dengan kamera ponselnya yang sudah menyala.
Icha mulai merasakan tetes es krim dingin yang jatuh ke pipinya, disisi lain Vic tampak kesusahan menahan tawanya karena Icha yang ternyata tidak bangun-bangun juga.
“Hmmm… nyem… aku enggak mau mandi,” kata Icha ketika tetes es krim kedua jatuh ke atas hidung Icha.
Tetes ketiga pun jatuh ke bibir Icha. Vic yang menyadari hal itu pun sudah tidak mampu lagi menahan tawanya yang sudah akan lolos saat itu juga.
Sungguh di luar dugaan, bukannya bangun tapi gadis itu malah mengemut bibirnya yang kejatuhan oleh tetes es krim tersebut. Vic membeku seketika, mata pria muda itu langsung auto fokus ke bibir Icha yang berwarna coral. Tetes keempat pun jatuh ke sudut bibir Icha, gadis itu masih belum membuka matanya, namun menyapu tetes es krim itu dengan ujung lidahnya. Sungguh membuat gejolak aneh tiba-tiba muncul dalam diri Vic, gejolak yang entah datang dari mana.
Vic mematikan kamera video ponselnya, es krim itu pun ia lepaskan begitu saja jatuh ke atas tanah. Jemari Vic bersiap untuk menggapai sudut bibir Icha yang tampak belepotan oleh es krim karena ulahnya. Menyapu lembut kulit pipi hingga ke sudut bibir Icha, perlahan wajah Vic mendekat, kedua bola matanya mengikuti perintah dari otakknya yang seakan mengatakan. “Hey! Lihat lebih dekat dan bersihkan dengan baik…” namun sepertinya fokus Vic berubah sampai akhirnya…
“Hmmm… udah sampai?” gumam Icha yang membuka matanya dengan tiba-tiba membuat Vic sontak menjauh.
“Eh… iya sudah. Makanya jangan tidur terus kebo…” Vic memutar bola matanya lalu berbalik membelakangi Icha. “Astaghfirullah…” gumam Vic pelan.
“Hah? Apa? Kok Astaghfirullah? Ada apa?” tanya Icha sedikit bingung.
Vic melengos, ia menggaruk kepalanya saking frustasinya namun harus ia tahan. “Bukan apa-apa cuma hampir nginjek tai…” jawab Vic asal.
Pria muda itu pun pergi membeli es krim lagi, kali ini bukan untuk menjahili Icha tetapi karena ia membutuhkannya. Vic malah jadi kegerahan sendiri setelah mengusili Icha.
“Vic… aku mau juga dong,” ujar Icha ketika menghampiri Vic yang sedang melahap es krim di tangannya.
Vic memberikan satu es krim kepada Icha dan langsung di eksekusi juga oleh gadis itu, “Oh iya… tadi aku juga mimpi makan es krim loh… kenapa ya? Kok rasanya nyata banget gitu Vic,” Lanjut Icha sembari menjilati es krim milikknya.
“Uhuk! Uhuk!” Vic terbatuk, melihat hal itu membuat Icha melepaskan es krimnya sebentar untuk membantu menepuk-nepuk punggung Vic.
“Vic… ya ampun ih, masa keselek es krim? kayak anak TK aja ih!” ledek Icha.
“Iya keselek gara-gara kamu…” jawab Vic dengan wajah datarnya.
Icha menjulurkan lidahnya untuk meledek Vic. “Bodooooo…”
Selesai dengan es krim mereka, kedua anak manusia itu pun beranjak pergi berkeliling. Merasakan angin di pinggir pantai, bercanda, saling meledek satu sama lain, masing-masing dari mereka bergantian menjadi fotografer. Banyak foto-foto yang mereka hasilkan hari ini, anggaplah mereka sedang healing dari hiruk pikuk ibu kota.
Mereka mampir di restoran seafood terdekat untuk makan siang, Icha sangat suka dengan lobster, melihat video mukbang dengan menu lobster saja sudah cukup membuat Icha ngiler sepekan. Meskipun kadang Icha bisa alergi jika kebanyakan makan makanan laut itu, namun kali ini ia tidak mau rugi.
“Kamu yang bayarin kan? Hehe…” tanya Icha sembari tertawa cengengesan.
Vic mengangkat jempolnya. “Oke… tapi nanti traktir aku juga di korean resto,” jawab Vic.
“Sip laaaaaahhhh… tapi boleh kan aku makan ini?” tanya Icha sembari menunjuk lobster super gede.
“Yang itu harganya promo kak 999.000 aja loh…” ujar mbak-mbak pelayan yang sedang melayani pesanan mereka.
Vic menatap wajah Icha dengan mata berbinar yang penuh pengharapan, dalam hati Vic malah kasihan dengan Icha. “Ya ampun, anak konglomerat sampe terharu begini cuman gara-gara dibeliin lobster gede…”
“Boleh?” tanya Icha sekali lagi, wajahnya sudah tampak seperti anak kucing, lucu, imut, tapi licik.
“Ya sudah mbak, lobsternya yang ini aja dua ya… oh iya jangan lupa sayurnya kangkung saus tiram.” ujar Vic, akhirnya pria muda itu meloloskan semua pesanan Icha.
Icha sendiri sudah membelakangi Vic, bersiap menuju meja makan dengan kedua tangan mengepal dengan bibirnya yang mendesis pelan, “Yes! Yes!” seru Icha.
Sungguh menggemaskan, namun licik, begitulah pandangan Vic kepada Icha saat ini.
“Minumnya apa kak?” tanya si mbak-mbak tadi kepada Icha.
“Lemon tea aja mbak, sama…” ucap Icha lalu melirik Vic.
“Cola sama air mineralnya dua.” lanjut Vic.
Sepeninggal mbak-mbak yang tadi Icha pun tersenyum-senyum menatap Vic. Entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu.
“Heh? Kenapa kamu?” tanya Vic dengan wajah heran.
Icha cengengesan. “Hehe… bukan apa-apa, pengen bilang makasih aja hehe…”
Vic tersenyum tipis. “Iya… enggak usah sungkan gitu. Nanti bill-nya aku kirim ke papamu juga HAHA…”
“Hah! Kok gitu? Dasar pelit!” Icha memasang wajah cemberut.
Dan entah kenapa tangan Vic semakin tanpa permisi menepuk-nepuk pelan kepala Icha saking gemasnya. “Heleh… Dasar manjaaaa…”